
Dua Lia ada di depan Sekar. Gadis itu tentu bimbang dengan siapa yang benar. Sekar meminta Lia membaca Al-fatihah. Keduanya membaca dengan lancar.
"Baca ayat kursi!" suruh Sekar.
"Aku lupa Sekar," ujar Lia.
"Aku juga lupa," sahut Lia yang lainnya juga.
"Kalau begitu ikuti ucapanku!" titah Sekar.
"Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna muhammadar rasulullah!"
"Asyhadu an laa ilaha illallah, wa asyhadu anna ... rasulullah!" ulang Lia yang lain.
Sekar tak mendengar Lia yang satunya menyebut syahadat dengan benar. Sekar sedikit kebingungan. Lia asli menatap Sekar yang tak mau menatapnya. Gadis itu sedih bukan main, ia sangat menyesal karena sempat berpikiran jahat untuk mencelakai Sekar.
'Andai aku tadi tidak melakukannya. Mungkin sekarang aku sudah pulang,' gumamnya dalam hati.
"Sekar ... aku memang jahat padamu. Aku memang tak pernah menganggapmu ada," ujarnya lirih.
Air mata Lia yang asli membuat Sekar menoleh. Lia palsu tentu kesal dibuatnya. Makhluk yang menyerupai teman Sekar itu tentu tidak bisa menangis. Karena seumur hidup mereka hingga akhir pembalasan tetap pada pendiriannya. Menyesatkan semua manusia agar masuk ke neraka bersama.
"Kau hanya percaya dengan air mata palsu Sekar. Selama ini aku memang selalu membencimu. Aku ingin kau enyah dari kelas!" ujar Lia palsu.
Kebencian dari Lia palsu pun membuat Sekar pusing sendiri. Ia juga tak mengenal dengan baik semua teman kelasnya. Ia jarang berinteraksi karena dunianya hanya bersama dengan para teman hantunya.
"Sekar ... aku mau pulang," ujar Lia asli dengan penuh permohonan.
"Aku bisa pulang sendiri!" ujar Lia palsu.
"Kau mau pulang kemana Lia?" tanya Sekar pada keduanya.
"Ya ke rumahku lah!" sahut Lia palsu.
"Aku juga ingin ke rumah, tapi aku tak bisa keluar dari sini tanpa bantuanmu!" pekik Lia asli.
Lia palsu tentu terdiam, ia lupa jika manusia tak mungkin dengan mudah keluar dari sini. Lia palsu pun berubah wujud jadi sosok yang sangat menyeramkan.
Kulit halus mulus retak, urat-urat bertonjolan. Bulu-bulu mulai m majang. Kuku-kuku meruncing perlahan dan berubah warna jadi hitam. Tubuh seksi Lia berubah besar dengan punggung membungkuk. Wajah cantiknya pun berubah, mulutnya maju hingga berapa senti dan keluar taring panjang dari sela bibirnya.
Mata indah tiba-tiba membesar lalu berwarna merah. Kepalanya membasar dengan rambut yang menutupi wajah, telinga ikut memanjang. Sosok yang tadi cantik kini berubah sangat menyeramkan.
Lia berteriak ketakutan, Sekar ikut terjatuh karena begitu takutnya. Ia merangkak mendekati Lia dan keduanya saling berpelukan.
"Grok!" bunyi makhluk menyeramkan itu.
"Sekar ...," panggil makhluk menakutkan itu.
Lia sesak napas, ia mengidap asma akut. Napasnya satu-satu, ketakutan melandanya. Sekar menangis mencoba menenangkan teman kelasnya. itu.
"Bismillahirrahmanirrahim!" ujarnya lirih sambil terus merogoh kantung seragam temannya.
Sekar menemukan alat penghisap dan langsung memberikannya ke mulut Lia. Gadis itu menghirup alat itu dengan rakus. Air matanya tak berhenti mengalir.
"Berdoalah Lia ... berdoa," pinta Sekar lirih.
"Rooooaaaaar!" pekik makhluk itu belingsatan.
Semua makhluk astral lari tunggang langgang. Lia berhasil memenangkan diri. Gadis itu berkali-kali meminta maaf pada Sekar.
"Maafkan aku ... hiks ... hiks ... maafkan aku!"
