My Ghost Friends

My Ghost Friends
KEKUATAN DOA



Batas lelah Sekar tak dipedulikan gadis itu. Walau pandangannya mulai buram dan bajunya mulai basah oleh keringat. Bau tubuhnya yang khas mengundang banyak makhluk astral.


"Sekar!" panggil mereka mengikuti gadis itu kemanapun melangkah.


"Pergilah, kalian memberatkan langkahku," pinta Sekar sudah lelah dengan semua teman hantunya.


"Tapi baumu mengundang kami Sekar, dan kami nyaman bersamamu," jawab salah satu makhluk halus.


Sekar terus memanggil semua nama teman-temannya. Gadis itu tak tau sudah berapa jam ia berputar-putar di labirin itu.


"Hhh ... hhh ... hhh!" napas Sekar terengah, ia sudah tidak kuat lagi.


Ia terjatuh ketika tersandung batu kecil. Hal itu membuat lutut dan keningnya berdarah akibat membentur tanah.


"Ibu ... hiks ... hiks ... ibu ...," isaknya lirih.


Sementara di tempat lain. Tinah masih tak berdaya terbaring di ranjangnya. Dzikir tak lepas dari bibirnya. Wajahnya masih pucat bahkan kini napsu makannya menurun.


"Bu," ujar sang suami begitu khawatir.


Pria itu mengusap peluh istrinya. Suhu badan Tinah memang tinggi, dokter baru saja memberinya obat, tetapi sepertinya obat itu hanya bekerja sesaat aja.


"Pak ... putri kita Pak ... Sekar," ujarnya lirih.


"Jangan khawatir, Sekar baik-baik saja. Mungkin sekarang sedang memakan bekalnya dengan Danar," ujar pria itu.


Ketika melihat jam di dinding, pria itu cukup kaget. Jarum pendek baru menyentuh angka sembilan sedang jarum pendek menyentuh di angka lima.


"Apa jam di kamar rusak?" tanyanya dalam hati.


"Pak," panggil sang istri lemah.


"Iya Bu," sahut Tono.


"Doakan anak kita Pak, Ibu punya firasat buruk," pinta Tinah lirih.


Tono menatap istrinya yang sangat berharap padanya. Pria itu juga tiba-tiba mengkhawatirkan sang putri yang kini tengah menuntut ilmu.


"Pak!' rengek Tinah.


"Iya sayang," ujar Tono menenangkan istrinya.


Akhirnya Tono mengikuti permintaan sang istri. Pria itu menggelar sajadah. Rita membebastugaskan sepasang suami istri itu.


Usai menuaikan sholat sunahnya. Pria itu mengangkat tangannya mencoba menggetarkan langit.


"Ya Allah ....,"


Tetes demi tetes air mata mengalir dari kedua matanya. Bibirnya bergetar setiap menyebut kebesaran Allah.


Sementara di tempat Sekar. Labirin di mana ia berada ikut bergetar.


"Ayah ... Ayah!" panggil Sekar.


Gadis itu berdiri mengelap darah yang menetes di kening dan di lututnya. Ia kembali berjalan, sudah tak dirasakan lagi kelelahan. Lima orang temannya berkumpul.


"Nina, Ani, Dwi, Luki, Sapto!" panggilannya.


"Sekar!" teriak mereka.


Mereka kembali menangis berpelukan. Seperti yang lainnya Sekar meminta semua mencari cahaya paling terang.


"Pak Ahmad menunggu kalian!" ujarnya.


Semua bergerak menuju jalan yang ditunjuk oleh Sekar. Menemukan Ahmad guru mereka.


"Bapak!" teriak mereka menghambur ke arah pria dan beberapa teman yang sudah ditemukan.


"Ayo nak, sini ... dekat-dekat Bapak, jangan jauh-jauh!" pinta Ahmad.


Semua anak menurut, perempuan dan laki-laki dipisah, mereka saling menggenggam satu dan lainnya, mendoakan teman mereka Sekar.


Sekar kembali berjalan, gadis itu kini makin ringan langkahnya. Ia sangat yakin doa ayah dan ibunya menyertai dirinya saat ini. Wajah tampan pun berkelebat di pikiran gadis itu.


"Tuan Reynold," panggilnya lirih.


Sementara di ruang kerjanya. Pria itu masih berkutat dengan tumpukan berkas yang kembali menggunung seperti tak ada habisnya.


"Tuan,"


"Astaga ... apa yang kau berikan padaku Desta!" keluh Reynold.


'Maaf Tuan, sebentar lagi akhir tahun. Jadi semua jurnal harus selesai jika ingin bebas awal tahun depan," jelas Desta asisten sekaligus sekretaris Reynold.


