My Ghost Friends

My Ghost Friends
WAKTU YANG BERLALU



Sekar menatap cincin pernikahannya yang begitu indah. Gadis itu baru saja resmi jadi seoramng istri dari Reynold Bastian. Kini ia duduk di pinggir ranjang. Jantungnya berdegub kencang, usianya masih delapan belas tahun.


Sekar adalah calon dokter tentu ia tau apa yang akan ia lakukan untuk malam pertamanya. Di kamar mandi gemericik air berhenti. Sekar makin gugup, ia meremas tangannya. Gadis itu belum mengganti bajunya. Ia masih mengenakan gaun warna maroon, warna favorit dari Reynold.


Pintu kamar mandi terbuka. Reynold menatap sosok cantik yang selama ini sudah menambat hatinya, tengah menunduk dengan kegugupan luar biasa. Pria itu tersenyum.


“Sayang ... kok belum ganti baju?” tanyanya menggoda.


“Aku ... aku ...,” cicit Sekar kikuk.


Reynold berdiri di depan istrinya yang meremas jemarinya. Pria itu berjongkok, Reynold mengenakan handuk untuk menutupi daerah sensitifnya. Sekar memalingkan muka, dengan rona merah di pipinya.


“Hey ... jangan memalingkan wajahmu istriku,” ujar Rey serak.


Pria itu menggenggam tangan Sekar yang saling menakup satu dan lainnya. Begitu dingin dan berkeringat. Pria itu tak sabar jika menunggu istrinya berinisiatif, dengan lembut dan tanpa paksaan. Reynold mencium bibir Sekar untuk kedua kali nya. Malam berlalu dengan kehangatan ranjang pengantin baru.


Pagi hari menyambut. Rey dan istrinya cek out dari hotel tempat mereka menginap. Semua keluarga menunggu pasangan pengantin itu. Sekar kini telah mengenakan jilbab instan. Rey sendiri yang meminta sang istri untuk menutupi auratnya.


“Hanya aku yang boleh melihat helaian rambutmu,” ujarnya tadi subuh setelah shalat.


“Mashaallah ... cantiknya menantuku!” puji Rita dengan mata berbinar.


Sekar tersenyum dan tersipu. Reynold menggenggam tangan istrinya begitu erat. Pria itu seperti takut istrinya lepas dan tertinggal.


“Ayo kita pulang!” ajak Rita.


Mereka pun beranjak, semua pergi ke kediaman mewahnya. Para maid telah menghidangkan sarapan. Semua masuk dan langsung menuju meja makan untuk sarapan. Bastian memang paling susah makan di luar. Pria itu lebih suka makanan rumah.


Kini, Tono dan Tinah duduk di ruang tengah. Adam tengah bermain bersama Brenda dan Charlie. Dua orang itu sangat suka dengan Adama yang cerdas dan begitu berani. Bayi mau delapan bulan itu sudah mengoceh tak jelas dan memaksa untuk bicara.


“Nak,”


Sekar bersimpuh di hadapan kedua orang tuanya. Ada Reynold berada di sisi sang istri. Tinah tak berhenti mengusap air matanya.


“Nak, hanya sampai sini Bapak dan Ibu melepasmu,” ujar sang ayah dengan suara bergetar.


Sekar menunduk, ia telah menjadi seorang wanita bersuami. Tentu baktinya telah selesai pada kedua orang tuanya. Tono mengusap kepala sang putri yang kini telah terbungkus kain putih. Dikecupnya dan disalurkan doa-doa terbaik untuk putri kesayangannya itu.


Rey kini berhadapan dengan mertuanya. Tono mengusap bahu kekar pria itu. Dulu, ia begitu keras menolak Reynold sebagai menantunya. Tetapi justru pria itu yang membantu sang putri agar bisa mengangkat derajatnya dari orang biasa.


“Aku serahkan putriku kepadamu, Nak!” ujarnya dengan bibir bergetar.


"Aku akan menjaga putri Bapak sebisaku!' jawabnya tegas.


Rey menunduk, sebagai penghormatan pada pria yang berhasil mendidik perempuan yang kini jadi istrinya. Tampak nenek dari Rey menghapus air matanya. Sebuah sejarah kembali terulang, dulu ia juga seorang anak dari tukang kebun. Mampu bersanding dengan tuan muda dan mengalahkan ribuan wanita cantik yang dijodohkan.


‘Kisah Cinderella terulang kembali,’ gumamnya dalam hati.


Sekar menangis ketika ayah dan ibunya melambaikan tangan. Adam juga melambaikan tangan dengan senyum lebar.


