My Ghost Friends

My Ghost Friends
RUQIYAH



Sekar terdiam, gadis itu menatap pria dengan pandangan menunduk. Wajah lembut dan penuh kharismatik. Pria itu meminta Sekar membaca satu ayat.


"Coba Nak," pinta Rita dengan wajah penuh kekhawatiran.


Sekar menurut, gadis itu tak lagi melihat teman-temannya. Ia pun membaca satu ayat yang membuat tubuhnya sedikit sakit.


"Uhuk!" Sekar terbatuk.


Gadis itu merasa seluruh aliran darahnya dialiri listrik. Mual melanda Sekar merasa tekanan di dadanya sedikit mengendur. Ia pun menenangkan diri.


"Istighfar Nak!" pinta pria itu dengan suara yang begitu lembut.


Sekar bisa menenangkan dirinya. Pria itu terus meminta remaja tanggung itu membaca berbagai ayat. Sekar melakukannya dengan baik.


"Nak Sekar baik-baik saja Bu," ujar pria itu setelah melakukan tugasnya.


"Alhamdulillah!" seru Rita lega.


"Jadi apa dia memang ada makhluk yang mengikuti?" tanyanya lagi.


"Tidak ada Bu. Sekar baik-baik saja, buktinya Sekar bisa menyebut semua ayat yang saya suruh dengan makrojh huruf yang benar bahkan suaranya juga sangat bagus," jawab pria itu menerangkan.


Pria itu pulang, Sekar menatap majikan perempuannya. Rita begitu menyayanginya seperti menyayangi putrinya sendiri.


"Mama nggak mau kamu bicara sendiri lagi sayang, kamu harus cari teman ya," Sekar hanya mengangguk.


Gadis itu pun ke kamarnya, suasana sedikit lebih terang dibanding sebelumnya. Sekar menatap beberapa makhluk yang masih bertahan di sana.


"Pergilah kalian, sebelum terbakar," ujar gadis itu lirih.


Sekar menyusun semua buku pelajarannya untuk esok hari. Usai makan malam, Sekar memilih tidur cepat.


Pagi menjelang, seperti biasa Sekar diantar oleh Reynold. Kali ini pemuda itu menyetir sendiri mobilnya. Ia ingin berduaan di depan bersama gadis muda yang telah memikat hatinya.


"Tuan," sapa Sekar ketika naik.


Rita hanya tersenyum melihatnya. Wanita itu tak mempermasalahkan jika sang putra menyukai Sekar.


"Mom," wanita itu menoleh menatap putra keduanya.


"Apa Mommy nggak masalah dengan kedekatan Kakak dengan Sekar?" tanya Charlie seperti tak menyukai hal itu.


"Tidak, Mommy nggak masalah sama sekali. Kenapa?" tanya Rita heran.


"Sekar ...."


"Karena Sekar adalah anak dari Mbok Tinah dan Pak Tono. Pembantu kita?" tanya Rita yang ditanggapi anggukan oleh Charlie.


"Sayang ... ketika di akhirat kelak. Kita tidak membawa pangkat atau apapun kecuali amal baik kita," jelas Rita mengelus pipi putranya.


"Tapi apa Mommy nggak malu?"


"Tidak sayang. Mommy nggak malu sama sekali!" sahut Rita tegas.


"Sekar cantik, sopan terlebih dia juga sangat pintar di sekolah, padahal dia dari kampung!" lanjutnya.


Charlie diam, beberapa sosok tak kasat mata menjauh dari keduanya. Re menghasut Charlie tentang status, sayangnya Rita berhasil mematahkan semuanya.


Sementara itu Sekar menikmati perjalanannya ke sekolah, Reymond tak pernah ragu menggenggam tangan gadis itu.


"Saya sudah punya pacar Tuan," elak gadis itu.


"Dia pacarmu di sekolah Sekar ... tenanglah ... kita juga tidak saling menjalin hubungan. Tetapi aku bisa tegaskan jika aku menunggumu dewasa!" tekan pemuda itu sangat yakin.


Sekar tentu merona, gadis itu adalah gadis yang pintar. Tentu ia sangat paham apa maksud dari tuan mudanya itu.


Sekar membungkuk hormat ketika turun dari mobil. Gadis itu setengah berlari ke kelas karena tinggal lima belas menit lagi waktunya masuk. Reynold terkekeh, ia memang sedikit melambatkan laju mobilnya.


"Tumben telat?" tanya Danar ketika Sekar duduk di kursinya.


