
"Sekar ... kami kembali!"
Sosok wajah hancur berada tepat di muka Sekar. Gadis itu nyaris muntah karena bau dari makhluk itu benar-benar amis.
"Kau siapa?" tanya Sekar berbisik.
"Aku Re dengan wujud baru," jawab makhluk menyeramkan itu.
"Pergi lah Re!" usir Sekar.
Sekar membaca sebuah doa hingga membuat Re terpental. Makhluk itu meraung memanggil nama Sekar.
"Kau jahat Sekar!" pekik Re.
"Jangan dekati aku jika kalian mau aman!" ancam Sekar pada makhluk mengerikan itu.
Re pun akhirnya memilih berdiri di pinggiran kelas. Bel berbunyi, anak-anak kembali duduk di bangku mereka masing-masing. Ahmad masuk dan mulai mengajar, beberapa makhluk tak kasat mata memilih pergi daripada mereka terbakar.
Bel tanda berakhirnya pelajaran, Ahmad meminta semua murid menunggu sebentar.
"Ada yang ingin Bapak diskusikan dengan kalian," ujar Ahmad lagi.
"Apa itu Pak?" tanya Ari ketua kelas.
"Begini, bagaimana jika pohon itu kita tenang saja?" ujar Ahmad meminta pendapat.
"Jangan Pak!" seru beberapa anak termasuk Sekar.
"Kepanasan kita kalo pohon itu ditebang!" seru Desi dengan wajah mengeluh.
"Iya Pak, matahari siang akan langsung menerobos masuk ruangan ini. Ada pohon itu aja kadang kita nggak bisa lihat papan tulis!" sambar Gita.
Semua murid mengangguk membenarkan. Mereka menolak penebangan pohon besar itu.
"Lagian kan bagus Pak buat penghijauan!" celetuk Siska ngawur.
Ahmad akhirnya batal menebang pohon tua itu. Sebenarnya, pria itu yakin jika para penghuni makhluk halus bersarang di pohon itu.
"Mereka juga ingin tempat tinggal Pak," bisik Sekar ketika semua anak bergerak keluar kelas.
Sekar memang mendorong sendiri kursi rodanya. Danar tengah bercanda dengan temannya.
"Assalamualaikum Pak," sapa Tono yang datang menjemput putrinya.
"Wa'alaikumusalam Pak," balas Ahmad.
Sekar menatap gurunya, Ahmad sangat mengerti tatapan gadis itu. Pria itu hanya bisa menghela napas panjang. Ahmad menatap pohon besar yang diperkirakan berusia lebih satu abad itu. Ia sedikit menyipitkan mata karena cahaya matahari yang mengintip dari sela-sela daun.
"Benar kata anak-anak, jika pohon ini ditebang. Matahari akan menghanguskan kami semua," gumamnya bermonolog.
Sampai mansion. Sekar di dorong sampai kamarnya. Hari ini Rita menjemput putrinya, Brenda.
"Istirahat lah Nak," pinta sang ibu setelah menyuapi Sekar.
"Makasih Bu," ujar gadis itu lirih.
Kamar Sekar terang, Tinah sengaja membuka jendela lebar-lebar. Ventilasi dan pencahayaan kamar itu sangat baik dari sebelumnya.
"Bu, bisa tutup jendelanya sedikit, panas sekali," pinta Sekar memohon.
"Baik lah Nak," ujar Tinah mengerjakan apa yang diminta oleh sang putri.
Setelah menutup sedikit jendela, Tinah pun keluar sambil membawa baki berisi piring kotor. Sekar menghela napas panjang, ia sebenarnya senang dengan kamarnya yang luas dan terang seperti ini. Semua teman astralnya pasti takut untuk mendekatinya lagi.
"Kami masih di sini Sekar," gadis itu menoleh.
Re dan semua makhluk sebangsamya berdiri berjejer. Sekar menghela napas panjang.
"Padahal yang kupilih jalur kanan," gumam gadis itu.
"Kenapa mereka malah mengikuti aku?" tanyanya lagi.
"Baumu Sekar ... baumu masih ada untuk kami," ujar Re dengan tubuh terbaiknya.
Re merupakan setan berupa anak kecil dengan posisi kepala terbalik. Sekar tak melihat keberadaan Ri.
"Ri mana?" tanyanya.
"Ri sedang menyempurnakan tubuhnya Sekar. Ia pasti kembali kok, tenang saja," jawab Re dengan senyum lebar hingga merobek mulutnya.
Sekar menutup mata dan mengumpat dirinya. Gadis itu menyesal menanyakan salah satu teman astralnya itu.
