
"Sekar ... ayo ikut kami!' paksa Re.
"Diam Re!" bentak Sekar.
Gadis itu masih berjalan mencari keberadaan teman-temannya. Sekar menghitung ada berapa temannya.
"Semua ada empat puluh tiga orang. Sudah ketemu dua. Tinggal empat puluh orang lagi," gumamnya.
"Sekar ... kau memaksa sekali!' sosok merah berjalan melayang mendekatinya.
"Pergi kau!" usir Sekar sedikit takut.
"Jangan bodoh Sekar!" sosok merah itu menjadi besar dan tinggi.
"Bismillahirrahmanirrahim ...."
Sekar membaca ayat kursi yang ia hafal. Gadis itu harus ada menahan sakit yang luar biasa. Ini lah yang membuat ia malas membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an.
Sementara di kediaman Rita. Tinah bersimpuh di atas sajadah. Wanita itu meminta perlindungan pada putrinya. Ia merasa Sekar sang putri tidak baik-baik saja.
"A'udzu biwajhillahil karim, wabikalimatillahit-tammati lati la yujawizuhunna barrun wa fajrun, min syarri ma yanzilu minas-sama'i, wa min syarri ma ya'ruju fiha, wa min syarri ma dzara'a fil ardhi, wa min syarri ma yakhruju minha, wa min syarri fitanil laili wan nahari, wamin syarri thawariqil laili, wamin syarri kulli tharinin illa thariqan yathruqu bi khairin, ya rahman! artinya: Aku berlindung dengan zat Allah yang Maha Mulia, dengan kalimat-kalimat-Nya yang sempurna, yang tidak ada orang baik dan juga orang durhaka yang melampauinya, dari keburukan yang turun dari langit dan keburukan apa pun yang naik ke langit. Dari keburukan apa saja yang masuk ke bumi dan keburukan apa saja yang keluar dari bumi dan keburukan fitnah-fitnah siang dan malam dari keburukan petaka-petaka malam dari keburukan setiap petaka yang datang, kecuali petaka yang datang membawa kebaikan, wahai zat yang Maha Penyayang!"
Kembali ke labirin di mana Sekar mencari teman-temannya. Gadis itu harus menahan nyeri yang perlahan mulai menghilang.
"Kau baca apa Sekar!" teriak makhluk itu begitu menyeramkan.
Sosok merah mengamuk, beberapa makhluk yang sama dibantai olehnya dengan cara mencabik-cabik mereka seperti selembar kertas. Bunyi teriakan terdengar, darah menciprat dan berbau amis.
"Sekar tolong!" teriak Re.
Makhluk yang menyerupai bocah dengan kepala terbalik itu ditarik kakinya oleh makhluk merah. Tangan Re menggapai-gapai.
"Sekar tolong!" Sekar menoleh.
Salah satu temannya tengah juga ditarik Ri. Makhluk itu menyeret Andi yang berusaha melepaskan diri.
"Andi pernah mengataimu Sekar, ia pernah membullymu!' teriak Re.
"Ingat dia juga yang menoyor kepalamu!" lanjutnya mengingatkan.
Sekar bukan tidak ingat. Andi yang dulu tertawa terus menerus akibat dikelitiki Re.
"Kau sudah menghukumnya waktu itu!" ujar Sekar.
"Aku penolongmu Sekar ... ingat nenekmu, aku yang menolongnya!" ingat Re lagi.
Sekar tak mempedulikan hal itu. Neneknya sudah meninggal dunia. Sekar berlari menyelamatkan Andi. Ri yang kecewa dengan tindakan temannya, berlaku kejam pada Andi. Makhluk itu mengangkat remaja itu tinggi-tinggi.
"Sekar!" teriak Andi ketakutan.
Remaja itu kencing di celana hingga membasahi tangan Ri.
"Bangsat!' maki Ri geram.
Makhluk itu melepas Andi hingga tubuh besar itu jatuh ke tanah hingga bunyi "gedebuk!".
"Huuwwaa Mama, Andi minta ampun!" pekik remaja itu.
Andi meraung memanggil ibunya. Sementara di tempat lain, seorang wanita sedang bersujud meminta sang maha membolak-balikkan hati manusia.
"Ya Allah ... lembutkan hati putraku, kembalikan dia menjadi anak yang manis seperti masa kecil dulu. Ya Allah ... beri juga putraku perlindungan ... hiks ... hiks!"
Di tempat Sekar berada Ri menjerit kesakitan. Makhluk itu nyaris terbakar.