"Telat?" tanya Sekar bingung. "Guru belum datang?"


"Maksudku tumben rada siang datangnya," ralat Danar.


Guru masuk, semua anak berdiri dan memberi salam. Mereka duduk setelah gurunya menyuruh mereka untuk duduk. Pelajaran pun mulai tertib.


Anak kelas dua A memang sangat disiplin, para guru suka dengan ketertiban dan juga ketenangan kelas itu. Sekar menatap beberapa kawan astralnya berdiri tak jauh dari dirinya.


Bel istirahat pertama berbunyi. Danar kembali membawa Sekar ke kantin, walau gadis itu membawa bekal makan siangnya.


"Ini makan nasi kuning dan ayam bakar!" suruh Danar meletakan piring di depan Sekar.


"Kamu boros Dan," ujar Sekar tak enak hati.


"Nggak, memang hari ini ibuku tak masak karena sedang membantu paman," jelas Danar.


"Tapi uang ini kan bisa untuk jajanmu beberapa hari!"


"Diam dan makan sayang!" suruh Danar tak mau ambil pusing.


Danar memakan kotak bekal yang dibawa oleh Sekar. Mereka makan berdua seperti biasanya. Sesekali Danar merapikan rambut pacarnya.


"Aku ikat ya rambutnya," ujar remaja itu lalu mengikatkan rambut Sekar dengan karet gelang.


"Jangan ... sakit!" Sekar melepas ikatan rambutnya.


Makan selesai, keduanya kembali ke kelas sambil bergandengan tangan. Walau berkali-kali Sekar menepis, tangan Danar tetap setia menggenggam erat.


Sekar sedih, ia merasa mengkhianati Danar karena tadi ia juga digenggam oleh tuan mudanya.


"Malu Danar," ujarnya lirih melepas genggaman tangan teman sebangkunya itu.


"Tidak apa-apa Sekar, biar aku jadi pelindungmu di sini karena aku tak bisa melindungimu nanti setelah pulang sekolah," ujar Danar bersikeras.


Sekar akhirnya diam, sedari tadi ia tak melihat Re dan Ri. Gadis itu mengira jika ruqiyah yang ia jalani kemarin sore berhasil. Tetapi, melihat makhluk-makhluk lain masih setia berdiri dari kejauhan, menandakan jika itu tak sepenuhnya berhasil.


Gadis itu ke kamar mandi. Ketika masuk, ia merasa hawa aneh di sana. Sekar menatap salah satu bilik kamar mandi.


Krieet! Pintu terbuka sendiri, hal itu membuat Sekar tiba-tiba merinding. Ia pun menahan buang air seninya karena takut mendadak menyelimuti dirinya. Gadis itu berjalan cepat ke kelas.


"Sekar," suara berbisik di telinga Sekar.


"Pergilah aku mohon," bisik Sekar pula.


"Sekar kau bicara sama siapa?" suara Danar menyadarkan Sekar.


"Tidak ... tidak apa-apa," ujar gadis itu cepat.


Mereka fokus ke guru yang mengajar di depan kelas. Sekar benar-benar menahan pipis. Hingga istirahat kedua gadis itu setengah berlari ke toilet guru. Di sana gadis itu tak merasa takut.


Usai membuang air dari kantung kemihnya. Sekar membuka pintu dan terkejut Danar ada di depan pintu kamar mandi guru.


"Astaga, kau mengagetkanku!"


"Kenapa ke kamar mandi guru?" tanya Danar bingung.


"Nggak apa-apa, paling deket kan di sini, tadi kebelet!" jawab Sekar lalu melangkah melewati Danar.


Remaja laki-laki itu mengikuti langkah Sekar. Mereka berdua kembali ke kelas, Sekar melirik arah toilet untuk anak murid perempuan. Kabut hitam tipis menyelimuti tempat itu.


Bel pelajaran berakhir pun berbunyi, suara lega terdengar dari semua mulut anak-anak. Namun riuh kecewa kembali terdengar ketika guru mereka memberikan tugas rumah yang cukup banyak.


"Pak ... percuma libur ini mah!" teriak salah satunya.


"Sebentar lagi ujian ... jadi ini bermaksud agar kalian ingat untuk ulangan nanti!" jelas guru.


Semua pasrah dan menerima tugas itu. Mereka pulang dan Sekar kembali melihat arah toilet perempuan. Sosok dengan cahaya merah berjalan cepat menuju arahnya dengan seringai menyeramkan.


"Sekar!" panggil sosok itu berbisik.


Bersambung.


😱


next?