My Ghost Friends

My Ghost Friends
LABIRIN SESAT 5



Reynold menatap Sekar yang dililit oleh tananam berduri. Duri-duri itu menancap dalam di kulit pucat gadis itu.


"Sekar!"


"Tuan ... tolongin Sekar!" pinta gadis itu mulai menangis dan kesakitan.


"Sekar ... tahan ya sayang!' ujar pemuda itu mulai melihat sekelilingnya.


Pohon rambat tiba-tiba tumbuh dan memenuhi ruangannya. Reynold beristigfar. Rambatan itu terhenti. Ia pun berlari mencari jalan menuju Sekar berada.


"Kenapa jaraknya jadi jauh?" gumamnya pelan.


Reynold menatap Sekar yang seperti ditarik. Gadis itu berteriak kesakitan.


"Ibu ... Ibu!"


"Sekar tahan ya sayang?!" pinta Reynold dengan suara bergetar, ia sangat mengkhawatirkan gadis kecil pemikat hatinya itu.


Reynold terus mencari jalan, kadang ia harus melompati beberapa parit besar.


"Reynold!" suara bisikan memanggil.


Sosok sangat cantik dengan busana sangat seksi. Siapapun akan terpana melihat sosok cantik itu. Terutama terlihat jelas dua pucuk merah muda di tengah-tengah dua gundukan besar dan kenyal.


"Reynold, kau ingat aku kan ... Aku Rena kekasihmu," ujar sosok cantik itu.


Reynold menatap dingin sosok cantik nan seksi yang mendekatinya. Bukan ia tak kenal dengan wanita bernama Rena, wanita itu mengejar-ngejar dirinya bahkan berani bugil di ruangan kerjanya.


"Rena ada di rumah sakit jiwa ... kau bukan dia!" ujar Reynold sangat tenang.


Berkat kekuasaan ayahnya Rena dimasukkan dalam pusat rehabilitasi penanganan kejiwaan akibat bugil di kantor Renold. Wanita itu menjerit ketika diseret oleh petugas medis, sedang kedua orang tua gadis itu hanya bisa pasrah jika tak mau perusahaan mereka kena imbas.


"A'ûdzu biwajhillâhil karîm, wabikalimâtillâhit-tâmmâtil-latî lâ yujâwizuhunnâ barrun wa fâjirun, min syarri mâ yanzilu minas-samâ'i, wa min syarri ma ya'ruju fîhâ, wa min syarri mâ dzara'a fil-ardhi, wamin syarri ma yakhruju minhâ, wa min syarri fitanil-laili wan-nahâri, wamin syarri thawâriqil-laili, wamin!


artinya: Aku berlindung dengan dzat Allah yang maha mulia, dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, yang tidak ada orang baik dan juga orang durhaka yang melampauinya, dari keburukan yang turun dari langit dan keburukan apa pun yang naik ke langit; dari keburukan apa saja yang masuk ke bumi dan keburukan apa saja yang keluar dari bumi; dari keburukan fitnah-fitnah siang dan malam; dari keburukan petaka-petaka malam; dari keburukan setiap petaka yang datang, kecuali petaka yang datang membawa kebaikan, wahai Zat yang maha penyayang.”


"Huuwwaa!" pekik sosok itu menutup kupingnya.


"Enyah kau!" teriak makhluk itu .


"Astagfirullah!" Reynold tersadar.


Pemuda itu berada di ruangannya. Tak ada apa-apa, semua normal adanya. Reynold menatap jam di dinding.


"Astaga kenapa baru jam delapan, apa jamnya mati?" tanyanya bergumam.


Pemuda itu pun menatap benda limited edition yang melingkar di lengan kirinya. Waktu menunjukkan sama dengan di dinding. Ia sampai mengetuk benda bulat itu.


"Kenapa waktu begitu lama sekali!" keluhnya.


Lalu ia menatap tumpukan berkasnya. Reynold menatap malas. Namun sejurus kemudian ia pun serius dengan tumpukan itu.


"Ini semua demi masa depan kita Sekar!" ujarnya semangat.


Sementara di tempat Sekar. Gadis itu terduduk lemas, kakinya sedikit bengkak dan memerah, telapak kakinya juga terasa perih.


"Ya Allah ... beri hamba kekuatan!" pintanya.


"Tolong!"


Sekar bangkit dari duduknya, ia mendengar ada yang meminta tolong. Gadis itu menoleh kesana-kemari mencari asal suara.


"Halo ... kau di mana?!" teriak Sekar.


"Sekar ... apa itu kamu?" teriak suara itu lagi.


Sekar berlari ke arah suara. Jalanan mulai membuka dan tanpa kesulitan. Sekar kembali berteriak.


"Teriak lagi, kamu ada di mana?"


"Sekar ... aku di sini!" teriak Denny.


