
Bastian dan Rita mendatangi rumah Sekar beserta Rey, Charlie dan Brenda.
Mereka akan mendiskusikan tentang rencana Reynold yang ingin menggelar akad terlebih dahulu, lalu resepsi belakangan.
Godaan orang hendak menikah tentu ada saja. Setan tentu tidak menyukai pernikahan, karena semua yang dilakukan pasangan sudah sah dan halal dan membuat pahala.
"Jadi kita persiapkan adalah tanggalnya, sekitar awal bulan depan," ujar Bastian.
"Kalian sudah fitting baju pengantin kan?" tanya Rita keduanya mengangguk.
Brenda tak pernah lepas dari sisi Sekar. Gadis itu akan mengajak adik sekaligus calon kakak iparnya berbelanja keperluan hantaran.
"Kalau begitu kita adakan di kafe milik Sekar saja selamatannya, undang beberapa tetangga dan kerabat dekat juga kolega," ujar Charlie menimpali.
"Nggak usah banyak-banyak, cukup lima puluh orang saja, karena tidak ada resepsi," sahut Rey.
Sekar hanya diam saja, ia menyerahkan semua keputusan pada calon suami dan juga ayah dan ibunya..
"Sekar, bicara Nak. Kami juga ingin pendapatmu. Ini adalah hari pernikahanmu sayang," pinta Rita.
"Aku nerima aja Ma. Sekar yakin semua keputusan pasti baik untuk Sekar," jawab gadis itu.
"Baiklah, jadi sudah diputuskan kita akan adakan pesta syukuran di kafe milik Sekar. Kita ambil menu makan siang di kafemu untuk seratus porsi sayang," ujar Bastian.
"Baik Pa," kini Brenda yang menyahut.
Brenda bekerja sebagai manager kafe Sekar. Gadis itu yang bertanggung jawab penuh atas usaha itu. Brenda tengah kerja magang untuk memenuhi skripsinya.
"Menunya nggak pake rendang?" tanya Brenda. "Kita nggak ada menu itu soalnya di kafe."
"Pakein lah ... walau hanya selamatan, nggak afdol kalo nggak ada rendangnya!' sahut Charlie.
"Siap, mo berapa banyak tiga kilo apa sepuluh kilo?" tanya Brenda.
"Sepuluh kilo aja langsung, biar nggak kekurangan," sahut Rey.
Brenda mencatat semuanya. Memang pernikahan ini dibilang dadakan. Semua harus siap dalam tiga Minggu, tak ada undangan resmi karena Bastian hanya mengundang beberapa kolega penting saja, begitu juga Rey dan Charlie.
Akhirnya semua menyepakati konsep acara. Tampak wajah puas dari kedua belah pihak. Bastian tetap ingin mengusung konsep elegan di perayaan selamatan pernikahan putranya. Walau sederhana, tetapi ia ingin semua sempurna. Sedang Tono yang memang tak memiliki kerabat atau kolega penting, ia menyerahkan semua keputusan pada mantan majikannya itu.
"Aku mau jemput nenek dulu," ujar Charlie.
"Beliau pasti mengoceh seharian jika kita telat untuk menjemputnya," lanjutnya dengan mata membesar malas.
"Jangan gitu Kak," ujar Brenda terkekeh.
"Liat aja entar, pasti Nenek kaget jika hanya akad tanpa resepsi," sahut Charlie. "Taruhan yuk!"
"Heh ... nggak boleh gitu ah!" seru Bastian menjewer pelan telinga putra bungsunya itu.
Setelah paska putus dengan kekasihnya ketika dua hari setelah kejadian labirin itu. Charlie berubah banyak. Ia jadi rajin beribadah dan langsung memutuskan pacarnya. Pria itu berubah jadi sosok alim.
Charlie menjemput neneknya di kota B bersama supir. Perjalanan cukup jauh jadi tak mungkin ia berkendara sendirian. Sedang Rey melanjutkan pekerjaannya yang tertunda bersama sang ayah. Brenda menuju kafe dan memulai menyewa beberapa pendekor ruangan untuk pengantin juga menyiapkan menu hidangannya.
Sekar diminta untuk merawat diri. Rita membawa gadis itu ke sebuah spa khusus wanita. Ia akan diberi treatment agar seluruh tubuhnya bersih dan wangi, hingga membuat Rey mabuk kepayang sendiri.
"Mashaallah ... kulitnya halus sekali!" puji wanita yang akan memberikan treatmen pada Sekar.
