
"Sekar ... kami bagaimana?"
"Aku tak pernah meminta kalian mengikutiku!" sentak Sekar ketika berjalan ke kelasnya. Danar belum datang, karena tadi ia berangkat terlalu pagi. Gadis itu tidak diantar oleh majikannya karena baik Reynold dan Charlie ada di luar kota. Bastian juga tak bisa mengantar putri dari ART nya itu.
Memang sekolah Sekar sangat strategis tempatnya. Jadi semua bisa mengantarkannya. Gadis itu tak pernah masalah jika naik angkutan umum.
"Naik taksi aja ya," tawar Rita pada Sekar.
"Jangan Nyonya, biar saya menggunakan angkutan kota saja," tolak Sekar langsung.
Baru pukul 06.00. sedang kelas masuk pukul 07.00 masih satu jam lagi. Biasanya Danar datang setengah jam sebelum pelajaran mulai. Banyaknya makhluk astral membuat udara sekitar pengap.
Krieet! Kursi bergerak sendiri menghadap Sekar. Bukan hanya satu melainkan tiga kursi bergerak secara sendirinya. Sungguh Sekar begitu sesak, seluruh aliran darahnya terasa ngilu dan sakit. Pori-porinya seperti terbuka lebar.
"Kalian menyakitiku," keluh gadis itu mengusap kedua tangannya.
"Sekar ... baumu yang mengundang kami ... kau adalah bagian dari kami," ujar sosok itu.
"Sekar ... kembalikan Ri dan Re," pinta salah satu makhluk yang nangkring di atas plafon dengan kepala di bawah.
"Aku mohon menjauh lah," pinta Sekar.
"Sekar ... kembalilah pada kami,"
Kesadaran Sekar mulai berkurang. Suasana mendadak pengap dan dingin. Meja-meja dan kursi mulai bergerak sendiri. Salah satu makhluk coba memasuki raga Sekar.
"Sekar ... biarkan aku masuk!" bisik sosok dengan lidah menjulur hingga lantai.
"Kau milik kami Sekar," bisiknya lagi.
Sosok itu berusaha masuk ke dalam rongga kosong di tubuh Sekar. Udara mendadak menegangkan, angin dingin masuk kelas dan jika ada orang di sana akan ngompol karena ketakutan.
"Sekar!"
Brak! Prank! Gabruk! Semua kursi, meja yang terangkat tiba-tiba jatuh secara serentak hingga membuat suara gaduh. Danar datang, Sekar menatap kosong ke depan.
"Sekar," panggil remaja itu mendekat.
"Stay away!" suara Sekar dobel dan menatap Danar dengan pandangan dingin.
"Sekar!" panggil Danar kali ini mulai meninggikan suaranya.
"Nesmata longsa verdasmathe namahan!" suara berbeda keluar dari mulut Sekar.
"Allahuakbar!" teriak Danar lalu memeluk kekasihnya.
"Move!" teriak suara lebih besar.
Danar nyaris terpental. Entah kenapa, belum ada satu pun anak yang datang. Koridor sekolah tampak sepi ada satu dua orang seperti terhenti di tempat.
"Allahuakbar!" teriak Danar lagi.
Sinar matahari masuk ke ruangan kelas. Asap hitam keluar dari kepala Sekar. Gadis itu pun jatuh ke lantai. Danar segera menolong kekasihnya. Sementara di luar kelas suasana kembali normal. Beberapa orang malah seperti kebingungan dengan apa yang terjadi.
Danar membawa keluar Sekar yang pingsan. Remaja itu menggendongnya. Beberapa guru tampak panik.
"Sekar kenapa?" tanya salah satu guru.
"Pingsan Bu," jawab Danar.
"Apa dia nggak makan lagi hingga sampai pingsan seperti kemarin itu?" tanya salah satu guru.
"Kita panggil orang tuanya ya. Biar dia istirahat," saran guru BK.
"Sekar ... Nak, bangun Nak!" ujar Bu guru Lin, guru bahasa Inggris.
Sekar diberi minyak angin di tengkuk dan perutnya, Danar sudah kembali ke kelas. Sekar bangun dengan tubuh sakit semua. Gadis itu tampak linglung.
"Nak, kamu pulang aja ya. Kamu pucat sekali," suruh wali kelasnya.
"Jangan Bu, biar saya belajar aja," sahut Sekar lalu hendak bangkit.
