My Ghost Friends

My Ghost Friends
NDERE



Ndere kini berubah bentuk jadi sosok raksasa dengan tubuh berbulu. Bermulut babi dengan empat taring seperti taring babi hutan yang besar.


Ndere mengejar siapa saja makhluk-makhluk astral lainnya yang tadi membantu Sekar menemukan teman-temannya.


"Re, Ri!" pekik Ndere begitu marah.


"Ndere ... kami terpaksa melakukan itu jika mau selamat dan tidak membakar istana kita!" teriak Re.


"Jangan membodohi aku!" teriak Ndere menendang bangunan cantik.


Tanah yang dipijak mendadak bergetar laksana gempa. Semua anak yang bersama Ahmad berteriak ketakutan. Mereka memeluk guru mereka dan menangis pilu.


"Pak ... kita pulang Pak ... huuuu ... uuuu ... hiks!"


"Istighfar Nak ... istighfar!" pinta Ahmad.


Semua beristigfar termasuk Dita, Maria dan lainnya. Semua anak kembali membantu doa untuk temannya Sekar. Mereka ingin cepat kembali dan berkumpul bersama. Terlintas wajah-wajah sedih para ibu dan ayah ketika mereka berangkat ke sekolah pagi tadi.


"Bu, Dita janji akan jadi anak baik!"


"Pak Sobar mau nurut sama Bapak!"


"Pak maafin Denny ya Pak. Nanti Denny bakal bantuin Bapak jualan!" tekad Denny.


Ndere merasa kepanasan. Beberapa daun layu dan mati. Labirin mulai terbuka perlahan. Re dan Ri berteriak pada Ndere agar berhenti menyiksa mereka.


"Lihat akibat ulahmu Ndere!"


"Jangan memaksakan dirimu!" lanjut Re.


Akhirnya Ndere menghentikan amukannya. Tubuhnya mengecil dan kembali menjadi sosok perempuan merah.


"Sekar!" teriak Re.


"Tolong minta semua berhenti berdoa jika memang semua temanmu kembali dengan selamat!" lanjutnya.


Sekar tentu tak ingin terjadi sesuatu pada semua temannya. Gadis itu kembali meminta guru agamanya meredam doa-doa yang diucapkan.


Sekar kembali mencari dua puluh tujuh temannya yang belum ketemu.


"Tolong!"


Sekar langsung berlari ke arah suara. Gadis itu sebenarnya sudah diambang kelelahan, bibirnya kembali pecah-pecah. Darah kering masih menghias sudut bibirnya.


Bajunya kotor dan sobek di beberapa tempat. Luka lecet memenuhi lengan dan kakinya. Rambutnya yang panjang sudah kusut berantakan.


"Robert!" teriaknya ketika melihat Robert yang menggantung cukup tinggi. Remaja itu berpegangan pada rumput gajah yang lebat.


"Sekar ... tolong aku!" pinta Robert ketakutan.


"Berdoalah atas kepercayaanmu Robert!' pinta Sekar.


"Minta maaf pada kedua orang tuamu!" lanjutnya.


"Orang tua mana Sekar ... huhuhuhu!" isaknya.


"Papi dan Mami tadi pagi bertengkar hebat. Mereka akan bercerai ... hiks!" lanjutnya.


"Minta tolong pada Tuhanmu Robert minta semua kembali seperti awal!" ujar Sekar.


"Aku yakin kini ayah dan ibumu menyesal telah menyakitimu!" lanjutnya menenangkan teman yang duduk paling kanan dekat jendela.


"Sekar ... aku cape ... tanganku udah lemas!" rengek Robert.


Sekar langsung menuju bawah temannya. Ia akan menangkap dan menjadikan tubuhnya sebagai landasan pendaratan teman kelasnya.


"Lepaskan Robert ... aku akan menangkapmu!" ujar Sekar.


Tangan gadis itu terangkat ke atas. Ada pandangan ketidak yakinkan di sana. Sekar mengucap basmalah dalam hatinya.


"Lepas Robert!" teriak Sekar.


Robert yang memang merasa genggaman tangannya sudah lemah. Dengan cepat melempas rumput yang menjadi pegangannya.


Tubuhnya melayang pelan, Robert menutup mata dan tak merasa kesakitan.


"Robert ... bangkitlah ... berat!" pinta Sekar yang ada di bawah tubuhnya.


Robert menindih tubuh kurus teman anehnya itu. Remaja pria itu memang tak mau menanggapi Sekar semenjak pertama gadis itu masuk kelas. Ia sudah takut dengan gadis yang suka bicara sendiri itu.


