
"Pergi kau Sekar!" usir Brenda.
Sekar berdiri menatap nona mudanya yang begitu membencinya.
"Nona, ayo pulang Nona," ajak Sekar.
Gadis itu menitikkan air mata. Sekar sedih bukan main mendapatkan hinaan dari Brenda.
"Kamu itu hanya anak babu tau nggak!" senggrang Brenda berkacak pinggang.
"Kamu itu sadar diri enggak sih!" lanjutnya menghina.
Sekar hanya diam. Gadis itu merapal beberapa doa yang ia hafal. Sosok Brenda tampak mulai gelisah.
"Nggak usah sok suci Lo Sekar!" bentaknya marah.
"Allahu Akbar!" teriak Sekar.
"Bangsat Lo ... Lo kira gue setan apa!" teriak Brenda makin panik.
Sekar pun ingat jika tadi Ndere mengatakan jika nona mudanya itu menolak semua iming-iming harta benda. Gadis itu makin kencang bertakbir.
"Sekar!" teriak Brenda yang mulai berasap kepalanya.
Sosok Brenda tiba-tiba berubah jadi sosok yang menyeramkan. Mukanya berubah jadi kepala babi yang memiliki empat taring. Sekar mulai berlari, gadis itu mempercepat langkahnya.
"Shhheekkkhhaarrr!" pekik sosok menyeramkan itu.
Sekar terus mempercepat larinya. Gadis itu tak peduli dengan aral yang melintang. Menerobos semak-semak berduri, melompati batu-batu terjal. Hal itu membuat kakinya yang masih sakit kembali bengkak.
Brug! Sekar meringis menahan sakit. Ia jatuh terjerembab.
"Hiks ... ibu," isaknya lirih.
"Shhheekkkhhaarrr!" panggil Ndere yang dengan suara yang serak dan sangat menakutkan.
Sekar mencoba berdiri. Gadis itu kembali berdoa meminta kekuatan pada Allah.
Sementara di kamar, Reynold yang memang kelelahan memilih membaringkan tubuhnya. Kelelahan membuat ia beralasan jika dirinya berhalusinasi.
"Allâhumma bismika ahyâ wa amût, Allâhumma innî a'udzubika min-syarri kulli dzî syarrin. Wa min syarri kulli dâbbatin anta âkhidzun binâshiyatihâ, inna rabbî 'alâ shirâthin mustaqîm!" Reynold memejamkan mata dan langsung terlelap.
Sementara di lantai dua, waktu seakan berjalan sangat lambat. Tono dan Bastian masih terus berdoa untuk Brenda dan Sekar.
Tinah merasa perutnya lapar. Wanita itu hendak pergi untuk mengambil makanan.
"Mau kemana Mbok?" tanya Rita.
"Ambil makanan Nyonya," jawab Tinah. "Saya lapar."
"Baiklah, ambil rada banyak ya Mbok," pinta Rita.
"Baik, Nyah,"
Tinah pun turun. Terasa perubahan yang signifikan ketika menuruni tangga. Suasana mendadak normal dan baik-baik saja.
"Aku ngapain turun tadi?" tanyanya bingung.
Tinah berusaha mengingat apa yang akan dilakukannya. Wanita itu seperti buntu. Ia tak dapat berpikir jernih, hingga ia menjalani aktivitas seperti biasanya dan melupakan tujuan awal ia turun dari lantai dua.
Sementara itu di tempat labirin. Sekar berjalan terseok-seok, gadis itu baru saja terantuk batu.
"Nona, kamu di mana?" tanyanya mulai kelelahan.
Tidak seperti waktu awal semua teman astralnya kadang menampakan diri untuk menemaninya ngobrol atau bisa dibilang menggodanya untuk ikut bersama mereka.
Kali ini Sekar benar-benar sendirian. Gadis itu merasa ia berjalan cukup lama dalam pencarian nona mudanya.
Tadi ia baru saja berhasil lolos dari tangkapan Ndere. Kakinya kembali memerah dan bengkak. Beberapa goresan membekas dan mengeluarkan darah. Gadis itu mendudukkan dirinya di atas batu besar. Ia mengatur napas dan detak jantung yang seakan melompat keluar.
"Nona ... di mana pun kau berada. Mintalah pertolongan Allah, Nona," ujarnya lirih sambil menyeka peluh yang mengalir dari keningnya.
Sementara di lantai satu. Tinah memasak makanan seperti biasanya. Makanan itu ia taruh piring. Setelah usai membereskan meja makan. Wanita itu bermaksud untuk memberi makan putrinya. Ketika masuk kamar, ia terbengong karena tidak mendapat putrinya di sana.
