
Ghana memakai gaun terbaiknya. Memang ia tidak diundang ke pernikahan mantan atasannya itu. Ia hanya mengikuti nalurinya jika pesta akan di adakan di kediaman atasannya. Gadis itu sama sekali buta acara.
"Untung aku hafal di mana mansion Tuan Reynold. Pasti di tempat pria itu!" ujarnya begitu yakin.
Gadis itu menghitung uang yang ia bawa. Ia mengangguk, dengan begitu percaya diri.
"Aku akan jadi pahlawan dan Rey akan berlutut padaku!"
Ghana melangkah keluar dari kamar sewanya. Gadis itu pun turun disapa oleh beberapa teman serumah yang menyewakan kamar-kamar.
"Wah cantik amat. Mau kemana nih?" tanya salah satu penghuni.
Ghana hanya tersenyum saja. Gadis itu memang tak begitu mengakrabkan diri dengan semua penghuni rumah itu. Ia naik mobil yang datang menjemputnya.
"Udah ... jangan belaga sok akrab sama dia," ucap yang lain memperingati.
"Dari dulu dia kan gitu," lanjutnya.
Sedang di mobil. Ghana melihat sisi jalan yang bergerak mundur. Gadis itu tersenyum dengan sangat bahagia. Ia merasa hidupnya sebentar lagi akan berubah 180 derajat.
"Wah ... senyum-senyum sendiri, Neng. Keknya bahagia amat!" ucap sang supir mencoba ramah.
Ghana hanya melihat sekilas spion yang menampakan wajah sang supir. Pria itu hanya tersenyum kecut melihat penumpangnya tak merespon ucapannya. Malah tampak penumpang mobilnya tak suka dengan hal itu.
Sang supir akhirnya memilih diam dan tak lagi berusaha mengajak ngobrol penumpangnya. Setengah jam kendaraan yang ditumpangi sampai di sebuah hunian mewah. Tak ada tanda-tanda pesta di sana. Ghana mengerutkan keningnya.
"Sudah sampai Mba!" ujar sang supir.
Gadis itu pun turun. Mengira jika pesta diadakan di halaman belakang jadi pasti sepi.
"Mobil-mobil lain pasti ada di dalam!" monolognya begitu yakin.
Ghana melihat ada satpam di sisi gerbang. Ia begitu percaya diri mendatanginya, ia cukup terkejut jika mantan atasannya tidak menggelar pernikahan di hunian mewahnya tetapi di tempat mempelai wanita.
"Mungkin jam segini akadnya udah beres, malah udah pada makan siang di kafenya Non Sekar," ujar satpam lagi memberi info.
"Apa ... sudah akad?" desis Ghana tak percaya.
"Iya udah sah jadi suami istri!" jawab satpam tegas.
Ghana memutar akal, ia mengatakan jika pura-pura lupa dan tak ingat di mana pestanya.
"Undangannya nggak bawa jadi lupa Pak. Bisa minta tolong di mana pestanya?" tanyanya menghiba.
Satpam pun mengatakan di mana letak kafe itu. Lagi-lagi Ghana terkejut, ternyata kafe yang kemarin dia kunjungi adalah kafe milik rivalnya.
"Makasih ya Pak!" ujarnya sedikit bersungut-sungut.
Satpam hanya mengangguk. Ghana harus kembali memesan taksi daring untuk pergi ke kafe itu. Jarak yang lumayan sedikit menguras uangnya. Setelah mendapat kendaraan. Gadis itu menaiki lagi kendaraan menuju tempat yang ingin disampainya.
Setengah jam berlalu. Suasana pesta sederhana di kafe milik Sekar begitu elegan dengan dekorasi bunga-bunga hidup nan cantik, dihiasi juntaian kain warna emas dan hitam yang didominasi warna emas. Sepasang pengantin duduk begitu serasi dan tampak mesra. Tangan Reynold tak pernah melepas genggamannya pada tangan sang istri.
"Tuan Rey, selamat ya!" ujar salah satu kolega memberi selamat.
Rey dan Sekar berdiri menyambut tamunya dengan senyum bahagia. Mereka berfoto. Banyak tamu undangan hadir dari kalangan pebisnis ternama, bahkan ada juga pejabat yang juga datang di sana.
"Katanya Tuan Rey mau mengikuti jadi Paslon walikota?" tanya salah satu pejabat yang hadir.
'Itu hanya isu yang salah, Pak!" jawab Rey.