"Maaf," ujarnya lalu berdiri cepat.


"Cari cahaya paling terang Robert!" teriak Sekar sedikit takut jika mata temannya itu dikelabui oleh teman-teman hantunya.


Robert memang menemukan cahaya lain. Namun pandangannya melihat Pak Ahmad yang memanggilnya.


"Nak sini Nak!"


"Robert sini!" teriak Maria.


Robert akhirnya mengabaikan cahaya lain yang mengelabuinya itu. Ia tersedu dipelukan Pak Ahmad.


"Kita tunggu yang lain ya Nak!" ujar pria itu.


Empat belas anak saling menguatkan satu dan lainnya. Anak-anak perempuan saling berpelukan sedang anak laki-laki memeluk Ahmad sebagai laki-laki tertua.


Ndere mendekati Sekar. Tubuh temannya yang sudah mencapai diambang batas membuat makhluk menyeramkan itu mentertawai Sekar.


"Apa yang kau dapat dengan menyelamatkan mereka Sekar?" tanyanya dengan seringai yang begitu menakutkan.


"Tidak ada selain keselamatan teman-temanku!" sahut Sekar tak peduli lagi.


"Mereka akan kembali mengolok-olokmu Sekar, mereka tak peduli denganmu!" ujar Ndere lagi menghasut.


"Aku tak peduli. Selama masih ada yang sayang sama aku!" sahut Sekar kembali menjejakkan kaki kuat-kuat dan menyegarkan tubuhnya.


Sekar terus berteriak memanggil teman-temannya yang belum ketemu, terutama Danar.


"Danar ... di mana kamu!" teriaknya.


"Biasanya kamu paling kuat di antara semuanya Danar!" lanjutnya berteriak.


Sekar sudah tak bisa menangis. Emosinya lenyap, ia berjalan seperti kapas yang melayang. Pandangannya mulai buram kembali. Ia sudah tidak tau berapa lama ia berjalan mengitari labirin itu. Terkadang ia tak peduli dengan tanaman yang menghalangi jalannya. Sekar terus menerobos tumbuhan itu.


"Jangan bodoh Sekar!" teriak Ndere.


"Lihat itu, singgasana indah itu khusus untukmu!" lanjutnya.


Ndere sudah tak tau lagi bagaimana ia menggoda dan merayu Sekar agar terjebak dalam balutan indah.


"Aku tak mau itu!" ujar Sekar sudah tak bisa lagi melihat indahnya emas permata yang berkilauan.


"Diva, Sakti, Amran!" teriak Sekar ketika menemukan tiga temannya yang kebingungan.


Mereka berempat pun berpelukan. Tak ada lagi batasan laki-laki dan perempuan. Mereka memang membutuhkan itu.


"Lewati jalan itu dan cari cahaya yang lebih terang dari yang lainnya!" suruh Sekar.


"Kita ikut kamu deh!" ujar Diva.


"Jangan!" tolak Sekar.


"Aku tak bisa melindungimu jika kau ikut aku," lanjutnya.


Diva menatap tubuh teman yang selalu ia hindari itu. Tubuh Sekar yang penuh dengan luka dan lebam. Seragam Sekar yang kotor dan kotak di beberapa bagian. Bertanda pencarian ini benar-benar harus menguras semua tenaga.


Akhirnya ketiga anak itu berlari menuju cahaya yang paling terang dari lainnya.


"Tinggal dua puluh tiga anak lagi!" ujar Sekar semangat.


Kelelahan yang ia rasakan mulai berkurang. Gadis itu berharap jika akan bertemu dengan teman-teman yang berkumpul seperti tadi agar semua cepat selesai.


"Ya Allah ... kuatkan hamba-Mu!" teriaknya.


"Allahuakbar!" lanjutnya lalu menjejakkan lagi langkahnya.


Ndere terus mengikuti Sekar. Kekuatan mahluk itu makin lemah karena makin banyaknya anak-anak yang ia sesatkan sukmanya lepas.


"Kenapa ia begitu kuat ... siapa yang menolongnya selain pria yang juga tak goyah kita goda di depan sana?"


Ndere yang memang hanya makhluk astral di tingkat paling dasar tak mampu menembus lapisan doa yang diucapkan para ibu.


Sementara itu Reynold juga tak lepas dari dzikirnya. Pemuda itu seperti merasa jika sesuatu terjadi pada gadis yang sudah ia sematkan di hatinya itu.


"Hanya kepada Allah aku berserah dan hanya kepada Allah aku berpasrah,"


Bersambung.


Next?