My Ghost Friends

My Ghost Friends
PILIHAN SEKAR



Sekar masih dirawat intensif, semua teman menjenguk gadis itu. Danar langsung menggenggam tangannya.


"Nak," peringat Ahmad.


Danar dan Sekar tersipu, mereka lupa jika ada banyak mata melihat hal itu.


"Maaf Pak," ujar Sekar.


"Kamu baik-baik aja kan?" tanya Sobar khawatir.


"Aku udah baik-baik aja," jawab Sekar begitu terharu.


Semua teman kini ribut. Mereka bercerita bagaimana ketika di labirin saling mencari satu dan lainnya.


"Yang paling bodoh adalah aku," ucap Lia malu.


"Kamu kenapa?" tanya Maria.


"Dia ditolong Sekar malah mau celakain Sekar. Jadinya ketulah sendiri!" sambar Via yang satu kejadian saat itu.


"Vi," Sekar menenangkan temannya itu.


"Kok gitu?" hampir semua mata memelototi Lia.


"Eh ... udah ... itu udah lewat!" seru Sekar menenangkan semua temannya.


"Maaf," ujar Lia menunduk.


Semua masih mencibir perlakuan Lia pada Sekar. Tetapi Sekar meminta semua untuk saling memaafkan.


"Udah, maafin aja. Toh Lia udah dapat ganjarannya langsung!"


"Maaf," ujar Lia lagi benar-benar menyesal.


"Ya udah ... kita maafin, sebenernya kita juga malah mau minta maaf sama Sekar," ujar Robert.


"Maaf untuk apa?" tanya Sekar bingung.


"Maaf karena sebelum kita tersesat kemarin, kami malah menjauhimu," jawab Robert.


"Pastilah kalian menjauh, gimana enggak. Aku aneh kan?" sahut Sekar.


"Bukan lagi Kar. Kamu udah nakutin tau. Jalan kamu kek nggak napak bumi!" sambar Deny.


"Eh kalo Danar liat gue meluk elo kemarin pasti cembokur abis!" lanjutnya.


"Kamu meluk Sekar!?" desis Danar kesal.


"Iya ... gimana nggak gue peluk! Gue kek orang gila teriak-teriak, mana mau jatuh ke jurang lagi. Untung ada Sekar," jelas Deny antusias.


Ruangan ekslusif itu kini sepi, Sekar menghela napas. Di atas nakas semua makanan buah tangan teman-temannya tampak memenuhi benda itu.


"Siang Mba Sekar!" sapa seorang suster datang.


"Kita bersihin kaki Mba dulu ya," ujar perawat itu.


Kaki Sekar masih bengkak dan memerah. Walau beberapa goresan mulai mengering dan hilang. Tetapi kakinya memang parah karena berjalan begitu lama.


"Apa masih kebas Mba?" tanya perawat yang langsung dijawab anggukan oleh Sekar.


Usai membersihkan kaki Sekar. Perawat itu hendak pergi.


"Sus, ini bawa sebagian buat suster deh!" ujar Sekar memberi beberapa kue dalam kaleng.


"Nggak ah, itu kan punya Mba," tolak perawat itu.


"Ambil aja Sus, lagian aku nggak bakalan habis," ujar Sekar sedikit memaksa.


Akhirnya dua suster mengambil empat kaleng biskuit yang disodorkan Sekar. Sedang dua lainnya mengambil dua kantung buah apel.


"Makasih ya Mba," ujar para perawat tersenyum senang.


"Sama-sama," ujar Sekar ikut tersenyum.


Sekar memencet tombol untuk mengatur tempat tidurnya. Gadis itu hendak miring, masih berasa sakit di seluruh tubuhnya. Selama ia di rumah sakit. Baik Re dan Ri atau teman astralnya tak ada satupun yang datang.


"Aku juga tak merasakan kehadiran mereka lagi. Apa aku sudah tak bisa melihat mereka?" tanya Sekar dalam hati.


"Alhamdulillah lah kalo nggak bisa liat lagi!" ujarnya senang lalu perlahan ia membaringkan tubuhnya dalam posisi miring.


Entah berapa lama ia tertidur, Sekar mendadak bangun karena merasa hawa aneh dalam tubuhnya.


"Pilih jalanmu Sekar!" pinta seseorang tanpa rupa.


Sekar mencari keberadaan suara. Namun tak satu pun ia melihat orang yang berbicara padanya. Sekar bingung, tiba-tiba ruangan tempat ia dirawat berubah menjadi sebuah jalan yang di depannya terdapat dua jalur yang berbeda.


"Pilih jalanmu Sekar. Apa pun pilihanmu, itu menentukan apa yang akan terjadi padamu kedepannya!"


"Kamu siapa!?" teriak Sekar bertanya.


Sekar terdiam, ia menatap jalan di depannya. Sebelah kiri ada begitu indah dan cantik, sedang sebelah kanan biasa saja.


