
Sekar sudah mulai perkuliahannya, sebentar lagi ia akan masuk ujian semester satu. Tak ada yang bisa menghentikan waktu memang.
"Adam, jangan ya Nak!" pinta sang ibu ketika bayinya hendak mengacak tempat bawang merah.
Sayang, larangan Tinah tak berlaku. Baskom kecil tempat bawang, Adamar lempar hingga membuat isinya berserakan.
"Sayang," keluh wanita itu.
"Hah!" pekik bayi itu senang.
Tinah terpaksa menghentikan pekerjaannya. Ketika dulu ia jadi seorang maid. Kini dirinya memperkerjakan seorang maid juga.
"Tolong lanjutin ya Mbok," pintanya pada seorang wanita berusia lebih tua darinya.
"Iya Bu," sahut wanita itu.
Tinah membereskan kekacauan yang dibuat putranya. Bayi itu sudah bisa turun dari kursi khususnya. Walau masih merangkak. Tapi Adamar atau biasa dipanggil Adam itu sangat gesit.
"Nanti kena mata pedih, sayang," peringat Tinah.
"Ndat!" geleng Adam yakin.
Tinah membersihkan tangan putranya dan membawanya jauh dari dapur. Mendudukkannya di boks lalu meninggalkannya. Adamar akan menangis jika diletakkan di sana. Ia tidak suka dikurung.
"Huuuawa ... mbuuu ... huuuwaaa!" pekiknya menangis.
Tinah akhirnya tak tega dan memilih menggendong Adam dan membawa putranya ke kamar untuk disusui.
Sedang di ruang kerja Reynold, pria itu membenahi jas kerjanya. Ghana datang hendak membantu atasannya. Tangannya terjulur, tapi tangan besar menepisnya.
"Siapkan berkas rapat!" titah Rey dingin.
Ghana sedikit mengelus lengannya yang ditepis oleh Reynold. Bastian dan Charlie berada di lokasi lain sedang mengecek.
Reynold melangkah tegak dan meninggalkan sekretarisnya yang harus lari mengejar langkah lebar pria itu. Gadis itu ikut masuk di lift khusus bersama Rey.
"Ck!" decaknya kesal.
Mau tak mau karena butuh, ia membiarkan Ghana ikut bersama di lift itu.
"Mestinya kau lebih dulu tiba di ruang rapat menyiapkan semuanya Ghana!" tegur Reynold tegas.
Pria itu tak melihat sama sekali Ghana yang menunduk. Gadis itu gemetaran. Bukannya iba, Rey malah mengumpat panjang pendek.
Ting! Pintu lift terbuka. Keduanya keluar dengan beda ekspresi. Reynold bermuka masam. Sedang Ghana bermuka pucat.
"Wah Tuan Reynold, gadis di sebelahmu cantik sekali," puji salah satu kolega yang baru saja datang.
"Anda suka Tuan Hendro?" tanya Rey dengan nada terdengar kesal dipendengaran Hendro.
"Ambillah, aku beri gratis!" lanjutnya.
"Hahaha ... aku hanya bercanda Tuan. Jangan ambil hati," ujar pria itu lalu jadi tak enak.
Rey hendak membuka mulut untuk menjelaskan kesalah pahaman itu. Tetapi pria itu sepertinya sudah salah paham.
"Saya tidak tau jika gadis cantik ini adalah milik anda Tuan, hingga membuat anda kesal," ujar Hendro merasa bersalah.
Ghana tersipu mendengar hal itu. Berbeda dengan Reynold yang kesal dengan perkataan koleganya itu.
Sementara itu Sekar selesai dengan mata kuliahnya. Gadis itu memilih pergi ke kafe miliknya menggunakan taksi. sang ayah tadi mengatakan jika tak bisa menjemput karena ban mobil bocor.
"Sepertinya, bawain Kak Rey, Kak Chali, sama Papa Bas makan siang bagus," gumamnya.
Gadis itu mulai memasak hidangan makan siang. Ia memilih memasak soto ayam komplit. Ini pertama kalinya ia memasak untuk keluarga calon suaminya. Ia pastikan mencicipi rasa agar tak keasinan atau hambar.
Dua jam ia habiskan untuk memasak. Gadis itu membawa semuanya dalam rantang khusus. Tak lupa nasi putihnya.
Setelah yakin dengan semuanya. Sekar melihat jam di dinding.