"Cari cahaya paling terang dari semuanya. Sudah banyak teman yang menunggu di sana," ujar Sekar lagi.
"Kamu?"
"Aku masih harus mencari sembilan belas lainnya," ujar Sekar lirih.
Lia kembali memeluk Sekar. Gadis itu berlari menuju jalan yang ditunjuk oleh temannya itu. Ia mendapati banyaknya teman yang berkumpul dan ada guru agama mereka di sana.
"Pak ... Bapak!" teriaknya..
"Nak ... sini Nak!" panggil Ahmad lega.
Lia berlari dan langsung menangis dipelukan teman-temannya. Beberapa tangannya lecet karena tanaman yang melilitnya tadi.
"Kamu nggak apa-apa?" tanya Linda sedih sambil mengusap lengan Lia.
Lia menggeleng, baginya luka ini akibat kesalahannya sendiri. Ia malah kepikiran dengan luka yang didapati Sekar selama mencari dirinya.
"Kita tunggu yang lain baru bisa pulang. Kita doa lagi yuk!" ajak Ahmad pada semua muridnya.
Sementara itu di sekolah tampak tak ada yang terjadi. Semua kelas melakukan jam pelajaran yang berlangsung. Semua melewati kelas yang seluruh muridnya di sandera oleh jin dengan kekuatan tinggi.
Para guru melewati pintu kelas yang tertutup rapat. Tak ada yang curiga akan ketenangan di dalamnya. Karena memang kelas dua A ini sangat tenang jika tengah belajar.
Kembali ke labirin. Sekar kembali berjalan mencari keberadaan teman-temannya. Langkahnya makin ringan setelah banyak anak yang ia temukan.
Ndere yang tadi membelah dirinya menjadi Lia tampak sibuk menyempurnakan bentuknya akibat doa yang dilancarkan oleh orang tua Lia dan Sekar.
"Kita makin lama makin lemah Ndere," ujar Re yang hangus separuh tubuhnya.
Makhluk itu tak bisa lagi menyempurnakan tubuh karena baru melakukannya belum lama tadi. Kekuatannya tak sehebat Ndere.
"Kau tau aku tak bisa mengembalikan sukma mereka, tidak seperti ketika mengambil sukma mereka yang memang kosong akibat melamun dan hati yang kalut," jawab Ndere.
"Jadi ... aku tak mau mati konyol dengan membiarkan banyak anak berdoa lalu menghancurkan semua ini. Aku harus kembali menolong Sekar layaknya teman!" ujar Ri..
Ri pun meninggalkan Ndere. Re pun berlari menyusul Re. Ndere tak bisa mencegah, makhluk menyeramkan itu akan mencoba sekali lagi mengambil sukma Sekar ikut bersamanya.
"Kita harus ke neraka bersama wahai manusia!" ujar Ndere dengan seringai yang begitu menyeramkan.
Sesuai janji RI dan Re membantu Sekar menemukan teman-temannya. Mereka tak mau mati konyol karena terbakar akibat doa-doa yang dilancarkan oleh para murid yang telah berkumpul. Tetapi, benar kata Ndere jika mencari sukma yang telah terlepas lebih sulit dibanding menariknya keluar dari raga sendiri.
"Hendro ... Leo ... Sri!" teriak Sekar menyebut asal nama-nama.
Sungguh Sekar tak ingat semua nama temannya. Jika tak bertemu muka, Sekar kesulitan akibat tak pernah berinteraksi dengan semua teman kecuali Danar.
"Danar ... di mana kau!" teriaknya.
Sedang di tempat yang sama namun di ruang labirin lain. Danar juga berteriak mencari keberadaan teman-temannya. Semua doa yang ia ketahui mendadak hilang dari ingatanmua. Remaja itu sangat ingat ia pergi dengan marah pada sang ibu.
Danar terduduk lemas, pakaiannya kotor karena mencari keberadaan teman-temannya. Ia mengingat bagaimana ia sangat kasar mengatai sang ibu.
"Maaf Bu ... maafin Danar. Tapi Danar cinta sama Sekar,' gumamnya lirih.
Danar menghela napas panjang. Sang ibu menasihatinya agar tidak berpacaran karena memang dilarang oleh agama. Nasihat sang ibu malah membuat Danar marah dan membentak ibunya kasar. Lalu pergi tanpa mengucap salam.
Bersambung.
next?