My Ghost Friends

My Ghost Friends
LABIRIN SESAT 4



"Amir ... berdoa Amir!" teriak Sekar nyaris tanpa suara.


Amir terduduk, remaja itu menangis sesenggukan. Ia benar-benar menyesal telah mengumpat ibunya tadi ketika pergi ke sekolah.


"Ibu ... tolong Amir ibu!" pekiknya.


"Amir ... minta sama Allah Amir!" pinta Sekar ikut menangis.


"Ya Allah ... ampuni Amir ... Amir masih mau sama Ibu, ya Allah!" pinta Amir tersedu.


Parit besar yang membentang perlahan mengecil, Ndere marah luar biasa. Ia mengguncang tempat di mana dua anak remaja itu berdiri. Tangisan keduanya memanggil sang ibu.


"Bu ... tolong Sekar Bu ... huuuuu ... uuuu ... hiks ... hiks!" isak gadis itu.


"Ibu ... ibu!" pekik Amir ketakutan. "Ampun Bu ... ampun!"


"Aarrggh!" pekik Ndere dan lainnya kesakitan.


Sementara di tempat lain tampak para ibu masih terduduk lemas ada yang di kursi sambil memegang rosario, ada yang duduk di atas sajadah, ada yang berdoa di tanda salib di kamar mereka masing-masing. Mereka merasakan getaran di hati mereka ketika mengingat anak-anak mereka.


"Tuhan selamatkan Robert putraku," pinta sang ibu sambil menakup dan berdoa pada Tuhan.


Sementara itu di tempat labirin. Guncangan itu mereda perlahan, Sekar melihat jalan untuk menggapai salah satu temannya itu. Gadis itu menarik lengan Amir.


"Ayo kamu harus pergi dari sini!" ajaknya.


Amir pun bangkit, ia pun mengikuti Sekar. Mereka berdua kini berada kembali di jalur yang biasa.


"Kamu ke arah sana, cari cahaya yang sangat terang dari yang lainnya. Ada Pak Ahmad menunggu," suruh Sekar.


"Kamu nggak ikut?" Sekar menggeleng.


"Aku harus cari yang lain," ujarnya.


"Aku ikut kamu," sahut Amir yang langsung ditolak oleh Sekar.


"Jangan, aku tidak bisa menjagamu jika kau mengikuti aku. Tolong mengerti dan menurutlah,"


Amir pun mundur meninggalkan Sekar. Gadis pendiam itu tadinya ia anggap gila karena suka bicara sendiri. Amir berbalik badan dan berlari mencari cahaya yang lebih terang dari cahaya lainnya. Pak Ahmad makin kencang dzikirnya karena ada kekuatan yang sempat mendompleng.


"Bapak!" panggil Amir yang takut salah.


"Amir ... sini Nak!" panggil Ahmad.


Amir melihat teman-teman lainnya yang sudah terlebih dahulu ditemukan. Mereka melambai padanya.


"Sobar, Dita, Maria, Andi!" pekik Amir lega.


Remaja itu memeluk Ahmad, ia minta pulang. Tentu saja Ahmad harus menenangkan muridnya itu.


"Tunggu yang lain ya Nak. Bantu Bapak berdoa," pintanya lirih.


Amir kini berpegangan tangan dengan Sobar. Mereka saling menguatkan satu dan lainnya.


"Bu, Amir akan mencium kaki ibu jika Amir keluar dari tempat ini Bu!" sumpah Amir menghapus jejak air matanya.


Sekar terus meneriaki semua nama teman-temannya. Ia terkadang harus berjalan kembali karena jalan yang ia lalui buntu. Gadis itu harus mengingat semua jalan yang ia lalui.


"Ya Allah ... kuatkan lah," pintanya lirih.


"Sekar!" teriak makhluk merah begitu murka.


Makhluk itu berubah jadi ular dan melilit tubuh Sekar. Beberapa makhluk lain hendak menolong Sekar.


"Pergi!" usir Ndere marah pada sesamanya itu.


Beberapa makhluk terpental dan menjerit karena terbakar. Re dan Ri mencoba menenangkan makhluk yang lebih kuat energinya di banding mereka.


"Jangan bunuh dia Ndere ... kita akan kehilangan dia jika kau membunuhnya," bujuk Ri.


"Kau membelanya!" teriak Ndere makin mengeratkan lilitannya.