“Da da Mpa!” pekiknya girang.


Mobil yang dikendarai Tono bergerak menuju rumah mereka. Reynold merengkuh bahu istrinya lalu membawa masuk. Kini mereka duduk bercengkrama di ruang tengah. Filda mengisahkan ceritanya.


“Nenek sama pangkatnya denganmu, Sayang,”akunya pada Sekar.


“Bedanya adalah. Kau sangat cerdas hingga menaikkan derajat ayahmu. Dulu nenek tetap anak tukang kebun,” lanjutnya.


“Ma, mama seorang dosen,” sahut Bastian tak suka.


“Kakek nggak mau berhenti dari kerjaannya, makanya beliau masih jadi tukang kebun hingga menutup usia,” lanjutnya.


“Maaf sayang,” sahut Filda tersenyum lebar.


“Nenek cantik, pintar dan sangat lembut. Makanya mendiang kakek jatuh cinta sama nenek!” celetuk Brenda.


“Sekar, kamu koas di mana?” tanya salah satu calon dokter juga.


“Di rumah sakit Bastian hospital,” jawab Sekar.


“Ih ... enak ya, kalo punya mertua kaya raya kek kamu,” cibir temannya iri.


“Gue ikut program pemerintah ditugaskan di Atambua,” lanjutnya.


“Kan koas kamu di puskesmas kota, Bintang!” sahut Sekar memutar mata malas.


Bintang tertawa lirih. Ia memang begitu, suka sekali menggoda temannya dengan mendrama. Gadis itu mengelus perut buncit Sekar.


“Ini anak kamu yang kedua. Apa kabar Reyshana?’ tanyanya.


“Alhamdulilah baik,” jawab Sekar.


“Pasti makin berisik. Kamu bawa dia kemarin heboh satu kampus!”


Sekar tersenyum. Wanita itu sering membawa putri pertamanya yang berusia tiga tahun. Wanita itu memang suka membawa bayinya ke kampus, karena memang sudah akhir semester dan tak ada lagi yang ia lakukan. Reysha memang sangat cerewet dan sangat ingin tau apa saja.


“Aku pulang ya,” pamit Sekar. “Kangen si bawel!”


“Kangen bawel apa kangen yang dingin itu?” tanya Bintang menyindir.


Sekar tak menjawab, ia hanya tersenyum lebar sambil mengelus perut buncitnya. Di dalam sana ada dua janin berkembang. Di pastikan kembar sepasang. Ia segera turun melalui lift dan menuju lobi kampus.


“Mama!” pekik gadis kecil dengan rambut dikuncir dua.


Sekar tersenyum lebar lalu merentangkan tangannya. Reysa berlari menuju sang ibu. Hal itu membuat neneknya berteriak, Sekar tentu dengan cepat menyambar tubuh putrinya sebelum terjungkal. Lutut gadis kecil itu masih diplester akibat terjatuh.


“Sayang,” peringat sang ibu.


Reysa hanya tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang kecil dan putih. Sekar menggendong putrinya, hal itu membuat Rita harus menahan napas.


“Nak,” ia begitu khawatir.


“Tidak apa-apa Mom,” ujar Sekar menenangkan merttuanya.


Setelah mencium punggung tangan Rita, mereka masuk mobil dan beranjak ke kantro di mana REey bekerja.


“Oma, nanti leysa kelja juga ya!” celoteh Reysa dengan mimik bahagia.


“Jangan ganggu Ayah kerja sayang,” peringat Sekar.


“Nanti Ayah nggak bisa pulang cepat,” lanjut Sekar sebelum putrinya merajuk.


“Oke!” sahut Reysa sambil mengacungkan ibu jarinya.


Sorenya di rumah. Sekar merapikan baju, baju kotor untuk dimasukkan ke keranjang. Wanita itu menatap dengan binaran cinta di mana suami dan putrinya tengah asik menonton kartun. Reysa berada di atas tubuh sang ayah, gadis kecil itu tertawa melihat bagaimana Tom and Jerry saling berkejaran.


“Sekar ....”


Wanita itu melirik, saru doa ia ucapkan agar makhluk itu segera pergi. Sosok dengan bentuk hitam menghilang dari sana. Sekar menghela napas panjang. Baunya masih ada, walau ia sudah bisa mengendalikan dirinya. Tetapi, makluk-makhluk itu belum lepas.


“My ghost friends,” keluhnya.


Tamat.


akhirnya tamat juga.


makasih semuanya.