
Brenda sedih ketika melihat Sekar membawa tas berukuran besar. Pak Tono berhasil mendapat hunian yang dulu ia inginkan dengan harga yang sangat murah. Ia sangat tidak menyangka jika dirinya dihubungi pemilik kios yang berada dekat sekolah putrinya itu.
"Iya Pak, saya nggak percaya sama penyewa yang lain, jadi saya hubungi Bapak," ujar pemilik kios melalui sambungan telepon.
"Apa mesti pindah Pak?" tanya Bastian sedih.
"Brenda dan Charlie bukankah sudah minta maaf," lanjutnya.
"Bukan itu Tuan. Saya hanya ingin memantaskan diri saja," ujar Tono.
"Tak mungkin jika nanti putri saya berjodoh dengan putra Tuan, saya hanya sebagai pembantu di rumah ini. Sebagai besan, tentu saya tidak mau anda jadi malu memperkenalkan saya," jelas Tono kemudian.
Bastian tersenyum, jawaban pekerja prianya itu sangat masuk akal. Ia pun mengangguk. Rita memeluk Tinah berkali-kali, wanita itu merasa kehilangan sosok yang begitu jujur dan baik hati.
"Aku akan sulit mencari gantimu Tinah," ujar Rita lalu ia terkekeh.
"Tapi, aku juga mau kau dan keluargamu menaikkan taraf hidup. Jadi aku mendukung semua keputusanmu," lanjutnya mengurai pelukan lalu menggosok dua lengan Tinah.
Brenda berkali-kali memeluk dan menciumi Sekar. Sekar sendiri senang diperlakukan seperti itu oleh nona mudanya.
"Kak," rengeknya manja.
"Nanti sering nginap ya, tidur bersamaku," pinta Brenda sambil menyusutkan air matanya.
Sekar mengangguk setuju. Gadis itu melirik sosok tampan dan jangkung yang berdiri sambil bersidekap di tangga. Charlie mengacak rambut Sekar. Pemuda itu berdamai dengan perasaannya, ia memang mencintai Sekar, tetapi sang kakak telah lebih dulu mengikat gadis itu.
Mobil yang disewa Tono telah beranjak dari halaman luas milik keluarga Bastian. Rita menghela napas panjang.
"Pa," panggilnya lirih.
"Jangan khawatir sayang. Mereka bisa jauh lebih baik," ujar Bastian menenangkan istrinya.
"Nggak ada Mbok Tinah, apa perlu pengganti maid baru Mom?" tanya Charlie.
Rita menggeleng, ia masih belum bisa mencari pengganti asisten rumah tangga yang sebaik dan sejujur sepasang suami istri itu.
"Ya udah, nanti ajarin Brenda gimana beberes dan masak ya Mom," pinta gadis itu.
Brenda di drop out dari kampusnya di USA karena tidak mendaftarkan remedial. Nilainya sangat buruk walau hanya untuk mempertahankannya di kampus besar itu.
Kini Brenda harus menunggu tahun ajaran baru. Gadis itu juga sudah berjanji pada kedua orang tuanya untuk belajar lebih giat lagi.
"Baiklah sayang," ujar Rita tersenyum. Ia puas dengan perubahan yang dialami putrinya itu.
Sesampainya di kios, mereka turun dan langsung memasukkan tas mereka ke dalam rumah yang jadi satu dengan kiosnya. Tono telah mendaftarkan keluarganya di RT RW setempat.
"Memang belum banyak barang. Bapak buru-buru ambil ini agar tak diambil orang," ujar pria itu menjelaskan.
"Tidak apa-apa Pak," sahut Tinah tersenyum.
"Pak, Sekar boleh kasih ide nggak buat kita jualan di depan?" tanya gadis itu ketika memeriksa kios yang cukup besar di depan rumah mereka.
"Boleh sayang, yang penting menghasilkan dan menguntungkan. Kamu juga harus tau, satu-satunya pendapatan kita ke depan dari warung itu!" sahut Tono menyerahkan semua pada putrinya.
Sekar tersenyum, di kepalanya sudah penuh dengan banyak ide. Ibunya seorang pemasak ulung, ia akan mem-viralkan masakan ibunya.
"Karena dekat sekolah, Sekar akan buat kafe belajar di sini. Hanya menyediakan menu ringan, seperti aneka makanan dan minuman. Selain menu sarapan seperti, nasi uduk atau nasi kuning," jelas gadis itu mulai merencanakan konsep ide jualannya.
