
Danar melambaikan tangan. Sekar pun mendatanginya, di sana pemuda itu tidak sendirian. Ada Maria bersamanya.
"Assalamualaikum!" sapa gadis itu lalu duduk di hadapan Maria.
"Wa'alaikumusalam!" sahut Danar.
"Ini, aku ngasih undangan buat kalian. Datang ya!" pinta Sekar lalu mengeluarkan kertas warna emas dan hitam.
"Jadi kau benar-benar akan menikah dengan Tuan Rey?" tanya Danar tak percaya.
Sekar mengangguk dengan senyum indah. Terlihat binaran di matanya jika gadis itu bahagia. Maria melirik pemuda yang ada di sebelahnya.
"Aku sudah bekerja tetap di perusahaan milik Daniel, Sekar," lapor Danar lirih.
"Aku juga mencicil sebuah hunian sederhana untuk kenyamanan calon keluargaku," lanjutnya.
"Wah ... bagus itu!" seru Sekar tentu senang bukan main.
"Berarti cita-citamu untuk membangun keluarga di rumahmu sendiri sudah tercapai!" lanjutnya ikut bahagia.
Maria melirik lagi pada Danar. Bukan itu maksud mereka memanggil teman masa SMP itu datang ke kafe milik Sekar.
"Sebenarnya, Danar ingin menjelaskan sesuatu Sekar," ujar Maria tak enak hati.
Sekar mengerut kening. Gadis itu tak mengerti.
"Apa yang memang harus dijelaskan?" tanyanya.
"Tentang hubungan kami," jawab Danar langsung.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan Maria. Kejadian beberapa bulan lalu itu karena dia kakinya keseleo!" lanjutnya menjelaskan.
Sekar benar-benar tak mengerti. Gadis itu menatap polos kedua teman SMP nya itu.
"Aku nggak ngerti ... sumpah!" ujarnya lalu tersenyum hambar.
"Aku dan Maria tak punya hubungan apa-apa Sekar!" tekan Danar sedikit emosi.
"Lalu?" tanya Sekar bingung dengan maksud tujuan pemuda itu.
"Kok kamu marah? Kenapa? Apa salahku?" cecar Sekar lagi merasa lucu.
"Aku ingin melamarmu!" sahut Danar pada akhirnya.
Sekar terdiam. Maria memilih memalingkan mukanya. Gadis itu sudah memperingati jika Sekar bukan gadis seperti dulu lagi.
"Kau gila atau apa?" desis Sekar tak percaya.
"Aku sudah katakan jika aku ingin kau jadi istriku dari dulu Sekar!"
Suara Danar yang keras memancing semua orang menatap padanya. Brenda yang tengah memeriksa kasir mendadak penasaran dengan apa yang terjadi.
Di sisi lain, Ghana juga ada di sana menikmati minuman cokelat hangatnya. Gadis itu melihat Sekar duduk berdua dengan pria lain. Ia tak melihat adanya gadis lain yang duduk di sebelah pria yang memandang gusar pada Sekar.
"Ah ... dia selingkuh!" pekik girang Ghana.
Gadis itu mengambil secara candid foto keberadaan Sekar dan pemuda yang dikira selingkuhan oleh Ghana.
"Uh ... senangnya!" pekiknya lagi tertahan melihat hasil jepretannya.
Ia buru-buru keluar dari kafe itu. Memang letak kafe itu sangat jauh dari kamar sewa Ghana. Tapi pikiran gadis itu yang kalut akibat di PHK. Membuat Ghana pergi sedikit jauh untuk menenangkan hatinya.
"Bersiaplah kau akan hancur Sekar!" ujarnya begitu senang dengan foto yang ada di sana.
Sedang di kafe. Brenda menghampiri meja di mana calon kakak iparnya nampak begitu marah.
"Kak, ada apa?" tanya Brenda.
Gadis itu mulai membiasakan diri memanggil Sekar Kakak. Walau usianya jauh terpaut dua tahun di bawahnya.
"Dia Danar," sahut Sekar.
"Oh mantamu pas di SMP?" Sekar mengangguk.
"Dan kakakku Reynold yang telah meminangnya! Jadi kau tidak punya hak!" lanjutnya.
"Danar. Aku mengucap terima kasih atas perasaanmu padaku. Tetapi seperti aku bilang dulu. Aku akan menikah dengan jodohku!" lanjutnya.