"Allāhumma bika ashbahnā, wa bika amsainā, wa bika nahyā, wa bika namūtu, wa ilaikan nusyūru.


Artinya, “Ya Allah, dengan-Mu aku ber pagi hari, dengan-Mu aku bersore hari, dengan-Mu kami hidup, dengan-Mu kami mati. Hanya kepada-Mu (kami) kembali,” (HR Abu Dawud, At-Turmudzi, Ibnu Majah, dan lainnya).


Ndere berteriak keras, lilitannya lepas, Sekar terduduk dengan napas tersengal. Gadis itu menghirup udara rakus.


Gadis itu menatap jalan yang sedikit longgar dan tanpa halangan. Sekar lega karena tak ada lagi makhluk-makhluk itu yang akan menghalanginya berjalan.


"Leta, Nina, Arif, Robert!" pekiknya memanggil nama-nama temannya.


"Danar!" teriaknya kuat-kuat.


Jalanan lega kembali menutup perlahan, Sekar harus memilih antara maju atau diam saja. Gadis itu melihat jalan menuju Pak Ahmad sedikit menjauh, gadis itu bergerak untuk memperkecil jarak.


Sementara itu di sebuah perusahaan, Reynold kepikiran gadis kecil yang telah mencuri hatinya itu. Ia sangat yakin jika terjadi sesuatu pada Sekar. Pria itu melihat jam rolex edisi terbatas miliknya.


"Jam delapan, anak itu pastilah masih belajar," gumamnya bermonolog.


"Sekar ... sayang ... kamu baik-baik saja kan?" tanyanya lagi-lagi bermonolog.


Reynold memilih berdiri ia mengambil wudhu dan melaksanakan shalat dhuha yang tak pernah ia tinggalkan. Setiap sujud pemuda itu menitikkan air matanya. Ajaran Rita sang ibu benar-benar membentuk dirinya menjadi sosok yang takut akan hukuman Allah.


Usai memberi salam terakhir, pemuda itu meminta perlindungan dan keselamatan. Ia juga menyelipkan doa untuk gadis kecilnya.


Kembali ke tempat Sekar berada. Gadis itu merasa kelelahan, kakinya kebas karena dari tadi berjalan berputar-putar saja. Belum lagi ia menemukan teman-teman lainnya.


"Ya Allah mudahkan lah," pintanya lirih.


Tak lama ia mendengar suara tangisan lirih di ujung labirin. Gadis itu mempercepat langkahnya. Sekar selalu bersemangat jika menemukan kembali salah satu temannya.


"Nina?" panggilnya meyakinkan jika sosok yang duduk sambil memeluk lututnya itu adalah teman yang ia kenali.


Nina mendongak. Gadis itu langsung bangkit dan memeluk Sekar. Dua gadis saling menangis, Nina terus meminta maaf pada temannya itu.


"Sudah ... sudah ... tidak usah dipikirkan. Yang penting kamu keluar dari sini ya," ujar Sekar pada temannya itu.


"Kamu ke arah sana, cari cahaya yang paling terang, di sana ada Pak Ahmad menunggu," lanjutnya.


Nina mengangguk, Sekar tak melihat keberadaan Re, Ndere atau yang lainnya. Ia sedikit lega.


Nina melangkah takut-takut, gadis itu masih melirik sana-sini. Sekar menatapnya.


"Berdoalah Nina, minta perlindungan Tuhan!' suruhnya.


Nina pun berdoa menurut kepercayaannya. Gadis itu beragama Hindu. Ia menoleh mencari cahaya yang paling terang dan langsung berlari ketika melihat guru agama teman muslimnya.


"Pak Ahmad!"


Nina menangis di dada pria itu. Ahmad mengelus kepala muridnya itu.


"Kita tunggu yang lain ya," ujar pria itu.


"Berdoalah Nak, bantu Bapak ya," lanjutnya meminta.


Nina mengangguk sambil mengusap air matanya yang basah. Gadis itu berdoa menurut kepercayaannya.


Sementara di tempat Sekar, gadis itu benar-benar menderita kelelahan. Gadis itu kehausan dan kelaparan. Air matanya mengalir tak berkesudahan.


"Allah ... aku lelah!" isaknya perlahan.


"Sayang, jangan menyerah," sebuah suara tiba-tiba masuk dalam pendengarannya.


"Tuan Reynold? Tolong Sekar," isak gadis itu.


bersambung.


yang kuat ya Sekar.


Next?