My Ghost Friends

My Ghost Friends
BRENDA 2



Pagi menjelang, Sekar sudah pergi ke sekolah. Tono benar-benar ingin pindah dari rumah majikannya. Ia tidak mau Sekar membantu Brenda yang sedang tersesat sukmanya.


"Bapak Nggak ridho Nak!" tukasnya tegas.


"Pak," Sekar memohon pada ayahnya.


Tono terus mencari hunian yang dekat dengan sekolah anak perempuannya. Sayangnya, harga di tempat itu sangat tinggi dan tak terjangkau dengan kondisi keuangannya.


"Rumah bedeng dikontrakkan?" pria itu berdiri di beberapa bedeng rumah.


"Boleh Pak, hanya ada satu kamar satu bulannya, 1,7 juta kamar mandi di dalam," ujar penunggu bedeng kontrakan itu.


Tono mundur, hunian itu sangat mahal, ia tak yakin bisa menjalankan usaha di sana.


"Apa pulang kampung adalah jawabannya?" tanyanya dalam hati.


"Tapi putriku sudah nyaman di sekolah barunya, ia jadi banyak teman walau ada kejadian besar kemarin," gumamnya bermonolog.


Sementara di hunian Rita. Wanita itu terus mengetuk pintu kamar putrinya yang sedari pagi tak kunjung keluar kamar. Bastian sampai tak bekerja karena memikirkan kondisi Brenda.


"Papa rusak pintu ini agar kau tak bisa menguncinya Brenda!" teriak pria itu.


Cklek! Krieet! Kembali bunyi gesekan pintu dan engselnya memekakkan telinga. Bastian lupa untuk memanggil tukang membenarkan pintu itu.


"Ma, nanti suruh Pak Tono panggil tukang untuk benerin pintu ya," pinta pria itu.


Rita mengangguk, semenjak perbuatan kasar putrinya. Tono tak banyak bicara, pria itu gigih ingin keluar dari mansion itu. Rita tak bisa melarang Tono untuk tetap bekerja bersamanya.


"Mbok," panggilnya lemah.


"Iya Nyah," sahut wanita itu.


Tinah begitu iba melihat nyonyanya yang sangat kacau. Majikannya itu begitu terpukul dengan kondisi putrinya yang sudah seperti orang lain itu.


"Nyah,"


Rita tak bisa berkata apa-apa, ia tau jika Tinah tidak bisa melakukan apa-apa. Ia juga tak bisa memaksa Tinah untuk membantu putrinya yang sangat menyakiti Sekar.


"Nyonya ... nyonya," Tinah memeluk majikannya yang rapuh.


"Berserah pada Allah, Nyah ... hanya pada Allah kita kembali," ujar Tinah menenangkan majikan perempuannya.


Rita mengangguk setuju, wanita itu meminta Tinah untuk Tono memanggil tukang memperbaiki pintunya.


Tinah mengangguk, Rita naik lagi ke lantai dua. Dua maid mengikutinya untuk membantu membersihkan kamar Brenda.


Tono pulang tanpa Sekar. Gadis itu harus mengikuti kelas ekstrakurikuler. Tono sudah membawa dua tukang perbaiki pintu kamar nonanya.


Tono menutup matanya melihat kondisi dua majikannya. Ia tetap bersikukuh melarang Sekar membantu Brenda. Rita akhirnya memanggil ustadz yang dulu meruqiyah Sekar.


"Keluar kau!" teriak Brenda dengan suara besar.


Pria itu tenang tak bergeming, semua doa yang ia tau ia ucapkan. Brenda menutup telinganya. Gadis itu berteriak kesakitan. Kulit putihnya sampai pembuluh darahnya menonjol keluar.


Rita dan Bastian menangis melihat putrinya mengejang kesakitan. Ustadz itu harus berhenti sebelum Brenda tewas akibat pembuluh darahnya pecah. Gadis itu sudah tak sadarkan diri.


Tinah yang berada di lantai bawah ingin naik ke atas. Tono menghentikan langkah istrinya.


"Bu!" peringatnya.


"Maaf Pak, nyonya dan tuan sudah baik pada kita!" tolak wanita itu.


"Aku suamimu Tinah!" peringat Tono. "Perintahku di atas segalanya!"


"Pak ... jangan egois!" pinta wanita itu memohon.


"Tidak Bu!" Tinah menangis sampai merosot ke lantai.


Tono benar-benar menutup mata dan telinganya. Pria itu benar-benar berhati batu. Ia hanya memikirkan keselamatan putrinya. Tak lama Sekar pulang dengan naik ojek online.


Gadis itu dihadang banyak teman astralnya di depan rumah. Sekar menatap semua makhluk tak kasat mata itu dengan berbagai rupa.


