
"Tolong Sekar!" teriak makhluk itu ketika Ahmad membaca doa.
Guru agama itu masuk ke kelas yang sudah ia rasakan beda aura dan juga udaranya. Banyak anak-anak duduk mematung dengan pandangan kosong. Di belakang Sekar tampak berbincang dengan sosok lain yang tak dapat dilihat oleh Ahmad.
"Sekar ... bisa minta mereka menyingkir?" pinta Ahmad lirih.
Dada pria itu seperti ditimpa oleh batu yang sangat berat dan membuatnya sedikit sesak dan sakit jika bernapas. Belum lagi seluruh darahnya seperti teraliri listrik yang menyengat.
"Allāhummaftah lanā abwābal khair, wa abwābal barakah, wa abwāban ni‘mah, wa abwābar rizqi, wa abwābal quwwah, wa abwābas shihhah, wa abwābas salāmah, wa wa abwābal ‘āfiyah, wa abwābal jannah. Allāhumma ‘āfinā min kulli balā’id duniyā wa ‘adzābil ākhirah, washrif ‘annā bi haqqil Qur’ānil ‘azhīm wa nabiiyikal karīm syarrad duniyā wa ‘adzābal ākhirah. Ghafarallāhu lanā wa lahum bi rahmatika yā arhamar rāhimīn. Subhāna rabbika rabbil ‘izzati ‘an mā yashifūn, wa salāmun ‘alal mursalīn, walhamdulillāhi rabbil ‘ālamīn.
artinya: Ya Allah, bukalah bagi kami pintu kebaikan, pintu keberkahan, pintu kenikmatan, pintu rezeki, pintu kekuatan, pintu kesehatan, pintu keselamatan, pintu afiyah, dan pintu surga. Ya Allah, jauhkan kami dari semua ujian dunia dan siksa akhirat. Palingkan kami dari keburukan dunia dan siksa akhirat dengan hak al-Qur’an yang agung dan derajat nabi-Mu yang pemurah. Semoga Allah mengampuni kami dan mereka. Wahai, Dzat Yang Maha Pengasih. Maha Suci Tuhanmu, Tuhan keagungan, dari segala yang mereka sifatkan. Semoga salam tercurah kepada para rasul. Segala puji bagi Allah, Tuhan sekalian alam."
Udara perlahan mengendur, beberapa anak seperti mulai tersadar. Sosok merah tampak marah dan memasuki raga Sekar.
"Jangan ganggu kesenangan kami manusia!" teriak gadis itu dengan suara dobel.
Ahmad beristighfar mendengar suara itu. Suasana masih terlalu pagi jika udara tiba-tiba dingin dan pengap. Beberapa anak yang tadi sadar kembali hilang. Ahmad meneriaki nama muridnya.
"Sekar hentikan!"
Tubuh gadis itu terjatuh dari kursi. Ahmad tak bisa bergerak, Danar yang biasanya mampu menjadi tameng untuk Sekar ikut tak sadar.
"Pak tolong kita ikut dulu mereka!" pinta Sekar dengan nada kesakitan.
"Sekar ... mereka ...."
"Pak ... mereka iblis yang kuat ... mereka menawan sukma teman-teman!" seru Sekar.
"Bagaimana kita bertemu Sekar?" tanya Ahmad.
"Bapak nanti jadi cahaya kami untuk berkumpul. Terus minta doa perlindungan Pak ... Aku mohon!" seru Sekar.
"Baiklah Sekar!" sahut Ahmad.
Ruang kelas yang hanya 9x8m itu berubah jadi sebuah taman besar di depan Ahmad terdapat susunan pohon lebat yang menyerupai labirin. Pria itu berdiri sesuai di depan jalan labirin itu.
"Sekar ... Bapak ada di sini!" teriaknya.
"Berdoa Pak ... jadi cahaya kami!" teriak Sekar yang tidak tau dari mana arah suaranya.
Ahmad pun diam dan menunduk, ia pasrahkan diri meminta perlindungan Tuhan. Beberapa makhluk tak kasat mata menggodanya bahkan menyerupai istri dari pria itu.
"Mas ... mas ... aku ingin sayang," ujar sosok yang berubah jadi istri Ahmad.
Tangan lentik wanita itu membelai Ahmad. Pria itu terus fokus, ia sangat yakin jika apa yang tersaji adalah halusinasi. Sementara itu Sekar berada di tengah-tengah labirin. Ada banyak jalan di sana. Gadis itu harus mencari teman-temannya.
"Danar!" teriaknya memanggil teman sekaligus pacarnya.
"Sekar!" teriak Dita salah satu teman gadis itu.
"Dit ... kamu ngapain di situ?" tanya Sekar melihat temannya sedang duduk berjongkok.
"Gue takut Sekar ... keluarin gue dari sini ... gue takut!" ujar Dita bergetar ketakutan.
