
Ndere mengubah dirinya jadi sosok Sekar. Mahkluk itu berdiri di depan lemari Tinah. Hanya tempat itu yang sedikit gelap. Ndere menatap Tinah yang lemah.
"Bu ...!" Ndere meniru suara Sekar.
"Sekar?" Tinah mencari Sekar.
Wanita itu yakin jika yang ia dengar adalah suara sang putri. Ia mencari keberadaan Sekar.
"Nak ... kamu di mana Nak?" tanyanya dengan suara tercekat.
"Aku di sini Bu," Tinah menoleh.
Sekar berdiri di depan lemari. Wajahnya tertunduk dengan riapan rambut yang menutupi wajahnya.
"Sekar ... kemari Nak!" pinta sang ibu.
"Kenapa kau berdiri di sana?" lanjutnya bertanya.
Suasana mendadak mencekam. Tinah merasakan udara di sekitarnya pengap. Perlahan tirai jendela tertutup aga sinar matahari tak masuk ke dalam. Semua penerangan mendadak remang-remang. Udara sekitar pun jadi pengap.
"Ibu ...," Sekar berbisik.
Suara Sekar mampu membuat bulu kuduk Tinah berdiri. Wanita itu merasa tengkuknya meremang. Tinah kini sadar jika sesuatu yang tidak baik terjadi pada putrinya.
"Bu ...," panggil Ndere yang merubah wujudnya sebagai Sekar.
"Kau bukan Sekar!" tekan Tinah dengan bibir bergetar.
"Aku Sekar Ibu ...."
Ndere melangkah seperti melayang. Rambutnya menutupi sebagian wajahnya. Tinah terdiam, semua doa di ingatannya terlupa. Wanita itu makin sesak napasnya.
"Bu," panggil Sekar yang berwajah pucat tanpa darah.
Krieet! Derit kursi menggeret lantai marmer yang dingin. Ndere yang berubah wujud jadi Sekar itu duduk di kursi itu.
"Kembalikan putriku!" sentak Tinah menebalkan keberaniannya.
"Tinah ... Tinah .... anakmu sudah bersamaku, dia bahagia sekarang," ujar Ndere merubah wujudnya lagi sebagai sosok putri yang sangat cantik.
"Kau bohong!" tekan Tinah.
"Hahahahaha!" tawa Ndere mampu membuat Tinah bungkam.
Air mata wanita itu mengalir. Tubuhnya bergetar ketakutan. Suaminya tengah bekerja, ia sangat ingin sang suami datang dan menghancurkan kekuatan makhluk yang menyeramkan ini.
"Lihatlah, sekarang Sekar duduk di singgasana Tinah. Ia jadi ratu kami. Lihat gaunnya yang indah, perhiasannya?" tunjuk Ndere pada sebuah lorong cahaya yang menggambarkan betapa Sekar begitu bahagia.
Tinah menggeleng tak percaya. Ndere meracuni pikiran Tinah dengan halusinasi buatannya.
"Kau bohong ... putriku tak seperti itu!" teriak Tinah dengan suara tercekat.
"Ck ... ck ... ck ... ck ... Tinah ... jangan buta!" sindir Ndere. "Kau tak mampu memberikan Sekar perhiasan yang ia pakai sekarang!"
"Coba kau jangan egois. Sekar bersama kami, ia bahagia selamanya. Lihat dia Tinah ... lihat!" bisik Ndere yang tiba-tiba berada di belakang tubuh wanita itu. Ndere mendekap Tinah dan berbisik padanya.
"Lihat ... cantik sekali ... kau tak bisa mendandani putrimu secantik itu,"
Tinah menatap anak gadisnya yang tersenyum bahagia. Gaun yang indah begitu pas di tubuh sang putri. Perhiasan yang menempel di beberapa bagian tubuh putrinya juga berkilau sangat indah, belum lagi mahkota tiara yang dikenakan Sekar.
"Cantik bukan?" bisik Ndere tersenyum penuh rencana.
Air mata Tinah kembali mengalir. Seumur hidup, ia tak akan memberikan apa yang dikenakan putrinya sekarang. Sekar benar-benar sangat cantik dengan semua yang ia kenakan.
"Sekar ... Nak," panggilnya lirih.
Sekar menoleh padanya, lalu dilihat dengan mata kepala Tinah sendiri jika putrinya langsung membuang muka. Tinah menangis meratap.
"Putriku ... hiks ... putriku ... hiks ... hiks!"
"Bagaimana Tinah ... dia tak mau denganmu lagi kan?" bisik Ndere sambil membelai rambut wanita berusia tiga puluh tahun lebih itu.
Kehancuran dan ketidak berdayaan Tinah menjadi acuan Ndere mengikis perlahan kekuatan ibu dari teman nyatanya itu.