"Sekar!" sambut mereka.


Gadis itu menghela napas panjang. Ia masuk dengan mengucap salam. Beberapa dari makhluk itu banyak lari tunggang-langgang. Ada yang masih bertahan dan memilih semua menjauhi Sekar.


Tono langsung berlari keluar kamar. Ia dan Tinah memang berada di kamar.


"Sekar ... masuk Nak!" pinta Tono lembut.


Sekar menoleh pada ayahnya. Gadis itu mengerut kening, ia sangat mengenal ayahnya. Sekar memilih berlari menaiki tangga. Tono mengejarnya.


"Sekar!" teriaknya memanggil.


Di sana Pak ustadz yang dulu pernah meruqiyah dirinya berdiri sambil memegang dadanya. Pria itu terasa sesak setelah bertarung hebat dengan makhluk tak kasat mata.


"Nak ... hentikan!" pinta Tono.


Sekar tak memperdulikan permintaan ayahnya. Gadis itu langsung menuju kamar nona mudanya.


Brenda yang tergeletak tak berdaya di lantai tiba-tiba berdiri. Gadis itu menyeringai begitu menyeramkan. Tiba-tiba suasana mendadak pengap.


Lampu berkedip, ruangan terang langsung berasap dan remang-remang. Semua orang bergidik takut. Pak ustadz baru kali ini merasakan kekuatan besar menyerang seluruh rumah.


Sekar berhadapan dengan nonanya yang berdiri tapi seperti tak bertulang. Kedua tangannya terangkat ke atas, sedang kakinya menyilang membentuk huruf z. Brenda seperti boneka yang digerakkan oleh tangan dengan bantuan tali atau disebut marionette.


Kepala Brenda terkulai namun dengan dua mata nyalang dan senyum yang begitu menakutkan.


"Ndere ... keluar kau dari tubuh nonaku!" pinta Sekar.


"Hhhhh!" desah nafas mahkluk itu begitu besar.


Bastian dan Rita menangis, sedang Tono seperti kaku di sana. Tinah mengucap istighfar di telinga suaminya. Pria itu gelagapan, ia seperti kebingungan.


"Nyonya, Tuan!?" Tono langsung membantu tuannya dan Tinah membantu nyonyanya.


Semua maid tidak mengetahui apa yang terjadi. Mereka seperti bekerja seperti biasanya.


"Sekar ... kau ingin lihat Brenda?" tanya Brenda yang memang bukan dirinya.


"Dia sama bodoh denganmu Sekar. Dia menolak semua perhiasan dan harta yang kuberikan untuknya!" lanjut Ndere yang masuk ke tubuh Brenda.


Sekar memgambil kursi dan duduk, ia meletakan tasnya di lantai. Gadis itu hanya memejamkan mata.


Dalam sekejap Sekar sudah berada di labirin yang sudah berubah bentuknya. Gadis itu masuk dengan mengucap basmalah.


"Nona!" pekiknya.


Sementara itu Brenda berlari karena ketakutan, gadis itu dikejar oleh makhluk dengan lidah yang terjulur panjang.


"Mama ... tolong!" teriak gadis itu.


"Brenda .... Brenda!" panggil makhluk itu tertawa-tawa..


"Pergi kau!" teriak Brenda lalu melempari makhluk itu dengan batu.


Makhluk itu menghilang ketika Brenda melemparinya dengan batu. Gadis itu terengah sambil mendudukkan dirinya begitu saja di tanah.


"Mama ... Mama ... maafin Brenda Ma!" pinta gadis itu kapok.


Sedang di sisi lain. Sekar berteriak memanggil nonanya.


"Nona ... Nona Brenda!" panggilnya.


Sedangkan di lantai atas. Ustadz memilih untuk pulang. Pria itu merasa tak sanggup menolong keluarga itu.


"Saya sarankan untuk berserah pada Allah Pak, Bu," ujarnya lalu pamit.


Pria itu juga berjanji tidak akan membocorkan apa yang terjadi hari ini. Bastian terpukul terlebih lagi Rita. Tono menatap di mana tubuh putrinya yang duduk tenang, sedangkan tubuh nona mudanya tergeletak di lantai dalam kondisi yang mengenaskan.


Tono mulai bersila, ia berdzikir. Pria itu ingin menjadi cahaya terang untuk putri dan nona mudanya agar bisa kembali. Bastian melihat apa yang dilakukan oleh pekerjanya itu. Ia pun melakukan hal yang sama. Ia berdoa penuh dengan kekhusyukan meminta semua dimudahkan.


"Yaa Allah ... hanya pada-Mu aku berserah," pintanya lirih.


Bersambung.


Next?