
Sekar baru saja dari kamar mayat. Gadis itu tidak takut sama sekali dengan sosok tubuh yang terkadang tak lengkap anggota tubuhnya itu.
"Tolong ...," Sekar menghela napas panjang.
Setelah Re dan teman-temannya pergi dari rumah karena keberadaan adiknya. Sekar kini mulai seperti pemeran film "sixth Sense" Haley Joel Osmen dengan pemeran keduanya adalah Bruce Willis yang menjadi dokter yang ternyata sudah meninggal dunia. Atau seperti pemeran "Master Sun" Gong Hyo Jin dan So Ji-sub.
Sekar sedikit lelah dengan pesan-pesan yang diberikan para korban tabrak lari yang tidak diambil oleh keluarganya. Atau korban gantung diri.
"Aku tidak mau," tolak Sekar lirih.
Gadis itu memang sudah berkali-kali menolak permintaan beberapa arwah penasaran yang ingin pesannya disampaikan.
"Ayo lah, bukankah kita teman?!" pinta salah satu sosok dengan kepala terbelah.
"Bukan!" sahut Sekar begitu tegas.
"Aku tak mau berteman dengan setan sepertimu!" lanjutnya.
"Sekar ... ada salam dari Ndere ... katanya adikmu itu benar-benar menarik!"
Sekar berhenti seketika. Gadis itu bergeming sesaat. Ia tak akan terima jika keluarganya diganggu.
"Aku akan membakarmu hingga perlu puluhan tahun untuk menyempurnakan diri!" ancam Sekar.
"Sekar ... kami tak sempurna sudah lama. Bahkan kami rela di neraka asal kalian ikut kami ...!' lalu terdengar tawa yang sangat lirih.
Lampu koridor kampus mendadak kelap-kelip. Suasana memang sepi, Sekar adalah mahasiswi terakhir yang keluar dari kamar mayat.
Krieet! Brankar yang terletak di sudut ruang, tiba-tiba bergerak dengan sendirinya.
Bulu kuduk Sekar pun meremang, ia memang sedikit bergidik takut. Titik nalar manusia jika melihat hantu adalah rasa takutnya. Rasa takut adalah mekanisme pertama untuk bertahan hidup. Ketika indera mendeteksi sumber tekanan yang mungkin menimbulkan ancaman, otak akan merespons yang membuat kita bisa bereaksi: melawan atau melarikan diri.
Rasa takut diatur oleh bagian otak dalam lobus temporal, atau dikenal sebagai amigdala. Ketika rasa takut mengaktifkan amigdala, otak akan mengabaikan pikiran sadar sehingga tubuh dapat mengalihkan semua energi untuk menghadapi ancaman yang mungkin terjadi.
Pelepasan zat kimia saraf dan hormon menyebabkan peningkatan denyut jantung serta pernapasan mengirimkan darah lebih ke otot-otot untuk berjalan. Tubuh kita pun memberikan tanggapan, seperti rasa merinding, rambut di tangan kita berdiri seolah merasakan suatu sentuhan. (Narasumber: CNN Indonesia).
Sekar menetralisir ketakutannya. Gadis itu maju menantang setan yang berdiri jumawa. Tentu saja setan itu langsung hilang seketika.
"Astagfirullah!" ucapnya ketika makhluk tak kasat mata itu hilang.
"Rupanya benar riwayat yang diceritakan tentang sahabat Nabi, Ibnu Abbas yang menyuruh kita maju ketika melihat setan," monolognya.
"Setan itu sebenarnya takut pada kita," lanjutnya lirih.
Sekar mengusap seluruh tubuhnya dengan tangan sambil membaca ayat kursi. Gadis itu lupa apa dia telah membacanya atau belum.
Dirasakan jika semua aman, ia pun berjalan menuju lift di mana ia harus turun ke lantai basement.
"Pulang Mba Sekar,' sapa satpam kampus yang sudah sangat tua.
Sekar hanya mengangguk, sesekali ia merapa doa yang ia ingat.
"Jangan takut Mba. Saya nggak ganggu, kalau nggak diganggu," ujar satpam itu dengan muka berlubang.
Sekar buru-buru masuk mobil. Kini gadis itu bisa menyetir sendiri. Rey menghadiahkannya sebuah mobil sedan warna merah menyala untuknya ketika ia bisa mendapat nilai sempurna.
Sekar mengeluarkan kendaraan itu dengan mengendarainya. Tak butuh waktu lama ia sampai di rumahnya. Gadis itu tiba ketika semua orang sudah tertidur lelap.
"Makan dulu ah, baru mandi," ujarnya pelan.
Sekar memanaskan makanannya sendiri. Tinah yang mendengar ada pergerakan di dapur langsung bangun.
"Nak, kamu baru pulang sayang?" tanyanya.
"Bu, kenapa bangun. Apa terlalu berisik?" tanya Sekar tak enak hati.
