
Sekar menyetir mobilnya. Ia mampir ke sebuah mini market. Gadis itu membeli beberapa snack bayi dan susu. Sekar membaca jika bayi enam bulan harus diberi makanan pendamping. Ia juga membeli es krim ukuran 500ml dan roti.
Selesai membayar, Sekar kembali pulang. Hanya butuh sepuluh menit ia sampai di rumah.
"Mpa!" pekik Adam senang melihat kakak perempuannya datang.
"Mba bersih-bersih dulu ya sayang," ujarnya lalu meletakan bungkusan di atas meja.
Adam mengangguk. Bayi itu menatap pintu yang terbuka lebar, Tinah menghela napas. Sekar suka lupa menutup pintu jika masuk rumah.
Tinah menutup pintu. Beberapa makhluk menatap daun pintu yang menghalangi pandangan mereka.
"Kita tak bisa masuk!" sungut Ri.
"Sampai kapan kita begini terus Ri?" tanya Re.
"Ndere mati dan tak bisa menyempurnakan dirinya," ujar Re.
Di dalam rumah, Adam benar-benar menjadi penghibur bagi semuanya. Malam larut, semua pergi tidur.
Pagi menjelang. Sekar masuk siang. Gadis itu ingin tidur lebih lama dan melewatkan sarapannya.
"Sudah, Bu ... biarkan saja," ujar Tono pengertian.
Tinah tak bisa melakukan apa-apa. Ia meletakan putranya di ranjang sang putri. Adam tentu bisa membangunkan kakak perempuannya itu.
"Ibu ... aku masih ngantuk. Nanti pulangnya malem lagi," rengek gadis itu.
Tono mengambil Adam dari sana. Bayi itu malah menangis. Sekar akhirnya bangun dan menggendong adiknya.
"Maaf sayang. Kamu harus terbiasa, nanti jika kau bersuami. Kamu nggak bisa seperti ini," ujar Tinah dengan mimik menyesal.
"Iya Bu, aku ngerti," ujar Sekar lalu menguap.
Usai sarapan, Sekar kembali ke kamar membawa Adam. Keduanya memilih tidur kembali. Tepat sebelum dhuhur Sekar bangun. Usai sholat, Sekar pamit kuliah.
"Untung hari ini nggak ke kamar mayat," ujarnya lega.
"Sekar ...."
Gadis itu mengerem mendadak. Beruntung ia belum di jalan besar, dan jalanan yang ia lalui sangat sepi, hingga tak ada kejadian yang merugikan siapapun.
"Astagfirullah!" gadis itu beristighfar.
Sosok yang memanggilnya hilang. Sekar pun berdoa agar perjalanannya lancar. Ia kembali menekan gas dan meluncur ke kampusnya.
Tidak ada gangguan berarti. Kesibukan membuat gadis itu tak fokus pada sosok yang lain di sana.
"Kita hanya dapat tugas dari dosen nih. Nggak ada mata kuliah!" seru ketua kelas.
Semua bersorak kesenangan. Tugas-tugas dibagikan.
"Dikumpulkan sekarang juga!" seru ketua kelas lagi yang disambut sorakan kekecewaan seluruh mahasiswa.
"Jiah ... gue kira ngerjain di rumah!"
Sekar mengerjakan tugas yang diberikan. Banyak yang membuka buku ketika mengerjakan itu. Sedang Sekar memilih mencoba menjawab semuanya dengan ingatannya sendiri.
Bel berbunyi, semua terkejut. Mereka mengira waktu masih lama. Lagi-lagi ketua kelas meminta semua mengumpulkan jawabannya.
"Ya mau gimana?" ujar ketua kelas tak bisa berbuat apa-apa.
Usai mengumpulkan tugas. Mereka baru boleh pulang. Sekar memilih langsung pulang, karena ingin bermain bersama adiknya. Reynold memundurkan rencana pernikahannya. Beberapa jadwal proyek tak bisa digeser. Pria itu benar-benar sibuk.
"Sayang, ke kantor dong," pinta pria itu.
"Oke, mau dibawain makanan nggak? Tapi aku beli ya. Nggak masak, soalnya masih di kampus," ujar gadis itu menjawab melalui panggilan telepon.
"Oke sayang," ujar Rey tak mempermasalahkan..
Gadis itu naik mobilnya. Ia pergi ke salah satu restoran ternama dan memesan beberapa makanan. Setalah membayar, gadis itu pun berangkat menuju kantor calon suaminya.
Gadis itu tak perlu lagi menuju resepsionis. Ia sudah memiliki akses bahkan memiliki kartu masuk perusahaan itu.
"Selamat sore Nona!" sapa semua karyawan yang bertemu dengannya.
Sekar mengangguk membalas sapaan mereka dengan senyum sopan. Hanya beberapa karyawati yang menatapnya sinis. Terlebih Sekar menaiki lift khusus.
"Belaga nyonya besar!" gerutu para karyawati.
