My Ghost Friends

My Ghost Friends
SEKAR 3



Sekar begitu bahagia, gadis itu berkali-kali berteriak kencang ketika menaiki wahana roller coaster.


"Kita makan dulu yuk!" ajak Reynold.


Sekar melihat jam di pergelangan tangannya. Gadis itu menggeleng, sudah pukul 20.12. sudah terlalu malam, ia ingin pulang.


"Saya mau pulang saja Tuan muda," ujar gadis itu. "Ini sudah terlalu malam."


"Kau bersamaku Sekar," ujar Reynold.


"Saya takut Tuan dan Nyonya marah jika kita pulang berdua Tuan muda!" sahut Sekar menatap pemuda tampan di depannya..


Jujur dalam hati Sekar, wajah Danar tidak sebanding dengan pemuda yang kini menatapnya. Namun, gadis itu cukup tau diri di mana ia berasal.


"Tolong jangan membuat Tuan sulit sendiri, kita jauh berbeda," lanjut gadis itu lirih.


Ada rasa sakit di hati keduanya. Reynold benar-benar sudah jatuh cinta dengan gadis muda itu. Pemuda itu memeluk Sekar yang menunduk.


"Percayalah ... tak akan terjadi apa-apa padamu jika bersamaku," ujar Reynold berjanji.


"Boleh saya telepon ayah saya dulu?" tanya Sekar.


"Aku sudah ijin dengan ayahmu, sayang," ujar Reynold makin berani.


"Tuan,"


"Hais ... ayo ... aku sudah lapar!"


Reynold menarik tangan sang gadis dan membawanya ke sebuah restoran yang ada di wahana itu. Reynold memesan steak Wagyu untuk mereka berdua.


"Ini besar sekali," cicit Sekar ketika disuguhkan makanan itu.


"Ayo makan ... jangan banyak protes!" suruh Reynold.


Usai makan, keduanya pun pulang. Hanya butuh dua puluh menit sampai rumah, Sekar langsung turun dari mobil dan berlari lewat pintu samping. Reynold hanya menggeleng melihat tingkah Sekar, walau kemudian ia tersenyum simpul.


"Jauhi Sekar!" sosok berbulu lebat coba menakuti pemuda itu.


Reynold menatap arah di mana sosok berbulu itu berada. Ri langsung mengecil, Reynold menatap kosong di depannya hanya mengerutkan kening.


"Siapa sih?" tanyanya bergumam.


Pemuda itu pun masuk rumah setelah mengucap salam. Rita tersenyum ketika melihat kedatangan putranya.


"Bagaimana sayang?" tanyanya dengan senyum menggoda.


"Mom," rengek pemuda itu dengan rona di pipi.


"Ah ... Mommy senang melihatmu merona seperti ini," ujar Rita mengusap pipi putranya.


Sementara itu di kamarnya, Sekar menatap Ri yang mengecil. Re tak ada di sana.


"Kenapa kau pergi dengannya?" protes Ri.


"Jangan mencampuriku Ri!" perintah Sekar.


"Cukup kau dekat denganku tapi jangan urusi apa yang kulakukan!" lanjutnya.


Sekar sudah menyiapkan semua bukunya untuk besok. Gadis itu juga mengerjakan pekerjaan rumah dari guru matematikanya. Walau sedikit larut, Sekar terus mengerjakan tugasnya sebagai murid.


Pagi menjelang, semua sudah siap berangkat. Sekar kali ini ikut dengan Reynold, ia mengantarkan gadis itu.


"Tuan, saya nanti pulang sedikit sore karena ada ekstrakurikuler," ujar Sekar memberitahu.


"Baik, aku akan menjemputmu sore!" ujar Reynold..


Sekar tak bisa berkata apa-apa. Gadis itu duduk di sisi sang supir seperti biasa. Hanya butuh dua puluh lima menit untuk mereka sampai di gerbang sekolah Sekar. Gadis itu membungkuk hormat pada tuan muda yang ada di mobil itu.


Sekar memasuki halaman sekolah, jika ada yang melihat, gadis itu tengah diikuti banyak mahkluk dengan berbagai bentuk. Re dan Ri tak mau melepaskan temannya itu. Kedua mahkluk itu akan mencari celah untuk mengambil Sekar agar menjadi milik mereka.


Danar ternyata sudah lebih dulu sampai, remaja itu langsung menggandeng pacarnya dan duduk di sebelahnya. Ia memepetkan kursinya agar tak berjauhan dari kekasih.


