My Ghost Friends

My Ghost Friends
BRENDA



Brenda menatap kosong, gadis itu selalu berada di kamarnya, ia tak pernah beranjak dari sana. Hal itu membuat Bastian dan Rita begitu khawatir.


Tono batal pindah karena belum juga mendapat hunian. Terlebih tuan dan nyonyanya sedang sibuk mengurus Brenda yang mendadak berubah.


"Nyonya, apa Non Brenda belum keluar?" tanya Tinah khawatir.


"Belum Mbok," jawab Rita lirih.


Wanita itu sedih, kamar sang putri terkunci dari dalam. Bastian yang kesal meminta kunci duplikat pada salah satu maid laki-laki.


"Brenda buka, sebelum Papa mendobraknya!" teriak pria itu mengancam.


Cklek ... krieet! Bunyi gesekan engsel pintu yang memekakkan telinga. Brenda keluar dengan kantung mata menghitam.


"Sayang!" pekik kedua orang tuanya panik.


"Non!" Tinah tak kalah paniknya melihat kondisi nona mudanya.


Ketiganya masuk ke kamar gadis itu. Tinah menatap kamar yang berantakan. Poster-poster dinding yang robek dan udara begitu pengap. Bau pesing tercium dari kamar mandi.


"Astagfirullah!" pekik Tinah ketika masuk kamar mandi.


"Ada apa Mbok?" Rita langsung mendekati wanita itu.


Tampak toilet mewah Brenda yang sangat jorok. Kotorannya menumpuk di satu tempat. Gadis itu seperti hilang akal.


Tinah menahan mualnya ketika membersihkan kamar mandi. Rita memberinya masker penutup hidung dan juga pelindung tangannya. Butuh waktu dua jam, kamar mandi Brenda bersih.


Tinah membuka semua penutup hidung dan tangan dan membuangnya di bak sampah. Wanita itu juga memunguti robekan-robekan poster. Setelah membuang sampah dan membersihkan diri. Tinah meminta beberapa maid membantunya membersihkan kamar anak perempuan majikan mereka.


Tinah membuka jendela.


"Tutup jendelanya!" teriak Brenda.


"Keluar kalian semua!" usirnya marah.


"Sayang," peringat Rita.


"Keluar!" teriak Brenda tak mau tau.


"Kalian juga keluar!" lanjutnya berdesis mengusir ayah dan ibunya.


"Nak!" panggil Bastian.


"Pergilah ... aku mohon!" pinta gadis itu memelas.


Kali ini semua menuruti. Brenda kembali menutup pintu dan menguncinya. Rita menangis, wanita itu memeluk suaminya.


"Mungkin Non Brenda masih shock karena Tuan mau menamparnya kemarin," ujar Tinah lirih berpendapat.


Bastian tambah merasa bersalah. Pria itu meruntuki dirinya yang tak bisa menahan emosi.


Sementara di tempat lain. Brenda menatap sekelilingnya, ia berada di tempat yang sangat asing. Pohon pagar mengelilingi berbentuk lorong-lorong. Gadis itu menyusuri jalan, tetapi selalu mendapat jalan buntu.


"Ma ... Pa ...," panggilnya dengan suara gemetar.


Air matanya mulai mengalir, ia ketakutan sendirian. Gadis itu terduduk di batu besar dengan kepala menoleh kesana-kemari seakan mencari keberadaan orang lain di sana.


"Kak Rey, Kak Char!' panggilnya lagi kini tak bisa menahan tangisannya.


"Ma, Pa, Kak ... aku takut ... huhuhuhu .. Mama ... hiks!"


"Brenda!" sebuah suara lembut memanggilnya.


Brenda menoleh, gadis itu menatap wanita yang mirip ibunya. Ia nyaris berlari menghambur pada wanita yang merentangkan kedua tangannya itu. Tetapi gadis itu tersadar jika ia tidak berada di mansionnya. Langkah kaki itu terhenti.


"Kamu siapa?" tanyanya.


Sosok wanita cantik itu diam menatap Brenda. Dari senyum yang sangat manis, tiba-tiba berubah jadi seringai menyeramkan. Wajah yang cantik juga berubah perlahan menjadi kepala babi dengan caling tajam di sela bibirnya.


Brenda mendangak, gadis itu sampai terjatuh karena sosok cantik itu menjadi tinggi besar. Udara di sekitarnya mendadak pengap, Brenda merasa sesak di dadanya.


"Brenda ... aku membawamu menjadi milikku, lihat itu!" tunjuk sosok itu pada istana indah dengan banyak perhiasan.


"Kau akan kami jadikan ratu kami, asal kau ikut denganku. Kau tak akan lagi berurusan dengan ayah dan ibu yang tidak menyayangimu!" rayu sosok itu.


Sementara di hunian itu. Sekar baru saja pulang bersama ayahnya. Gadis itu menoleh ke segala arah. Ia merasakan ada sesuatu yang aneh terjadi di hunian mewah itu.


"Nak, jangan membuat gaduh," pinta Tono. "Sudah cukup Nak!"


Sekar menurut, ia mengikuti perintah ayahnya. Gadis itu masuk kamar. Tinah melihat putrinya pulang bersama suaminya. Wanita itu hendak mendatangi Sekar.


