
Beberapa makhluk tak kasat mata berdiri menatap Sekar yang masih terus mencari temannya. Pandangan gadis itu tentu berbeda dengan pandangan para makhluk halus.
Teman-teman sekelas Sekar berada di sekeliling gadis itu. Tetapi, pandangan keduniawian yang menutup mereka untuk menemukan satu dan lainnya.
"Gimana nih, cahaya itu makin membuat kita makin menciut," ujar salah satu makhluk dengan lidah panjang menjulur.
"Aku juga tidak tau. Ndere hanya mau selamat sendiri. Aku yakin, ketika Sekar menemukan temannya. Maka cahaya itu makin terang dan semuanya selesai," ujar satu makhluk dengan organ dalamnya kelihatan.
"Apa sebaiknya kita tolong Sekar?" tanya hantu lidah panjang.
"Sebaiknya kita bantu Sekar. Dengan demikian, kita masih bisa dekat dengan anak itu," sahut hantu dengan usus memburai.
"Itu Selena, kita percepat Sekar menemukan temannya itu,"
Hantu berlidah panjang bergerak. Selena yang kebingungan dengan tempat yang ia lihat panik. Gadis itu menangis sambil memanggil ibunya dengan nada lirih dan penyesalan tinggi.
"Mak, maafin aku ya ... hiks,"
"Selena!" bisik hantu lidah panjang memanggil.
"Siapa itu!" teriak si empunya nama.
"Aku temanmu, bukankah kau lebih senang berkumpul dengan setan dibanding ibumu?" hantu panjang menampakkan dirinya.
Selena berteriak kencang, gadis itu berlari ketakutan. Hantu lidah panjang mengejarnya dan mengarah pada Sekar.
"Selen!" teriak Sekar memanggil ketika melihatnya.
Gedebuk, Selena terjerembab ke tanah. Sekar berlari menolong salah satu teman yang pernah membullynya itu.
"Sekar ... huuuuu ... uuu ... keluarkan aku dari sini!" pinta Selena memeluk Sekar.
"Ayo ... ayo. Sudah dekat kok. Kamu tinggal berjalan lewat situ lalu belok kanan, cari cahaya paling terang. Di sana Pak Ahmad menunggumu," ujar Sekar menunjuk jalan.
"Kamu nggak ikut?" tawar Selena.
"Aku harus cari yang lain, masih tiga puluh empat orang lagi," jawab Sekar.
Selena pun berlari ke arah cahaya paling terang. Gadis itu menangis memeluk guru agamanya. Dita, Maria dan lainnya ikut menenangkan temannya itu.
"Kita berdoa yuk, untuk bantuin Sekar. Biar cepat nemuin yang lainnya," ajak Ahmad.
Semua berdoa menurut agama mereka masing-masing. Sedang di tempat lain Ndere yang menyempurnakan bentuknya tampak murka melihat beberapa makhluk-makhluk di bawah kastanya malah menolong Sekar.
"Anak buah pengkhianat!" teriaknya murka.
Namun karena bentuknya belum sempurna akibat berbenturan dengan energi ketika bertemu Reynold. Makhluk itu tak bisa berbuat banyak selain marah-marah.
Sekar kembali dengan mudah menemukan satu lagi teman kelasnya. Hal yang sama ia lakukan pada temannya agar mencari cahaya lebih terang.
"Tinggal tiga puluh orang lagi!" gumamnya.
Sekar sudah kehausan, bibirnya kering dan pecah-pecah. Matanya mulai rabun, sungguh ia sudah berada di atas batas kemampuannya.
"Bu ... Sekar haus, lapar ... ngantuk," keluh gadis itu.
Sekar sudah diambang kekuatannya. Ia duduk bersimpuh. Sungguh ia ingin menyerah..
Sedang di mansion Rita. Tinah dibebas tugaskan oleh majikannya beristirahat. Wanita itu kini berbaring lemah di ranjang, Tono sampai sedih melihat istrinya jadi lemah seperti itu.
"Bu ... yang kuat toh Bu, kasihan Bapak dan Sekar jika ibu sakit," ujar pria itu benar-benar sangat khawatir.
"Pak, minta minum Pak,"
Tono mengambil air dalam gelas dan membantu istrinya bangkit dan meminum air dalam gelas hingga tandas. Dalam hati wanita itu berdoa agar air yang ia minum jadi kekuatan bagi putrinya.
"Nak, ibu yakin kamu pasti kuat," gumamnya dalam hati.
