My Ghost Friends

My Ghost Friends
SEBUAH KISAH



Sosok itu lenyap ketika Danar menepuk bahu Sekar. Remaja itu menggandeng Sekar dan membawanya keluar sekolah.


Sekar melepas genggaman tangan Danar. Di sana sang ayah menunggunya bersama supir. Gadis itu sedikit berjalan cepat, ia masih ketakutan setelah sosok merah tadi menakutinya.


"Ayah!" Tono heran ketika Sekar memeluknya.


"Kenapa Nak?" tubuh Sekar yang bergetar membuat pria itu cemas.


Tono menggiring masuk Sekar dan memeluknya erat. Danar menatap pacarnya yang berlalu dalam mobil, sang ayah menyadarkannya.


"Nak! Ayo!"


Danar tersadar lalu mengambil pelindung kepala dan memakainya. Ia memeluk pinggang ayahnya erat. Sosok yang hendak mengganggu Danar menjerit kuat dan berlari menjauhi keduanya.


Sampai rumah Sekar melihat makin banyak makhluk tak kasat mata berada di depan kamarnya. Re dan Ri menyambutnya dan kembali memperlihatkan istana indah untuk gadis itu.


"Sekar ... kenapa kau selalu melamun sayang?" tanya Rita melihat anak dari asisten rumah tangganya itu.


"Saya hanya berdoa sebelum masuk Nyonya," sahut Sekar.


Gadis itu pun masuk, Rita menyusulnya. Semua teman astral Sekar menghilang dari sana.


Sekar melihat banyaknya tulisan kaligrafi Arab bahkan surah kursi menempel di dinding. Suasana kamar itu sedikit lega dengan pencahayaan terang. Kamar jendela juga besar dan cahaya matahari masuk ke dalam dengan sempurna.


"Nyonya?" tanya Sekar bingung.


"Iya sayang, Mama sengaja merombak sedikit kamar kamu agar tidak terlalu pengap. Apa kau suka?" gadis itu mengangguk lalu memeluk wanita baik itu.


"Makasih Nyonya!" ujar gadis itu berterima kasih.


"Sama-sama sayang," ujar Rita senang bukan main.


Walau Sekar enggan memanggilnya dengan sebutan Mama. Rita tak mempermasalahkan hal itu. Ia sangat berharap gadis cantik itu akan menjadi menantunya kelak..


Usai makan siang, gadis itu membantu ibunya sebentar, gadis itu sedikit tak suka dengan gosip para asisten rumah tangga lainnya yang mengejek sang ibu.


"Wih ... ada babu kesayangan nyonya nih!" sindir salah satunya.


Tinah diam, ia tak pernah mengambil muka pada majikannya. Wanita itu hanya bekerja sesuai pekerjaannya.


"Eh ... Sekar jangan di sini. Kamu kan jadi kesayangan Nyonya. Mending kamu bersihin kaki kamu tuh yang jamuran!" ledek salah satu maid sinis.


Sekar memilih tak peduli. Gadis itu duduk di depan ibunya dan membantu mengelap piring.


"Aduh ... Nona jangan lap piring, nanti tangannya kasar!" sindir salah satu maid lagi.


"Eh ... emang udah kasar ya ... lupa kalo anak babu!" lanjutnya terkikik geli.


Sekar tak menggubris. Gadis itu tetap membantu ibunya. Piring-piring yang dibersihkan adalah piring-piring mahal. Salah satu melirik temannya memberi kode. Sekar berdiri memegang tumpukan piring itu dan hendak meletakannya di lemari khusus.


Salah satu maid pura-pura berjalan biasa. Ia ingin menjegal kaki gadis itu dan membuat piring-piring mahal itu pecah di tangan Sekar.


"Eh ... eh!" maid itu justru seperti hendak terjatuh.


Sekar membalikkan tubuhnya mengelak tubuh maid yang hendak menabraknya. Maid tersebut tersungkur ke lantai marmer hingga membuat hidungnya berdarah. Wanita itu menangis meraung.


"Ada apa ini?" tanya Rita tergopoh ke dapur.


"Ini Nyonya. Sekar sengaja mendorong Mimin, padahal dia nggak salah apa-apa!" lapor Tukiyem tentu berbohong.


"Tidak Nyonya ...."


"Benar Nyonya ... kami lihat sendiri. Sekar berlaga jadi Nona besar!" potong yang lainnya juga berbohong.


"Sekar ... apa itu benar Nak?" tanya Rita terprovokasi.


"Nyonya ... bukan itu kejadiannya ... Mimin jatuh sendiri, putri saya mengelak agar tak mengenai piring-piring yang dipegangnya!" sahut Tinah tentu membela putrinya.


