My Ghost Friends

My Ghost Friends
TEMAN-TEMAN SEKAR



"Sekar!" teriak Ahmad.


Pria itu terbangun, rupanya ia tadi bermimpi jika salah satu muridnya tersekat oleh rayuan setan. Para guru yang ada di sana terkejut melihat salah satu rekannya seperti habis berlari.


"Pak, anda tidak apa-apa?" tanya salah satu guru.


"Bapak tadi meneriakkan Sekar. Ada apa dengan Sekar?" lanjutnya bertanya.


"Tidak ada Pak ... tidak ada," jawab Ahmad. "Saya hanya mimpi buruk."


"Oh ya Pak, anda dipanggil oleh kepala sekolah," ujar salah satu guru memberitahu.


Ahmad mengangguk, pria itu pun berjalan menuju kantor kepala sekolah. Ia mengetuk pintu sebelum masuk.


"Masuk Pak!" sahut orang di dalam.


Ahmad masuk, kepala sekolah yang seorang perempuan tengah menghadap jendela dengan tubuh tegap. Suasana mendadak sedikit pengap. Ahmad seketika merasa sesak di dada yang seperti ditekan batu besar. Pria itu terus beristighfar.


"Jauhi Sekar!" suara wanita yang berdiri di depannya berubah jadi berat dan serak.


"Tidak!" tolak Ahmad.


"Kau akan mengacaukan semuanya!" tekan wanita itu lalu berbalik.


Wajah Ibu Devi datar dengan sorot mata kosong dan gelap. Seakan dirasuki, wanita itu menyeringai sangat menyeramkan.


"Tidak ada yang kacau jika semua atas kehendak Allah!" tekan pria itu. "Aku tak akan membiarkan muridku masuk perangkap kalian!"


"Jangan sombong Ahmad!" pekik wanita itu dengan suara dobel.


Ahmad terus membaca doa yang ia tahu. Pria itu sangat iba dengan keadaan kepala sekolah yang pastinya sangat sakit itu ketika tubuhnya dijadikan media oleh makhluk lain.


Wanita itu terjatuh dan sebuah bayangan gelap keluar dari tubuh kepala sekolah dengan merangkak ke atas plafon. Tak lama bau aroma gosong. Makhluk itu menjerit karena hangus terbakar.


Ahmad keluar dan berteriak memanggil orang-orang karena kepala sekolah pingsan. Beberapa guru perempuan menggotong wanita itu ke UKS. Hanya lima menit ia sadar dalam keadaan linglung. Ahmad merasa jika sekolah ini perlu pembersihan secara menyeluruh.


"Sekar?" pria itu mengingat sesuatu.


Ahmad mencari keberadaan gadis itu. Sekar duduk di kelas seperti biasanya, tak ada yang aneh. Bahkan gadis itu mengangguk hormat dan tersenyum. Ahmad bernapas lega.


"Ah ... ternyata tadi hanya mimpi buruk.'


Sepeninggalan Ahmad, Sekar kembali berwajah datar. Tak lama semua masuk kelas dan kembali belajar. Della tak lagi masuk sekolah semenjak itu. Gadis itu dikabarkan jatuh sakit.


"Besok kita jenguk Della ya. Dia masuk rumah sakit," ajak guru biologi, wali kelas mereka.


"Baik Bu!" sahut semua anak kompak.


"Sekar," gadis itu hanya melirik di sisi kanannya.


Sosok tampan tengah tersenyum padanya. Hati Sekar langsung berbunga-bunga. Bahkan sosok itu berani mengecup bahu Sekar.


"Diamlah ... aku mohon," bisik gadis itu kegelian.


Danar menatap teman di sisinya. Ia merasa perubahan besar pada diri Sekar semenjak kejadian kemarin.


Bel istirahat pertama berbunyi. Beberapa murid memilih keluar dan sebagian di dalam, mereka tengah berdiskusi tentang acara menjenguk Della besok.


"Kita sumbangan aja buat buah tangan," saran salah satu murid.


"Eh .. gue denger, Della anak orang kaya, apa mereka mau sama buah tangan yang nggak seberapa?" tanya salah satunya lagi.


"Lah, kalo kita maksa ya nggak bisa dong!" sahut lainnya.


"Kita minta dua puluh ribu peranak buat beli buah impor?" saran lainnya.


"Anggur, Apel yang di mall itu!" sahut lainnya.


