
“Eh ... apa benar Boss mau nikah?” tanya salah satu karyawati berbisik pada salah satu temannya.
“Iya kudengar sih seperti itu,” sahut lainnya menjawab.
“Apa sama gadis yang bernama Sekar itu?” tanya yang lainnya lagi.
“Iya lah sama dia!” sahut lainnya menjawab sambil memutar mata malas.
“Kamu pikir yang dikenalkan calon istrinya kemarin siapa?” lanjutnya bertanya dengan nada malas.
“Yah siapa tau ganti,” sahut lainnya lagi.
Ghana yang lewat mendengarkan semua. Ia tak percaya jika pria tampan yang ia idamkan akan segera menikah. Gadis itu tak terima, ia sangat yakin gadis yang menatapnya dengan berani beberapa minggu lalu, menggoda dan menjebak atasannya yang tampan itu.
“Aku harus menyadarkan Tuan Rey. Agar membatalkan rencananya menikahi Sekar!” gumamnya dalam hati.
Gadis itu naik lift biasa. Ia sangat yakin jika sekarang atasannya ada di ruangannya dan menunggu laporan yang ia bawa sekarang. Ghana lupa jika ia terlalu lama datang. Rey begitu kesal dengan sekretarisnya itu. Sudah beberapa kali melakukan kesalahan dan ini sudah kesekian kalinya Rey memaafkan bawahannya itu.
“Tuan!” teriak Ghana tak sadar diri.
Wajah gadis itu merah padam, Rey sampai mengerutkan keningnya melihat wajah sekretarisnya.
“Tuan harus menghentikan pernikahan Tuan sekarang!” ucap Ghana begitu berani.
“Apa?” desis Rey langsung bermuka kelam.
“Tuan ... anda harus sadar jika anda tengah diguna-guna oleh Sekar!” teriak Ghana makin berani.
Entah dari mana datangnya keberanian gadis itu hingga mamou berkata seperti itu. Bahkan tatapan tajam Reynold tak membuat Ghana gentar sedikitpun.
“Jangan sampai aku menamparmu Ghana?” tekan Reynold menahan emosinya.
"Tuan ... aku mengatakan ini bukan tanpa sebab, aku melihat sendiri jika Sekar menaruh guna-guna itu di sini!” tuduh gadis itu asal.
Plak! Satu tamparan didapat gadis itu. Reynold tak bisa lagi menahan emosinya. Gadis itu mengelus pipinya yang panas dan perih. Reynold tidak menampar sekretarisnya terlalu keras, tapi cukup membuat pipi gadis itu sakit dan memerah
“Ghana, kau kupecat!” ujar pria itu dingin.
“Tu-tuan ...,” cicit gadis itu.
“Pergi kau dari perusahaanku!” usir Reynold kejam.
“Pergi sebelum kau ku-black list dan tidak bisa bekerja di manapun!” lanjutnya mengancam.
Lelehan air mata mengalir dari pelupuk mata gadis itu. Ghana tak menyangka usahanya menyadarkan atasannya malah berakhir pemecatan dirinya.
“Tuan ... anda akan menyesal !” desis gadis itu.
“Pergi!” bentak Reynold begitu marah hingga membuat Ghana terkejut.
Bastian datang bersama Charlie, keduanya sampai kaget mendengar bentakan dari Reynold. Mereka bergegas masuk dan melihat apa yang terjadi. Ghana mendengar pintu terbuka. Gadis itu nekat lalu tiba-tiba berjinjit dan hendak mencium bibir atasannya iyu.
Brug! Auuhhh! Pekik gadis itu kesakitan. Charlie langsung memeluk kakaknya sebelum menjadi beringas. Pemuda itu sangat mengenal kakaknya. Reynold tak peduli pria dan wanita, ia akan menghancurkan orang itu jika berusaha menyerangnya atau membuatnya malu.
“Pergilah Ghana sebelum kakakku membunuhmu!” usir Charlie.
Bastian yang memang kesal dengan gadis itu langsung memanggil beberapa OB wanita untuk membawa Ghana keluar.
“Pastikan dia tidak mengacau tempat ini selamanya!” titah pria itu.
“Baik Tuan,” sahut salah satu OB dan mengambil tas juga ponsel Ghana yang terletak di meja kerjanya.
Mereka membawa Ghana pergi dari sana. Reynold bernapas lega. Ia nyaris mencekik mantan sekretarisnya itu. Bastian meminta putranya itu mengendalikan diri.
