My Ghost Friends

My Ghost Friends
SEKAR 4



Sekar pulang, seperti biasa teman-teman tak kasat mata menyambutnya. Hari sudah sore, matahari mulai merah, waktu tepat bagi makhluk-makhluk itu berkumpul.


"Assalamualaikum!" serunya memberi salam.


"Wa'alaikumusalam ... sayang, kau pulang?" sambut Rita dengan wajah ceria.


"Iya Nyonya," jawab Sekar lalu mencium punggung tangan majikannya.


"Langsung mandi dan ganti bajumu ya!" suruh wanita itu lembut.


"Iya Nyonya," sahut Sekar menurut.


Sekar masuk, Re dan Ri menyambutnya. Gadis itu disunguhkan pemandangan indah luar biasa.


"Lihat Sekar ... itu istana kita," ujar Ri yang berubah paras begitu tampan.


Sekar benar-benar terpukau melihat keindahan apa yang tersaji di depannya. Terlebih sosok tampan yang menatapnya dalam.


"Yuk," ajak Ri.


"Sekar!"


Gadis itu menoleh, Ri dan pandangan indah itu langsung lenyap dari sana. Tinah mendekati putrinya yang seperti melamun di depan pintu kamar.


"Kenapa berdiri lama di sana Nak?" tanya wanita itu.


"Oh, tadi baca doa dulu Bu," jawab Sekar tentu berbohong.


Kini gadis itu sudah bersih dan rapi, ia menyiapkan semua buku-bukunya. Gadis itu sebentar lagi ulangan harian untuk menunjang naik-naikkan kelasnya.


"Oh, harus dapat rangking satu dan juga harus SMA dulu," keluh Sekar.


"Nggak ada ya yang dari SMP langsung masuk akademis gitu?" lanjutnya terus bermonolog.


Gadis itu terus menari informasi dari ponselnya. Ia hanya mendapatkan jika apapun cita-cita yang ingin ia gapai harus berbasis SMA dulu.


"Apa masuk sekolah keterampilan saja ya?" tanyanya bingung sendiri.


"Ikut kami maka semuanya tak perlu kamu pusingkan Sekar!" ujar Re mendekati.


Sekar menatap sosok anak kecil yang terbalik kepalanya dan selalu meneteskan darah di bibirnya.


"Aku mau membahagiakan ibu dan ayahku," ujar Sekar yang membuat Re mundur teratur.


"Mereka tak membahagiakanmu Sekar. Buktinya mereka menitipkanmu pada nenek yang buta huruf!" teriak Re.


"Kau juga buta huruf Re," sahut Sekar membungkam Re.


"Kau berubah Sekar, padahal kami lah yang selama ini menolongmu," ujar Re kecewa.


Di depan pintu, Rita menutup mulutnya. Wanita itu kembali mendapatkan anak gadis asisten rumah tangganya itu berbicara sendirian. Kali ini malah menyebut nama teman yang tak terlihat itu.


"Sekar harus diruqiyah!' putusnya.


Rita menemui ayah dari gadis itu. Tono menunduk di depan majikanya. Sebagai seorang ayah tentu ia tak akan membuka aib dari putrinya sendiri.


"Putri saya memang suka bicara sendiri, Nyonya," jelas pria itu. "Itu karena dia memang tak memiliki teman."


"Pak, jangan bohong. Ini semua untuk kebaikan Sekar," ujar Rita membujuk Tono.


"Kita harus membersihkannya agar semua yang mendekatinya tak mengganggunya lagi," lanjutnya.


Tono memang tau apa yang diderita sang putri. Makhluk-makhluk halus itu memang membuat Sekar seperti orang gila karena bicara sendirian.


"Kita harus meruqiyah Sekar Pak!"


Keinginan Rita sangat diharapkan oleh Tono. Pria itu memang begitu ingin putrinya sembuh dari semua gangguan setan itu. Ia pun mengangguk setuju.


"Saya akan mencarikan ustad yang bisa mengusir semua yang mengganggunya Pak!" janji Rita.


Tono menyerahkan semua pada majikan perempuannya itu. Pria itu berharap putrinya dapat hidup normal dan bisa mengaji lagi dan tak sakit setelah mengaji.


