
Waktu berlalu begitu cepat. Ujian akhir SMP telah berakhir. Sekar didaulat sebagai juara umum dengan nilai tertinggi bersanding dengan Danar.
"Kamu jadi masuk STM, Nar?" tanya Sobar yang juga mendapat nilai cukup bagus.
"Iya, biar cepet kerja," jawab Danar.
"Kalo kamu?" lanjutnya bertanya.
"Aku disuruh Bapak STM juga, cuma kan mahal," ujar Sobar menundukkan kepala.
"Keknya aku kerja dulu cari uang baru sekolah lagi," lanjutnya sedih.
"Yang sabar ya Bar. Sama kek nama kamu Sobar," ujar Danar menepuk bahu teman bongsornya itu.
Sobar mengangguk. Daniel adalah anak paling kaya di antara semua anak. Remaja itu mendatangi Sobar.
"Lu mau nggak kerja part time Ama gue di bengkel Bokap gue?" tawarnya.
"Yang bener Lu?!" tanya Sobar tak percaya.
"Iya bener! Lu juga bisa Nar, kalo mau!" jawab Daniel sekaligus menawarkan Danar.
"Iya gue mau!" seru Danar langsung.
"Ya udah yok. Tuh, bokap gue, kita ke sana. Gue juga butuh temen yang mau gue ajak kerja bareng!" ucap Daniel lagi.
Sebenarnya Danar mendapat beasiswa di salah satu sekolah kejuruan swasta ternama. Namun tawaran Daniel lebih menarik dan sekolah yang dimasuki Daniel dekat. Danar memilih sekolah negeri itu dibanding beasiswanya.
"Pengalaman kerja belum tentu dapat jika ambil beasiswa," ujarnya memberi penjelasan pada sang ayah.
"Ya sudah. Ayah hanya ingin kamu tidak menyesal dengan semua keputusan kamu!" sahut pria itu tak mau memaksa.
"Insyaallah Danar akan bertanggung jawab atas semua keputusan yang Danar buat!" jawabnya tegas.
Remaja itu kini mendatangi Sekar yang masih menjadi kekasihnya. Danar menggenggam tangan Sekar. Sebenarnya ia begitu berat berpisah dengan Sekar, tetapi dirinya juga tak mau mengikat gadis itu pada sebuah hubungan yang tak jelas.
"Kita pisah baik-baik ya," ujarnya dengan suara lirih.
Walau pacaran mereka tak seperti yang lain. Namun Sekar sedikit sedih dengan kata-kata putus dari Danar.
"Jika kita berjodoh, kita pasti bersatu lagi. Namun bila tidak ...," Danar menghentikan ucapannya.
"Kita tetap teman ya?" Sekar mengangguk setuju.
Gadis itu makin cantik dengan tinggi 164cm dan bobot 58kg. Bentuk tubuhnya juga mulai terlihat. Rambut lurus panjang dan lebat hingga pinggang yang tergerai begitu saja.
"Kamu masuk SMA mana?" tanya Danar.
"SMA Bhakti," jawab Sekar lirih.
"Sekolah mahal itu," kekeh Danar.
"Aku dapat beasiswa 100% dan berlanjut jika tetap mempertahankan nilaiku," jawab Sekar dengan wajah tertunduk.
Reynold menatap gadis yang telah ia ikat dengan pandangan cemburu. Sungguh pemuda itu mati-matian menahan amarahnya ketika tangan gadisnya dipegang oleh pemuda lain.
"Jangan marah sayang. Bukankah kau tau jika Danar adalah kekasih dari Sekar," bisik Bastian menenangkan putranya.
Memang keluarga mantan majikan dari Tono datang. Brenda yang ingin sekali mengikuti perayaan kelulusan adik dan calon kakak iparnya itu.
Semua murid SMP Negeri IX petang lulus 100% dengan nilai kumulatif 6,8. Sekolah itu sampai masuk peringkat dua puluh besar.
"Sekar liburan sama Kakak ya ke Singapura!" ajak Brenda antusias.
"Maaf Kak. Aku nggak bisa. Kasihan Bapak sama Ibu. Yang jualan siapa?" tolak Sekar.
"Yah," keluh Brenda kecewa.
"Maaf Kak," ucap Sekar merasa bersalah.
"Sayang, jangan paksa Sekar ya Nak, dia punya tanggung jawab yakni membesarkan usahanya. Kamu mau kan calon kakak ipar kamu jadi dokter plus pengusaha sukses?" terang Rita memberi pengertian.
