
Rita pergi dari kamar Sekar, wanita itu menyuruh sang gadis bersiap, Sekar harus menurut agar, ia juga ingin tau apa dia memiliki gejala skizofrenia itu.
"Sekar ... ayo Nak!" seru wanita itu.
"Nyonya, putri saya mau dibawa kemana?" tanya Tinah khawatir.
"Jangan takut Mbok. Aku ingin memeriksakan putrimu ke psikiater," ujar Rita.
"Kenapa ... ada apa dengan putri saya Nyonya?" kali ini Tono yang bertanya.
"Pak jangan khawatir ya. Saya ingin memastikan jika Sekar tidak mengidap skizofrenia yakni sebuah gangguan kejiwaan halusinasi tinggi," jelas wanita itu.
"Anak saya nggak gila," cicit Tono.
"Pak, Sekar nggak gila kok. Tapi dia tadi bicara sendirian saya hanya menginginkan agar apa yang diajak bicara Sekar itu hilang," jelas Rita lagi.
"Pak, Bu, nggak apa-apa kok," ujar Sekar.
Ketiga orang itu menoleh pada Sekar. Gadis itu begitu cantik dengan mini dress sederhana yang dibelikan ibunya ketika ulang tahunnya kemarin. Sebuah minidress warna hijau pupus begitu kontras dengan kulit pucat Sekar. Rambutnya yang hitam digerai mengenakan bandana warna senada dengan dress-nya.
"Kau cantik sekali," puji Rita terpesona.
Baik Tono dan Tinah tak menyangka melihat putrinya berubah jika berdandan seperti itu.
"Kau cantik sekali Nak," puji ayahnya.
"Makasih Pak, Bu. Sekar pamit ya," ujar gadis itu.
"Tenang Bu, Sekar baik-baik saja," lanjutnya menenangkan ayah dan ibunya.
"Bawa ponselmu Nak," pinta sang ayah.
"Ini dalam tas Pak," ujar Sekar lalu menunjukkan tas selempang yang ia bawa.
"Tunggu sebentar," tahan Rita.
Wanita itu mengambil lip blam dari tasnya lalu menorehnya di bibir pucat Sekar.
"Nah ... begini jauh lebih cantik," ujar wanita itu.
"Ayo," ajaknya kemudian mengandeng gadis itu.
Keduanya keluar mansion bersamaan dengan datangnya Reynold. Pemuda itu menatap Sekar tak berkedip. Rita sengaja mengabaikan tatapan putranya.
"Ayo sayang!"
"Mau kemana Mom?" tanya Reynold seperti baru tersadar.
"Mau bawa Sekar jalan-jalan," jawab Rita berbohong.
Keduanya naik mobil yang supir telah siap. Kendaraan mewah itu bergerak. Reynold menepuk keningnya, pemuda itu tersadar.
"Kenapa nggak ikut!" decaknya kesal.
Akhirnya pemuda itu pun masuk dalam hunian mewahnya. Jika di mana-mana pemuda mapan seperti dirinya memilih hidup sendiri di apartemen. Reynold memilih tinggal bersama kedua orang tuanya. Rita yang meminta atau bisa dibilang memaksa dua putranya itu tinggal bersama.
"Nanti ... kalo kalian berkeluarga baru boleh tinggal di hunian sendiri!" alasan wanita itu.
Perjalanan menuju klinik langganan Rita ditempuh selama dua puluh menit. Mereka akhirnya sampai pada sebuah bangunan yang sangat berkelas. Sekar sedikit takut masuk.
"Tidak apa-apa sayang," ujar sang wanita.
Rita menggandeng tangan Sekar dan membawa gadis itu ke sebuah ruang periksa. Sekar sama sekali tidak melihat semua teman astralnya ikut kali ini. Jadi Sekar bisa fokus pada semua sesi pertanyaan dan juga sesi hipnotis.
"Sekar baik-baik saja, Nyonya Anjaya," ujar dokter setelah memeriksa Sekar.
"Tidak ada gangguan bahkan gejala skizofrenia di diri Sekar," lanjutnya.
"Tapi tadi dia berbicara sendiri Dok!" ujar Rita yakin.
"Kadang anak gadis seperti Sekar memiliki daya khayal tinggi tapi itu bukan halusinasi," jelas dokter lagi.
"Apa yang pernah kau katakan kemarin ketika di taman itu Sekar?" tanya Rita.