"Sekar?" panggilnya.
Wanita itu menaruh nampan yang di atasnya piring berisi nasi dan lauk pauknya. Juga satu gelas air putih.
"Sekar, Nak?!" panggilnya lagi.
Tak ada tas yang dipakai putrinya. Wanita itu menatap benda bulat di dinding. Jarum pendek menunjuk angka dua dan jarum panjang di angka tiga.
"Mbok Tin!" panggil salah satu maid.
Wanita itu terkejut setengah mati. Ia menoleh pada maid itu.
"Eh ... iya!" sahutnya tergagap.
"Itu, Tuan muda Reynold dan Charlie baru saja pulang, apa tidak diberitahu ke Nyonya?" tanyanya sekaligus memberitahu.
"Astagfirullah!" pekik Tinah tertahan.
Wanita itu nyaris tersungkur ke belakang jika saja maid yang tadi tidak menahannya.
"Mbok ... Mbok nggak kenapa-kenapa kan?" tanya maid itu.
"Nggak ... saya nggak apa-apa. Makasih ya," ujarnya.
Wanita itu kini ingat apa yang mesti ia lakukan. Ia kembali ke atas membawa banyak makanan dalam troli. Wanita itu menggunakan lift di pojok ruang.
"Nyah," panggilnya sambil mendorong troli.
"Kenapa kamu lama Mbok?!" tanya Rita gusar.
"Maaf Nyah," hanya itu saja yang Tinah bisa jawab.
Mereka diminta makan. Tadinya baik Bastian dan Tono menolak.
"Pak, Tuan, jika tak makan, mana ada tenaga untuk menolong Sekar dan Non Brenda?" tanya Tinah memberi pengertian.
Akhirnya kedua pria itu pun makan walau sedikit. Lalu kembali berdoa untuk keselamatan putri-putrinya.
Sementara di ruang labirin. Sekar terus memanggil nama nona mudanya. Brenda yang kelelahan nampak tertidur di bawah tumbuhan rindang. Gadis itu juga kelelahan.
"Non Brenda!"
Gadis itu terkejut bukan main. Ia membuka mata dan langsung mencari sumber suara. Ia tak yakin dengan pendengarannya.
"Non Brenda!"
Gadis berusia delapan belas tahun itu langsung sigap berdiri.
"Sekar!" panggilnya ragu.
Ia kembali mempertajam pendengarannya. Namun, suara Sekar tak lagi terdengar.
"Sekar ... di mana kau!?" teriaknya lagi.
Gadis itu kembali diam, suara Sekar tak lagi ia dengar. Ia mulai menangis.
"Sekar ... kamu di mana Sekar ... hiks ... tolong aku!" pintanya lirih.
"Hahahaha!" suara tawa besar terdengar.
Brenda terjatuh ke tanah akibat tempat ia pijak berguncang hebat akibat suara tawa itu.
"Siapa yang kau harapkan Brenda?" tanya sosok hitam menyeramkan itu.
Wajah dengan kulit seperti arang mendekati wajah Brenda yang menangis ketakutan. Tangan besar sosok itu yang berkuku panjang dan tajam, mencengkram dagu Brenda.
"Siapa yang kau harap datang?" bisik sosok itu lalu hendak menjilati wajah Brenda.
Gadis itu berontak dan langsung bisa melepaskan diri. Brenda berdiri dan berlari menjauh dari sosok menyeramkan itu.
"Jangan lari Brenda!" teriak makhluk itu sambil tertawa yang membuat semua orang bergidik.
"Pergi kau! pergi!" pekik Brenda lalu kenbali melempari sosok menyeramkan itu dengan batu.
Sosok itu puh hilang. Brenda merosot bersimpuh. Ia melipat kakinya. Sungguh ia kelelahan sekali. Gadis itu menangis dan menenggelamkan kepalanya di lipatan tangan yang bertopang pada kaki yang ia lipat.
Sementara itu Reynold tergagap dari tidurnya. Ia baru saja bermimpi buruk sekali. Ia mendapati ayah ibunya menangisi adik perempuan satu-satunya. Sekar ada di sana tampak sangat tidak berdaya.
"Brenda?" Rey tiba-tiba begitu khawatir.
Pemuda itu langsung bangkit dari ranjangnya. Ia segera keluar. Suasana mendadak mencekam hingga membuat bulu kuduknya berdiri.
"Siapapun kau, akan kumusnahkan jika berani mengusik Kekuargaku!" ancamnya bermonolog.
Bersambung.
Next?