My Ghost Friends

My Ghost Friends
KISAH BRENDA



"Mommy ingat ketika aku bentak Papa waktu itu gara-gara nilaiku?" tanya Brenda.


"Ya, Mommy sangat takut jika Papamu benar-benar marah. Dan terbukti jika Papa mau menamparmu," jawab Rita.


'Dan Ibu Tinah yang menggantikan pipiku dengan pipinya kan?" Rita mengangguk lagi.


"Aku marah dan banting pintu. Sejujurnya aku takut Papa marah lagi, tapi aku berkeras hati," ujar Brenda lagi.


"Waktu malam tiba, aku merasa jika tubuhku digerayangi. Mom, makhluk itu membuatku pelepasan," aku Brenda memerah mukanya.


"Nak?" Rita menutup mulutnya.


"Jujur Mom, aku pacaran di Amrik diam-diam, jadi aku paham tentang sport-spot yang bisa membuatku terangsang," aku Brenda lagi jujur.


Rita diam, ia tak memarahi putrinya. Salahnya mempercayakan anak perempuannya pada adik sepupunya itu.


"Kamu sudah ...."


"Tidak Mom, aku tidak sejauh itu hanya ... ciuman dan remasan di sini juga di sini," jawabnya menunjuk dada dan bawahnya lalu membuang muka.


"Nak," cicit Rita lirih.


Wanita itu meneteskan air matanya. Ia benar-benar gagal mendidik putrinya itu. Brenda meminta maaf pada sang ibu.


"Kami putus setelah aku memergokinya tengah bercinta dengan temanku di koridor kampus," ujar Brenda lagi.


Rita mengelus putrinya dan mencium keningnya.


"Maaf sayang," Brenda menggeleng.


"Aku yang salah Mom, aku yang salah," ujar gadis itu.


"Sudah lah, itu sudah berlalu. Mommy akan merahasiakan ini dari Daddy dan juga kakakmu Rey," ujar Rita.


"Kak Charlie?"


"Mommy punya rencana untuk dia dan menggunakan kisahmu," ujar Rita.


"Sudah abaikan itu. Sekarang lanjutkan cerita ketika kau masuk labirin itu!" pinta Rita begitu penasaran.


Brenda menghela napas berulang-ulang Masih dengan jelas betapa ia begitu ketakutan ketika berada di tempat yang sangat asing.


"Aku mengira jika sudah mati Mommy," ujar gadis itu dengan pandangan menerawang.


"Aku terbangun di sebuah tanah tandus. Menangis entah berapa lama, mencari kalian yang seperti menghilang," ujarnya lagi.


Brenda mulai menceritakan ketika ia terbangun di tempat asing itu.


Brenda berteriak memanggil semua keluarganya. Ia begitu terkejut ketika terbangun di tempat lain.


"Mom, Papa?" panggilannya pertama kali.


"Ayolah ... jangan bercanda kalian!" teriaknya.


Namun sepanjang mata memandang hanya tanah tandus yang ia lihat. Brenda benar-benar tak mengenali tempat itu.


"Kakak Charlie, Kak Rey!" pekiknya lagi.


Hanya hening, bahkan embusan angin pun tak ia rasakan. Hanya ada satu pohon akasia tua di sana sebagai tempat berteduh di terik matahari.


"Brenda ... selamat datang!" gadis itu menoleh.


Sosok dengan wajah yang sangat tampan muncul tiba-tiba. Di depan mata Brenda terdapat singgasana mewah dan sangat indah.


Banyak buah-buahan, bantal-bantal empuk dan permadani tebal. Di sana ada datang-datang yang berjenis kelamin pria dengan memamerkan otot-otot perut mereka.


"Ayo kemari Brenda. Kami akan memuaskan mu," bisik pria itu begitu menggoda hasrat Brenda.


"Ayo sayang ... kemarilah!'


Salah satu dayang yang begitu tampan berpose menantang. Tangannya yang berotot terulur seakan ingin Brenda menyambut uluran itu.


"Ayo sayang, pegang itu dan nikmat yang diberikan Vektor akan kau rasakan bahkan lebih," bisik pria itu dengan tatapan sayu.


Brenda hampir saja mengulurkan tangannya, namun mendengar nama pemuda yang pernah menjadi kekasihnya mendadak terdiam.


"Darimana kau tau?" tanya Brenda. "Aku belum memberitahu pada ayah dan ibuku!"


"Makanya ikut kami agar kami tidak membocorkan berita ini!" ancamnya.


Brenda bukan anak yang tidak tau apa-apa. Ia sangat yakin jika orang-orang yang ia lihat ini tak akan bisa menghasut kedua orang tuanya.