"Sekar!" panggil sesosok mahluk yang berada di jalan kiri.


"Re?" Sekar mengenali sosok itu.


"Kenapa kau memilih jalan itu Sekar. Apa kau benar-benar ingin berpisah dengan kami?" tanya Re. "Apa selama ini yang kami lakukan belum cukup?"


"Aku ...."


"Memang manusia tak pernah puas ya ... sudah ditolong tapi melupakan siapa yang menolong!" Re menyidir Sekar.


Sekar tertunduk, memang sebelum kejadian labirin itu, baik Re dan Ri lah yang menolongnya. Ketika sang nenek yang buta huruf dipaksa menandatangani sebuah surat kuasa penyerahan rumah mereka.


Sekar saat itu masih terlalu kecil, gadis itu tak tau apa-apa. Semua menuntut neneknya untuk menandatangani surat itu.


"Bahkan ada sesepuh yang beragama tak menolongmu. Ketika kami menyogok api pada mulut salah satu saksi palsu, baru mereka membantumu! Kau ingat itu kan Sekar?"


Sekar diam, selama ini manusialah yang sering mencelakakan dirinya. Seluruh teman astralnya berdiri di sisi kiri.


"Sekar ... kamu ada di sini," ujar Ri.


"Sekar ... Sekar ... bangun Nak!"


Sekar tergagap, gadis itu bersimbah peluh dengan napas terengah. Tono menatapnya khawatir.


"Bapak panggilkan Dokter ya," ujar Tono hendak bangkit.


Sekar menahan laju ayahnya, ia pun menggeleng.


"Sekar nggak apa-apa Pak. Hanya mimpi buruk," ujar gadis itu.


"Nak, bapak minta jangan berurusan dengan teman-teman hantumu itu!" pinta Tono memohon pada anak gadisnya.


"Bapak nggak mau kehilangan kamu," lanjutnya sendu.


Sekar memeluk ayahnya. Gadis itu ikut tersedu, Tono mengusap punggung anak gadisnya.


"Nak, hanya kamu permata bapak dan ibu satu-satunya, jangan tinggalkan kami Nak,"


"Sekar nggak kemana-mana Pak. Sekar tetap anak Bapak," ujar gadis itu.


Kini Sekar terlelap, kakinya sudah mulai membaik walau masih bengkak dan merah. Tono mengusap kaki putrinya dengan linangan air mata.


"Ya Allah ... jika dengan begini akan membuat langkah putriku menuju jalan-Mu. Aku pasrah ya Allah, aku ikhlas," ujarnya lirih.


Tak lama Tinah datang bersama Rita dan Bastian. Mereka membawa makanan untuk Tono.


"Apa kata Dokter Pak?" tanya Bastian.


"Kaki Sekar mengalami pembengkakan syaraf dan otot. Beruntung tidak ada yang serius. Telapak kakinya lecet parah tapi pembersihan air garam yang diminta pasien benar-benar mujarab," jawab Tono.


"Kaki Sekar selamat dari amputasi," lanjutnya lega.


"Alhamdulillah," ujar semuanya bersyukur.


"Pak Tono, begini. Bukan maksud kami ingin memaksamu. Tapi, putra kami Reynold sangat menyukai putri Bapak," ujar Bastian serius.


"Jadi jika bisa, setelah usia Sekar tujuh belas tahun. Kami akan mengikat putri bapak untuk putra kami!" lanjutnya tanpa keraguan.


Tono dan Tinah tercenung. Mereka seperti mimpi mendengar perkataan majikannya itu.


"Pak, kami serius!" ujar Rita kini.


"Nyonya ... kami hanya pembantu rumah tangga. Terlebih Sekar memiliki kelainan bisa melihat hantu ...."


"Itu bukan kelainan Pak!" potong Rita.


"Sekar diberi kelebihan oleh Allah, itu tak boleh ditolak!" lanjutnya.


"Saya menyukai Sekar karena anaknya pintar dan cantik, saya ingin membangun dia menjadi apa yang dia cita-citakan!" tekannya lagi.


"Bagaimana Pak Bu?" tanya Bastian meminta kepastian.


Baik Tono dan Tinah saling pandang. Mereka takut jika nanti jodoh Sekar bukan Reynold.


"Pak ... yakin jika jodoh itu adalah pilihan kita. Reynold sudah memilih Sekar menjadi istrinya nanti. Tak masalah Sekar sekarang punya pacar, dia masih muda untuk diikat penuh," ujar Rita menjelaskan.


"Kami sangat tersanjung Nyonya, Tuan. Tapi biar Sekar yang menjawab ya," ujar Tono masih takut.


Bastian sangat mengerti ketakutan Tono. Ia pun mengangguk dan menepuk bahu calon besannya itu.


Bersambung.


Wah ... Sekar udah diminta aja sama Reynold.


next?