“Pa, pastikan dia tak mengacau pa,” pinta Reynold pada ayahnya.
“Tenang sayang. Papa akan hubungi beberapa orang kepercayaan Papa untuk mengawasi Ghana. Semua gerakannya akan diawasi hingga dia ketakutan dan pergi dari kota ini,” terang Bastian menenangkan putra pertamanya itu.
Reynold duduk di kursinya dengan memijit pangkal hidungnya yang mancung. Pria itu berkali-kali mengucap istighfar. Setelah ia tenang, ia kembali fokus bekerja. Ghana kini berada di kamar sewanya, gadis itu masuk dan langsung menghempaskan diri ke kasur lalu menangis pilu.
“Kau bodoh Rey! Sangat bodoh!” umpatnya meracau.
“Kamu nggak hamil duluan kan?” tanya salah seorang teman kelas Sekar.
“Subhanallah ... ya nggak lah!” sanggah Sekar langsung.
“Kok cepet, nggak pacaran dulu?” tanya yang lain.
“Nggak, biar nggak banyak dosa,” jawab Sekar setengah meledek.
“Halah palingan tahan cuma setahun,” celetuk salah satunya mencibir.
“Oh ... tidak mungkin di pernikahanku. Semoga tidak di pernikahanmu nanti ya,” balas Sekar lebih pedas.
“Lu doain gue gagal di perkawinan Gue Kar!?” sahut gadis tadi tak terima.
“Loh, yang doain gitu siapa?” tanya Sekar balik bertanya.
“Bukan kamu tadi yang doain jelek buat pernikahan aku?” lanjutnya mencecar lawan bicaranya.
Sekar bukan gadis lemah yang diam saja jika disudutkan. Gadis itu adalah sosok kuat, ia tak mau lagi ditekan siapapun. Ia tak mau ditindas lagi seperti dulu, ketika mendiang neneknya tak berdaya menghadapi oknum kepala desa.
“Semoga arwah nenek tenang di alam sana,” gumamnya dalam hati berdoa.
Sekar mengambil tasnya. Mata kuliah sudah habis. Profesor mereka tidak hadir kembali hari ini. Semua diminta mengerjakan tugas lima belas menit lalu. Sekar kembali mengendarai mobilnya. Ia langsung pulang ke rumah karena ayah dan ibunya melarang untuk Sekar berpergian.
“Assalamu’alaikum,” ujarnya memberi salam ketika masuk rumah.
“Wa’alaikum salam!” sahut sang ibu.
“Langsung ganti baju sayang, cuci tangan dan makan ya!” perintah wanita itu dari dapur.
“Iya Bu!” sahut Sekar lalu masuk kamarnya,
“Adam bobo ya Bu?” tanya Sekar setelah mengganti bajunya.
“Iya, jangan ganggu!” jawaban Tinah sekaligus memberi peringatan pada Sekar.
Sekar cemberut, adiknya kini makin menggemaskan dengan bobot montok. Bayi itu sudah menjalar ke semua tempat di rumah ini. Tidak ada yang terlewat, bayi itu kadang-kadang sudah ada di teras depan sambil menatap pohon besar di seberang jalan.
“Sayang, kalau kamu pulang, tolong tutup pintu ya jika ada Adam.” pinta Tinah.
“Iya Bu, maaf,” ujar Sekar lalu memakan makanannya setelah berdoa.
Ting! Sebuah notifikasi pesan ia terima dari seseorang. Gadis itu melihat ponselnya, ia tak menjawab apapun pada chat itu.
“Aku sudah selesai Bu,” ujar Sekar lalu membersihkan piringnya.
“Iya sayang!” sahut Tinah yang masuk kamar untuk memeriksa putranya.
Biasanya sang ibu tidak akan keluar kamar lagi. Sekar berpikir untuk menyelesaikan masalah yang men-chatnya tadi. Ia mengetuk pintu kamar.
“Bu, Sekar keluar sebentar ya!” pamitnya.
“Jangan jauh-jauh! “ titah Tinah.
“Iya Bu!” sekar menyahutinya.
Gadis itu melihat kembali layar ponselnya. Tempat tidak terlalu jauh, kafenya sendiri. Gadis itu mengendarai mobilnya. Sampai sana, seorang pria mengangkat tangan kanannya.
“Sekar!” panggilnya.
“Danar?’’
Bersambung
Eh ... ngapain mereka?
Next?