"Dua jam lagi masuk makan siang," monolognya.
Sekar memilih membersihkan diri dan mengganti baju yang bersih. Lalu ia pun keluar kafe membawa rantang yang berisi makan siang untuk keluarga calon suaminya.
Sekar memilih memberitahu jika dirinya akan datang ke perusahaan milik Reynold melalui pesan singkat. Setelah melihat jika pesan itu sudah terkirim. Ia pun memasukkan benda pipih itu ke tas yang ia sampirkan di bahu.
Setengah jam ia butuhkan untuk menempuh perjalanan sampai di gedung tinggi menjulang. Ia turun di lobi perusahaan, lalu menuju resepsionis.
Seorang gadis dengan balutan busana ketat tengah merapikan ujung kukunya. Sekar menghampiri.
"Selamat siang Mba!" sapanya.
Sekar menghela napas panjang. Ia sudah yakin jika resepsionis itu hanya memandang atasannya saja. Terlihat dari pakaian yang dikenakan resepsionis itu.
Kemeja ketat hingga membuat kancing-kancing itu seperti mau lepas. terlebih warna kemeja yang tipis hingga memperlihatkan apa warna isinya.
"Mba pakai baju?" sindir Sekar bertanya.
Gadis itu menatap tajam Sekar. Tetapi Sekar lebih tajam menatap resepsionis itu. Seketika pekerja among tamu itu merinding melihat tatapan Sekar.
"Sekar!" si empunya nama menoleh.
"Papa!" resepsionis terkejut setengah mati.
'Mampus gue!' umpatnya dalam hati pada diri sendiri.
"Sayang, kamu berapa lama di sini?" tanya Bastian menghampiri calon menantunya.
"Baru lima menit Pa," jawab Sekar jujur.
Bastian menatap resepsionis yang tiba-tiba pucat. Lalu melihat baju yang dikenakan.
"Kau pakai apa?!" tanya pria itu gusar.
Resepsionis bernama Deasy itu menunduk. Lalu ia memakai blasernya untuk menutupi kemeja tipis yang ia kenakan.
"Jika aku mendapati kau berpakaian seperti tadi. Aku pastikan kau tak lagi bekerja di sini Deasy!" tekan Bastian.
"Ayo," ajak pria itu.
Charlie baru saja datang, rupanya pria itu tadi tidak bersama ayahnya.
"Wah keknya bawa makanan nih!" serunya senang.
Charlie mengambil rantang yang dipegang oleh Sekar. Lalu ketiganya menuju lift khusus.
Mereka memasuki ruang kerja Reynold. Pria itu belum selesai dengan rapatnya. Sekar menyusun semua makanan di meja.
"Tunggu Kakakmu dulu Char!" tegur Bastian ketika melihat Charlie mengambil piring.
"Astaga Pa ... aku sudah lapar!" protes Charlie.
"Sabar sayang. Kakakmu sebentar lagi juga datang," pinta Bastian lagi.
Rey datang bersama Ghana. Pria itu langsung tersenyum melihat calon istrinya.
"Sayang, kamu datang?"
Rey tanpa ragu memeluk dan mengecup pipi Sekar hingga gadis itu merona karena malu.
"Mas," rengeknya..
"Iya sayang," ujar Rey terkekeh.
Ghana berdiri mematung. Gadis itu seperti terpaku di tempat. Sekar melihatnya.
"Oh Kak?" Rey menoleh.
"Kau boleh pergi Ghana. Cari makanmu di luar sana!" usir pria itu.
Satu titik bening jatuh tak tertahankan. Ghana merasa sakit hati dengan pengusiran Rey padanya.
"Tuan!"
"Apa?" sahut Rey dengan tampang tak bersalah.
Ghana hendak mendamprat habis pria tampan itu. Tetapi, jika ia melakukan itu. Maka ia harus mengucap selamat tinggal pada karier seumur hidupnya.
"Boleh tinggalkan kami Ghana!" suruh Bastian pada gadis itu.
Ghana membungkuk hormat. Gadis itu mau tak mau meninggalkan ruangan dengan hati kesal dan penasaran.
"Siapa gadis itu?" tanyanya pelan sekali.
Ghana sudah di luar ruangan. Ia pun pergi menuju kantin. Sedang di ruang kerja. Semua yang makan memuji masakan Sekar hingga gadis itu tersenyum lebar.
Bersambung.
Next?