My Ghost Friends

My Ghost Friends
BRENDA 6



Entah berapa lama Sekar berjalan menyusuri lorong labirin. Dengan langkah terseok-seok kembali berputar setelah menemukan jalan buntu.


"Kau keras kepala Sekar!" gadis itu sudah tak peduli dengan sosok yang kini terus mengikutinya.


Ndere kini menjadi sosok berupa kepala dengan bagian organ tubuh dalamnya di luar. Kepala itu melayang-layang dengan darah yang menetes sepanjang perjalanan.


"Sekar ... ayolah ... apa kamu nggak lelah?" tanya Ndere sampai berdecak.


Ndere dengan mulut yang belepotan darah dengan seringai menyeramkan. Mata hitam dengan rambut layaknya ijuk. Bau Ndere begitu menyengat dan bau.


"Huueeek!" Sekar mual mencium bau itu.


"Pergi kau Ndere!" usirnya dengan suara lemah.


"Menyerahlah Sekar!" bentak Ndere mulai kehabisan kesabaran.


"Pergi Ndere!" bentak Sekar.


"Allahu Akbar!" teriaknya lagi.


"Bangsat kau Sekar!" teriak Ndere.


Tiba-tiba tangan mahkluk itu terjulur mencengkram leher Sekar kuat-kuat. Gadis itu menangkap tangan Ndere.


Sementara Reynold terus berdoa untuk keselamatan adik dan kekasih hatinya. Pemuda itu gemetaran, ia merasakan betapa Sekar kini tengah menderita di sana melawan iblis paling kuat.


"Ya Allah berikan keselamatan!" pintanya lirih.


"Aarrggh!" pekik suara yang menggetarkan labirin.


Dua tangan hangus dan jatuh ke tanah lalu hilang seperti asap secara perlahan. Ndere memekik kesakitan, ia pun lenyap seiring dengan kabut yang menipis.


Sekar jatuh bersimpuh. Napasnya tersengal, gadis itu merasa panas di lehernya. Bekas cekikan Ndere masih terlihat dan mulai membiru.


"Ya Allah ... sakit,' keluh Sekar.


"Bu ... Sekar nyerah Bu ...," ujarnya lalu menangis.


Sementara di lantai dua Rita tak sadarkan diri. Wanita itu membuat panik semua orang. Reynold terus memusatkan pikirannya untuk menembus benteng yang dibuat oleh iblis yang menyekap Brenda dan Sekar.


Rita dibawa ke kamarnya oleh Charlie, pemuda itu yang menggendong ibunya. Tinah langsung menangani majikannya. Rita tersadar, ia langsung memeluk perempuan yang memandangnya dengan kekhawatiran.


"Tinah ... minta Sekar untuk tidak menyerah ... aku mohon ... aku rela mengikhlaskan hidupku, asal putriku kembali ... huuuuu ... uuuu ... hiks!"


"Nyonya?" Tinah memeluk majikannya..


"Lalu bagaimana hidup putriku Nyonya?" tanya Tono yang mendengar perkataan dari majikan perempuannya itu.


"Apa hidup nyonya berarti bagi kami jika harus mengorbankan Sekar?" lanjutnya berdesis.


"Pak ... tenang," pinta Bastian.


Rita terdiam, wanita itu salah bicara. Tetapi sebagai seorang ibu tentu anak adalah di atas segalanya.


"Tenang bagaimana Tuan!" tanya Tono dengan linangan air mata.


"Putri saya sudah cukup menahan semua hinaan yang putri anda perbuat dan juga Tuan muda Charlie!" lanjutnya lalu menunjuk Charlie.


Pemuda itu langsung menunduk, ia memang selalu mengibarkan bendera permusuhan pada Sekar sejak pertama kali bertemu.


"Pak ... saya minta maaf untuk itu!" tekan Bastian.


"Tapi semua hantu datang mengganggu putra dan putri kami semenjak kedatangan Sekar!" lanjutnya emosi.


"Karena kalian menggangunya!" sentak Tono.


"Apa saya tidak tau rencana Nona memberikan baju bagus untuk Sekar?" tanyanya.


"Apa putri saya mengganggu kehidupan kalian yang memaksa kami menerima kebaikan kalian!" lanjutnya berang.


"Pak!" Tinah memeluk suaminya.


"Saya sudah menolak berkali-kali Tuan! Berkali-kali!" Tono begitu berapi-api.


"Ayo Bu ... kita suruh Sekar untuk menyerah dan biarkan Tuan Rey yang menolong adiknya!" ajaknya kemudian..


"Pak!" Tinah bersimpuh pada sang suami.


"Bu?" Tono memandang istrinya yang begitu memelas padanya.


Bastian dan Charlie ikut-ikutan bersimpuh pada pria itu. Rita bangkit dari ranjangnya dan mengikuti suami dan putranya.


"Ibu tau, Bapak sangat sayang sama Sekar. Tapi Ibu juga sayang sama Non Brenda," ujar wanita itu lirih.