"Menjauhlah," pinta Sekar.


"Tidak!" tolak Danar.


Hal itu membuat Re marah dan menarik kursi lain. Bunyi derit terdengar memekakkan telinga. Ada sepuluh anak yang hadir di kelas langsung menutup telinga mereka.


"Astagfirullah!" pekik Danar beristighfar.


"Berdiri! Beri salam!"


"Selamat pagi Bu Guru!" seru anak-anak.


"Selamat pagi anak-anak! Duduk!" semua anak duduk di kursi mereka.


"Sekarang buka halaman dua puluh kerjakan soalnya!" lanjutnya.


Semua membuka buku yang diminta dan mulai mengerjakan tugas mereka.


"Ada yang ditanyakan?" salah satu menunjukkan tangan.


"Bu maksud dari kata majas apa?" tanya murid itu.


"Majas atau gaya bahasa yaitu bahasa indonesia bahasa, pemakaian ragam tertentu untuk memperoleh efek-efek tertentu yang membuat sebuah karya sastra semakin hidup, keseluruhan ciri bahasa sekelompok penulis sastra dan cara khas dalam menyampaikan pikiran dan perasaan, baik secara lisan maupun tertulis!" jelas Bu guru.


Semua mengangguk tanda mengerti. Pelajaran berlangsung lama. Dua jam penuh, akhirnya bel istirahat berbunyi. Bel yang dinantikan oleh semua murid.


"Yuk!" ajak Danar.


"Aku bawa bekal," tolak Sekar lalu membuka kotak bekalnya yang indah.


Danar menutup bekal Sekar dan membawa kotak makan itu lalu menggandeng pacarnya.


"Kita makan di kantin sayang!" ujarnya tak mau diajak kompromi.


Kini keduanya bertukar makanan. Sekar memakan siomay sedang Danar yang menghabiskan bekal gadis itu.


Semua berlanjut seperti biasa. Hingga akhir pelajaran. Banyak anak pulang sekolah dan sebagian memilih menunggu begitu juga Danar.


Sekar tidak lagi melihat teman-teman astralnya. Hari begitu terik, tentu para hantu harus menguras energi jika ingin menampakkan diri di siang hari.


Danar duduk di sisinya, mereka tidak masuk dalam kelas karena memang dilarang.


"Ke taman yuk!" ajak Danar mengamit tangan sang kekasih.


"Danar!" Sekar menahan laju temannya itu.


"Sekar, aku mohon maafkan aku dengan sikap kekanak-kanakanku kemarin," pinta Danar begitu tulus.


"Tapi ...."


"Aku mencintaimu Sekar ... jujur aku cinta banget sama kamu!" aku Danar.


"Dan aku nggak mau pisah apa lagi putus," ujarnya.


"Nanti kita juga berpisah Danar," ujar gadis itu.


"Iya aku tau, tapi boleh dong kita lewati dengan kisah cinta kita?" ujar Danar berpuitis.


Sekar akhirnya menurut saja. Ia mengikuti Danar yang menggandeng tangannya. Kembali Danar mengeluarkan ponselnya, ia memfoto kebersamaan mereka berdua.


"Mana ponselmu?" tanyanya.


Sekar mengambil dari dalam tasnya. Danar mengambil dan memencet nomor ponselnya di ponsel sang kekasih.


"Dia ... memang hanya dia ...!'


Sebuah lagu romantis milik Geisha terdengar. Remaja itu langsung menyetel nama Sekar dengan sebutan "Sayangku".


"Tolong jangan pake nama itu. Kita nggak tau jodoh kita sampai mana!" pinta Sekar lirih.


"Apa kau tak mau berjodoh denganku?" tanya Danar sedih.


"Dan, please be wise ... sebenarnya juga kita dilarang pacaran seperti ini!" seru Sekar.


"Cukup Sekar! Sudah kubilang ... mau apapun yang terjadi. Kita pacaran sampai lulus sekolah!" tekan Danar tak mau tau.


Sekar menghela napas panjang. Gadis itu tetap bersikukuh memberi nama Danar di ponselnya sebagai Danar.


"Aku tak mau dimarahi Ayahku jika memasang nama itu di sini," alasannya.


Akhirnya Danar mengalah. Tak lama mereka kembali masuk untuk ekstrakurikuler. Sekar mengambil kelas matematika dan IPA sebagai bekalnya nanti jika masuk sekolah perawatan.


Bersambung.


Next?