Brenda mengangguk tanda mengerti. Gadis itu naik semester dengan nilai cukup baik. Ia banyak berubah bahkan sering belajar dengan Sekar. Anak mantan maid di rumahnya itu memang sangat genius.
Kini mereka ada di rumah sederhana milik Tono. Pria itu telah memiliki kendaraan roda dua pribadi. Kafe milik Sekar cukup ramai oleh anak-anak sekolah, bahkan anak kuliah juga pekerja kantoran juga datang ke sana.
"Yah ... tutup ya?' ujar salah satu pelanggan ketika datang ke kafe.
"Oh ya udah ... selamat ya!" ujar pelanggan itu yang kebetulan seorang pria.
"Makasih Pak," sahut Sekar dengan senyum indah.
Pria itu nampak terpana melihat senyum gadis yang menyambutnya di depan kafe.
"Ehem!" deheman keras dan tatapan tajam langsung dipancarkan Rey.
Pria itu pun mengangguk, lalu masuk dalam mobilnya dan berlalu dari sana.
"Masuk Sekar!" perintah pemuda itu.
"Iya Kak," sahut gadis itu menurut.
Sekar dan Rey masuk. Brenda mendapat laporan keuangan mingguan. Gadis itu sangat senang sekali.
"Kumpulin aja, Dek. Nanti kita bisa beli ruko yang agak besar agar pelanggan yang ditampung agak banyak!" ujarnya memberi ide.
Sekar mengangguk setuju. Gadis itu sudah merencanakan seperti itu. Ia pun telah mencoba mengambil pinjaman. Sayang, ia masih dibawah umur, sedang Tono menolak jika menyangkut pinjam meminjam.
Tak lama Bastian pulang bersama istri dan tiga anaknya. Sekar sudah membaringkan tubuhnya yang penat. Ia sedang mendapatkan siklus.
"Sekar ... kakak akan memberimu peringatan. Dua tahun lagi Kakak insyaallah akan melamarmu!" tekan Reynold sebelum pulang.
"Kakak harap kamu jaga pergaulan dan tidak pacaran!" lanjut pemuda itu melarang.
Sekar hanya diam saja ketika mantan tuan mudanya meneguhkan kembali keinginannya untuk mempersunting Sekar.
"Kita bisa bersama ketika kau semester dua," lanjutnya.
"Pakai ini!" titahnya sambil menyerahkan kotak beludru warna merah.
Sebuah kalung emas dengan liontin dua cincin dengan mata berlian. Sekar menatap ayahnya, Tono mengangguk setuju begitu juga Tinah. Rita membantu memakaikan kalung itu di leher Sekar.
"Kamu cantik sayang," puji Rita lalu mengecup kening Sekar.
"Nak ... kamu sudah tidur?" tanya Tinah membuyarkan lamunan putrinya.
"Ah ... Ibu," sahut Sekar sedikit kaget.
Tinah duduk di pinggir ranjang putrinya. Ia mengusap kepala Sekar.
Selama satu tahun setengah ini, Sekar tidak lagi berinteraksi dengan para makhluk halus. Entah gadis itu menyembunyikannya atau tidak Tinah tak tahu.
"Nak ... Ibu mau tanya. Tapi jangan marah ya?"
"Tanya apa Bu?"
"Apa kamu masih temenan sama makhluk-makhluk itu?" tanya Tinah hati-hati.
Sekar memandang raut kecemasan pada ibunya. Gadis itu menggeleng. Tinah belum percaya dengan jawaban sang putri.
"Tidak lagi Bu. Alhamdulillah," jawaban Sekar melegakan Tinah.
"Alhamdulillah ... jika memang tidak lagi. Ibu khawatir sayang," ucap wanita itu cemas.
"Ibu jangan khawatir, Sekar baik-baik saja sekarang," ucap gadis itu menenangkan ibunya.
Tinah mengangguk, ia pun berdiri lalu mengecup kening Sekar penuh kasih sayang, lalu ia pun pergi dari kamar itu.
Sekar menghela napas. Sudut matanya melirik salah satu pojok ruang kamarnya.
Di sana banyak pasang mata merah menatapnya dengan pandangan permohonan. Kali ini Sekar mengunci mereka di sudut kamarnya.
"Sekar, kami ini temanmu tau!" Re berteriak kesakitan.
Sekar tak bergeming. Gadis itu kini belajar banyak, bagaimana mengendalikan para arwah yang mengganggu.
"Nikmati saja Re," ujarnya begitu lirih.
Bersambung.
Oh ... uh ...
Next?