Pagi menjelang, Sekar kali ini diantar oleh supir saja, baik Bastian, Reynold dan Charlie tak bisa mengantar gadis itu karena mereka bertiga keluar kota pagi-pagi buta.


"Saya naik angkot saja Nyonya," tolak Sekar menaiki mobil.


"Naik Sekar!" titah Rita tak bisa dibantah.


Mau tak mau akhirnya gadis itu naik. Supir berkali-kali menatap gadis yang menatap luar jendela. Ia sangat kesal dengan Sekar yang ia anggap kedudukannya sama dengannya itu.


"Enak ya, dianterin udah kek Nona muda aja!" sindir pria itu ketus.


Sekar menatap dingin pria yang mengemudikan mobil. Beruntung tatapan dingin Sekar tak dilihat karena supir fokus membelokkan setirnya.


"Saya sudah menolak tadi Pak!" tekan gadis itu.


"Ck ... sudah lah!" sinis pria itu kini menatap Sekar yang juga menatapnya.


Pria yang menyetir bergidik ketika melihat tatapan yang seakan menghunusnya. Seandainya Sekar tidak mengingat jika ia sedang dalam perjalanan, ia pasti akan memandangi tajam pria bermulut nyinyir di depannya itu.


"Jika Bapak keberatan, bisa menolak pada Nyonya!' sahut Sekar berani.


"Anak babu tak tau diuntung!" hina pria itu.


"Jangan lupa Pak, istri Bapak juga pembantu di rumah majikan saya!" sahut Sekar sangat berani.


Tentu saja hal itu membuat pria itu bungkam seribu bahasa. Sekar mengingatkan kedudukannya sama.


"Ingat Pak, saya naik karena paksaan Nyonya. Jika keberatan, nanti saya akan katakan pada Nyonya!" ancam Sekar sangat ringan.


Pria itu diam, tak butuh waktu lama mereka sampai di depan gerbang sekolah. Sekar turun setelah mengucap terima kasih. Gadis itu melenggang masuk ke dalam kelasnya.


"Anak sialan!' maki supir itu kesal bukan main.


Sosok melata duduk di belakang supir itu. Lidahnya menjulur panjang, mata merahnya memandang supir yang mengumpat panjang pendek.


Supir tentu tak sadar dan tak melihat jika ada sosok yang sangat menyeramkan tengah memperhatikannya.


Pria itu menatap kaca spion tengah mobil. Ia menekan pedal rem dalam-dalam.


Brak! Belakang mobil itu tertabrak truk yang melaju. Hal itu membuat mobil terseret jauh ke depan.


Mobil mewah itu ringsek total. Beruntung sang supir tak terluka karena balon pengaman mengembung ketika ada benturan. Hanya saja lehernya sangat sakit akibat bantal pelindung yang tiba-tiba mengembang menghantam kepalanya keras.


Bastian menatap bamper belakang mobil mewahnya yang hancur. Ia tak masalah selama supirnya tak apa-apa.


"Pa ... Pak Dodit gimana?" tanya Rita menelepon suaminya.


"Dodit tidak apa-apa, hanya saja lehernya keseleo," jawab Bastian.


Rita bernapas lega, ia tak mempermasalahkan mobilnya. Sekar dijemput oleh mobil dan supir yang berbeda.


"Gila, kaya banget itu majikan Sekar!" seru salah kawan Sekar.


Sekar hanya diam, gadis itu hanya duduk manis di mobil yang menjemputnya. Sampai rumah ia mendapati orang lain tengah mengobrol dengan nyonya rumahnya. Gadis itu mengucap salam seperti biasa.


"Sekar ganti bajumu ya," pinta sang majikan, "lalu kamu ke sini lagi!"


Sekar mengangguk, semua teman astralnya hanya menatap dua manusia yang tengah bercengkrama itu.


Sementara di rumah sakit, supir yang mengalami kecelakaan sangat yakin apa yang ia lihat tadi di spion tengah mobil yang ia kendarai.


"Aku sudah menurunkan Sekar di sekolah! Kenapa bisa ia ikut lagi dengan seringai menyeramkan itu!" gidiknya ketakutan.


Bersambung.


Uh ... 😱


next?