"Ini pernikahanku tinggal tiga hari lagi. Selamatannya di kafe ini. Tadinya aku mau mengantar undangan ini ke rumahmu. Tetapi, karena kau ada di sini, jadi aku berikan saja!"
Sekar mendorong dua undangan di depan Danar dan Maria. Brenda menarik lengan kakak iparnya pelan, lalu meninggalkan tempat itu.
Danar duduk dengan lemas. Impian masa remajanya kandas. Cinta pertamanya akan menjadi milik orang lain.
Sedang di tempat lain Ghana membeli gaun indah untuk pesta pernikahan mantan atasannya tiga hari lagi.
"Aku pasti yang tercantik. Bahkan pengantin akan malu melihatku karena tak bisa menyaingi kecantikanku!" monolognya pelan.
Ghana menghabiskan nyaris separuh gajinya. Ia bermimpi sebentar lagi akan menjadi nyonya kaya. Hingga ia tak perlu lagi pusing dengan uang bulanan yang selalu kurang.
"Selamat tinggal kemiskinan!" teriaknya lalu tertawa seperti orang gila.
Hari yang dinanti tiba. Pagi buta Sekar sudah dirias oleh pakar ternama. Gadis itu memakai kebaya putih dengan sanggul sederhana.
"Ih ... ini nggak usah dirias juga udah cantik banget!" puji salah satu perias.
Sekar memang begitu cantik, terlebih auranya bersinar. Rona di pipinya membuat ia makin cantik saja.
"Dirias tipis-tipis aja ya?!" ujar perias yang nampak sayang ingin menoreh kuas di wajah gadis yang akan menjadi pengantin itu.
Sedang di kediaman Bastian. Semua juga tampak sibuk. Rita berkali-kali berteriak pada tiga pria yang ada di sana.
"Ini sudah jam berapa Papa!" serunya kesal.
"Ma, ini baru jam enam pagi. KUA baru buka pukul delapan, anak-anak nikah pukul sembilan," jawab Bastian.
"Iya, tapi kalian belum siap. Papa kira waktu itu bakalan berhenti gitu?" sahut Rita sewot.
"Mommy jangan marah, nanti make up-nya luntur," goda Charlie.
"Lagian Brenda juga masih dirias itu!" tunjuk Reynold yang tak mau disalahkan.
Akhirnya semuanya beres, pukul 07.00. Keluarga Bastian kecuali Charlie dan Brenda langsung pergi ke KUA. Mereka akan menunggu calon mempelai wanita di sana.
Tak ada riasan di kantor pemerintah itu. Hanya banyaknya karangan bunga terletak di halaman menandakan adanya pernikahan di sana. Ada tiga pasang pengantin yang akan menikah di kantor urusan agama itu. Pasangan Rey dan Sekar mendapat nomor urut satu.
Para pegawai PNS baru berdatangan. Mereka semua tersenyum menyapa para calon pengantin yang duduk menunggu.
"Semangat amat Pak?" kekeh salah satu petugas.
Benar kata Rita. Waktu memang tidak bisa dihentikan. Jam sudah menunjukkan angka delapan. Sekar belum datang bersama rombongan. Ada kendala di jalan yang mendadak macet.
"Kita masih berusaha keluar udah pake patwal nih!" seru Charlie.
"Ya sudah kita tunggu ya," ujar penghulu yang ada di sana.
"Ada beberapa calon juga tersendat di jalan yang sama," ujarnya terkekeh.
Jam delapan lewat empat puluh lima menit. Mobil yang membawa pengantin wanita berdatangan satu persatu. Reynold begitu gelisah, namun setelah ia melihat Sekar yang digandeng ibu dan ayahnya. Membuat bingkai senyum di wajahnya.
Sekar menunduk di depan calon suaminya. Lalu keduanya masuk ke ruangan. Beberapa mata pria menatap kagum dan terpesona pada kecantikan Sekar.
Dari semua pengantin wanita memang Sekar yang masih begitu muda dan sangat cantik.
"Mari duduk!" suruh penghulu.
Sekar dan Reynold duduk berdampingan. Tono, duduk di sisi penghulu. Charlie duduk sebagai saksi pria sedang di sana ada ketua RT di perumahan tempat tinggal Sekar sebagai saksi dari perempuan.
"Sah!" seru dua saksi setelah. Reynold mengucap ijab kabul dengan begitu tegas.
bersambung.
Akhirnya sah juga.
Next?