"Mau berapa kilo?" tanya yang lain.


"Masa anggur aja?" lanjutnya.


"Ah ... bingung mau kasih apa sama orang kaya!" sela lainnya menyerah.


"Ya sudah, besok kita menolak saja Bu guru untuk menjenguk Della,"


Lalu mereka menoleh pada Danar. Semua tau jika Della menyukai Danar. Gadis itu selalu mengatakan jika Danar adalah kekasihnya.


"Dan, kamu aja jenguk Della besok sama Bu guru. Kalo kamu yang kasih pasti Della seneng banget!' ujar Didi.


"Ogah ... males gue!" tolak Danar langsung.


"Kalian lupa apa ortu Della ngatain gue apaan!" lanjutnya mengingatkan.


Sekar berdiri membuat semuanya kaget.


"Mak dikipe Lu Sekar!" sentak salah satu murid.


Sekar menatap datar remaja yang seusianya itu. Gadis itu terus melangkah menuju toilet. Di dalam sana, ia mengganti pembalutnya.


"Kau wangi Sekar," bisik sosok itu memeluk sang gadis.


Sekar menikmati pelukan makhluk itu. Gadis itu merasakan puber pertamanya, ia mimpi basah sejak usia sebelas tahun. Jadi ia tau rasanya bagaimana bagian bawahnya begitu terasa nikmat sekarang.


"Aaah!" desahnya tertahan.


Dor! Dor! Dor! Bunyi pintu digedor dari luar. Sekar tersentak kaget.


"Woi buruan ... gue kebelet nih!" teriak gadis di luar pintu.


"Bentar!" pekik Sekar kalang kabut.


Gadis itu selesai dan langsung keluar kamar mandi. Sekar nyaris terjungkal jika saja tak ada pintu yang menahannya.


"Tutup pintunya!" teriak gadis itu.


Sekar menutup pintu itu, bel berbunyi ia melangkah cepat. Gadis itu langsung duduk. Tadi ia membuang begitu saja pembalutnya tanpa dibersihkan.


Sebenarnya banyak perdebatan tentang hal itu. Dalam dunia medis mengatakan tak masalah jika pembalut sekali pakai tidak dibersihkan dari darah yang menempel. Karena darah sudah menjadi gel, namun menurut kalangan ulama darah tetap darah. Darah sangat disukai jin atau setan.


Jin atau setan sangat menyukai darah, baik itu darah hewan atau manusia. Entah itu darah luka maupun darah haid kaum wanita. Itulah alasannya mengapa untuk para wanita, sebaiknya tidak membuang sembarangan pembalutnya, sebaiknya bersihkan dulu sebelum benar-benar dibuang.


"Ah ... biar saja," gumam gadis itu cuek.


"Kamu bicara sama siapa?" tanya Danar.


Sekar hanya melirik teman sebangkunya itu. Gadis itu tak menjawab apapun, walau kemarin ia dibela oleh Danar. Gadis itu ternyata masih marah.


"Aku sudah minta maaf Sekar," ujarnya.


"Aku bahkan sudah memulihkan namamu," lanjutnya.


"Terima kasih untuk itu Danar. Bisa kita tenang dan belajar?' sahut Sekar dingin.


Danar diam, ia sudah berkali-kali minta maaf pada temannya itu. Rupanya sakit hati Sekar tak bisa diobati terlebih ketika bekalnya terbuang percuma dan Danar tak melakukan apa-apa waktu itu.


"Pak Ahmad, nanti Bapak ngajar di kelas satu dan kelas tiga ya, kelas dua akan diganti dengan Ibu Sasha!' ujar wakil kepala sekolah.


"Apa tidak bisa Bu Sasha saja yang mengajar kelas tiga Bu?'


"Maaf Pak, basis Bu Sasha hanya sampai kelas dua. Jadi beliau minta pergantian kelas," jelas wakil kepala sekolah.


Kepala sekolah sendiri sudah pulang sejak jatuh pingsan tadi. Ahmad tak bisa menolak, ia akan kesulitan bertemu Sekar dan menolong gadis itu.


"Aku serahkan semua pada-Mu Ya Allah ... lindung lah semua muridku dari marabahaya dan bujuk rayu setan," pinta pria itu berdoa.


Sekelompok mahkluk tersenyum dengan binaran berbeda.


"Sekar ... sebentar lagi kau bagian dari kami!"


Bersambung.


Next?