My Ghost Friends

My Ghost Friends
KEMBALI?



Sekar bersekolah seperti biasanya. Yang berbeda dari gadis itu, ia semakin cantik dengan pipi kemerahan dan wajah berseri. Danar makin lengket dengan pacarnya itu.


"Aku risih Danar!" elak Sekar ketika Danar hendak mencium tangan gadisnya.


"Kita pacaran sayang. Hal itu sudah biasa!" sahut remaja itu yang sepertinya mendapat puber pertamanya.


"Tapi aku nggak mau!" tolak Sekar.


"Jika kau memaksa seperti ini. Lebih baik kita putus dan aku memilih duduk Dengan Dea di depan dan kau duduk dengan Sari!" ancam gadis itu.


"Oke ... oke!" Danar mengangkat tangan menyerah.


Remaja itu lebih menuruti pacarnya dibanding harus duduk bersama Sari. Bukan apa-apa, Sari termasuk anak paling berisik jika duduk di belakang. Danar tak akan bisa berkonsentrasi belajar.


"Tapi duduk nempel gini nggak apa-apa kan?" tanya remaja laki-laki itu dengan tatapan memohon.


Sekar mengangguk, walau tambah lama ia jadi risih sendiri. Tetapi Danar adalah murid pertama yang menerima dirinya di kelas bahkan di sekolah ini.


Pelajaran berlangsung dengan tertib hingga bel istirahat berbunyi. Sekar mengajak semua temannya ke kafe study miliknya. Gadis itu mempromosikan usaha barunya.


"Wah jadi kamu bukan anak babu lagi ya?" tanya Dea masih saja sinis.


"Ck ... apa sih?!" ketusnya ketika salah satu teman menyenggol lengan Dea.


"Iya, alhamdulilah. Bapak dan ibuku sudah jadi pengusaha kafe walau kecil-kecilan," jawab Sekar yang tak tersinggung sama sekali.


"Gratis nggak nih?" kekeh Lia bertanya.


"Promo sampai dua hari ke depan free jus jeruk dan desert. Potongan 50% untuk semua makanan dan minuman yang ada di showcase!" jelas Sekar sangat tegas.


"Wah ... kamu banyak buku bagus nih!" sahut Robert ketika mengambil buku yang disusun sedemikian rupa di dinding.


"Spotnya juga bagus untuk foto-foto di Ig kita!" sahut Lia lagi lalu memposekan diri di satu spot di sudut ruang kafe.


Semua memesan makanan, Sekar dengan senang hati menjadi pelayan mereka dibantu sang ibu juga ayahnya.


Jarak sekolah dan kafe hanya sekitar lima meter saja. Semua anak dibebaskan untuk jajan di mana saja. Banyak juga toko-toko jajanan biasa yang tersebar di sekitar sekolah.


"Nggak jual rokok?" tanya Sobar pada Sekar.


"Sayangnya nggak," jawab Sekar.


"Kamu ngerokok Bar?" tanya Daniel.


"Baru belajar sih," jawab Sobar jujur.


"Siapa yang ngajarin ngerokok?" tanya Ali keki. "Perasaan di sekolah nyaris semua anak nggak ada yang ngerokok!" lanjutnya.


"Berarti ada dong!" sahut Deny.


"Sembunyi-sembunyi pastinya!" terka Via yakin.


"Iya mereka suka merokok di belakang kantin. Yang pacaran juga di sana banyak, sampe ciuman dan remas-remas gitu!" sahut Deny memberi tahu.


"Bisa dilaporin tuh!" celetuk Sekar dengan mimik tak suka.


"Bisa dikeroyok sama anak-anak itu kamu!" sungut Danar kesal.


"Emang bisa begitu?" tanya Sekar polos.


"Dulu ada yang ngadu sih. Anaknya pindah satu minggu kemudian," jawab Ani mengingat.


"Iya ... biarin aja. Tempat itu udah berkali-kali digerebek guru BK. Tapi nggak ada yang kapok," sahut Dita.


Usai makan dan membayar sebagian makanan mereka. Semua murid kembali ke kelas, mereka kembali fokus pada pelajaran. Istirahat kedua semuanya memilih di dalam kelas.


"Sekar ... kamu nggak diganggu sama-sama makhluk itu lagi kan?" tanya Via dengan ekspresi penasaran.


"Jujur, setelah labirin dengan kalian. Aku juga masuk labirin untuk melepaskan anak majikanku," jawab Sekar.


"Subhanallah!' seru semuanya.


"Jadi mereka mengganggumu lewat anak majikanmu?" tanya Danar sengit.


Sekar mengangguk, ia menceritakan bagaimana nyaris satu rumah kena oleh hasutan setan-setan itu.