"Tapi nggak apa-apa kok. Anak muda seperti Tuan wajib jadi pemimpin, biar bisa jadi contoh pemuda-pemudi lainnya agar berperan aktif untuk memakmurkan negeri ini!" lanjut pria pejabat negara itu.
Rey memilih tersenyum menanggapi, ia bukan tidak ingin mengikuti politik. Belum tertarik pastinya.
Kini kedua manusia yang baru mengikat janji itu duduk di meja makan untuk bersantap bersama. Tidak ada tradisi yang harus diikuti karena mereka memang tidak tau harus pakai tradisi yang mana.
Sedang di halaman parkir. Ghana sudah sampai. Gadis itu menatap jejeran karangan bunga, ucapan selamat dari berbagai pihak terpajang di sana. Ghana tersenyum sinis.
"Sekar ... kau pasti malu sebentar lagi ... kau janda ... dan aku bersedia menggantikanmu!" gumamnya begitu pelan.
Ghana memastikan semua tampilannya. Ia memeriksa dompet yang ia bawa, satu ponsel ia keluarkan, memeriksa apa jepretannya masih aman.
"Aman ...."
"Copet!" teriaknya.
Gadis itu mengejar sosok pria bertopi yang berlari kencang. Ghana berteriak-teriak sambil menunjuk orang yang merampas ponselnya.
"Copet!"
Orang-orang langsung ikut mengejar. Ghana berhenti, kakinya terkilir karena memakai hills tinggi.
"Auhh!" keluhnya kesakitan.
"Mba ... nggak apa-apa kan?" tanya seorang wanita menenangkannya.
"Duduk Mba ... duduk!" ajak wanita itu.
Ghana duduk, beberapa orang menatap iba padanya. Gaun yang ia kenakan sangat tak pantas di sana. Beberapa orang yang mengejar kembali, mereka menggeleng tanda kehilangan copet tadi.
"Ilang Mba ... nggak ketemu,"
Menangislah Ghana. Semua menenangkannya.
"Lapor polisi aja Mba, pasti dibantu kok," saran seseorang.
Mereka mengantarkan Ghana ke kantor kepolisian. Laporan diterima, masalahnya yang dicuri adalah ponsel iPhone keluaran terbaru, harganya juga lebih dari lima belas juta.
Ghana menatap gedung yang masih menyelanggarakan perhelatan itu. Air matanya luruh.
Krriiuuuk! Bunyi perutnya begitu keras hingga membuat polisi yang mengantarkannya menoleh.
"Mba belum makan?" Ghana menggeleng.
Petugas berbaik hati dan membawanya makan di sebuah warung nasi sederhana. Ghana benar-benar menebalkan muka untuk duduk dan makan.
Kini ia sampai di tempat ia menyewa kamar. Gadis itu merebahkan diri di kasur.
"Sebaiknya aku pulang kampung," gumamnya lirih.
Sedang di salah satu sudut jalan. Charlie didatangi sosok pria bertopi dan menyerahkan benda pipih yang berhasil dirampasnya.
"Oh ... jadi gambar ini yang didapat?"
"Benar Tuan!" jawab pria itu.
Charlie meriset ponsel itu hingga bersih. Lalu menyuruh pria suruhan ayahnya untuk mengembalikan benda itu ke pemiliknya melalui jasa kurir.
"Palsukan alamat pengirim!"
"Baik Tuan!" pria bertopi itu pergi melaksanakan perintah tuannya.
"Ghana ... Ghana ...," geleng Charlie menyayangkan.
"Walau bukti itu nantinya akan membuatmu malu. Tapi aku tidak mau kau menghancurkan pernikahan Kakakku!" lanjutnya bermonolog.
Charlie masuk lagi ke dalam bangunan itu. Ia kini lega, setidaknya suruhan ayahnya itu bisa melakukan tugasnya sangat baik.
"Sudah beres Pa," bisiknya pada sang ayah.
Bastian mengangguk, pria itu nyaris dibuat repot jika Ghana benar-benar merusak acara pernikahan putranya itu. Walau bukti gadis itu tidak valid. Tetapi keributan seperti itu akan dimanfaatkan oleh orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
Sekar yang tengah berbahagia, nampak selalu tersenyum. Gadis itu mensyukuri satu hal yang seperti menghilang dari dirinya.
"Good bye My Ghost Friends!" gumamnya begitu lirih.
Sedang jauh di sudut sisi bangunan. Ratusan pasang mata merah menatap kemeriahan pesta.
"Sekar ... Sekar!"
Bersambung.
Next?