"Bapak pasti tau bagaimana perasaan Tuan Bastian dan Nyonya Rita jika benar-benar kehilangan putrinya,"


"Tapi bagaimana dengan putri kita Bu ... kita juga akan kehilangan Sekar!" sambar Tono mulai kesal.


"Putri kita baik-baik saja Pak. Putri kita adalah putri pilihan, Sekar adalah gadis terbaik dan terkuat, dia bisa melaluinya," penjelasan Tinah membuat Tono terdiam.


"Sekar pernah melalui ini. Anak kita bisa melewatinya," lanjutnya.


"Pak Ahmad bisa menjadi cahaya bagi semua anak-anak muridnya, Bapak bisa belajar dari guru agama Sekar,"


Bastian memegang tangan pria yang bekerja nyaris seusia Brenda. Pria itu bekerja bersama Tinah ketika awal menikah. Lalu Tinah memilih berhenti sementara ketika hamil kemudian kembali lagi setelah usia sekar empat tahun. Brenda juga besar di tangan wanita itu. Makanya Tinah sangat menyayangi Brenda walau bagaimanapun perlakuan Brenda pada putrinya.


"Pak," panggil Bastian.


"Saya mohon maaf," lanjutnya dengan suara tercekat.


"Saya mohon maafkan saya ... hiks!"


Tono mematung, empat orang bersimpuh di depannya. Sang istri menatapnya penuh kelembutan, ia mengangguk.


Tono menyamakan dirinya dengan sang majikan. Bastian langsung memeluknya. Pria itu tersedu dan terus meminta maaf.


"Saya juga minta maaf Tuan," ujar Tono kemudian.


"Pak Charlie juga minta maaf. Jujur entah kenapa Charlie selalu berseteru dengan Sekar. Maaf ya Pak," ujar pemuda itu penuh sesal.


Tono mengangguk, Tinah tersenyum pada suaminya. Ia yakin, putrinya telah menemukan nona mudanya.


Sementara di labirin. Tubuh Brenda berada di mulut tebing. Gadis itu menggapai bebatuan untuk menaikkan tubuhnya.


"Nona ... di mana kau!" teriak Sekar.


Brenda langsung semangat, gadis itu dengan sekuat tenaga mengangkat tubuhnya agar tak tergelincir masuk jurang yang dalam.


"Sekar ... aku di sini!" teriak Brenda.


Sekar yang ada di lorong lain terhenti langkahnya, gadis itu merasa ada suara nonanya.


"Nona ... anda di mana!?" teriak Sekar lagi.


Ndere tentu sudah tidak ada, iblis itu terbakar tangannya karena berusaha mencekik Sekar. Dipastikan jika makhluk itu tengah menyempurnakan bentuknya kembali.


"Sekar ... aku di sini!" teriak Brenda.


Kakinya menggapai batu-batu terjal di bawah sana. Matanya mencari dahan atau batu yang sedikit besar untuk menopang tubuhnya agar bisa naik ke atas.


Sekar mendengar jika suara nonanya ada di sisi lorong sebelahnya. Gadis itu yakin jika ia memutar mencari jalan lorong sebenarnya, ia akan tersesat. Sama ketika menemukan Danar waktu itu.


"Terobos saja!" tekadnya.


Sekar mengucap basmalah. Ia masuk dalam tumbuhan pagar yang rimbun. Tak dipedulikan lagi dahan dan duri yang tajam menggores kulitnya. Luka-luka yang kering kembali mengeluarkan darah. Sekar memilih menunduk agar ranting yang mencuat tak menusuk bola matanya.


"Nona ... bersuara lah lagi!" teriak Sekar.


"Sekar!" teriak Brenda.


Sekar makin yakin dengan jalan yang ia lalui. Hingga nyaris tiga puluh menit, ia habiskan menerobos tumbuhan rimbun itu.


"Nona?"


"Sekar?" Brenda senang bukan main.


Gadis itu bisa menaikkan tubuhnya ke atas, Sekar berlari menolong nona mudanya. Brenda yang kesenangan ceroboh, kakinya belum menjejak dengan benar hingga membuat kakinya terperosok lagi ke bibir tebing.


"Nona!" pekik Sekar tertahan.


Brenda menutup matanya. Ia sangat yakin jika tubuhnya akan terhempas ke dalam jurang. Tak lama ia merasa tubuhnya melayang. Ia membuka mata.


"Nona, bertahan lah," pinta Sekar yang telah memegang sebelah tangannya.


Darah mengalir membasahi lengan Brenda. Gadis itu membola, lengan Sekar penuh dengan goresan menganga dan mengeluarkan darah.


"Sekar?"


"Jangan hiraukan Nona. Ayo bantu saya. Ringankan tubuh Nona agar bisa saya tarik ke atas!" pinta Sekar.


Bersambung.


Mampukah Sekar menarik tubuh Brenda?


Next?