
Tiga hari sudah mereka telah menyusun rencana pulang. Tono telah mengumpulkan semua uang hasil pendapatannya. Pria itu bisa kembali menempati rumah peninggalan mendiang ibunya kemarin.
"Kita bisa buat toko kelontong di sana Bu, jualan pulsa juga," ujar Tono.
"Iya Pak, Ibu juga punya tabungan untuk sekolahnya Sekar hingga ia lulus SMA. Di sana biaya jauh lebih murah," sahut Tinah.
"Ibu nggak mau jadi beban di sini, Ibu kasihan sama Nyonya dan Tuan jika terus berseteru dengan Non Brenda," ujar Tinah.
"Ibu juga mau menjaga perasaan putri ibu sendiri," lanjutnya.
"Iya Bu, apa lagi Tuan muda Charlie katanya tadi membentak Sekar agar berhenti menyusahkan Nyonya," sahut Tono sedih.
Sekar masih bersekolah seperti biasa. Gadis itu diantar oleh Reynold. Pemuda itu tentu berbeda perlakuan dengan Sekar. Gadis itu banyak merona akibat digoda oleh anak majikannya.
"Tuan, jangan seperti ini. Saya sudah punya kekasih," ujarnya lirih.
Gadis itu malu sekali. Ia sadar jika hal ini adalah salah.
"Kan hanya pacar ... bukan suami. Kecuali Danar adalah suamimu. Baru aku tak boleh mengganggumu," sahut Rey tersenyum menggoda.
"Tapi Tuan juga pasti tak mau kekasih Tuan selingkuh kan!" ujar Sekar berani.
Reynold terdiam, Sekar menutup mulutnya dan memaki dirinya sendiri karena begitu lancang bicara.
"Iya ... kau benar. Kalau begitu kau putusin pacarmu itu!" ujar Reynold santai.
"Ih ... alasannya apa saya harus putusin Danar?' tanya Sekar tentu menolak ide tuan mudanya.
Reynold menghentikan mobilnya dengan menepikan kendaraan itu di sebelah kiri jalan. Sekolah Sekar masih jauh, mereka berada di jalan yang cukup sepi.
"Tu-tuan," cicit Sekar ketika Reynold memajukan tubuhnya mendekati Sekar. Tubuh Sekar sampai harus memepet ke pintu mobil. Rey mencium pucuk hidung gadis itu.
"Aku pastikan kau adalah istriku Sekar," ujarnya lirih.
"Saya hanya anak pembantu Tuan," jawab Sekar lalu menurunkan pandangannya.
Sungguh Rey menahan godaan untuk tidak mencium bibir Sekar yang merah muda alami. Gadis itu memang sangat cantik, bahkan rambutnya kini diikat ekor kuda menambah fresh wajahnya.
"Aku hanya butuh dua tahun lagi untuk mengikatmu kuat-kuat!" ujar pemuda itu tegas.
"Tuan ... tolong hargai diri anda," ujar Sekar lirih.
"Aku sudah mengambil keputusan Sekar!" ujar Rey lalu kembali ke posisinya.
Mobil bergerak perlahan, sekolah Sekar sudah ada di ujung mata. Reynold sengaja memelankan laju mobilnya agar terus berinteraksi dengan Sekar.
"Saya masih sekolah Tuan!" sahut Sekar.
"Saya masih ingin melanjutkan cita-cita saya. Mau angkat derajat orang tua saya agar tak dikatai pembantu terus!" lanjutnya penuh emosi.
"Apa bedanya denganku Sekar. Aku juga hanya bantuin kerjaan papaku," ujar Rey santai.
Mobil berhenti, Sekar hendak turun namun Reynold menahannya. Sebuah ciuman berlabuh tepat di bibir Sekar. Gadis itu membola.
"Ciuman pertamaku!" desisnya lirih.
"Aku yang pertama dan aku yang terakhir Sekar!" tekan Reynold.
"Tapi kita berbeda Tuan. Tuan adalah langit sedang aku bumi," jelas Sekar ingin menyadarkan tuan mudanya.
"Apa langit bisa dikatakan langit jika tanpa bumi?" tanya Reynold dengan pandangan penuh pada gadis yang telah mencuri hatinya.
"Saya harus turun," Sekar lalu membuka pintu setelah melepas sit beltnya.
Reynold tersenyum, pemuda itu bukan tak tau rencana ayah dan ibu Sekar. Ia juga memiliki rencana dan tidak ada yang tau rencananya itu.
"Akan kubuat kau bersinar sayang. Kau harus mengalahkan adikku yang sombong itu!" monolognya.
Kendaraan mewah itu pun berlalu dari sana. Sekar duduk di kursi yang bergeser sendiri. Ri tersenyum padanya.
"Hmmm!" helaan napas Sekar begitu terasa.
