
Seminggu sudah Sekar dirawat. Gadis itu sudah bisa kembali ke sekolah. Kakinya sudah tidak bengkak lagi, tapi Sekar harus memakai kursi roda untuk pergerakannya.
"Pake kruk aja sih," pinta gadis itu.
"Sayang, kakimu masih belum pulih bahkan masih sedikit bengkak. Nurut ya," pinta Rita mengelus rambut calon menantunya itu.
Gadis itu akhirnya diantar sang ayah. Pria itu yang mendorong putrinya hingga masuk kelas.
"Nanti Bapak jemput ya sayang," ujar Tono lalu mengecup pucuk kepala putrinya.
Sekar mengangguk, ia tersenyum. Sudah selama satu minggu lebih ia tak lagi didatangi para makhluk halus. tubuhnya sedikit ringan dan tak kesakitan lagi setiap mengaji.
"Sekar!" Danar datang dengan senyum lebarnya.
Remaja itu duduk di kursi sebelah kursi roda Sekar.
"Kursi roda?"
"Iya, kakiku belum boleh berjalan dan berdiri terlalu lama," jawab gadis itu menjelaskan.
Danar mengangguk tanda mengerti, tak lama kelasnya mulai penuh. Guru masuk mereka berdoa lalu memberi salam.
"Baik anak-anak buka halaman dua puluh delapan!" perintah guru di depan kelas.
Semua anak pun membuka buku yang diperintahkan. Mereka langsung tenang, tak ada yang bersuara semua fokus pada pelajaran hari ini.
Empat jam berlalu, bel tanda istirahat pertama pun berbunyi. Guru keluar ruang kelas. Semua murid kini duduk di sekitar Sekar.
"Jadi kamu berapa lama pakai kursi roda?" tanya Dea.
"Nggak tau, tapi nggak lama. Kalau kakiku nggak bengkak lagi," jawab Sekar.
Para murid membuka bekal mereka. Semua menawari Sekar makanan yang mereka bawa.
"Aku bawa sendiri juga," ujarnya lalu membuka bekalnya.
"Boleh tukeran nggak, nih kamu pasti nggak pernah makan ini!" tawar Desi.
Akhirnya semua bertukar makanan. Para guru sedikit heran kenapa kelas dua A tak keluar kelas. Ahmad yang sedikit takut dengan kejadian sebelumnya langsung masuk.
"Assalamualaikum!"
Semua mata menoleh padanya dengan mulut mengembung karena berisi makanan. Ahmad bernapas lega, ia tersenyum lalu kembali keluar kelas setelah memastikan semua anak-anak muridnya baik-baik saja.
"Sekar, maaf ya. Aku mau nanya!"
"Kamu nanya?" gurau Sobar mengikuti logat yang sedang trend.
Semua tertawa lirih. Amran berdecak sebal, walau ia akhirnya tersenyum juga.
Bel berbunyi tanda istirahat berakhir, guru matematika datang. Bu Mener langsung membuat semua kelas shock terapi.
"Ulangan ya!"
"Yuuhhuuuu!" sorak semua anak bertepuk tangan.
Mener tersenyum, namun ia sangat yakin dengan otak anak murid kelas dua A ini. Semua memiliki nilai yang tak pernah mengecewakan.
Satu jam ulangan berlangsung. Sekar begitu tenang dan damai mengerjakan soal-soal itu. Tak ada lagi teman-teman astral yang mengganggu.
Bu Meneria berjalan, ia melihat Sekar yang serius mengerjakan ujiannya. Wanita itu mengelus kepala muridnya itu. Sekar mendongakkan kepalanya. Sudut bibirnya melengkung ke atas laksana bulan sabit, sangat cantik.
"Sehat terus ya Nak," ujar wanita itu.
"Terima kasih Ibu," ujar Sekar tersipu.
Akhirnya Meneria mulai meminta semua mengumpulkan tugas mereka. Usia ulangan, baru guru itu mengajar mata pelajarannya hingga bel istirahat kedua berbunyi.
Sekar tertawa mendengar lawakan Deny dan Robert. Gadis itu begitu lepas dan tidak lagi merasa tertekan, wajah pucatnya berubah menjadi kemerahan, Sekar makin cantik.
Pelajaran usai, mereka pun kini pulang, semua orang tua menjemput anak-anak mereka. Tono yang masuk dalam kelas dan menggantikan Danar yang mendorong kursi roda putrinya.