"Sekar ...," tiba-tiba ia mengingat gadis kecil yang menjadi primadona hatinya.


Reynold memilih berdzikir atas kebesaran Allah. Mulutnya tak berhenti memuji kebesaran sang Maha Pencipta.


"Ya Allah lindungi Sekar di mana pun ia berada," pintanya lirih.


Kembali ke labirin. Sekar terus mencari sisa temannya. Dua puluh satu orang lagi belum ia temukan.


"Aku lupa nama-nama mereka," keluh Sekar yang sudah buntu.


Otaknya tak mampu mengingat siapa saja yang belum ketemu. Terlebih memang tak banyak teman yang berinteraksi dengannya.


"Haloo ... siapa saja!" teriaknya.


"Sekar ... sudah lah ... aku akan mengembalikan mereka semua!" ujar Ndere.


"Kau hanya tinggal bilang mau ikut kami. Maka semua akan kembali seperti biasa!" lanjutnya merayu.


Sekar menenangkan diri. Ia duduk di atas sebuah batu besar. Mencoba berserah atas pada yang maha kuat dari segalanya. Ndere berteriak keras pada Sekar.


"Hentikan Sekar ... tolong aku!"


Sekar menoleh asal suara. Di sana Danar berdiri dengan baju compang-camping. Keadaannya sama kotor dengan Sekar. Gadis itu menyipitkan matanya, ia tak mau tertipu lagi.


"Allahu Akbar!' teriak Sekar.


"Berengsek!' maki sosok yang menyerupai Danar.


Sekar berdecih, ia memang sudah hafal bagaimana kekasihnya itu. Ri yang merubah diri jadi Danar terbakar akibat takbir yang diserukan Sekar.


"Berkumpul!" teriak Ndere.


Semua hantu dengan berbagai bentuk mendatangi Ndere. Ndere mengucap mantra.


Labirin di mana Sekar berdiri kini berubah jadi tanah tandus dengan banyak batu-batu terjal. Sekar harus melewati batu-batu itu dengan kekuatannya.


Ndere menyeringai sadis. Makhluk itu menggunakan kelelahan Sekar agar gadis itu menyerah dan jatuh di kakinya.


Sekar menatap sekelilingnya, ia sudah tak sanggup lagi jika harus mendaki bebatuan itu untuk mencari teman-temannya.


Napasnya sudah satu-satu. Seragamnya sudah kotor dan robek di beberapa bagian. Darah mengering di dahi, sudut bibir dan kedua lututnya.


"Bagaimana Sekar?" tanya Ndere. "Apa kau masih sanggup?"


"Ya Allah ... bantu Sekar ya Allah!" teriak Sekar tanpa suara.


Gadis itu bersimpuh, ia menangis. Sungguh kekuatannya sudah tidak ada lagi. Sementara di tempat lain, Tono terus berdoa dan berdzikir.


"Allâhumma bârik fîhi, wa lâ tadhurrah. Artinya, “Aku menyerahkan perlindunganmu dengan kalimat Allah yang sempurna dari segala gangguan setan, binatang melata/serangga, dan segala pengaruh mata jahat. Tuhanku, turunkan keberkahan-Mu pada anak ini. Jangan izinkan sesuatu membuatnya celaka.”


Tanah tempat Ndere ciptakan kembali bergetar hebat. Istana buatannya mulai hancur. Makhluk itu berteriak kuat, ia sangat murka pada Sekar yang terus berdoa.


"Sekar ... yang temanmu adalah kami!" teriak Ri.


Tanah berbatu besar dan curam kembali normal. Sekar kembali pada labirin, rupanya sang maha pencipta masih ingin menguji gadis itu.


"Tolong!" sebuah teriakan terdengar.


Sekar bangkit dari bersimpuhnya. Gadis itu mencari sumber suara. Dua temannya tengah terikat di tanaman rambat.


"Via, Lia?" panggil Sekar mengenali keduanya.


"Sekar ... itu kamu kan?" tanya Via menangis.


"Iya, ini aku!" ujar Sekar.


Gadis itu melihat lilitan yang membungkus dua temannya. Keduanya menangis ketakutan. Ri dan Re menampakkan diri mereka.


"Menyingkir lah sebelum aku benar-benar membakar kalian!" ancam Sekar mendesis pada dua teman hantunya.


"Sekar ... kamu ngomong sama siapa?" tanya Via sambil terisak.


"Sudah ... abaikan saja. Sekarang kalian berdoa minta perlindungan sama Allah ya," pinta Sekar.


Mereka pun menurut, Sekar mengurai tanaman itu untuk melepaskan dua temannya.


Bersambung.


Bisa lepas nggak ya?


Next