"Mau ngapain Bu?" tanya Tono melarang istrinya masuk kamar sang putri.


"Mau kasih tau Sekar, ada yang aneh dengan Non Brenda," jawab wanita itu.


Tinah hendak melangkah, namun Tono segera menahannya. Pria itu menggeleng pelan pada sang istri.


"Biar itu jadi urusan ayah dan ibunya Bu," ujar pria itu lirih.


"Bu!" potong Tono dengan wajah memohon dengan sangat.


Tinah menatap suaminya. Pria itu sudah cukup terluka dengan perlakuan nona dan salah satu tuan mudanya.


"Jangan libatkan Sekar, Bu," pinta Tono.


Tinah menatap luka suaminya. Seorang ayah akan melindungi putrinya dari apapun.


"Kita harus keluar dari mansion ini," ujar pria itu.


"Dan meninggalkan Tuan dan Nyonya yang sedang kesulitan?" tanya Tinah.


"Bu ...."


"Pak ... ibu sangat tau hati Bapak terluka dan sakit. Ibu sangat tau Bapak ingin melindungi Sekar," ujar wanita itu lirih.


Tinah mengamit tangan suami dan mencium kedua telapak tangan pria itu bergantian.


"Minta ridhomu Pak, biar Sekar menolong Tuan dan Nyonya. Dengan begitu, kita tidak akan berutang budi pada mereka," ujar wanita itu lagi memohon.


"Tapi bagaimana jika mereka menyalahkan putri kita atas semua ini?" tanya Tono masih bersikeras.


"Kau tau jika semua hantu akan mengganggu siapapun yang ingin mencelakai Sekar!" lanjutnya berdesis.


"Pak ... percaya lah, mereka tidak akan sejauh itu berpikir. Percayalah!" ujar wanita itu lagi.


Brenda keluar dari kamarnya. Kantung hitamnya sudah tidak ada lagi. Gadis itu malah berdandan sangat cantik.


"Kau cantik sekali sayang," puji Rita begitu lega mendapat putrinya kembali ceria.


Brenda hanya tersenyum mendengar pujian itu. Gadis itu duduk dengan anggun, semua hidangan menggugah selera terhidang di atas meja.


Tinah mendapati putri majikannya baik-baik saja, akhirnya bernafas lega. Wanita itu ikut tersenyum dan memuji nonanya dalam hati.


"Nona baik-baik saja kan Bu?" bisik Tono bertanya.


"Iya, alhamdulilah. Nona baik-baik saja," jawab Tinah.


"Kalau begitu, nggak usah bilang ke Sekar ya," pinta Tono lagi.


Memang Tinah belum memberitahu putrinya tentang Brenda, sang anak majikan.


"Non Brenda kan baik-baik saja!" tukas pria itu ketus.


Tinah mengangguk pelan. Mereka selalu makan ruang makan khusus para maid. Usai makan, Bastian dan Rita mengajak putri mereka bercengkrama, Reynold dan Charlie belum pulang dari luar kota.


Brenda duduk dengan anggun di sofa single layaknya ratu. Gadis itu menoleh ke arah pintu di mana para maid selalu lewat. Sekar kebetulan lewat ketika membuang sampah.


"Kau!" bentaknya lalu berdiri.


Sekar merasa dirinya dipanggil, gadis itu menoleh. Nona mudanya berkacak pinggang dengan dagu diangkat.


"Oh ... oh ... lihatlah ... apa yang kau bawa?" tanya Brenda dengan begitu sinis.


Baik Bastian dan Rita tentu kaget setengah mati. Keduanya lalu menahan putri mereka agar tidak berbicara kasar.


"Nak!" peringat Bastian.


"Diam!" sentak Brenda sinis pada ayahnya.


"Papa membela sampah yang membuang sampah juga?" tunjuknya menghina Sekar.


"Cukup Brenda, Mama tidak suka kata-katamu!' teriak Rita marah.


Biasanya Brenda, Charli atau Reynold sekalipun akan takut jika mendengar suara kemarahan ibu mereka.


"Apa?!' tantang Brenda begitu berani.


Lampu mendadak berkedip, semua sedikit terkejut. Bastian mengira voltase turun.


"Brenda minta maaf pada Sekar sekarang!" perintah Rita dengan menahan amarah.


"Tidak akan pernah!" teriak Brenda.


Gadis itu menatap sinis pada Sekar. Ia pun berlari menuju kamarnya, Bastian berteriak memanggil putrinya, mereka menyusul anak perempuannya. Walau tak lama suara keras terdengar sampai semua orang terjengkit kaget. Brenda membanting pintunya.


"Nak ... kita pergi ya ... kita harus pergi!" ajak Tono yang sudah sakit hati atas penghinaan nona muda pada putrinya.


"Tidak Pak ... Sekar nggak mau pindah," tolak gadis itu.lirih.


"Nak Bapak tidak kuat mendengarmu dihina sedemikian rupa!" desis Tono memaksa.


"Itu bukan Nona Brenda Pak ... itu bukan Nona!" ujar Sekar lirih.


Bersambung.


Next?