"Aku sudah memutuskan untuk tidak ingin berinteraksi dengan kalian. Aku akan berusaha menghilangkan penglihatan spesialku!" ujar Sekar bermonolog.
"Sekar?" gadis itu menoleh.
Reynold datang dengan wajah gusar. Pemuda itu langsung duduk di pinggir ranjang yang Sekar tempati.
"Tuan,"
"Sekar ... jawab saja!" pinta Reynold memaksa.
Sekar hanya mengangguk membenarkan pertanyaan tuan mudanya itu. Reynold menghela napas panjang. Pemuda itu juga memiliki kemampuan melihat makhluk halus. Tetapi, ia mengobati dirinya sendiri dengan ruqiyah mandiri.
"Apa kau mau menghilangkan keberadaan mereka semua Sekar?" tanya Reynold dengan memandang gadis itu lekat-lekat.
Sekar diam sejenak, gadis itu masih sedikit ragu. Ri dan semua makhluk berdiri di pojok ruang kamarnya.
"Apa benar-benar ampuh?" tanya Sekar hati-hati.
"Memang tidak seratus persen, tapi aku jamin. Mereka tidak akan mengganggumu lagi selamanya," jawab Reynold dengan senyum menawan.
Sekar tercenung, gadis itu akhirnya mengangguk. Tiba-tiba kursi rias Sekar bergeser sendiri.
Krieet!! Keduanya beristighfar. Udara tiba-tiba menjadi sesak dan pengap. Jendela yang terbuka langsung menutup sekaligus tirainya hingga cahaya matahari tak langsung masuk.
"Jauhi Sekar!" suara berbisik memperingati Reynold.
"Siapa kau!" bentak pemuda itu.
"Jauhi Sekar ... Sekar miliki kami!" bisik sosok tak nampak itu.
"Kaulah yang menjauhi Sekar!" teriak Reynold.
"Apa kau bertaruh Rey?" tanya Re menantang pemuda itu.
"Adikmu sebentar lagi datang. Kau tau kan bagaimana sikap adikmu terhadap teman kami?" lanjutnya dengan seringai mengerikan.
Reynold terdiam, ia bukan tidak tau kelakuan adiknya. Bukan hanya pada Sekar, Brenda berkelakuan angkuh dan sombong. Tetapi pada semua orang miskin, Brenda berlaku sombong.
"Aku bisa menangani adikku!" tekannya yakin.
Reynold mengucap doa yang membuat semua makhluk lari kocar-kacir. Pemuda itu menghela napas panjang, ia menatap Sekar.
"Semuanya kembali padamu Sekar," ujar pemuda itu.
"Saya juga tak mau seperti ini Tuan. Selama ini mereka tak muncul saya tenang dan damai. Saya tidak memanggil mereka atau apapun, bahkan ketika memilih jalan, saya melalui jalan yang tidak mereka arahkan," jelas Sekar panjang lebar.
"Kalau begitu, ruqiyah mandiri Sekar. Bersihkan dirimu sendiri, kau pasti bisa," ujar Reynold.
Sekar mengangguk setuju.
"Boleh bantuin saya Tuan," cicitnya lirih.
"Aku akan membantumu sayang, aku pasti membantmu," ujar Reynold lalu mengusap dan mengecup pucuk kepala gadisnya itu.
Sekar menghela napas panjang sepeninggalan Reynold. Gadis itu memiliki kekasih, tetapi ia malah berselingkuh dengan tuan mudanya.
"Aarrggh!" pekiknya tertahan.
"Gadis macam apa aku ini!" dumalnya pelan mengumpat diri sendiri.
Sekar memilih berbaring. Matanya hendak terpejam, namun satu helaan napas berat terdengar.
"Sekar!"
"Kami kembali!"
"Pergilah ... aku tak butuh kalian!" tekan gadis itu tak peduli.
"Baumu masih ada Sekar ... maka selama baumu ada, kami tidak akan pernah pergi," bisik sosok tak tampak itu.
Sekar merapal sebuah doa. Makhluk itu pun menghilang. Sekar menatap kakinya yang sudah mulai membaik. Ia mengelus dan memijitnya perlahan sambil membaca doa.
"Ya Allah, tolong hamba-Mu ini ... hamba ingin bebas dan normal seperti yang lain," pintanya lirih.
Sekar membaringkan tubuhnya. Perlahan ia mulai memejamkan mata. Dalam tidurnya ia bermimpi berlarian bersama kupu-kupu.
"Sekar ... Sekar!"
Sekar terbangun dan mendapat dirinya sendirian di kamar. Kursi bergerak sedikit sampai menimbulkan bunyi.
Krek! Krek!
"They are back!" keluhnya.
Bersambung.
Sebagian memang seperti itu ...
next?