"Tidak!" tolaknya kemudian..


"Brenda!" pekik pria tampan itu.


Wajahnya begitu menakutkan. Ia mendekati Brenda dengan tatapan bengis. Entah kapan sosok itu membuka semua pakaiannya hingga sekarang bugil. Brenda memekik takut. Gadis itu memang melawan orang tua tetapi untuk hal sejauh itu ia tidak berani.


Brenda memalingkan mukanya. Sosok itu menarik paksa muka gadis itu agar melihat padanya.


"Ayo sayang, ini benar-benar nikmat. Ayo!"


Brenda menangis sejadi-jadinya, entah bagaimana ia bisa melepaskan diri dari cengkraman sosok itu.


"Brenda ... Brenda!" pekik sosok itu mulai mengejar.


Brenda berlari. Tanah tandus mendadak ada tumbuhan pagar. Gadis itu berlari dari kejaran sosok tampan yang berubah menyeramkan.


Sosok itu memiliki rambut kasar layaknya ijuk dengan mata hitam semua. Taring menyelip di antara bibirnya yang hitam.


"Rrroaaarrr!" pekik sosok itu menggetarkan jalan yang dilalui.


Brenda terpeleset ke parit yang ditumbuhi rumput, ia memilih bersembunyi di sana. Gadis itu menutup mulut dan matanya ketika sosok menyeramkan itu berada hanya lima senti saja dari wajahnya.


"Brendaa!" panggil sosok itu tepat di muka si pemilik nama.


Air mata Brenda nyaris jatuh. Bau tubuh sosok itu mampu membuat mual. Rupanya doa-doa yang dikirim oleh kedua orang tuanya membuat Brenda selamat dari sosok menyeramkan itu.


'Apa dia sudah pergi?' tuanya dalam hati.


Parit dan semak tempat ia sembunyi mendadak hilang. Gadis itu memutar pandangannya. Kini air matanya mengalir deras.


"Mom ... Papa ... maafkan Brenda," ujarnya lirih.


'Jadi kamu dikejar oleh makhluk menyeramkan itu Nak?" tanya Rita membuyarkan lamunan putrinya.


"Iya Mom, entah berapa kali aku berjalan menyusuri labirin itu untuk mencari jalan keluarnya. Tapi selalu gagal dan mendapat jalan buntu," jawab Brenda lagi.


"Aku putus asa Mom, aku lupa untuk berdoa dan minta maaf," lanjutnya.


"Lalu ketika aku mendengar suara Sekar. Tenggorokanku yang kering dan terasa terbakar mendadak hilang," lanjutnya lagi.


"Aku kembali dikejar sosok menyeramkan itu dan hampir terjatuh ke jurang yang dalam. Andai Sekar tak berteriak memanggil namaku. Mungkin aku benar-benar jatuh ke sana,"


Rita mendengarkan cerita putrinya. Sesekali, Brenda mengusap air matanya yang terjatuh. Ia benar-benar bersyukur Sekar datang dan tak menghiraukan luka sayat di lengan gadis itu.


"Sekar rela menerobos tanaman pagar yang banyak durinya untuk menolongku Mom," ujarnya mulai terisak.


"Sayang," Rita menenangkan putrinya.


"Yang paling aku kagumi adalah ketika Sekar memilih lompat dan memelukku ketika aku terhisap oleh tumbuhan itu. Ia tak mau sedikit pun meninggalkan aku Mom ... hiks!"


Tangis Brenda pecah. Rita memeluknya erat. Mengusap punggung putrinya dan mengecup pucuk kepala anak perempuannya itu.


"Sekar bisa saja lari dan tak bertanggung jawab Mom. Sekar bisa meninggalkan aku saat itu ... huuuuu ... uuu ... hiks!"


"Tapi dia memilih lompat dan memelukku erat," lanjutnya tergugu.


"Aku sudah jahat sama dia Mom. Tapi kenapa dia baik sama aku!?" tanya Brenda masih menangis.


Rita memeluk putrinya erat. Ia juga tidak tau kenapa Sekar memilih lompat dan ikut dengan sang putri.


"Dia melakukan itu karena dia mencintaimu Nak, dia tak mau kami kehilangan dirimu. Sekar memutuskan untuk ikut dan hilang bersamamu sebagai wujud cintanya," jawab Bastian.


"Papa ... Papa ... maafin Brenda!'


Kini mereka bertiga berpelukan erat. Bastian banyak belajar dari sosok anak perempuan yang bernama Sekar.


"Terima kasih Nak," ujarnya dalam hati.


Bersambung.


Next?