Gadis itu menoleh, pepohonan labirin berubah menjadi bebatuan cadas, tubuh Denny ada di pinggir tebing. Remaja itu berpegangan erat pada sebuah batu kecil. Sekar berjalan hati-hati menuju salah satu temannya itu.


Denny duduk di barisan belakang, remaja itu ada di barisan kedua paling pojok. Denny termasuk anak murid paling bengal termasuk Sobar.


"Den!" teriak Sekar terpeleset.


"Sekar!" teriak remaja itu.


"Pak ... tolong Denny Pak!" pintanya lirih.


Remaja itu sangat ingat tadi pagi ia berseteru dengan sang ayah. Denny sok jago menantang ayahnya yang sudah tua. Ia merampas uang modal dagangan sang ayah.


"Elo itu emang cari uang buat gue!" ujarnya sok jago.


Ayahnya hanya bisa menatap pilu sang putra, ia sudah terlalu tua melawan Denny yang tenaganya jauh lebih kuat darinya.


"Jangan bertingkah seperti setan Denny!" sentak sang ayah.


"Emang gue setan ... mau apa Lo!" remaja itu mendorong bahu ayahnya hingga terjatuh.


"Kalo udah tua jangan belaga!" lanjutnya menghina.


Denny menangis, kini ia benar-benar membutuhkan bantuan ayahnya. Ia tak mau mati percuma.


"Pak ... Bapak ... tolong Pak!" isaknya.


Sementara ia melihat Sekar juga berusaha sekuat tenaga keluar dari lubang yang menjebak kakinya.


"Den ... kamu kan mau jadi setan. Lepasin aja pegangannya," bisik sosok tak terlihat.


Air mata Denny mengalir, sejuta penyesalan menggelayut dalam dada remaja itu. Ia menyesal telah menghina sang ayah yang bekerja banting tulang. Semenjak ibunya meninggal dunia karena sakit. Ayahnya mengurus Denny sedari kecil, memilih tak menikah lagi dan membawa sang putra berjualan.


"Pak ... Denny nyesel Pak ... maafin Denny Pak. Kalo memang kematian Denny membuat Bapak nggak kesusahan lagi. Denny ikhlas Pak," gumam remaja itu pasrah.


"Den ... minta pertolongan pada Allah Den ... Allah nggak suka sama orang yang putus asa!" teriak Sekar.


Gadis itu dapat melihat Denny yang putus asa dan ingin mengakhiri hidupnya.


"Gue banyak dosa sama Bapak gue Sekar," ujar remaja pria itu lirih.


"Gue bilang gue adalah setan di depan Bapak gue sendiri," lanjutnya tersenyum miris.


"Kamu bisa minta maaf, Bapak pasti memaafkanmu Den!" teriak Sekar.


Denny menggeleng, setan-setan bersorak kegirangan. Hasutan mereka berhasil pada salah satu anak cucu Adam.


"Pak ... maafin Denny ... Denny sayang Bapak," ujarnya lirih.


Perlahan pegangan tangannya melemah. Sekar berteriak memanggil teman sekelasnya itu. Tubuh Denny merosot perlahan, ia menatap Sekar yang berlari hendak menggapainya. Kaki gadis itu berdarah karena memaksa keluar dari lubang yang menjeratnya.


Denny menutup mata, ia merasakan tubuhnya makin lama makin turun. Sekilas wajah tua yang menatapnya penuh kekaguman.


"Bapak ... Denny sayang Bapak ... maafin Denny Pak," ujarnya lirih.


Tubuhnya terasa melayang, tapi tiba-tiba terhenti. Tangan Sekar berhasil meraih tangan Denny. Remaja itu membuka mata.


Wajah ayahnya tersenyum dengan derai air mata. Mulut pria itu bergerak.


"Nak ... kembali lah. .. Bapak menunggumu,"


Denny tersadar dari kebodohannya. Ia meraih batu dengan kakinya dan mengangkat tubuhnya. Sekar menariknya kuat.


Keduanya tergeletak bersisian dengan napas terengah. Bukit berbatu berubah jadi labirin pohon kembali.


"Den ... pergi ke arah sana. Cari cahaya paling terang di antara semua. Pak Ahmad sudah menunggumu," suruh Sekar lalu duduk menepuk semua debu yang melekat.


"Kamu?" tanya Denny.


"Aku harus mencari yang lain. Cepat sana!" ujar Sekar.


Denny berlari, ia mendapat cahaya paling terang di antara semuanya. Pak Ahmad memanggilnya. Denny langsung memeluk guru agamanya.


"Pak ... nanti anterin saya pulang ya Pak," pintanya tergugu.


"Iya, Nak. Sekarang bantuin Bapak berdoa ya!"


Denny mengangguk, ia pun kini khusyuk berdoa yang ia tahu.


bersambung.


Ah ... 😭


next?