
Setelah melepas penatnya, Sekar kembali mencari teman-temannya. Masih sembilan belas orang lagi. Gadis itu sudah tak bisa berpikir dan merasakan apa-apa lagi. Kakinya sudah bengkak dan memerah, seluruh kulit pucatnya tergores dan berdarah. Ndere dan lainnya terus mengikuti gadis itu.
Para makhluk itu tak berhenti merayu Sekar untuk ikut dan menghentikan pencarian.
"Percaya Sekar ... kau mengiyakan ikut kami. Semua temanmu akan kembali dan tak peduli padamu!"
"Aku ingin membahagiakan ibu dan ayahku!" ujar Sekar tegas.
"Justru itu Sekar ... dengan ikut kami ... selamanya ibu dan ayahmu akan bahagia, mereka tak kurang dari apapun!" sumpah Ndere.
Sekar terdiam, gadis itu seperti tertarik dengan perkataan teman hantunya itu. Ndere melayang mengitari Sekar, bau tubuh gadis itu sedikit menghilang. Tentu saja hal itu membuat Ndere tak suka.
"Sekar ... ikutlah ... maka dunia ada di tanganmu. Kau tak perlu tumbal, tak perlu mengirim sesaji ... cukup serahkan sukmamu dan kau bahagia selamanya termasuk orang tuamu!" bisik Ndere.
Sementara di mansion Rita, Tinah tak berhenti berdoa untuk sang putri. Ia meminta sang Khaliq agar menjauhkan Sekar Sari godaan syetan yang terkutuk.
"Makanlah Mbok," pinta Rita menyuapkan satu sendok pada asisten rumah tangganya itu.
"Biar saya sendiri Nyonya," ujar Tinah tak enak hati.
Wanita itu duduk dan mengambil piring lalu meletakkannya dalam pangkuannya. Ia memakan perlahan. Rita terus mengawasi Tinah hingga semua makanan tandas. Wanita cantik paru baya itu tersenyum senang.
"Aku senang melihatmu mau makan. Aku tak tega melihat suamimu yang tak fokus dengan pekerjaan karena memikirkanmu Tinah," ujar Rita begitu perhatian.
"Maaf Nyonya," ujar Tinah menyesal.
"Sudah ... yang penting kau mau makan ya," ujar Rita.
"Siti!" panggilnya pada ART lain.
"Saya Nyonya!" sahut wanita masuk dengan tergopoh-gopoh.
"Ini bereskan semua ya!" titah Rita lagi.
Siti langsung mengerjakan apa yang diperintahkan majikannya. Rita tak mau kecolongan lagi Tinah dibully oleh pembantu lainnya.
"Tak akan kubiarkan calon besanku dipermalukan!" gumamnya tegas dalam hati.
Sementara itu di labirin tenaga Sekar mendadak pulih. Gadis itu menatap Ndere yang merentangkan tangannya. Mahkluk itu berubah wujud jadi sosok cantik yang begitu lembut. Sekar melangkah dengan pelan, Ndere tersenyum lebar menyambut tubuh Sekar yang memeluknya.
Sayang, Sekar melewati sosok Ndere dan berlalu dari sana. Gadis itu terus mencari teman-temannya. Ndere marah luar biasa. Makhluk merah itu ingin sekali membakar Sekar jika ia memiliki kekuatan penuh.
Sayang, untaian doa dari teman-teman yang telah berkumpul, dari guru yang begitu tulus, dari pria yang menunggunya besar dan terlebih dari kedua orang tua yang mencintai Sekar.
"Tolong!" terdengar teriakan dari seseorang.
"Siapa itu!" teriak Sekar.
"Sekar ... ini aku Zulham!" teriaknya lagi.
Sekar mendatangi asal suara. Kali ini gadis itu menatap Zulham yang terlilit tumbuhan rambat dengan posisi tergantung cukup tinggi.
"Berdoalah ... minta pertolongan Tuhan!" teriak Sekar.
"Aku takut jatuh!" teriak Zulham.
"Jangan manja Zulham. Kau adalah jagoan di kelas bukan. Kau sering menantang semua anak!" sahut Sekar kesal.
"Jatuh kan sakit!" rengek Zulham membuat Sekar memutar mata malas.
Sekar memilih meninggalkan Zulham yang manja. Remaja itu berteriak memanggil Sekar.
"Aku tak bisa menolongmu jika kau tak menolong dirimu!" teriak Sekar.
"Aku baca doa apa!?" teriak Zulham kesal. "Yang kuingat doa makan!"
"Baca Alfatihah!" teriak Sekar. "Apa perlu aku membimbingmu?"