Sementara di tempat labirin, Sekar tergeletak nyaris tak sadarkan diri. Ahmad tampak tersedot kekuatannya, pria itu merasa jika salah satu anak muridnya itu tengah tidak baik-baik saja.
"Sekar ... berserah pada Allah, Nak," pinta pria itu lirih.
"Ya Allah, sesungguhnya hanya kepada-Mu lah aku berserah diri, hanya kepada-Mu lah aku beriman, hanya kepada-Mu lah aku bertawakal, hanya kepada-Mu lah aku kembali, dan hanya karena-Mu lah aku memusuhi musuh-musuh-Mu.!"
"Rroooarr!" pekik semua setan yang ada di labirin.
Tanah berguncang hebat, semua anak saling berpelukan dan menjerit ketakutan. Tanah yang dipijak membelah. Semua saling berhimpitan dengan penuh ketakutan.
"Pak ... ampun Pak!" teriak Deny menjerit ketakutan
"Mama ... tolong Dedy Ma! Huuwwaaa!"
Ahmad terus membaca doa, air matanya mengalir membasahi pipinya. Ia terus meminta pertolongan dari sang maha pencipta.
Sementara di kamar Tinah. Sosok seram itu perlahan hendak memasuki tubuh wanita rapuh itu. Sekuat mungkin Ndere memasukkan dirinya pada rongga gelap. Kehilangan seorang anak membuat Tinah kosong.
"Bu!"
Ndere terpental, makhluk itu marah luar biasa. Kursi yang ada di depan bergerak terpental menuju Tono yang membuka pintu. Pria itu hanya menutup mata sambil melafalkan doa yang ia tau.
Rita ada di belakang tubuh pria itu. Ndere menjerit dengan asap menyelimuti tubuhnya.
"Panas ... panas!" pekiknya kesakitan.
Tinah jatuh di ranjang dalam keadaan menyedihkan. Tono langsung menyambangi istrinya. Ia terus beristighfar. Sedang Rita melihat sendiri bagaimana ada kekuatan lain hendak menguasai kamar dari asisten rumah tangganya itu. Wanita itu bergegas membuka tirai jendela.
"Arrggghhh!" pekik Ndere.
"Tinaaah!" pekik Ndere. "Putrimu masih ada padaku Tinah!"
Tinah terbangun, wanita itu berteriak memanggil putrinya.
"Selamatkan putriku ... selamatkan putriku!"
"Bu istighfar Bu ... istighfar!" teriak Tono menyadarkan istrinya.
"Pak ... putri kita Pak ... Sekar disandera mahkluk halus!" teriak Tinah menjerit lalu menangis.
Rita menutup mulutnya. Selama ini, bukan saja ia melihat jika Sekar bersikap aneh. Tetapi, wanita itu juga merasakan Sekar memiliki keahlian lain. Bukan ia tidak tau apa yang dilakukan Sekar pada putri kandungnya Brenda.
Rita sangat tau jika putrinya itu ingin mencelakai Sekar atau hendak memperundungnya. Ia membiarkan Brenda merasakan sendiri akibat perbuatannya.
"Sekar!" pekik Tinah lalu tak sadarkan diri.
Tono menangis, ia sudah tidak tau lagi. Antara malu dan takut. Kini majikannya tau apa yang ia tutupi selama ini tentang Sekar. Pria itu memeluk istrinya yang pingsan, ia menangis perlahan.
"Nanti ... jika ini semua sudah selesai, kita kembali ke kampung ya Bu," ujarnya lirih.
"Bapak tidak kemana-mana!" tekan Rita.
Wanita itu mendekati Tono. Walau pria itu bekerja untuknya, tapi ia ingin Tono dan Tinah jadi bagian dari keluarganya. Ia tak mau melepas Sekar.
"Jangan bawa Sekar pergi dari saya Pak," pintanya. "Saya sudah menganggap Sekar sebagai putri saya!"
"Sekar pintar dan cantik. Ia harus memiliki kesempatan untuk merubah hidupnya, mengangkat derajat Bapak dan Mbok!" jelasnya.
Sementara itu Ndere kembali ke tanah ciptaannya. Sekar sudah menemukan beberapa teman-temannya. Gadis itu kini makin kuat saja.
"Sudah Ndere ... kita akan kehilangan dia jika terlalu memaksakan diri!" ujar Re meminta Ndere menyudahi keinginan makhluk itu memaksa Sekar ikut.
"Wangi di tubuhnya perlahan menghilang Ndere. Jika kita biarkan, wangi itu masih ada. Kedepannya, masih banyak kesempatan kita untuk mengajaknya kembali!" terang Ri kini.
Ndere menatap teman nyatanya itu menemukan tiga teman dengan berpelukan. Ketiga teman itu berjalan menuju Ahmad yang terus tak berhenti berdzikir memuja kebesaran Tuhannya.
"Manusia-manusia bodoh!" umpat Ndere kesal dengan tubuh sebagian gosong.
Bersambung.
Next?