My Ghost Friends

My Ghost Friends
FLASH BACK



Beberapa menit sebelum pelajaran usai. Ahmad lebih dulu tersadar dari mimpi panjangnya.


"Astagfirullah hal adziim!" cetusnya langsung beristighfar.


"Ya Allah ... anak-anakku!"


Ahmad menatap seluruh anak-anak yang masih dalam pandangan kosong. Pria itu mendatangi satu persatu muridnya. Membisikkan doa-doa.


"Pak," Lea mengerjap.


Tak butuh lama semua tersadar. Mereka menangis sambil berpelukan. Walau masih dalam keadaan bingung dengan apa yang terjadi.


"Pak ... kita sudah pulang kan?" tanya Sobar masih gamang.


"Iya Nak, kita sudah pulang," jawab Ahmad lirih.


"Kalian beristighfar ya ... tenang ... jangan sampai semua orang tau jika kita baru saja disekap oleh iblis," ujar Ahmad meminta semua anak pengertian.


"Pak Sekar belum sadar Pak!" ujar Danar ketika melihat teman sekaligus pacarnya itu.


Ketika Danar hendak merengkuh gadis itu. Ahmad segera melarangnya.


"Jangan, biar Bapak ya," ujarnya.


Ahmad membisikkan doa pada Sekar. Semua seragam anak satu kelas acak-acakan. Danar segera meminta semua temannya merapikan seragam mereka.


Semua masih gemetaran ketika merapikan baju yang mereka pakai. Sesekali mereka terisak. Ahmad menenangkan semua muridnya yang masih dilanda ketakutan itu.


"Tenang Nak ... Bapak mohon. Kasihan Sekar masih tersesat," pinta Ahmad memohon.


"Tenang ya sayang," ujarnya mengusap jejak basah semua muridnya.


"Sekar ... Nak ... kembali Nak ...," pinta Ahmad.


"Uuuhh!" keluh gadis itu.


Tubuh mulus Sekar mendadak memar dan penuh luka lecet. Rambutnya acak-acakan, Sekar mulai menegakkan kepalanya.


"Sekar ... Nak," panggil Ahmad.


Sekar menatap pria itu lama. Pandangan bingung dan linglung begitu nampak pada wajahnya.


"Pak," panggilnya lirih.


"Masyaallah ... Alhamdulillah ya Allah!" pekik Ahmad kegirangan.


Sekar menangis tergugu, ia merasa tubuhnya sakit luar biasa. Ahmad menenangkan muridnya itu.


"Istighfar Nak ... hiks ... istighfar," pinta pria itu.


"Sakit Pak ... saya mau pulang ... ibu ... huuu ... uuu ... hiks!" ratap gadis itu.


"Iya Nak ... kita pulang ...," ujar Ahmad menghapus genangan di pelupuk mata Sekar.


Mereka semua menyusun buku yang ada di atas meja. Semua masih tampak shock. Ahmad berkali-kali menenangkan semua muridnya.


"Bapak janji akan menemani kalian semua meminta maaf pada ayah dan ibu kalian ya," ujar pria itu.


Mereka mengangguk, baru saja mereka menaruh tas atau ransel di pundak. Tiba-tiba suasana pekat, udara kembali pengap. Matahari yang menyinari kelas mendadak redup karena terhalang awan.


"Bapak!" pekik anak memeluk Ahmad.


"Istighfar Nak ... ayo kita lawan!" seru Ahmad.


Semua hendak berucap, sayang mulut mereka tiba-tiba terasa kelu dan tak dapat bergerak.


"Serahkan Sekar!" desis sosok yang tak nampak.


Sekar hendak berlari menuju guru agamanya yang berdiri di depan kelas bersama semua teman-temannya.


"Sekar, ayo sini!" teriak Ahmad.


Danar sudah ketakutan, remaja itu juga bersembunyi di belakang tubuh guru agamanya.


Sekar hendak berlari, tapi kakinya dicekal oleh bayangan hitam. Semua meja bergerak menyamping dan memperdengarkan bunyi gesekan kayu pada ubin yang dingin.


Krieet! Sreeekk! Sreeekk!


"Bapak!" pekik Sekar.


Ahmad mengejar tubuh Sekar yang terseret. Semua anak memegangi kaki guru agama mereka. Tiba-tiba semua kembali ke labirin.


"Pak ... tolong!" pekik Sekar yang sudah kelelahan setengah mati.


"Nak istighfar Nak!" jerit Ahmad terus memegang tangan Sekar agar tak tertarik.


"Sekar ... Sekar!"


"Sekar milikku!" pekik sosok hitam bertanduk dan kini mengeluarkan taringnya.