"Bohong Nyonya. Tinah kerja sama dengan Sekar ... dia juga belaga mau jadi nyonya besar!" sanggah Dea langsung.


"Sudah cukup!" sentak Rita mulai kesal.


"Saya akan tau apa yang terjadi sebenarnya!" lanjutnya.


Mimin dibawa Rita dan beberapa kawannya ke luar dapur. Sedang lainnya menatap sinis ibu dan anak itu.


"Selamat jadi pengangguran dan gelandangan!" bisik salah satunya mencibir.


"Katakan Sekar ... apa kau perlu pertolongan kami?" bisik Re dengan seringai menakutkan.


"Katakan saja Sekar ... mereka akan kami bereskan," ujar Re lagi..


Sekar diam, lalu ia mendengar ibunya terisak. Wanita yang melahirkannya itu sedih bukan main.


"Bu ... kita nggak salah Bu," ujar Sekar menenangkan ibunya.


"Nak, ibu harap kita berhenti menerima kebaikan Nyonya dari sekarang," pinta Tinah pada putrinya.


"Gimana caranya Bu? Beliau majikan, apa yang mesti kita katakan?" tanya Sekar.


Tinah terdiam, kedudukannya sebagai asisten rumah tangga tak bisa berbuat banyak. Terlebih majikan mereka begitu baik.


Malam menjelang, Sekar merebahkan badannya. Gadis itu belum meminta pertolongan Re maupun Ri. Kedua makhluk itu tak berani mendekati Sekar karena tulisan-tulisan ayat itu.


"Masuk dalam mimpinya Ri!" suruh Re.


Ri pun masuk dalam mimpi Sekar, membawa gadis itu dalam kenikmatan yang tak mestinya didapatkan oleh Sekar. Gadis itu dicumbu hingga membuat ia basah.


Sekar terbangun dan langsung pergi ke kamar mandi, ia membuat air seninya.


"Sepertinya aku lupa berdoa," monolog gadis itu.


Sekar berdoa sebelum memejamkan mata. Ri terlempar dalam khayalan gadis itu. Sosok tak kasat mata itu kini merintih kesakitan.


Besok pagi, semua sibuk Rita sudah mengetahui siapa yang bersalah di dapur kemarin. Berkat kamera pengintai yang ia pasang. Semua maid tak berkutik ketika video itu diperlihatkan. Kini mereka semua harus keluar dari mansion yang menghidupi mereka.


"Nyonya maafkan kami," ujar Dea lirih.


"Kalian sudah memfitnah Mbok Tinah secara keji itu sudah keterlaluan!' seru Bastian tak suka.


Pria itu meminta semuanya pergi setelah Sekar berangkat sekolah. Bastian akan meminta Tinah mengantarkan Sekar ke sekolah.


"Sekar masuk ya Bu, Yah!" pamit gadis itu lalu mencium punggung tangan ayah dan ibunya.


"Iya sayang, belajar yang baik ya," ujar Tinah mengusap kepala putrinya.


Ketika masuk kelas hawa panas mulai terasa. Sekar kembali melihat kabut tipis berwarna hitam keluar dari toilet perempuan. Beberapa murid masuk dalam toilet itu.


"Aaahhhh!" pekik anak-anak perempuan berlari ketakutan keluar dari toilet itu.


Beberapa guru mendatangi mereka yang menangis dan berteriak-teriak histeris.


"Ada orang ... ada orang!" teriak salah satu murid perempuan.


Salah satu guru masuk ke dalam toilet dan tak lama guru itu juga keluar dengan wajah pucat.


"Panggil polisi ... ada wanita gantung diri di sana!" ujarnya dengan tubuh gemetaran.


Tak lama sekolah itu kini penuh dengan polisi. Satu kantong oranye digotong berisi mayat keluar dari toilet perempuan.


Semua heboh dengan kejadian itu. Semua menelisik bukti dan rekan kamera pengintai. Tak ada gerakan mencurigakan. Semua murid diminta tetap dalam kelas.


"Sekar ...," bisik sosok merah mendekati.


"Pergilah ...," pinta Sekar lirih.


"Sekar ... kau harus memilih ... ikut kami ... atau kau kehilangan seluruh temanmu!" bisik sosok merah itu mengancam.


"Assalamualaikum anak-anak!" Ahmad masuk ke kelas Sekar.


Pria itu langsung merasakan aura berbeda di sana. Ahmad segera berdoa dalam hatinya.


"Jangan buru-buru Pak ... kita main sebentar," ujar sosok merah itu.


Seketika ruangan mendadak pengap dan gelap. Teriakan demi teriakan terdengar.


"Sekar ... tolong!"


Bersambung.


Next?