"Lesadhta mevhanda lokhasra!" teriak makhluk merah.
Asap yang menyelimuti Ri perlahan menghilang. Andi menangis memanggil ibunya.
"Ndere ... bungkam dia!" titah Ri.
"Lokh Omnavtha!" seru makhluk merah yang bernama Ndere.
"Andi ... sini!" teriak Sekar yang juga kesakitan.
Andi menggapai tangan Sekar. Remaja laki-laki itu kakinya menggantung di parit berisi banyak binatang berbisa.
"Andi pergi ke arah sana!" tunjuk Sekar pada sebuah jalan.
"Cari cahaya yang sangat terang dari lainnya. Pak Ahmad menolong kamu di sana!" lanjutnya memberi perintah.
Andi langsung berlari, sementara Re dan Ndere begitu juga Ri tak bisa melakukan apa-apa. Andi seperti dibentengi oleh halimun tak kasat mata.
"Pak ... Bapak!" teriak Andi dengan cucuran air mata.
'Nak ... kemari Nak!" teriak Ahmad.
"Bapak ... huuu ... uuu!"
Andi menemukan Ahmad. Sobar dan Dita ada di sana memeluk guru agama mereka. Andi berlari langsung menangis di dada pria itu. Ahmad sampai ikut menangis terlebih tubuh ketiga muridnya gemetaran luar biasa.
"Kita tunggu yang lain ya sayang. Berdoa terus," ujarnya dengan nada tercekat.
Ketiga memilih saling berpelukan. Mereka menanti teman-teman yang lainnya agar bisa pulang bersama. Sementara di luar ruang kelas dua A. Tak ada kejadian aneh terjadi, semua berjalan normal seperti biasa. Hanya saja Bu Sasha sesekali menatap pintu kelas yang tertutup.
"Kenapa tenang sekali?" tanyanya lirih.
Wanita itu memang tadi tak mengajar di kelas itu. Ia mendapat mandat untuk membawa beberapa anak mengikuti perlombaan antar sekolah.
"Tapi kelas dua A memang anak-anaknya begitu tenang jika belajar," ujarnya salut.
Sasha memilih kembali ke ruang guru dan menyusun beberapa laporan yang harus ia berikan pada kepala sekolah nanti.
Kembali ke tempat labirin. Sekar masih berusaha mencari keberadaan teman-temannya. Gadis itu berteriak memanggil satu persatu nama teman sekelasnya itu.
"Leo, Albert, Maria!"
"Mereka beragama berbeda, bagaimana mereka juga ditarik oleh Re dan Ri?" tanyanya gusar.
"Sekar ... Sekar!" kekeh Ndere yang berubah wajahnya seperti Nadia, salah satu teman Sekar.
"Nad?" panggil Sekar.
"Hmmm!" sahut Ndere yang tersenyum simpul.
Sekar memang tak mengenali Nadia dengan baik. Gadis itu memang tak memperhatikan semua teman-temannya. Hanya beberapa saja yang ia ingat karena selalu bersinggungan dengannya.
"Ayo ke Pak Ahmad!" ajak Sekar.
"Nggak ah, enakkan di sini. Aku bisa jadi putri," tolak Nadia.
Sekar lalu tersadar jika yang dihadapannya bukan salah satu teman yang dimaksud.
"Kau bukan Nadia!" sentak Sekar.
"Sekar ... kenapa sih kamu mau susah-susah!" pekik Ndere yang akhirnya merubah rupa sebenarnya.
Ndere memiliki cahaya merah laksana api di sekujur tubuhnya. Tinggi makhluk itu kadang sangat tinggi dan berubah jadi sangat menyeramkan dengan taring yang keluar dari sela bibirnya.
"Pergilah kau!" usir Sekar menerobos tubuh Ndere.
"Uhuk!" Sekar muntah darah.
"Kau harus jadi bagian dari kami Sekar!" bisik Ndere yang memeluk tubuh gadis itu erat.
"Bau tubuhmu itu sangat membuat kami nyaman dan kuat. Aku bisa jadikan kau ratu segala ratu yang pernah ada Sekar!" lanjutnya berbisik.
"Atau kau lihat itu," tunjuk Ndere lalu membalik tubuh Sekar.
Di sana Danar sedang terikat tangannya di sebuah tiang dengan kepala lunglai. Danar menatap mata Sekar penuh kebencian.
"Semua ini karenamu Sekar!" ujarnya lirih.
Bersambung.
eh ... apa iya itu Danar?
Next?