Gadis itu pun duduk, satu persatu teman-temannya datang. Danar lalu memberi satu batang coklat untuk kekasihnya.
"Hari jadi kita yang ke seratus dua puluh satu hari!' ujarnya.
Sekar menatap Danar yang tersenyum padanya. Lagi dan lagi Sekar menghela napasnya.
'Perempuan macam apa aku ini!' umpatnya pada diri sendiri dalam hati.
Sejurus kemudian ia pun fokus pada guru yang ada di depan. Sedang di mansion Bastian. Pria itu ditelepon oleh sepupunya dari Amerika perihal nilai sang putri.
"Itu ... itu ...." Brenda menunduk.
"Ini yang kau bilang bisa diandalkan itu?" tanya pria itu sangat kecewa.
"Itu soalnya sulit!" elak Brenda membela diri.
"Ayo bertaruh denganku, aku bisa mengerjakan soal ini hanya dalam waktu sepuluh menit!" tantang Bastian.
"Pa," tegur Rita.
"Ma ... lihat ini Ma. Mestinya dia tak boleh pulang, dia harus ikut remedial semua mata kuliah!" desis Bastian menahan emosinya.
Rita melihat skrip nilai putrinya. Semua nyaris bernilai D, paling tinggi C itu pun. minus.
"Astaga ... apa ini Brenda. Bagaimana kata-katamu tentang mempertahankan kehidupan jika nilaimu seperti ini?" tanya wanita itu juga tak percaya.
"Itu hanya ujian, aku bisa jika praktek!" sahut Brenda tak mau kalah.
"Jika nilaimu seperti ini. Siapa yang percaya jika praktekmu bagus?" tanya Bastian nyaris berteriak.
Brenda diam tak berkutik. Ia tak menyangka jika Pamannya akan mengadu soal nilainya yang buruk itu.
"Sekarang kau segera berkemas. Kau pulang ke Amerika. Jangan pulang sebelum semua nilaimu B!" tekan Bastian setengah memerintah.
"Aku nggak mau!" tolak Brenda.
"Kalau begitu, aku akan mengirim mu ke Eropa bersama kakek dan nenekmu tanpa fasilitas apapun!" ancam Bastian tak main-main.
"Jangan menguji kesabaran Papa Brenda. Kau sangat tau apa yang terjadi pada hidupmu jika kau membangkang!" lanjutnya mengancam.
"Kenapa Papa kejam begini!" teriak Brenda berani.
"Apa semua ini gara-gara Sekar!" lanjutnya menantang.
"Anak tak tau diuntung!" Bastian marah luar biasa.
Tangan terangkat dan mengayun cepat. Plak! Bunyi begitu keras terdengar. Brenda tak merasakan pipinya sakit.
"Mbok!" Rita menahan tubuh Tinah yang nyaris tersungkur akibat tamparan tuannya.
"Mbok?" Brenda terdiam.
Tinah yang datang membawa pakaian yang telah diseterika melihat tangan tuannya hendak menampar Brenda langsung menghalangi.
"Saya tidak apa-apa Tuan, Nyonya," ujar wanita itu yang masih merasa pusing.
"Tuan dan Nyonya ... saya mohon jangan kasari Nona Brenda!" pinta Tinah langsung bersimpuh pada majikannya.
"Saya tidak mau Tuan memakai kekerasan terlebih ada nama anak saya disebut di sana," lanjutnya lalu cepat menghapus air matanya.
"Ijinkan saya berhenti dari pekerjaan ini Tuan, saya mau kembali ke kampung halaman," ujarnya lagi.
"Mbok jangan ...," pinta Rita.
"Maaf Nyonya, saya tak mau putri saya juga terluka di sini. Cukup, saya sangat-sangat mengucap terima kasih pada kebaikan Tuan dan Nyonya,"
"Mbok ...," Bastian merasa bersalah.
"Tuan bersumpahlah jangan mengangkat tangan lagi pada Non Brenda," pinta Tinah memohon sampai menggosok kedua tangannya.
"Aku juga minta maaf Tinah. Aku terlalu emosi ," ujar pria itu menyesal.
"Jangan pada saya Tuan. Tapi pada Nona Brenda. Tuan tentu tidak tau jika akan lebih menyesal jika tangan itu benar-benar mengenai pipi Non," ujar Tinah terisak.
Brenda masih setia berdiri karena shock. Bastian tau jika perbuatannya sangat salah. Pria itu lalu memeluk putrinya.
"Papa tadi mau nampar Brenda?" tanya gadis itu lirih.
"Maaf sayang," ujar Bastian.
Brenda menangis di dipelukan ayahnya. Sebenarnya ia juga sangat salah memancing kemarahan sang ayah. Gadis itu menatap Tinah yang beranjak perlahan.
'Andai Mbok nggak halangi tamparan itu?' gumamnya dalam hati.
Bersambung.
Next?