Tono tentu senang, istrinya dari semenjak putrinya pergi ke sekolah langsung berubah. Tak mau makan dan minum, Tinah hanya ingin duduk di atas sajadah, wanita itu terus berdoa untuk sang putri.
Kembali ke labirin. Sekar mulai segar kembali, gadis itu merasa tenggorokannya basah dan perutnya terisi makanan. Matanya tak lagi buram.
"Aku harus cari lagi yang lain!" tekadnya.
"Robert, Diva, Rangga, Asep, Tito, Toto!" teriaknya.
"Danar, Dina, Lea, Lili, Dika Dwi!"
Gadis itu berhenti berteriak, ia takut kehausan lagi. Sekar memilih terus berdoa. Satu hal yang ia tak sadar adalah, tubuhnya sudah tak sakit lagi ketika melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Sekar juga tidak menyadari jika pencarian dengan teman-temannya itu kini makin mudah.
"Alhamdulillah sisa dua puluh tujuh anak lagi!" ujarnya bersemangat.
Hantu lidah panjang, hantu dengan usus memburai terus membantu Sekar menemukan teman-teman kelasnya. Tak lama hantu-hantu lain pun membantu Sekar.
"Kau lihat kan jika kami memang temanmu," ujar salah satu mahkluk yang berjalan sambil menenteng kepalanya itu.
Sekar hanya diam, gadis itu tak peduli selama teman-temannya bisa ditemukan dengan cepat. Cahaya makin terang.
"Sekar, kami mohon agar menghentikan doa-doa itu. Karena jika makin terang, semua akan kembali, tetapi bagi jiwa-jiwa yang belum kembali akan susah kembali," jelas hantu dengan muka berlubang.
Re dan Ri tak terlihat, Sekar tak mau bertanya. Ia pun memilih berinteraksi dengan Pak Ahmad agar hanya pria itu saja yang berdoa.
"Tapi bukankah itu lebih baik Sekar?" ujar Ahmad.
"Pak takutnya kita lebih cepat kembali ke kelas tetapi bagi mereka yang belum ketemu, malah susah untuk kembali," jelas Sekar.
Akhirnya Ahmad kembali sendirian berdoa. Pria itu mengencangkan lagi keimanannya pada sang maha pemilik hidup. Ia berpasrah dengan keagungan sang khalik.
Sementara itu Reynold telah selesai mengerjakan semua tugasnya. Berkasnya telah banyak yang ia tanda tangani. Pemuda itu melihat benda bulat di dinding.
"Astaga baru jam sepuluh?" desisnya tak percaya.
Pemuda itu sangat yakin jika berkas tadi cukup menyita waktu hingga makan siang tiba.
"Ah ... percuma datang ke sekolah dan membawa Sekar untuk makan siang. Gadis itu pasti bawa bekal!" keluhnya.
"Sekar .... lulus SMA kamu aku nikahin ya;" lanjutnya bermonolog.
Sementara itu di labirin. Sekar kembali sedikit mendapat kesulitan mencari keberadaan teman-temannya.
"Astagfirullah ... tolong hamba Ya Allah!" serunya kembali lelah.
Teman-teman Sekar yang tak kelihatan mata nyata itu juga menghilang. Gadis itu juga kecarian dengan makhluk-makhluk itu.
Sementara Ndere telah sempurna bentuknya. Sosok menyeramkan itu kini menghukum semua makhluk yang paling rendah kastanya di banding dirinya.
Teriakan kesakitan terdengar. Bahkan di antara mereka memanggil Sekar untuk menolong.
"Ya panggil saja dia ... kita lihat bagaimana dia mau menolong kalian!" tantangnya.
Sementara itu, di sebuah rumah, seorang ibu juga tengah bersujud meminta ampunan dan pertolongan dari Tuhannya. Ibu Mutia, ibunya Danar tampak menyesal karena bersuara keras pada putranya.
"Nak, maafkan ibu ... ibu mau menyelamatkanmu dari rajam api neraka, karena membiarkamu berpacaran," ujar nya lirih.
"Bu, memang Danar pacaran sama Sekar, bapak juga tau jika pacaran itu dilarang oleh agama," ujar pria itu pada istrinya.
"Tapi kamu tau sendiri jika Danar tidak bisa kita larang-larang," lanjutnya.
Mutia hanya bisa menghela napas panjang, ia kembali berdoa setelah melayani suaminya.
Bersambung