"Kau pernah seperti bermain dan berbicara dengan seseorang?" lanjutnya.
Mereka pun keluar dari ruangan itu. Rita tak langsung membawa pulang Sekar. Ia mengajak sang gadis berbelanja. Rita memang ingin mendadani Sekar menjadi sosok putri cantik jelita.
"Nyonya ... ini sangat mahal. Saya tidak bisa menerimanya," tolak Sekar.
"Sayang hanya gaun ini saja ya," pinta Rita memohon. "Aku akan sedih jika kau menolaknya!"
Pemaksaan Rita diterima dengan berat hati. Gaun seharga uang sekolah selama satu tahun sudah menjadi milik Sekar belum lagi sepasang sepatu, tas dan juga beberapa aksesoris.
"Ini terlalu banyak Nyonya," cicit Sekar takut.
"Sayang, dengar. Aku sangat ingin mengangkatmu jadi putriku, tapi aku yakin kau pasti menolaknya. Aku ingin memberimu sayap agar terbang setinggi mungkin," jelas Rita panjang lebar.
"Nyonya ... kamu baik sekali," puji Sekar haru.
Rita memeluknya. Ia memang sudah jatuh hati pada gadis itu. Ia bahkan berharap jika salah satu putranya berjodoh dengan Sekar.
"Mommy harap kau membalasnya dengan nilai-nilai baik," ujar Rita. "Tapi jangan dipaksakan ya."
Sekar mengangguk, keduanya pulang ke mansion. Kedua orang tua Sekar bersyukur dan mengucap terima kasih yang begitu dalam atas masih sayang sang majikan pada putrinya.
"Berusahalah jadi orang baik Nak. Kami tidak pernah menuntutmu jadi orang sukses" Rita mengelus sayang kepala Sekar.
Sekar menatap semua temannya di salah satu sudut ruang mansion mewah itu. Di sana lah mereka membangun kerajaan di sudut itu.
"Kenapa kau malah membuat mansion ini jadi salah satu hunianmu?" tanya Sekar berbisik.
"Hanya titik itu yang paling bagus dan bersentuhan dengan segitiga area kami," jawab salah satu mahkluk astral.
Re dan Ri memimpin ribuan mahkluk yang sederajat dengan mereka. Semua masuk pada celah kecil yang gelap dan pengap.
Istana setan yang begitu mewah sangat memukau siapa saja yang terjerumus ke dalamnya. Mereka meletakkan kursi dengan hiasan permata yang indah di pandangan manusia.
"Kami telah membuat singgasana untukmu Sekar," ujar Re memberitahu temannya itu.
"Aku tak tertarik Re," sahut Sekar.
"Kau pasti suka Sekar. Ada bunga mawar dan bunga anggrek bulan kesukaanmu," ujar Re.
"Lihatlah," lanjutnya.
Sekar di hadapkan satu sisi utara. Di sana celah kecil terbuka lebar. Pemandangan sangat indah dan cantik. Bangunan mewah berdiri begitu kokoh.
"Itu istana kami Sekar. Kau bisa jadi ratu dan Ri jadi rajanya," ujar Re dengan lendir darah menetes di sela bibirnya.
"Lihat singgasananya, indah bukan?" lanjutnya.
Sekar terpesona dibuatnya. Gadis itu menatap taman anggrek dan taman mawar yang begitu cantik. Mega berwarna ungu, matahari terbit begitu sejuk dan purnama tampak terang di angkasa.
"Ayo Sekar!" Re menuntun gadis itu mengajak ke istana mereka.
Re berubah bentuk jadi pria yang begitu tampan dan gagah. Sesekali Re mengecup pucuk jemari sang gadis. Sekar melambung dengan perbuatan Re.
"Kau cantik sekali," puji mahluk astral itu.
"Sekar!" teriak Rita mencari keberadaannya.
"Sekar!" gadis itu tergagap, ia masih berdiri di depan pintunya.
"Saya Nyonya!" gadis itu beranjak mendatangi majikannya.
"Loh ... kok belum ganti baju!" tanya Rita heran.
"Tadi ke ke kamar mandi di samping Nyonya. Kebelet,' jawab sang gadis berbohong.
"Oh ya sudah. Kamu ganti baju dulu nanti ke kamar Brenda ya," pinta wanita itu sembari menyuruh Sekar.
"Iya, Nyonya!" sahut sang gadis.
Bersambung.
😱
next?