Tono dan Tinah membiarkan anak perempuannya berpikir sendiri untuk masa depan mereka.
"Putri kita genius, jadi biarkan dia yang mengatur. Kita tinggal mengawasi dan memberi nasihat saja," ujar Tinah.
Sementara itu di sebuah kamar mewah yang begitu maskulin. Dinding kamar dicat dengan warna coklat tua dan bergradasi abu-abu. Sosok tinggi menjulang dengan wajah tampan tengah menerima sebuah panggilan telepon dari seseorang.
".......!"
"Bagus! Terima kasih atas kerjasamanya Pak!" ujar pemuda itu lalu mengucap salam.
Reynold tersenyum setelah mematikan layar ponselnya. Ia telah melaksanakan niatnya. Pemuda itu membeli hunian yang kini ditempati Tono dan keluarganya. Agar tak curiga, ia menerima pembayaran tiga tahun sewa dari rumah dan kios tersebut dengan harga yang sangat murah.
"Alhamdulillah, satu kebaikan telah aku tunaikan. Mudah-mudahan semua berjalan sesuai harapan. Jika pun tidak. Aku ikhlas Ya Allah," ujarnya lirih.
Pemuda itu mengusap sertifikat rumah yang sudah atas namanya dengan ahli waris Sekar di sana.
"Insyaallah, kau adalah jodohku Sekar," gumam pria itu.
Tono membeli perlengkapan rumah yang sederhana, ia masih harus berhemat untuk modal usaha yang akan digeluti putrinya nanti.
"Pemilik rumah baik banget ya Pak," ujar Tinah melihat barang-barang yang ada di dalam rumah.
"Kulkas, tempat tidur sama kompor buat kita," lanjutnya.
"Iya Bu, kata beliau baru dibelikan kulkas oleh anaknya, terus tempat tidur juga," sahut Tono.
"Etalase juga ada Pak," timpal Sekar.
"Sepertinya masih baru-baru juga!" lanjutnya.
"Iya, katanya lagi sih tadinya mau jualan, tapi dilarang sama anak-anaknya. Jadi ditinggalin deh, Bapak cuma nambah seratus ribu untuk semua itu," jawab Tono lagi.
Usai semua barang ditata dengan apik. Tinah akan berbelanja banyak di pasar besok pagi. Tono akan membantunya, mereka tentu harus berkenalan dengan tetangga mereka sambil mempromosikan usaha yang akan digeluti putri mereka nanti.
Sekar menatap kamarnya, warna cerah dan pink mendominasi. Jendelanya lebar dengan kasur berukuran queen size di sana. Gadis itu tadinya menolak sang ayah memberikan ranjang mahal itu. Tetapi Tono bersikeras.
"Kamu anak gadis, jadi harus punya kamar yang bagus. Bapak tidak mau kejadian seperti kemarin lagi!"
Sekar menurut, ia ingin kedua orang tuanya tak lagi mengkhawatirkan dirinya. Jujur setelah lepas dari labirin itu. Sekar sudah tak merasakan teman-teman dari alam gaibnya lagi.
Lemari besarnya kini tersusun banyak baju dan gaun. Brenda yang membelikan semua pakaian Sekar.
"Kakak tidak memaksamu merubah image, tetapi menjadi seorang yang kuat, harus berpenampilan kuat juga!" tekan Brenda ketika membelikan semua baju-baju itu.
Lagi-lagi Sekar harus menerimanya. Brenda akan mengamuk jika ditolak pemberiannya. Gadis itu mengancam berlaku sombong di depan Sekar.
"Kakak ada-ada saja," gelengnya pelan ketika mengingat betapa lucunya wajah Brenda ketika marah.
Sementara itu Rita menatap putrinya yang begitu serius belajar memasak. Gadis itu ternyata sangat cepat belajar. Wanita itu tersenyum lalu mengusap peluh yang menetes di pelipis gadis cantik itu.
"Sayang, ceritakan pada Mama, kenapa kau berubah total seperti ini, terlebih pada Sekar?" tanya Rita.
Brenda menatap ibunya. Gadis itu memang tidak menceritakan sepenuhnya yang ia dapat ketika tersesat di labirin waktu itu.
"Panjang Mom dan itu benar-benar menyakitkan," jawab gadis itu.
"Ceritakanlah Nak," pinta Rita penasaran.
Kini Rita membawa putrinya ke ruang tengah. Di sana Brenda menceritakan pengalamannya ketika masuk ke labirin itu.
Bersambung.
Penasaran?
Next?