
Sekar terduduk lesu. Dua temannya butuh pertolongan. Mereka begitu kesulitan untuk bertahan.
"Ya Allah ... tunjukkan jalan ... tunjukkan jalan!" pinta gadis itu lirih.
Tanah bergetar hebat. Ndere berteriak kuat kesakitan. Jalanan yang bercabang mendadak berubah jadi satu. Dua teman yang tadi bergantungan di pinggir tebing mendadak hilang.
"Sekar!" gadis itu menoleh.
"Nila?" Sekar langsung berdiri dan berlari menyambut temannya itu.
Keduanya bertangisan. Lina memberitahu ada beberapa teman yang tersesat di salah satu labirin. Gadis itu segera mengikuti. Ada empat orang di sana. Sekar langsung melepaskan lilitan akar yang membelit mereka.
Seperti yang lain Sekar menyuruh lima temannya menuju jalan dengan patokan cahaya paling terang di antara semuanya. Kelima murid itu segera berlari menuju arah yang ditunjuk Sekar.
"Pak Ahmad!" teriak mereka.
"Sini Nak ... sini!" ajak Ahmad.
Mereka menangis dan mengaku bersalah pada orang tua mereka. Ahmad berjanji menemani semua anak untuk meminta maaf pada kedua orang tua mereka.
'Jadi semua anak yang tersesat jiwanya rata-rata bermasalah dengan kedua orang tuanya,' gumam Ahmad dalam hati.
Pria itu kembali menyuruh semua anak-anak berdoa. Ahmad memfokuskan dirinya pada Sekar. Ia sangat tau jika gadis itu memiliki keahlian khusus yang diberikan Tuhan.
"Kau memang spesial Sekar. Bapak sangat tau itu," ujar pria itu bergumam.
Kembali kepada Sekar. Gadis itu menghitung sisa temannya yang hanya sepuluh orang lagi. Sekar sangat bersemangat. Namun ternyata makin sedikit teman labirin makin besar untuk ia jelajahi. Sekar mengusap peluh yang membasahi tubuhnya.
"Halo!" teriaknya memanggil siapapun. "Ada orang di sana!"
"Danar ... kau di mana!?" teriaknya lagi.
"Sekar!" gadis itu menoleh.
Dewo langsung berlari dan memeluk Sekar karena begitu gembiranya. Remaja itu menangis tersedu dalam pelukan gadis itu.
"Sudah ... kamu jangan nangis lagi,' pinta Sekar menghapus jejak basah temannya itu.
"Sekarang kamu ke sana dan ikuti cahaya yang paling terang. Pak Ahmad menunggu," ujar Sekar.
Dewo mengangguk lalu ia pun berjalan ke arah yang ditunjuk teman kelasnya itu. Ketika dilihatnya sang guru agama dan semua temannya duduk. Ia langsung berlari dan memeluk guru agamanya.
"Pak ... hiks ...!" Ahmad mengelus punggung Dewo penuh ketulusan.
Ndere dan yang lainnya hanya diam menunggu. Mereka memilih tak melakukan apapun selama Sekar masih memiliki harum yang membuat mereka nyaman. Mereka memilih menunggu waktu yang tepat saja.
Sekar kembali berjalan. Tak dirasakan rasa kebas di kakinya, sakit di tubuhnya bahkan perih di seluruh kulitnya yang lecet akibat goresan dahan-dahan tadi.
Sekar terus memanggil teman-temannya yang tinggal sembilan orang lagi. Gadis itu sangat ingin semua berkumpul agar semua kembali bersama dan pulang. Sekar benar-benar sangat kelelahan sekali.
Sementara di tempat lain. Beberapa anak mulai keluar ruang kelas karena bel istirahat berbunyi. Tak ada yang curiga jika kelas Dua A begitu tenang dan damai. Sasha hendak mengetuk pintu yang tertutup rapat. Namun entah mengapa hatinya ragu melakukan itu. Akhirnya guru agama itu pergi ke kantin dan membiarkan kelas yang nampak damai di dalam. Beberapa orang tua yang menunggu sampai mengintip dari luar. Jendela lebar menampakan semua anak-anak yang begitu serius menatap guru mereka yang juga duduk seperti menjelaskan. Mulut guru tampak bergerak. Memang tak ada yang bisa mendengar apa yang terjadi dalam kelas. Karena takut mengganggu proses belajar mengajar. Para orang tua memilih kembali menunggu anak-anak mereka.
Reynold menatap jam di dinding. Waktu sudah menunjukkan pukul 10.42. pria itu sangat tahu kalau ini waktu istirahat pertama Sekar.
"Aku akan menjemputnya pulang sekolah," ujarnya sambil tersenyum.
Kembali ke labirin. Sekar terus memanggil semua teman yang tersisa.
Ndere melihat betapa gigihnya Sekar dengan apa yang ia yakini. Gadis itu tak bergeming dengan semua harta benda yang ditunjukkan oleh Ndere.
"Bagaimana jika aku menyakiti ibumu Sekar?" ujar Ndere mengancam.
Sekar berhenti melangkah. Gadis itu tentu tak mau terjadi apa-apa dengan ayah maupun ibunya. Ia menoleh dan menatap tajam Ndere.
Ndere adalah makhluk paling menyeramkan yang pernah ada. Istri dari gondoruwo ini memang memiliki kekuatan yang lebih kuat dibanding dengan makhluk lainnya. Begitu seramnya sampai jika ada yang melihatnya jadi gila.
Ndere kini berbentuk wujud aslinya. Tubuhnya tinggi dua meter yang dipenuhi bulu lebat berwarna hitam pekat. Mukanya laksana babi hutan dengan empat taring panjang menyembul di bibirnya.
"Rooooaaaaar!" teriak Ndere membuat bulu kuduk siapapun merinding dibuatnya.
"Tinah ... Tinah!' panggil Ndere dengan suara serak.
"Jangan ganggu ibuku!' pekik Sekar.
"Kau tak menurut Sekar. Aku terpaksa menggangu ibumu!" ujar Ndere.
Sosok besar itu menghilang. Sekar menjerit ia tersedu. Gadis itu memikirkan sang ibu.
"Ibu ... ibu ... hiks!"
bersambung.
berhasilkah Ndere menyesatkan sang ibu?
next?