
Tak ada yang bisa menghentikan waktu. Kini Sekar sudah kelas dua SMA, gadis itu tetap mendapat beasiswanya.
"Selamat untuk Ananda Sekar yang masih mempertahankan nilai dan juara umumnya!" ucap kepala sekolah memberi selamat.
Sekar mendapat piagam penghargaan dari sekolah karena berhasil membawa harum nama sekolahnya. Gadis itu langsung naik kelas tiga SMA tanpa harus melewati kelas duanya. Sekar langsung mengambil program IPA agar bisa masuk fakultas kedokteran. Bahkan sekarang banyak universitas sudah mengundangnya masuk tanpa test.
"Kami langsung melongkap kelas Sekar dan langsung masuk kelas tiga jurusan IPA, ya Nak?" Sekar mengangguk.
Tono menatap bangga putrinya. Sekar benar-benar mengangkat nama baiknya. Pria itu kini telah memiliki kendaraan roda empat hasil jerih payah putrinya. Bahkan bisa menyewa ruko lebih besar lagi untuk usaha kafe study-nya.
Sekarang Tono dan Sekar menuju ruko tersebut. Di sana sang ibu telah menunggu, begitu juga Bastian dan keluarganya.
"Sekar mengundang seratus anak yatim untuk perayaan pembukaan ke satu tahun kafenya," ucap Tinah memberi penjelasan pada Rita.
"Iya, tidak apa-apa Jeng," sahutnya.
Tinah jadi malu dengan sebutan dari mantan majikannya itu.
"Nyo ...."
"Jeng ... jangan begitu. Saya dari dulu tak pernah menganggap Jeng Tinah sebagai pembantu, tetapi sebagai saudara saya sendiri," potong Rita cepat lalu mengusap tangan Tinah dengan lembut.
"Kakakmu belum datang Brenda?" tanya Bastian pada putrinya.
"Belum Pa, tadi katanya ada rapat penting nggak bisa diwakili. Jadi kemungkinan dia nggak ikut acara inti," jawab Brenda.
"Charlie bagaimana?" tanya Bastian lagi.
"Kak Charlie dalam perjalanan, dia kejebak macet dari bandara ke sini," jawaban Brenda membuat Bastian mengangguk tanda mengerti.
Akhirnya Sekar datang bersama ayahnya. Gadis itu masih memakai seragamnya. Sekar makin cantik walau tanpa riasan.
"Assalamualaikum, Pa, Kak!" sapanya lalu mencium punggung tangan keduanya.
Brenda langsung memeluk adik dan sekaligus calon kakak iparnya itu. Ia mengambil paper bag yang ada di tangan Sekar.
"Ini piagam penghargaan itu kan?" tanyanya sambil mengambil kertas segiempat dan juga beberapa sertifikat lainnya.
"Masyaallah ... sertifikat TOEFL terbaik dengan nilai delapan!" seru Brenda takjub.
"Eh ... sudah-sudah. Anak-anak yatim udah datang tuh!" ujar Rita menyambangi mereka.
Sekar mencium punggung tangan mantan majikan ibunya itu. Lalu beralih pada wanita yang melahirkannya. Tinah mengecup sayang putrinya, ada air mata haru di sana.
Sekar ganti baju di ruangan yang telah disiapkan sebelumnya. Brenda membantu merias gadis itu tak perlu berlebihan, karena Sekar sudah sangat cantik tanpa make up.
"Kamu cantik Sekar!" puji Brenda.
"Apa tidak apa pakai beginian?"
Sekar menarik kerah lehernya yang memperlihatkan tulang selangka yang indah. Kulitnya sangat bersih dan putih, kalung pemberian Reynold ada di leher jenjang gadis itu.
"Ini mini dress yang dibelikan Kak Rey," ujar Brenda.
"Biar aja nanti, palingan dia uring-uringan sendiri," lanjutnya sambil mencebik kakaknya.
"Tapi ini ada anak yatim piatu. Keknya pake kerudung deh," ujar Sekar lalu mengambil kain panjang untuk menutupi kepala dan bahunya yang terbuka.
"Ih, kamu makin cantik loh kalo berkerudung seperti ini," ujar Brenda lagi-lagi memuji.
"Aku juga mau ah, kerudungan!" ujarnya lalu mengambil pasmina berwarna coklat.
Acara doa bersama dimulai. Sekar begitu senang dengan doa yang diucapkan para anak-anak yatim piatu. Di tengah acara Charlie hadir membawa kado besar.
"Makasih Kak!" ujar Sekar dengan mata berbinar.