"Sudah tidak apa-apa, Nak," ujar pria itu ketika Danar sedikit menolak memberikan kursi roda.
Sekar pulang dengan wajah gembira. Rita senang melihat Sekar tidak lagi berwajah pucat.
"Senang melihat wajah ceriamu sayang," ujar wanita itu sambil menyunggingkan senyum.
"Terima kasih Nyonya," ujar Sekar begitu hangat.
Usai ganti baju, Tinah membawa makanan untuk putrinya. Bobot gadis itu kini sudah naik tiga kilo.
"Lama-lama Sekar gemuk Bu," selorohnya.
"Maafin ibu ya, jika dulu tak begitu memperhatikan kamu," ujar Tinah menyesal.
"Sudah lah Bu ... itu sudah lewat," ujar Sekar sedih.
"Maaf sayang," Tinah pun kembali menyuapi putrinya.
Kamar tidur Sekar kini lebih luas dan terang. Rita memindahkan semua maid berada di paviliun khusus, mereka memiliki kamar sendiri-sendiri yang sangat besar dan bagus.
"Wah ... ini bagus sekali Nyonya," puji salah satu maid ketika mendapati kamar mereka.
"Maaf ya, baru sekarang aku memperhatikan tempat tidur kalian. Mestinya kalian juga diberi fasilitas layak dan sehat," ujar Rita.
"Tidak masalah Nyonya. Kami malah senang jika Nyonya memperhatikan kesejahteraan kami," ujar Neni salah satu maid yang baru bergabung.
Kamar Tinah dan Tono berada paling depan, Rita menjadikan sepasang suami istri itu sebagai kepala maid. Tinah harus memiliki jadwal rutinitas para maid dan mencatat semua keperluan dapur. Sedang Tono harus mengecek semua kendaraan pribadi tuannya.
"Tugasnya berat sekali Tuan, Nyonya," keluh Tinah.
"Kamu pasti bisa Tinah, selama ini aku lihat kau lebih sigap dari Noni yang kemarin membullymu. Tunjukkan padaku. jangan buat aku kecewa ya," pintanya panjang lebar.
Tinah pun mengangguk, wanita itu akan bekerja keras dan paling penting adalah kejujuran, agar kepercayaan majikannya makin besar.
Pagi menjelang, semua sibuk. Sekar keluar kamar tanpa kursi roda, gadis itu coba melangkah. Memang jejak kakinya belum kuat, bahkan ia gemetaran ketika menapakkan kakinya ke lantai.
"Astagfirullah Mba Sekar!" teriak Euis melihat Sekar yang berjalan tanpa kursi rodanya.
Semua tentu melihat arah suara. Reynold yang baru turun dari lantai dua bergegas mendekati Sekar dan membantunya berjalan.
"Makasih Tuan," ujar gadis itu sambil mengernyit menahan sakit.
"Kenapa bandel sih!" tegur pemuda itu tak suka.
"Hanya melatih agar terbiasa Tuan muda," ujar Sekar menunduk.
"Sekar dengar. Kami bukan melarangmu berjalan!' ujar Reynold dengan nada kesal.
"Kau berjalan sedikit saja keringatmu sudah sebesar jagung!" lanjutnya mendumal.
Tono membawakan kursi roda putrinya, selesai sarapan gadis itu pun pergi ke sekolah seperti biasanya. Diantar oleh sang ayah.
Sekar menjalani harinya dengan tenang. Ia tak perlu lagi terganggu di jam-jam tertentu. Sudah tiga hari ia bersekolah, tak lagi bersinggungan dengan makhluk halus.
"Alhamdulillah, akhirnya aku tak melihat mereka lagi!" serunya senang.
Hingga tiba-tiba ... krieet! Kursi yang biasa di duduki Sekar bergeser. Gadis itu terdiam sesaat, Danar dan lainnya tengah bercanda dengan teman-temannya.
Udara di sekeliling Sekar kembali padat dan waktu mulai berjalan sedikit lambat. Udara dingin meniup tengkuk gadis itu hingga membuat bulu kuduknya meremang.
"Astagfirullah hal adziim!" serunya beristighfar dalam hati untuk menghalau ketakutannya sendiri.
"Sekar ...,"
Gadis itu menulikan telinganya. Ia pura-pura tak mendengar.
"Sekar ...."
Panggilan suara itu makin dekat. Sekar menoleh. Sosok dengan wajah yang perlahan hancur berada di depan matanya.
"Kami kembali ...."
Bersambung.
😱
next?