
Pagi menjelang, kaki Sekar sudah sembuh total, gadis itu bisa berjalan walau sangat pelan.
"Pake kursi roda dulu sayang," ujar Rita ketika melihat Sekar masih kepayahan berjalan.
Brenda ada di sana menatap Sekar yang jalan tertatih. Keningnya berkerut.
"Sekar kenapa Mom?" tanyanya.
"Sekar sakit sayang," jawab Rita.
"Ayo sarapan Sekar," ajak Bastian.
"Tadi saya sudah sarapan di dapur Tuan," jawab Sekar langsung.
"Siapa yang menyuruhmu sarapan di dapur?" tanya Rita.
"Saya mau sendiri Nyonya," jawab Sekar langsung.
Brenda mengigit roti gandum yang ia olesi selai coklat. Gadis itu libur selama satu minggu, ia berhasil mengikuti ujian tengah semester.
"Saya pamit Tuan, Nyonya, Nona!"
Sekar mencium punggung tangan ketiganya. Charlie yang akan mengantar gadis itu ke sekolah, Reynold sudah pergi dini hari tadi keluar kota. Sedang Tono juga tak lagi mengantar Sekar.
Perjalanan diisi keheningan. Sekar lebih suka menatap luar jendela dan melihat gedung-gedung tinggi menjulang.
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Charlie yang duduk di bangku belakang.
"Alhamdulillah baik, Tuan," jawab Sekar yang duduk di sebelah supir.
"Aku harap kau tidak banyak bertingkah hingga membuat ibu dan ayahku khawatir Sekar!" peringat Charlie.
"Saya tidak pernah ...."
"Jangan membantah!" potong Charlie dengan suara meninggi.
"Cukup bilang iya saja!" lanjutnya kesal.
"Iya Tuan muda," sahut Sekar dengan suara tercekat.
Perlahan air mata gadis itu turun. Sungguh sedih ia mendengar perkataan dari tuan mudanya itu. Ia sama sekali tak ingin membuat semua orang khawatir.
Sementara Charlie mengumpat mulutnya yang selalu kasar pada Sekar. Entah kenapa jika berhadapan dengan gadis yang duduk di depan depannya itu, Charlie tak pernah menahan emosinya.
Mobil berhenti tepat di depan teras sekolah, sesuai perintah Rita, Sekar harus diantar sampai sana.
"Terima kasih Tuan," ujar Sekar membungkuk hormat.
Charlie tak menyahut, pemuda itu tak menoleh sedikitpun pada gadis yang setia menunduk hormat sampai kendaraan itu bergerak dari halaman sekolahnya.
"Apa tadi terlalu kasar?" tanyanya pelan sekali.
Melihat mata Sekar yang basah dan suara sang gadis yang bergetar, menandakan jika Sekar menahan tangisnya dari tadi.
Charlie merasa bersalah, sungguh hatinya gundah bukan main. Terutama Sekar makin lama semakin cantik saja. Terlebih kemarin gadis itu menyabet rangking satu di kelas bahkan mendapat nilai paling tinggi.
"Apa aku menyukainya?" tanyanya dalam hati, tapi sejurus kemudian ia menggelengkan kepala.
Sementara di mansion Rita. Brenda baru mengetahui jika sang Kakak telah mengikat Sekar untuk dijadikan istrinya.
"Mommy sama Papa apa nggak bisa liat-liat gitu?" desis gadis itu tak habis pikir.
"Apa maksud dari perkataanmu Brenda?" tanya Rita tak suka.
"Oh ... Mom, please be wise!" ketus Brenda tak habis pikir dengan kedua orang tuanya.
"Dia hanya anak pembantu!" lanjutnya sambil berkacak pinggang.
"Lalu apa yang salah?" tanya Rita.
"Mom ... Kak Rey itu pebisnis, apa kata orang jika sudah dijodohkan dengan anak babu!" pekik Brenda tertahan.
Wajah gadis itu sampai memerah. Ia menganggap kedua orang tuanya gila.
"Aku yakin, ortunya pasti langsung terima kan?" tuduhnya.
"Kau salah, malah Pak Tono menolak!"
"I don't believe that! Dia pasti merencanakan sesuatu!" sanggah Brenda meninggi suaranya.
"Down your Voice!" tekan Bastian tak suka.
"Kau tau Brenda ... apa yang kita miliki hanya setitis debu. Jika Tuhan berkehendak ...."
"Ya ... ya ... ya, kita akan sama miskinnya dengan Sekar. Tapi apa iya kita akan jatuh miskin kalau kita berusaha keras?" bantah Brenda.
"Mom, di luar negeri aku belajar hidup. Tidak akan terjadi sesuatu pada kita jika selama kita mengusahakannya. Kita sudah punya apa yang kita usahakan. Selama kita mengelolanya dengan baik, aku yakin kita akan tetap seperti ini!" lanjutnya memberi argumen panjang lebar.