"Sama-sama!" sahut Charlie tersenyum.
Setelah pemotongan kue dan pembagian bingkisan pada anak yatim. Ruko tersebut ditutup. Ada lima karyawan yang turut serta merayakan ulang tahun atasannya itu.
"Selamat ulang tahun ya Mba Sekar, moga panjang umur, diberi rejeki yang lancar dan diberkahi oleh Allah!" ujar salah satu karyawan mewakili teman-temannya memberi doa.
"Aamiin, makasih ya!" sahut Sekar begitu bahagia.
Kini keluarga tengah bercengkrama. Ruko sengaja dibuka separuh saja. Sekar dan lainnya berada di tingkat paling atas.
Reynold datang membawa buket bunga yang begitu indah. Ia juga sangat tampan dengan balutan formalnya. Banyak pasang mata kaum hawa melirik pria itu.
"Eh ... siapa tuh? Ganteng amat?!" bisik salah satu pelanggan.
"Iya Mas, Mba Sekar dan keluarga ada di lantai tiga," jawab Ninda.
Rey mengangguk, ia membenahi penampilannya. Lalu dengan langkah tegap ia menaiki tangga menuju lantai atas.
"Assalamualaikum!" ujarnya memberi salam ketika masuk.
"Wa'alaikumusalam!" sahut semuanya memberi salam.
Reynold tertegun ketika melihat Sekar yang begitu cantik dengan mini dress perak pilihannya. Terlebih, Sekar masih menutupi bahunya yang terbuka dengan pasmina warna putih.
Pria itu mendekati gadis kecilnya. Rita menyela putranya.
"Jangan deket-deket!" ucapnya berseloroh.
Semua terkekeh melihat wajah kedua pasangan itu merona karena malu.
Rey menyematkan cincin tunangan di jari manis Sekar, begitu juga Sekar menyematkan cincin di jari manis pria yang menatapnya terus menerus.
"Ah ... aku ingin menikahkan mereka berdua secepatnya!' celetuk Bastian tak sabaran.
"Sabar Pak, Sekar masih kelas tiga SMA," ujar Rita.
Tono tertawa, ia juga ingin menikahkan cepat putrinya agar ada yang menjaga sang putri. Hingga tiba-tiba.
"Hueeek!' Tinah mual.
"Bu!?"
"Jeng?!"
Semua panik, wajah Tinah mendadak pucat. Wanita itu pun digiring ke kamar oleh Sekar dan Rita. Sekar sangat khawatir.
Tak lama dokter datang dan memeriksa kesehatan wanita itu. Dokter wanita itu tersenyum dan memberi selamat pada Tinah.
"Apa?" tanya wanita itu tak percaya.
Tujuh belas tahun usia Sekar, tiba-tiba Tuhan memberinya kepercayaan dengan janin yang ada dalam kandungannya.
"Ibu hamil?" pekik Sekar gembira luar biasa.
"Alhamdulillah ya Allah!" pekik Tono lalu menciumi istrinya.
"Pak!" peringat Tinah melotot.
Wanita itu malu bukan main, sedang Tono tertawa lirih. Semua bahagia mendengar kabar baik itu.
"Usia kandungan baru tiga minggu, ibu harus banyak istirahat dan nggak boleh cape-cape ya!" peringat dokter lalu memberikan resepnya.
Tono tadinya mau menebus resep. Reynold mengambil alih kertas itu.
"Biar Rey yang nebus Pak!' ujarnya inisiatif.
"Makasih Nak," ujar Tono tersenyum.
Rey pergi bersama Charlie. Brenda mengusap perut mantan pembantu ibunya itu.
"Sehat ya Baby," doanya penuh harap.
"Aamiin, makasih Kakak Cantik," ujar Tinah.
Semua keluarga pulang setelah Rey memberikan satu kantung vitamin pada Sekar. Pria itu sempat-sempatnya mencium kening calon istrinya itu.
"Mas!" Sekar mencebik malu.
Rey terkekeh. Kini Sekar berada di kamarnya, gadis itu menatap cincin berlian di jari manis kirinya. Ia tersenyum sedari tadi. Lalu melirik sudut ruangan di mana teman-temannya berkumpul.
"Sekar ... sampai kapan kau menyiksa kami!" teriak Re.
"Manusia sombong!" teriak makhluk itu lagi. "Tidak tau balas budi!"
Sekar tidak peduli. Selama ia tidak diganggu oleh teman-teman astralnya itu. Ia akan terus mengurung mereka di sudut ruangan.
Bersambung.
Wah selamat Sekar ...
next?