"Dit ... ikut aku yuk," ajak Sekar meraih tangan Dita.
Dita menoleh dan menyeringai, Sekar mundur ke belakang. Gadis itu melihat sosok lain memasuki temannya itu.
"Bismillahirrahmanirrahim,"
Sekar tidak tau ingin berdoa apa. Tapi hanya bacaan itu yang ia ingat, Sekar hendak memeluk Dita.
Bruk! Dita terjatuh, tiba-tiba tubuh gadis itu diseret menjauh dari Sekar. Sekar berlari mengejar tubuh yang diseret itu.
"Sekar!" teriak Dita ketakutan dan kesakitan.
Sekar mengejar dan melompat, gadis itu mendapatkan Dita. Dua kekuatan saling tarik menarik. Dita berteriak kesakitan.
"Dita ... baca doa menurut kepercayaanmu!" teriak Sekar.
Dita menangis, hanya satu yang ia sebut dan membuat tarikan lain terlepas.
"Mama!"
"Dita lari ke arah sana, ada Pak Ahmad. Lari ke arah yang lebih terang dari lainnya!" suruh Sekar.
"Mama ... Mama ... I love you!"
"Nak ... kemari Nak!" teriak Pak Ahmad.
Gadis itu berlari menuju guru agama itu. Dita menangis pilu di sana. Ia berhasil selamat.
"Kau tidak apa-apa Nak?" tanya Ahmad.
Dita hanya sesenggukan, ia tidak tau harus menjawab apa. Gadis itu ingin pulang dan bersujud di kaki ibunya.
Tadi pagi gadis itu membentak sang ibu karena tak memberinya uang lebih. Ia memaki ibunya.
"Aku lebih baik bersama setan dari pada kamu Mama!" teriaknya.
"Pak ... Dita mau pulang Pak ... hiks .. hiks ....!" pinta gadis itu..
"Nak, kita tak bisa pulang, kita harus menolong teman-teman kamu yang lain. Kita berdoa sama-sama ya Nak," ujar Ahmad menenangkan anak muridnya itu.
Sementara di mansion Rita, Tinah tiba-tiba lemas, wanita itu lunglai di lantai yang dingin.
"Ya Allah, putriku!" isaknya lirih.
"Mbok ... Mbok kenapa?" beberapa maid baru mendatangi wanita itu yang tiba-tiba histeris.
Rita datang tergopoh-gopoh, wanita itu menenangkan salah satu maidnya itu.
Sedang di tempat lain, Sekar masih mencari keberadaan teman-temannya. Gadis itu diikuti semua teman astralnya.
"Sudah lah Sekar. Ikut kami dan semuanya akan kembali seperti semula," rayu Re.
"Iya Sekar .... Ndere nggak akan menyulitkan kamu jika mau gabung dengan kami. Semua anak akan dikembalikan pada raganya masing-masing," sahut Ri.
"Sekar!" gadis itu menoleh..
"Sobar!" serunya.
Sobar adalah murid paling bengal di kelas tapi jika pelajaran dimulai, remaja yang bertubuh tambun itu serius mengikuti pelajaran.
"Kamu ke sana gih!" tunjuk Sekar.
Sobar menoleh arah jalan yang ditunjuk Sekar, ia pun mengangguk. Remaja itu melangkah. Tapi tiba-tiba tubuhnya kembali ditarik masuk ke dalam timbunan daun.
"Sekar ... tolong!" teriaknya..
Sekar sekuat tenaga menarik tubuh Sobar yang besar. Remaja pria itu memeluk leher Sekar, ia tak mau masuk dalam rimbunan daun yang kini membuatnya tambah sakit.
"Sobar ... berdoalah ... minta perlindungan Allah!" teriak Sekar.
Darah menetes di sela bibir Sekar. Gadis itu begitu sakit tubuhnya setiap ia mengingat Tuhannya. Sobar tak mengingat doa-doa yang selama ini diajarkan.
"Sekar ... aku lupa!"
"Allahuakbar!" teriak Sekar menarik tubuh Sobar.
Mereka berdua terjatuh ke tanah dengan Sobar yang menindih Sekar.
"Bar ... berat!" keluh Sekar.
Remaja itu langsung berdiri, ia menangis memanggil ayahnya.
"Bapak ... Sobar kapok Pak ... huuu ... uuuu!" isaknya.
"Bar ... kamu lewat jalan itu, cari cahaya yang lebih terang dari semua cahaya. Ikuti kata hatimu Bar. Di sana ada Pak Ahmad yang akan nolong kamu!" suruh Sekar.
Sobar mengangguk, remaja itu mencari cahaya di mana Ahmad, guru agamanya menunggu. Sedang Sekar menatap semua teman astralnya yang berdiri sambil memberikan pemandangan indah.
"Sekar ... jadilah ratu kami!"
Bersambung.
😱
next?