"Alhamdulillah, aku bisa selamat berkat bantuan dari Tuan muda Rey," lanjutnya dengan muka bersemu merah.


Danar tak melihat perubahan wajah kekasihnya. Remaja itu sedang manggut-manggut mendengar cerita Sekar.


Bel tanda akhir pelajaran pun selesai. Kini semua pulang. Semenjak kejadian kemarin, semua orang tua menjemput anak mereka pulang sekolah. Terutama anak kelas dua A.


Sekar hanya perlu berjalan kaki saja menuju rumahnya. Di sana ada terparkir mobil yang ia kenali. Brenda langsung berlari menyambutnya.


"Biarkan Sekar masuk dulu sayang!" peringat Rita.


"Nyo ...."


"Panggil Mama sayang. Aku bukan majikan ibumu lagi!" potong Rita mengingatkan Sekar.


"Ma," panggil Sekar lirih.


Gadis itu mencium punggung tangan mantan majikan ibunya.


"Jadi ini usahamu Sekar?" tanya Brenda melihat kafe yang menjadi tempat usaha keluarga mantan pembantu rumah tangganya itu.


"Iya Kak. Bagaimana menurut Kakak?" tanya Sekar.


"Bagus, sangat anak sekolahan banget!" ujarnya.


"Kan targetnya emang itu Kak. Jadi yang masuk ke sini adalah pelajar-pelajar," ujar Sekar.


"Nggak kepikiran memperluas pembeli?" Sekar menggeleng.


"Takut disalah gunakan Kak," jawabnya.


"Lagi pula, kan jarang ada yang mau mengusung konsep buku di kafe mereka. Jadi ini saingannya bisa nggak ada," lanjutnya dengan senyum indah.


"Aku boleh nanam investasi di sini?" tanya Brenda.


"Investasi?" tanya Sekar.


"Iya, aku tanam modal. Minta bagi hasil 5% dari seluruh penjualan," ujar Brenda lagi.


Rita dan lainnya membiarkan putri mereka saling berbincang. Bahkan Brenda tertular pintar Sekar. Rita bahagia sekali melihatnya.


"Oh, boleh banget Kak. Jadi mau investasi apa?" tanya Sekar.


"Aku akan investasi es krim dan wafel!" jawab Brenda.


Sekar mengangguk setuju, malahan gadis itu membuat surat perjanjian untuk itu. Semua harus transparan mengenai pemasukan dan pengeluaran. Brenda banyak belajar bagaimana pembukuan sederhana.


"Mom, Brenda boleh di sini nggak buat belajar sama Sekar. Jadi pekerja?" pinta gadis itu mengagetkan semuanya.


"Nona ...."


"Panggil Brenda dong Pak," pinta gadis itu merengek manja pada Tono.


"Kan jika berjodoh, Sekar bakalan naik pangkat jadi kakak ipar ku," sahut gadis itu.


Tono tersenyum, ia mengangguk. Perubahan Brenda membuat semua orang senang. Rita menyuruh putrinya untuk meminta ijin pada ayahnya.


"Minta sama Papa ya sayang," Brenda mengangguk.


Keduanya pulang. Sekar banyak hadiah dari Brenda. Koleksi bajunya bertambah lagi. Sekar sampai bingung meletakan semua baju-baju itu.


"Kamu kasih aja sama orang-orang, baju-baju lamamu," saran Tinah.


Sekar akhirnya mengasingkan baju-baju usangnya. Gadis itu juga memasukkan sepatu lamanya.


Sekar senang ketika ada beberapa ibu-ibu pemulung yang dengan gembira menerima baju-baju usangnya. Lalu tiba-tiba idenya bertambah.


"Bu, Pak. Boleh tidak jika sisa dari makanan yang tak terjual untuk mereka?"


"Jangan sisa sayang. Bagaimana jika setiap Jumat, kita gratiskan khusus untuk kaum duafa?" saran Tono.


Sekar mengangguk setuju. Gadis itu memeluk kedua orang tuanya. Ia mengecup pipi ayah dan ibunya.


"Makasih Pak, Bu ... aku sayang deh sama kalian!"


"Bapak dan ibu juga sayang sama kamu Nak. Bangga juga!" ujar Tinah mengacak rambut putrinya.


Keluarga kecil itu tertawa. Mereka sangat bahagia. Tono sangat yakin jika kehidupan mereka akan jauh lebih baik lagi.


Sementara di sudut ruang asap hitam tipis masuk dari sela-sela pintu samping menuju ruang cuci. Asap itu hilang seiring sinar matahari yang menimpa ruangan itu.


"Sekar!"


Bersambung.


😱


belum kah berakhir?


Next?