Belum turun Sekar malah mau jatuh. Tubuhnya benar-benar sakit semua.
"Ibu sudah telepon orang tuamu. Katanya, ayahmu yang akan menjemputmu pulang," ujar Bu Lin mengelus kepala muridnya itu.
"Bu," rajuk Sekar.
"Sudah sayang ... tidak apa-apa, kami mengerti kok," ujar Lin pengertian.
"Ayah ... maaf,"
"Sudah-sudah ... ayo pulang!" ajak pria itu.
Setelah mengambil tas dan pamit pada guru. Sekar pulang dibawa oleh ayahnya. Sekar masih melirik Danar yang menatapnya penuh kecemasan.
Gadis itu pulang naik mobil, Rita menyuruh Tono untuk diantar supir mereka menjemput Sekar.
"Nak, kamu tidak apa-apa?" tanya Rita begitu khawatir melihat putri dari salah satu ARTnya berwajah pucat.
"Langsung istirahat aja Pak. Tadi saya sudah panggilkan dokter keluarga," ujar wanita itu.
Sekar ingin sekali menolak, tetapi mulutnya kaku karena lemas. Gadis itu sangat ingat dan tau kenapa ia seperti itu.
Tak lama kemudian, dokter memeriksa keadaan Sekar. Rita begitu khawatir tentang kondisi gadis itu. Begitu juga Tono dan Tinah.
"Bagaimana Dok?" tanya Rita cemas.
"Sekar anemia akut, juga nutrisi dalam tubuh nya kurang," jawab dokter.
"Ini resep yang harus ditebus, jika tiga hari masih seperti ini, kita lakukan perawatan dan observasi ya," lanjut sang dokter.
Tono langsung menebus resep yang diberikan dokter. Sekar diminta untuk beristirahat dengan nyaman.
"Sekar,"
Gadis itu berada di taman bunga, Danar tersenyum padanya. Di tangan remaja itu ada seikat bunga berwarna cantik.
"Sekar ... apa kau bahagia?" tanya Danar.
Sekar mengangguk tegas. Gadis itu diangkat tinggi-tinggi oleh Danar dan tertawa lepas. Dua kening menyatu, Danar mengusap hidungnya ke hidung Sekar.
"Aku cium ya," ujar Danar meminta ijin.
Sekar menutup matanya, jantungnya berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Jejak basah ia rasa di bibirnya.
"Sekar ... bangun, minum obat dulu," ujar sang ibu lembut.
Semua mimpi Sekar buyar seketika. Gadis itu terbangun.
"Bu ... kepala Sekar pusing," keluh gadis itu.
"Iya Nak, ini makan roti dulu baru makan obatnya," suruh Tinah pada putrinya.
Walau berat Sekar memakan roti dan minum obatnya. Gadis itu kembali diminta beristirahat.
"Bu ... temani Sekar Bu, Sekar takut," ujarnya lirih.
Tinah menyalakan murotal melalui ponsel sang gadis. Perlahan gadis itu menutup mata, ia ngantuk sekali.
"Tidurlah Nak. Ibu akan menjagamu," bisik Tinah lalu mengelus kepala sang putri lembut.
Sementara itu di dunia lain. Re dan Ri yang terbakar kini dalam pembentukan sempurna. Setan itu akan kembali menggoda manusia agar masuk perangkapnya.
Sedang di sekolah, Danar berpikir dari tadi. Remaja itu memang sangat tau jika Sekar kekasihnya itu memiliki kemampuan yang berbeda. Bukan satu kali saja Sekar berkelakuan aneh menurut orang-orang yang dekat dengannya.
"Apa Sekar bisa melihat makhluk gaib!" Danar menggeleng.
"Mana ada sesuatu yang tidak tampak bisa dilihat dengan mata telanjang?" lanjutnya bermonolog.
"Tapi kursi dan meja yang berantakan tadi ulah siapa?" lanjutnya lagi masih penasaran.
"Sekar, apa yang tersembunyi dari dirimu?" tanyanya lirih.
Sementara beberapa makhluk tak kasat mata menatap Danar dengan mata merah. Mereka ingin sekali menyingkirkan Danar dari kehidupan teman mereka Sekar.
"Jauhi Sekar Danar!" teriak salah satu makhluk dengan bentuk tubuh miring semua dan baunya busuk.
"Sekar adalah milik kami!"
Bersambung.
😱
next?