My Ghost Friends

My Ghost Friends
MASIH LABIRIN SESAT



Sekar masih harus kembali mencari sembilan belas temannya lagi. Walau langkahnya makin ringan, namun tetap ia masih kesulitan mencari jalan yang benar.


"Kenapa aku kembali ke jalan ini lagi?" keluhnya bertanya.


Semua mahkluk tak kasat mata mengikutinya kemanapun membuat sang gadis kesal.


"Apa kalian tak bisa membantu sama sekali?" tanya Sekar sampai berdesis.


Ri dan Re diam, mereka juga tidak bisa membantu karena memang itu tujuan mereka agar Sekar menyerah dan ikut dengan mereka.


"Kau tambah wangi Sekar," puji Re yang sudah hangus separuh tubuhnya.


Sekar mengabaikan pujian dari teman astralnya itu. Langkah kaki itu terhenti ketika mendengar isakan lirih.


"Halo ... siapa itu?!" teriaknya bertanya.


"To ... long ....," begitu lirih terdengar.


Sekar menerobos tumbuhan yang menghalanginya. Ia tak peduli lagi ranting-ranting dahan yang menggores kulitnya. Luka yang mengering kembali menganga dan berdarah.


"Desi?" panggilnya memastikan.


Mendengar ada yang memanggil namanya, gadis itu mengangkat kepala. Tubuhnya terperosok dalam parit yang dasarnya berwarna hitam pekat. Gadis itu berpegangan pada satu batu kecil, bibir dan wajahnya pucat pasi.


"Sekar ... hiks ... hiks!" isaknya.


Sekar mendekati salah satu temannya itu. Dengan sekuat tenaga ia menarik tubuh Desi. Akhirnya Desi sampai di atas, ia memeluk erat tubuh Sekar dan menangis.


Sekar tak bisa lagi menangis, ia hanya bisa bernapas lega. Kembali ia meminta Desi pergi ke satu jalan yang ia tunjuk dan mencari cahaya paling terang di antara cahaya.


"Ada Pak Ahmad menunggu," ujarnya..


"Kamu?" tanya Desi.


"Aku harus cari lainnya lagi. Apa kau melihat mereka?" Desi menggeleng.


"Aku tidak tau," jawabnya menyesal.


"Ya, sudah tidak apa-apa. Pergilah," pinta Sekar.


Desi berlari ke arah yang ditunjuk Sekar. Gadis itu tentu dengan mudah menemukan Ahmad guru agama mereka. Semua teman perempuan memeluknya sambil bertangisan.


"Sudah ... sudah, ayo kita kembali berdoa agar Sekar menemukan sisa teman kita dengan cepat," ajak Ahmad.


Sekar duduk meluruskan kakinya yang sudah bengkak. Pergelangan kakinya memerah, ia mencopot sepatunya. Ketika melihat kaus kakinya menempel darah yang lumayan banyak. Ia membukanya dengan muka mengernyit menahan sakit.


"Uuuhh!"


Telapak kaki Sekar memerah karena lecet dan berair darah. Gadis itu diam membisu sambil mengelus pelan kakinya. Ia tak tahu bagaimana rasa tubuhnya, ia tak merasakan apa-apa lagi.


"Kasihan sekali," ledek Ndere yang telah menyempurnakan tubuhnya.


"Ayo lah ... tinggal bersama kami, maka kau tak akan merasakan kesakitan ini," lanjut Ndere berbisik pada Sekar.


Ndere mencoba masuk ke dalam tubuh Sekar yang sudah melewati batas lelah. Seringai menakutkan terbit di bibir Ndere ketika berhasil masuk separuh tubuhnya.


Sementara di tempat lain, Tono yang sedikit tertidur usai shalat sunnah tadi terkejut ketika bunyi suara terjatuh.


"Astagfirullah!" teriaknya.


Pria itu berdiri dan menatap istrinya yang masih terbaring lemah di tempat tidur. Tono mencari asal suara benda yang jatuh, tapi tak ada satupun benda itu.


"Astagfirullah ... ada apa ini?" tanyanya gelisah.


Mulut Tinah tak berhenti berdzikir, Tono mendengarnya. Pria itu kembali ke sajadahnya ia pun kembali mengangkat tangan meminta perlindungan bagi putrinya.


Sementara di tempat labirin. Ndere yang coba memasuki tubuh Sekar terpental keluar. Darah hitam keluar dari mulut makhluk itu. Ia marah luar biasa pada ayah Sekar yang berdoa.


"Ganggu ayahnya!" perintahnya pada salah satu anak buah.


Sosok dengan lidah menjulur pergi. Sekar yang baru saja sadar kembali bangkit dan melanjutkan perjalanan sambil meneriaki nama-nama teman yang ia ingat.