Kini tubuh dari iblis itu dikelilingi oleh bara api yang panas. Semua anak menjerit ketakutan, mereka menarik kaki guru agama mereka agar tak tersedot bersama teman mereka.


"Nak ... sebut nama Allah Nak!" teriak Ahmad tanpa suara.



"Kau tak akan bisa mengambilnya!" seru iblis dengan suara dobel.


"Sekar milikku!" lanjutnya.


"Tidak!" teriak Ahmad berani.


"Sekar milik Allah, milik ayah dan ibunya ... milik kami!" lanjutnya.


"A'udzu biwajhillahil karim, wabikalimatillahit-tammati lati la yujawizuhunna barrun wa fajrun, min syarri ma yanzilu minas-sama'i, wa min syarri ma ya'ruju fiha, wa min syarri ma dzara'a fil ardhi, wa min syarri ma yakhruju minha, wa min syarri fitanil laili wan nahari, wamin syarri thawariqil laili, wamin syarri kulli tharinin illa thariqan yathruqu bi khairin, ya rahman!"


artinya: "Aku berlindung dengan zat Allah yang Maha Mulia, dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, yang tidak ada orang baik dan juga orang durhaka yang melampauinya, dari keburukan yang turun dari langit dan keburukan apa pun yang naik ke langit."


"Dari keburukan apa saja yang masuk ke bumi dan keburukan apa saja yang keluar dari bumi dan keburukan fitnah-fitnah siang dan malam dari keburukan petaka-petaka malam dari keburukan setiap petaka yang datang, kecuali petaka yang datang membawa kebaikan, wahai zat yang Maha Penyayang."


"Rrroaaarrr!" pekik Iblis menutup telinganya.


"Allahu Akbar!" pekik Sekar.


"Lagi Sekar!" pinta Ahmad.


"Allahu Akbar!" pekik Sekar lagi dengan berurai air mata.


"Aarrggh!" iblis menjerit begitu juga bayangan hitam yang menarik kaki Sekar.


Ahmad segera menariknya keluar dari lingkaran api itu. Semua anak berpelukan.


"Pak,"


"Bismillahirrahmanirrahim ... ya Allah, hanya kepadamu aku memohon dan hanya padamu aku berserah," ujar pria itu.


Perlahan ruang labirin berubah kembali menjadi ruang kelas mereka. Semua bangku dan meja berantakan. Sekar ada digendongan Ahmad dengan kondisi yang mengenaskan.


Kriing! Semua menahan tangis mereka. Danar membuka pintu. Reynold ada di depan.


"Pak?" pemuda itu bingung melihat kondisi semua anak terutama Sekar yang ada di gendongan Ahmad.


"Panjang ceritanya. Tapi sebaiknya, Sekar dibawa ke rumah sakit dahulu,'' ujarnya dengan suara bergetar.


Reynold mengambil alih Sekar dan langsung membawanya ke mobil. Semua guru dan murid yang beda kelas menatap pada ruangan yang dari tadi tenang.


Para orang tua yang gelisah masuk ke dalam sekolah.


"Nak!" semua anak menoleh.


Tentu mereka semua berlari menghambur ke pelukan orang tuanya. Semua bersimpuh dan mencium kaki ibu atau ayah mereka.


"Ma, maafin Maria Ma!" pinta gadis itu.


"Nak ... Mama yang minta maaf sayang," ujar wanita itu lalu merengkuh putrinya.


Ahmad mendatangi semua orang tua. Pria itu bersimpuh lalu semua murid mengikuti guru agama mereka.


"Pak ... Bu ... saya selaku guru agama meminta maaf jika anak-anak ada salah dan perbuatan pada bapak dan ibu sekalian," pinta pria itu lirih.


Bu Meneria yang merupakan guru matematika dan guru agama katolik melihat apa yang dilakukan oleh rekan seprofesinya. Walau wanita itu tak tau apa yang terjadi. Ia pun ikut bersimpuh, lalu disusul oleh semua guru agama yang mengajar di sekolah itu.


Para orang tua menutup mulut mereka karena tak percaya dengan apa yang terjadi.


"Saya selaku guru agama sangat memohon keluasan hati Bapak dan Ibu semua untuk memaafkan anak-anak, maafkan kami juga karena tak bisa mendidik dengan baik mereka di sekolah," ujar Ahmad lagi dengan linangan air mata.


Daniel, ayah dari Robert mendatangi Ahmad dan merengkuh bahu pria itu.


"Jangan seperti ini Pak, saya selaku orang tua malu," ujarnya.


Lalu semua orang tua memeluk guru agama anak-anak mereka.


"Kami memaafkan anak-anak kami Pak!" ujar Ruslan ayah dari Danar.


Bersambung.


Ah....


Next?