
Sekar sedih melihat pipi ibunya yang memerah. Gadis itu sudah betah sekolah di tempatnya sekarang. Ia merasa semua teman mulai menerimanya.
"Bu," panggilnya lirih.
Tinah menatap netra putrinya, ia sangat tau jika Sekar keberatan untuk pindah. Bukan ia tidak tau jika kembali ke kampung bukan menyelesaikan masalah.
"Ibu takut nanti kamu yang terluka Nak, ibu tak mau itu terjadi," ujar sang ibu.
Sekar memeluk Tinah, ia sedih karena penghinaan karena mereka yang miskin.
"Sekar janji Bu, akan mengangkat derajat kita. Tapi jika pindah ke desa, Sekar akan kembali dari awal menerima perundungan," ujar gadis itu lirih.
"Bapak sebenarnya kemarin sudah mendapat rumah di dekat sekolah Sekar," ujar Tono menimpali.
"Bapak hendak menyewanya dan pindah ke sana, kebetulan rumah itu ada warung di depannya. Jadi kita bisa berjualan di sana," lanjutnya.
"Bagaimana Nak?" tanya Tinah.
"Sekar ikut Bu," jawab Sekar.
"Nak, maaf. Bukan maksud ibu merendahkan kamu. Tapi, jangan pikirkan janji Tuan muda Rey ya Nak, kita tidak tau kedepannya bagaimana," pinta wanita itu.
Sekar hanya mengangguk, ia meraba bibirnya pelan. Tuan muda tadi menciumnya.
"Kalau begitu Bapak besok akan pergi ke sekolah bersama Sekar sekalian membayar uang sewa rumah itu full," ujar Tono.
Malam ini Sekar tidur sekamar dengan ayah dan ibunya. Sementara Bastian duduk di balkon sambil melamun. Ia menatap tangannya.
"Apa yang kulakukan tadi?" tanyanya lirih.
"Kenapa tangan ini begitu cepat melayang. Jika saja Mbok Tinah tak menghalangi, betapa aku menyesalinya seumur hidup," monolognya lirih.
Rita mendatangi suaminya. Ia memeluk pria itu, wanita itu meminta maaf.
"Maaf, sepertinya aku gagal mendidik Brenda jadi anak soleha,"
"Tidak Ma, kau sangat keras mendidik mereka. Tetapi, kita memang mendapat cobaan mendapatkan putri seperti Brenda," ujar Bastian lirih.
"Pa, sebenarnya ada cerita yang tidak Papa ketahui," ujar Rita lagi ragu-ragu.
"Apa Ma?" Rita menatap suaminya.
Wanita itu ingin membuka mulut, tetapi ia masih ragu dan enggan mengatakan yang ia tau.
"Ma, jangan buat Papa penasaran!" seru Bastian kesal.
"Pa ...."
Rita membisikkan sesuatu pada Bastian. Pria itu sangat terkejut. Ia menatap sang istri tak percaya.
"Apa kau yakin benar begitu?" tanyanya.
"Iya Pa, selain mengganggu Rey, teman-teman Sekar yang tak kasat mata itu mengganggu dan menakuti Brenda," jawab Rita lirih.
"Aku takut, jika Brenda berulah. Setan-setan itu kembali menekan putri kita," lanjutnya.
"Pa, kita harus memperingati Brenda. Aku takut, Pa," lanjutnya ketakutan.
"Tenang sayang. Jangan gegabah, kita awasi dan lindungi Brenda," ujar Bastian juga sedikit takut.
Sementara di kamarnya Brenda menatap nilainya yang hancur. Jika tidak segera ia melakukan remedial, ia akan di drop out.
"Papa pasti nggak mau kuliahin aku kalo nggak nurut," gumamnya lemah.
"Kata Bi Roro, Sekar dapat rangking satu dan nilai tertinggi di sekolah," lanjutnya bermonolog.
"Aku dan semua kakakku sekolah di tempat itu, tapi tak pernah rangking satu, paling Kak Rey yang pernah menduduki lima besar,"
"Pipi Mbok pasti bengkak akibat tamparan Papa,"
Brenda benar-benar tak bisa tidur. Ia tau dirinya salah, tapi gengsi sebagai tuan putri pemilik rumah membuat ia enggan meminta maaf.
Sementara, di kamar mandi gadis itu keluar asap hitam yang sangat tipis. Lampu kedap-kedip, Brenda menatap lampu yang mendadak remang-remang, namun tak lama kembali terang.
"Apa voltase turun ya?" tanyanya bingung.
Bulu kuduknya tiba-tiba meremang. Gadis itu menarik selimut menutupi seluruh tubuhnya. Ia memaksa memejamkan mata.