Reynold memang telah mengenalkan Sekar ke semua staf dan karyawan di perusahaan miliknya, jika Sekar adalah calon istrinya.
Ketika, keluar lift. Sekar bertemu dengan Ghana. Sekar menyapa sekretaris calon suaminya dengan tersenyum.
Ghana membuang muka. Sekar hanya bisa menghela napas dan menggeleng samar. Ketika hendak masuk.
Sekar menoleh, gadis itu bukan anak yang gampang ditakuti seperti dulu atau menuruti perkataan orang. Ia menempelkan benda pipih ke telinganya.
"Halo, assalamualaikum sayang. Aku sudah ada di depan pintu ruanganmu," ujarnya ketika sambungan diangkat.
Ghana terdiam di sana. Padahal ia telah menatap horor pada Sekar, tetapi gadis yang ditekannya tak takut sama sekali.
Pintu terbuka. Wajah Reynold di sana memasang wajah masam pada Ghana. Pria itu menarik lembut pinggang ramping kekasihnya dan mengecup lembut pipi Sekar.
Walau gadis itu sedikit terkejut, tetapi Sekar membiarkan hal itu terjadi.
"Jika Nyonyamu datang ke kantor ini. Jangan ada yang melarangnya masuk!" tekan Reynold dingin pada Ghana.
"Apa kau mengerti?!" lanjutnya lagi sambil menatap tajam sekretarisnya itu.
"Jika kau keberatan dengan peraturanku. Kau boleh mundur Ghana. Pintu terbuka lebar untukmu keluar!"
Ghana hanya membungkuk hormat. Ia sangat mengerti jika gadis yang kini dirangkul oleh atasannya itu sangat berarti dari apapun.
Sekar masuk ke dalam ruangan kerja calon suaminya. Gadis itu menata makanan di atas meja.
"Papa sama Kak Charlie mana?" tanya gadis itu setelah menyiapkan semuanya.
"Papa ke luar kota ditemani Mama. Charlie ke dewan divisi mengecek kinerja mereka," jawab Reynold.
"Kau perhatian sekali dengan adikku?" tanyanya lagi kini dengan nada cemburu.
"Sayang, dia adikmu. Masa aku. cuekin, dia kan sama dengan Adam, adikku. Hanya versi tuanya," sahut Sekar berseloroh.
Rey terkekeh mendengar hal itu. Ia menarik Sekar ke pangkuannya. Gadis itu merona.
"Aku baru tau jika kau bisa bercanda sayang," Sekar hanya tersipu.
"Sayang, gimana kalo kita nikah duluan aja, tapi resepsi menyusul?" tanya pria itu hati-hati.
"Aku sih mau saja, Kak," jawab Sekar dengan rona merah di pipi.
"Tapi, aku harus bertanya dulu dengan kedua orang tuaku. Apa mereka setuju atau tidak," lanjutnya.
Rey menurunkan Sekar. Sungguh, ia ingin sekali menyusuri seluruh tubuh kekasihnya dengan bibirnya. Tetapi, ia tahan sebisa mungkin. Ia tak mau merusak sesuatu yang akan ia nikmati nanti.
Charlie pun datang, ketiganya makan siang bersama. Rey memilih pulang bersama Sekar. Hal itu membuat Charlie kesal bukan main.
"Tau gitu, bawa supir tadi!" gerutunya cemberut.
"Ih nggak pantes kamu gitu," ledek Rey terkekeh.
Charlie naik mobil dan mengendarainya. Rey mengajak Sekar untuk nonton bioskop.
"Nonton apa sih Kak?" tanya gadis itu.
"Ini film romantis," jawab pria itu.
Lalu merangkuk pinggul Sekar dan masuk ke dalam karena film mau dimulai. Rupanya adegan film banyak mempertontonkan hal yang begitu panas. Sepanjang pemutaran film, Sekar memilih menutup matanya dengan tangan. Rey sedikit kesal dengan hal itu.
Akhirnya film selesai, Rey mengantarkan pulang gadisnya.
"Mobil aku pinjam, besok aku jemput kamu," ujarnya setelah sampai depan rumah gadisnya..
"Jam berapa kuliahnya?" tanyanya kini..
"Siang, pukul 14.45.," jawab Sekar.
"Sayang ... maaf ya," ujar Rey.
"Maaf kenapa?" tanya Sekar bingung sampai mengerutkan keningnya.
"Karena film tadi," jawab Rey dengan suara berat.
Sekar merona, ia memang sedikit mengintip melihat beberapa adegan yang membuatnya sport jantung tadi.
Cup! Satu kecupan diberikan Rey di bibir gadisnya.
"Kak!" rengeknya.
Rey terkekeh, Sekar pun turun dari mobil dan melambaikan tangan seiring kendaraan itu bergerak dan menghilang. Gadis itu melirik ke arah kirinya.
"Mestinya kalian pergi," monolognya lirih. "Aku tak butuh teman seperti kalian lagi."
bersambung.
Iya ... pergi aja Re ... Ri!
next?