"Pake lulur apa Mba?" tanyanya.
"Nggak pake apa-apa Mba. Cuma sabunan," jawab Sekar jujur.
"Ah, masa sih. Bu Rita itu pelanggan kami di sini. Perawatannya menyentuh angka lima juta," ujar wanita itu.
"Heh ... kok kalian malah bicara sendiri. Nggak usah kepo, cepat urus semua sampai benar!" titah manager spa tersebut.
"Wah, Mba. Ibu dan ayah mba pasti orang berada. Kulit halus seperti ini perawatannya rutin dan mahal tentu!" ucap salah satu pekerja.
"Nggak kok Mba, saya orang miskin. Nggak punya apa-apa," jawab Sekar tentu saja jujur.
"Ah .. nggak mungkin. Kita semua tau siapa Nyonya Rita Bastian. Seorang wanita kaya raya dari lahir. Kedua orang tuanya adalah pemilik banyak spa, salon, hotel bintang lima kelas internasional yang menjamur di seluruh Indonesia!" sahut wanita itu membangga-banggakan Rita.
"Iya, spa ini juga milik beliau. Semua pelanggan spa adalah orang-orang kaya dan artis terkenal, jadi pasti lah menantunya seorang yang sepadan dengannya," lanjut lainnya lagi.
Sekar diam, tentu gadis itu tak mau mengatakan siapa dia sebenarnya. Gadis itu menutup rapat identitas keluarganya.
Dua jam mereka selesai memanjakan diri di spa terbaik di kota itu. Rita mengajak calon menantunya itu berbelanja keperluan. Brenda datang dengan wajah cemberut.
"Loh kenapa sayang?" tanya Rita.
"Kak Charlie Mom," rengek gadis itu.
"Kenapa, kan kakakmu lagi jalan jemput nenek," sahut Rita lalu menggandeng putrinya di sebelah kiri, sedang Sekar ada di sebelah kanan wanita itu.
Selesai membeli peralatan hantaran. Rita hanya memberikan pada jasa pembungkus. Lalu minta dikirimkan ke alamat wanita itu nanti sore.
"Baik Nyonya. Anda adalah langganan ekslusif kami. Tentunya kami akan memprioritaskan anda Nyonya!" sahut manager itu.
Sekar menelan saliva. Gadis itu mendadak insecure pada diri sendiri. Apa dia pantas bersanding dengan Reynold Bastian yang merupakan putra pewaris tertinggi perusahaan milik ayahnya itu.
"Sayang, jangan pikir macem-macem ya," pinta Rita seakan membaca kegelisahan calon menantunya.
"Sekar merasa kecil Ma," cicit gadis itu menunduk.
"Hei ... angkat kepalamu adikku!" tekan Brenda tak suka.
"Kau adalah gadis paling kuat yang pernah aku temui. Satu-satunya gadis yang bisa balik memperudung aku!" ujarnya.
Sekar merengek, tentu saja ia tau maksud dari Brenda. Teman-teman hantunya itu memang membuat ia kuat dulu. Terkadang Sekar rindu dengan mereka semua.
"Sayang, mereka itu adalah setan yang menjerat manusia dengan segala tipu daya. Jangan sampai tergoda ya sayang. Karena jujur, sebagaimana pun baiknya mereka, tidak akan menguntungkan kamu," ucap Rita memberi nasihat.
"Iya Ma," sahut Sekar sangat mengerti.
"Ma, aku langsung ke kampus ya. Deket kok hanya tinggal naik ojek sampai," pamit Sekar.
"Mama antar sayang!"
"Tapi Ma!"
Rita menarik lengan calon menantunya begitu juga Brenda. Mereka naik mobil dan hanya butuh waktu sepuluh menit mereka sampai di bangunan besar itu.
Sekar turun dan mengucap terima kasih. Ia melambaikan tangan seiring mobil yang bergerak keluar perlahan.
"Sore Sekar. Tumben nggak bawa mobil sendiri? Tadi siapa?" sapaan dan tanyaan beruntun diucapkan salah satu anak kampus.
"Sore juga, itu tadi calon mertua yang antar aku," jawab Sekar tanpa basa-basi.
"Ah ... patah hati gue ... mau nikah ternyata teman cantikku ini," ujar pemuda itu kecewa.
"Mari!" pamit Sekar yang berlalu menuju lokernya.
Gadis itu memang menyimpan beberapa buku dan diktatnya di sana. Ia lalu menuju kelas dan memulai mata kuliahnya dua jam ke depan.
bersambung.
Next?