Tono menyalakan murotal dari ponselnya. Pria itu harus kembali bekerja, waktu sudah menunjukkan pukul 10.07. Terkadang Tono bingung dengan benda bulat yang menunjukkan waktu tersebut.


"Kenapa lama sekali?" gumamnya bertanya.


Pria itu mengusap dan mencium kening istrinya. Tinah membuka mata, ia hendak bangkit. Tono membantunya untuk duduk.


Setelah menenggak habis air putih itu. Tinah baru berasa lapar. Tentu Tono senang akhirnya sang istri mau makan.


"Bapak ambilkan ya Bu. Tunggu," pinta pria itu yang diangguki Tinah.


Tono bergegas menuju dapur dan mengambil makanan untuk sang istri.


Sepeninggalan Tono. Makhluk dengan lidah panjang tak mampu bergerak. Suara murotal mengganggunya bahkan kini sebagian tubuhnya mengeluarkan asap tipis.


"Aarrggh!" pekik makhluk lidah panjang itu.


Prank, cermin kecil di sisi Tinah retak. Wanita itu langsung beristighfar.


"Astagfirullah!"


"Ya Allah, ada apa ini? Kenapa bulu kudukku meremang?" tanyanya mulai takut.


Hari masih terlalu pagi, tapi kamar yang ditempati Tinah mendadak pengap, cahaya redup. Bulu tengkuk Tinah meremang, suara murotal mendadak hilang.


Makhluk berlidah panjang kegirangan, perlahan ia mewujudkan dirinya.


"Tinah!" panggilnya berbisik.


Krieet ... krieet ... bunyi langkah makhluk menyeramkan itu menggesek lantai marmer.


Sreek!


"Astaghfirullah!' pekik Tinah berteriak ketakutan. Sayang teriakan itu hanya dalam hatinya. Sementara kini ia menutup mulutnya.


Kursi belajar milik Sekar bergeser dari tempatnya. Krieet! Bunyi kursi yang ditarik memekakkan telinga Tinah.


"Siapa itu!" teriaknya ketakutan dengan bibir gemetaran.


Makhluk lidah panjang menanamkan ketakutan Tinah sebagai kekuatannya.


"Tinah ... Tinah ...!" bisik makhluk itu memanggil.


Tinah menutup kupingnya yang tiba-tiba berdenging. Ia ingin menjerit memanggil suaminya. Tapi bibirnya kelu bahkan tak bisa bersuara.


Sosok menyeramkan itu kini berada di depan muka Tinah. Wanita berusia dua tiga puluh tiga tahun itu tak bisa berucap apapun, otaknya buntu.


"Tinah ... lepaskan putrimu," ujar makhluk itu.


Tinah hendak mengangguk ... namun pintu terbuka. Tono masuk membawa nampan makanan.


Suasana pengap dan cahaya remang pun berubah cepat. Tinah terbatuk dan muntah-muntah. Tono yang khawatir langsung bergegas menuju sang istri meletakkan piring di atas nakas.


"Bu ... ibu kenapa?" tanyanya khawatir.


Rita ikut masuk ketika mendengar orang muntah-muntah. Wanita itu langsung memanggil dokter pribadinya.


Rita menatap kamar itu, ia merasa hawa lain di sana. Ia bergegas membuka jendela lebar-lebar agar udara segar masuk dan cahaya matahari juga masuk.


Makhluk berlidah panjang pergi lari tunggang langgang. Tinah dinyatakan kena tukak lambung karena terlalu kosong. Kini selang infus menusuk lengan kanannya. Wanita itu menolak dirujuk ke rumah sakit.


"Makanlah Tinah. Aku sedih melihatmu seperti ini," ujar Rita begitu khawatir.


"Iya Nyonya, makasih dan maaf udah merepotkan," ujar Tinah menyesal.


"Jangan berkata seperti itu, kau sudah aku anggap keluargaku," ujar Rita lagi.


Bastian pulang ke mansionnya. Pria itu menatap kamar para maid yang memang sedikit pengap dan jauh dari cahaya matahari.


"Kita buat paviliun untuk mereka, agar memilih kamar sendiri dan cahaya masuk ke kamar," ujar Bastian yang diangguki setuju oleh istrinya.


Sementara itu di labirin Sekar kembali memakai kaos kaki dan sepatunya. Gadis itu kini jalan terseok-seok, ia kembali mencari teman-temannya.


"Ya ... Allah ... kapan ini berakhir!" keluhnya lelah setengah mati.


Bersambung.


Sabar Sekar ... Tuhan masih mengujimu agar menjauh dari teman-teman astralmu.


next?