Asap hitam yang keluar dari sela-sela pintu kamar mandi perlahan berbentuk gumpalan. Sosok merah muncul dengan seringai mengerikan.
"Sekar," panggil sosok itu.
Semua duduk di meja makan untuk sarapan. Biasanya Tono, istri dan putrinya duduk di sana. Tapi kali ini ketiganya mengaku sudah sarapan di dapur.
"Tuan, ijinkan saya mengantar Sekar pergi ke sekolah pagi ini," pintanya dengan wajah menunduk.
"Kenapa Pak? Sekar biar saya yang antar!" sahut Bastian.
"Tapi Tuan ...."
"Kau mulai membantahku Tono?" tekan pria besar itu.
"Tuan ... maaf, tapi kami benar-benar mau berhenti Tuan. Kami takut jika diteruskan," tukas Tono tegas.
"Pak, saya mohon," pinta Rita.
Tono menggeleng kuat.
"Udah sih Ma, biar aja. Emang kita butuh dia apa!" sahut Brenda sinis.
"Brenda!" peringat Rita.
"Benar Nyonya, kalian tak butuh kami!" ujar Tono lalu menggandeng putrinya keluar dari mansion mewah itu.
Bastian menggenggam erat sendok dan garpu di tangannya hingga memutih. Baik Charlie dan Reynold tidak ada di tempat. Dua pemuda itu berada di luar kota dari kemarin.
Bastian tak semangat menyentuh lagi sarapannya. Ia pun beranjak dari tempat duduk.
"Aku tak berselera!" ujarnya.
Rita hendak menyahut, tetapi ia sangat tau jika suaminya tengah menenangkan diri. Ia menatap putrinya dengan pandangan kecewa.
"Mama mendidikmu sebagai anak yang berlisan santun dan lemah lembut," ujar Rita lirih.
Brenda menyendok nasi goreng di piringnya tak peduli. Rita pun bangkit dan menatap makanan yang tak habis.
"Mungkin semut dan lainnya senang dengan rejeki hari ini," ujar wanita itu lalu meninggalkan meja makan.
Tinah dan lainnya masih membereskan hunian itu. Wanita itu tak pernah mau pergi lagi ke lantai atas dan membersihkan kamar-kamar majikannya. Ia sangat takut dituduh yang tidak-tidak.
Brenda berdiri. Makanannya juga tak habis. Gadis itu melangkah dengan tatapan kosong. Ia kembali ke kamarnya dengan membanting pintu keras-keras.
Semua orang terlonjak mendengar itu. Rita menemani suaminya ke kantor. Wanita itu akan menenangkan Bastian agar emosinya tak semakin memuncak.
Di kamar Brenda terdapat poster-poster boyband K-Pop kegemarannya. Lampu menyala begitu terang, gadis itu tak pernah mau membuka jendela kamarnya.
"Sinar matahari bisa menghanguskan kulitku!" begitu alasannya.
Brenda memasang playdisk dari laptopnya. Ia memutar volume begitu keras hingga bunyi gaduh itu terdengar hingga ke bawah.
"Ada apa? Tak biasanya Nona begini?" tanya Tinah gundah dalam hati.
Sementara di sekolah Tono harus menelan kekecewaan, rumah yang ia incar sudah dibooking orang lain. Pria itu menyesal kemarin tak langsung membayar uang muka.
"Salahku tak membawa dompet berisi kartu ATM," keluh pria itu.
Namun kemudian ia meruntuki kebodohannya.
"Kenapa nggak transfer aja ya!" lanjutnya kesal bukan main.
Banyak rumah dan kios disewakan, tetapi semua meminta harga tinggi. Karena lokasinya memang sangat strategis dan bagus. Tentu nilai jual di sana juga sangat tinggi.
Tono pun menunggui putrinya pulang sekolah. Ketika Sekar tengah beristirahat, ia mendapat ayahnya yang duduk termenung di sebuah kios tunggu.
Sekolah memang mendirikan tempat untuk para orang tua yang menunggu anak murid mereka.
Tak lama, Sekar selesai dengan pelajarannya.Tono langsung tersenyum dan membawa putrinya pulang.
Sementara itu Brenda menatap dinding kamarnya dengan pandangan kosong. Gadis itu mendekati salah satu boyband dengan jumlah personil yang sangat banyak.
Sreekkk! Poster itu ia robek sedemikian rupa. Seringai menyeramkan timbul di bibirnya.
"Sekar ... aku memasung jiwa anak ini!' ucapnya lirih dengan suara dobel.
Bersambung.
Eh ... Brenda? 😱
next?