"Tidak sayang. Biar Ibu menemanimu ya," ujar Tinah tersenyum.
Wanita itu menatap putrinya makan dengan lahap. Sepertinya gadis itu kelaparan.
"Biar ibu yang bersihkan,"
"Tidak usah Bu. Sekar bisa kok!" ujar Sekar menahan laju ibunya yang hendak mengambil piring bekas makan putrinya.
Tinah tersenyum, Sekar begitu sangat berubah. Gadis itu kini suka sekali ikut pengajian di kompleksnya. Walau belum menutup aurat dengan menggunakan jilbab. Tetapi pakaian gadis itu kini makin tertutup dengan baju longgar dan celana panjang.
Tinah pun pergi ke kamarnya. Usai membersihkan bekas makannya. Sekar menuju kamar dan membersihkan diri, setelah itu mengerjakan shalat fardhunya.
"Baca dulu bentar ah," gumamnya lalu membuka mushaf.
Suaranya pelan mengalun membaca ayat demi ayat yang tertera di dalam buku kecil itu. Dirasa cukup, Sekar merebahkan diri dan tak butuh waktu lama, gadis itu pun terlelap.
Di luar rumah gadis itu, beberapa makhluk hanya berdiri menatap bangunan yang sudah tak bisa ia masuki lagi.
"Bau Sekar masih tercium dari sini. Tapi kita tak bisa mengganggunya lagi," ucap satu sosok dengan lidah panjang menjulur.
"Ya, kini Sekar berusaha membuang baunya," sahut Ri.
Pagi menjelang, Sekar sudah memandikan adiknya yang sudah delapan bulan. Bayi itu menampakan bobotnya. Tingkahnya juga tambah membuat pusing ayah dan ibunya.
"Mpa ... Atam au mam seslim," pinta bayi itu.
"Nanti minta Ibu ya," ujar Sekar.
Adam terpekik senang, dipukulnya air hingga membuat basah semua termasuk kakak perempuan yang memandikannya. Sekar menghela napas panjang.
"Bu, nih Adam!" teriaknya.
"Mashaallah solehnya Ibu ... kok bikin kakaknya basah?" tanya Tinah ketika datang.
"Asah ... asah ... asah ubuh-ubuh ... Mpa andih!" Adam tergelak melihat kakaknya yang kuyup.
Tinah mengambil alih putranya yang memang sangat aktif itu. Setelah Sekar selesai membersihkan diri. Gadis itu pamit ke kampus.
"Pu ... Mpa lan Dadam oleh tan seslim!" ujar bayi itu.
Tinah menghela napas. Jika Sekar memperbolehkan dan ia tidak melakukannya, alamat Adam akan ngambek seharian.
"Iya sayang," ujarnya kemudian, pasrah.
Adam memekik kesenangan. Tono mengajak istri dan putranya pergi ke pasar. Hal itu tentu membuat Adam senang bukan kepalang.
Sementara itu, Sekar naik lagi ke bagian forensik. Gadis itu masih harus membedah ulang satu mayat yang sama. Ada beberapa mahasiswa kedokteran ikut serta di sana. Berikut dosen pembimbingnya.
Beberapa sosok berdiri di sisi ruang persegi. Semua memakai baju OK dan telah disteril. Usai menulis beberapa penyebab dan kejanggalan. Semua keluar setelah mencopot baju OK nya.
"Sekar ... tolong ... putraku pasti sedang mencariku sekarang!" pinta sosok yang kepalanya terbelah.
"Dia baru berusia enam tahun. Aku takut nenek dan kakeknya malah menjahatinya," lanjut sosok itu lirih.
Sekar akhirnya menerima permintaan itu. Gadis itu dituntun oleh arwah penasaran.
Sekar memberhentikan mobilnya di sebuah kawasan elit. Kendaraan roda empat itu bergerak menuju sebuah taman bermain. Di sana banyak anak-anak bermain bersama keluarganya. Memang hari telah sore, jadi banyak keluarga yang bersantai bersama di sana.
Sosok itu menatap anak kecil yang tengah tertawa dituntun oleh seorang wanita cantik. Di sana seorang pria menatap keduanya dengan senyum lebar.
"Dia tampak bahagia," ujar Sekar lirih.
Satu titik bening luruh pada sosok itu. Rupanya, sepeninggalan dirinya tak membuat putranya kecarian dirinya.
Sosok itu mendekati pria yang menatap putra dan kekasihnya bermain.
"Mas ...," panggilannya lirih.
Pria itu menatap sosok itu. Sekar hanya diam saja. Seperti saling tatap.
"Dina ... dua tahun aku mencarimu ... kau pergi begitu saja meninggalkan kami ... maaf, putraku dan aku butuh penggantimu," gumam pria itu lirih.
Sosok itu hilang bersama angin yang berlalu. Sekar menghela napas panjang.
"Kau telah menemukan jawabannya Dina," ujarnya lirih lalu pergi dari tempat itu.
Bersambung.
Next?