"Kau benar sayang ... memang kau benar sekali," sahut Bastian.
Bastian menahan istrinya mengatakan apa-apa lagi.
"Lalu apa kau sudah melakukan apa yang membuatmu sukses?" tanya Bastian.
"Aku punya kalian, kenapa aku harus mengupayakan diriku?" tanya Brenda bingung.
"Apa kalian berencana membiarkanku begitu saja?" tanyanya dengan nada meninggi.
"Gara-gara Sekar ... Mommy dan Papa mau buang aku gitu?" tanyanya lagi.
"Brenda bukan itu maksud Papa!" sanggah Bastian.
"Oh ... Papa, lalu apa maksudmu?" desis Brenda memutar mata malas.
"Kau makin kurang ajar semenjak tinggal di Amerika, Brenda!" tegur Rita tak suka.
"Kenapa sih Ma, setiap anak yang keberatan dengan keputusan orang tua, kenapa kami disebut kurang ajar?" tanya Brenda.
"Kau bisa tidak membedakan mana bentuk kurang ajar itu dengan keberatanmu dengan keputusan kami!?" tanya Bastian mulai kesal pada putrinya.
"Kau tau, bukan kami yang meminta Sekar menjadi istri dari Kakakmu Rey. Tapi Rey sendiri yang memintanya!" sahutnya lagi.
Brenda diam, ia sangat kesal dengan kedua orang tuanya. Ia menggeleng tak percaya dengan keputusan ayah dan ibunya yang menerima permintaan sang kakak.
Brenda memilih pergi dari kamar ibunya. Gadis itu melangkah kesal menuju kamar dan membanting pintu yang tak bersalah hingga berbunyi "Blam!".
Tinah yang dari tadi di sana terjengkit. Wanita itu tadi hendak memberitahu jika ada tamu untuk tuannya.
"Ya Allah," ujarnya lirih sambil menghapus cepat jejak basah di pipinya.
Sampai di depan kamar tuannya ia mengetuk pintu dan mengatakan jika ada tamu.
"Iya Mbok, tolong siapkan minuman dan kudapan ya!" pintar Bastian.
"Baik Tuan!" sahut Tinah.
Wanita itu pun bergegas turun ke bawah. Sementara itu di sekolah, Sekar tetap terhibur dengan semua kelakuan teman-temannya. ada rasa berat gadis itu untuk meninggalkan mereka.
"Sekar ... kenapa kamu kelihatan sedih?" tanya Via duduk di kursi depan meja Sekar.
"Aku tidak apa-apa," sahut Sekar.
"Jangan bohong Sekar. Kamu seperti melamun," ujar Via lagi.
Danar duduk di kursi sebelah pacarnya. Memang mereka masih melanjutkan hubungan sebagai pasangan kekasih.
"Kamu kenapa?" tanya Danar.
"Jika memang ada masalah, cerita aja," lanjutnya.
Semua mengangguk setuju. Sekar buru-buru menggeleng, ia tak mau semua temannya tahu apa kegundahannya.
"Aku tidak apa-apa, sungguh!" ujar gadis itu menenangkan semua temannya.
Akhirnya pelajaran selesai, semua pulang. Tono sudah berada di depan kelas anak gadisnya. Tapi kali ini pria itu menggunakan taksi daring. Ia tak lagi menggunakan mobil milik tuannya.
"Tumben Yah?" tanya Sekar.
"Semua mobil dipakai Nak, lagi pula itu bukan mobil kita," ujar Tono berkelakar.
Sekar terkekeh, gadis itu dapat melihat kegelisahan ayahnya. Hanya butuh tiga puluh menit mereka sampai di depan gerbang mansion mewah itu.
"Assalamualaikum!" sapa Sekar ketika masuk lewat pintu samping.
"Wa'alaikumusalam," balas Tinah dengan senyum lebar.
Semua berkegiatan seperti biasanya. Ketika malam menjelang. Tinah dan Tono masuk kamar putrinya.
"Nak," panggil Tono ketika duduk di pinggir ranjang.
"Iya Pak ... ada apa?" tanya Sekar dengan hati berdebar.
"Nak, bagaimana kalo kita pulang kampung dan hidup di sana sebagai petani?" tanya Tono hati-hati.
"Kamu bisa kok sekolah tinggi seperti yang kamu mau, tapi kami hanya minta kerja keras dari kamu," sambungnya langsung.
"Iya Nak, kita harus pergi Nak. Sungguh, Ibu sudah nggak sanggup," ujar Tinah.
Sementara itu sekelompok makhluk halus berdiri menatap ayah, ibu dan anak itu. Mereka saling tatap..
"Sekar ... katakan ... apa kau butuh bantuan kami?" tanya Ri berbisik.
Bersambung.
Uh ....
Next?