Akhirnya Zulham bisa lepas setelah membaca surah yang dipinta. Seperti yang lainnya. Sekar menyuruh Zulham pergi ke jalan yang ia tunjuk dan mencari cahaya lebih terang dari lainnya.
"Ada Pak Ahmad menunggu," ujarnya.
Zulham pun berjalan menuju guru agama mereka. Hanya dia yang datang tidak menangis. Remaja itu hanya menghela napas lega.
"Kita harus menunggu yang lainnya,' ujar Ahmad.
"Maaf Pa," gumamnya lirih.
Sekar terus berteriak. Satu persatu temannya ditemukan dalam keadaan yang ketakutan. Semua menangis ketika berhasil kembali pada guru agama mereka.
"Tinggal lima belas lagi!" ujar Sekar menyemangati diri.
"Danar ... kamu di mana!" teriaknya.
Kini semua teman hantunya pergi. Tak ada lagi yang mengikuti gadis itu. Mereka ketakutan karena kekuatan doa semua anak-anak yang tambah banyak ditemukan.
Labirin yang dilalui Sekar masih sama. Hanya saja Sekar tidak lagi terjebak dijalan buntu. Gadis itu sudah mengenali ruangan yang menjebaknya.
"Sekar!" gadis itu menoleh.
"Sigit?" ia memastikan jika yang memanggilnya itu adalah temannya.
"Iya ini aku!" teriak remaja itu.
Sigit berjalan dengan seragam basah karena keringat. Ia begitulah senang akhirnya bertemu dengan salah satu temannya. Ia pun berlari mendekati Sekar begitupun gadis itu. Hingga tiba-tiba.
"Huuwwaaa!" teriak Sigit yang tiba-tiba merosot ke bawah.
"Sigit!" teriak Sekar berlari mengejar temannya.
Sigit merosot ke dalam jurang yang gelap. Tangannya menggapai-gapai ke udara matanya terpejam ia bersiap dengan tubuh hancur berkeping-keping jika jatuh ke dasar gelap itu.
"Eh?"
Laju tubuhnya terhenti. Ia membuka mata. Sekar menggapai tangannya. Gadis itu berusaha menahan laju tubuh besarnya.
"Sekar,' panggilnya.
"Angkat tubuhmu Sigit! Kau berat!" tekan Sekar memang menahan beban berat.
Sigit mengangkat tangan satunya menggapai batu cadas yang sedikit menonjol. Berkali-kali ia menggapai tapi tetap tak sampai.
"Allahuakbar!" teriak Sigit.
Tangannya menggapai batu. Lalu kakinya ikut mencari pijakan. Setelah berusaha sampai dua puluh menit. Tubuh keduanya ada di atas dengan napas terengah-engah.
"Ayo Sekar!" ajak Sigit.
"Tidak kau saja yang pergi ke arah sana. Pak Ahmad menunggu, ingat! Cari cahaya paling terang!" ujar gadis itu.
Sigit mengangguk, ia pun berlari menyusuri jalan yang ditunjuk Sekar. Tentu ia dengan mudah menemukan guru agama mereka. Pak Ahmad juga tak begitu berat lagi. Pria itu makin ringan.
"Sudah tinggal empat belas lagi," ujarnya begitu semangat.
"Ayo Sekar sedikit lagi!" teriaknya. 'Minta dipermudah oleh Allah!"
"Bismillah Nak!"
Sekar mendengar teriakan guru agamanya. Ia memang sudah semangat. Gadis itu kembali menyisiri jalan labirin. Makin lama jalan itu makin lebar dan mudah dilalui oleh Sekar.
Sementara di ruang lain Danar juga terus memanggil teman-temannya. Hanya beda jalur saja. Danar di jalur sebelah kiri sedang Sekar di sebelah kanan. Tak ada yang mendengar suara satu dan lainnya yang saling berteriak.
Ndere menjadi sosok yang kini jauh lebih besar dari sebelumnya. Ia memaksa semua mahkluk yang berada di bawah kekuatannya menjadi satu.
"Sekar .... hentikan ... kau tega melihat kami menderita Sekar!" teriak makhluk itu mulai putus asa.
"Akan kuhancurkan semuanya Sekar ... kau dan lainnya tak akan kembali!"
Seketika semua gelap, awan hitam menutup cahaya satu-satunya. Angin meniup kencang.
"Sekar! Tolong!" seru dua teman di tempat berbeda.
Keduanya berada di bibir tebing. Hanya bertahan pada batu kecil. Sekar menangis, gadis itu kembali jatuh karena tak tau harus mana dulu yang ia tolong.
Bersambung.
oh😱
next?