
Sekar mengatakan keinginan Rey untuk melangsungkan pernikahan secara akad dulu di kantor KUA.
"Jadi Tuan Rey ... ah, maksud Bapak, Nak Rey mau akad dulu baru resepsi?" Sekar mengangguk.
Tinah berkali-kali menghapus air matanya. Gadisnya sudah akan menjadi milik orang sebentar lagi. Seorang laki-laki gagah dan tampan. Laki-laki yang tidak memandang asal-usul wanita yang menjadi istrinya.
Pipi Sekar merona, ia menunduk malu. Tetapi, sedikit ia merasa gelisah karena tidak lagi bisa berbakti pada orang tuanya.
"Tapi, jika Bapak keberatan. Kak Rey mengerti kok," sahutnya tiba-tiba berwajah mendung.
Adam sedang dipangku ayahnya. Bayi enam bulan itu asik mengemut biskuitnya. Gusinya gatal hingga ia mengigit apapun benda dengan gusinya. Tinah sampai harus memberinya mainan khusus yang bisa dimainkan untuk bayi seusia putranya.
"Bapak terserah padamu Nak. Bagaimana Bu? Ibu setuju?" tanya Bapak.
Tinah menghapus cepat buliran yang akan menetes. Sekar sedih, ia pun mendekati wanita yang akan melahirkannya. Gadis itu bersimpuh di depan ibunya.
"Bu, aku hanya menikah jika restu kudapat dari Bapak dan Ibu," ujarnya lirih.
"Nak ...."
"Bu, jangan membuat Nak Rey kecewa karena keegoisan kita. Jujur Bapak pun berat, tetapi Nak Rey adalah pria yang hebat. Jangan sampai kita menyesal karena keputusan kita yang salah," peringat Tono panjang lebar.
"Bapak ..."
"Bu," peringat Tono lagi.
Tinah menatap putrinya. Ia memang harus melepaskan sang putri agar pria hebat tak pergi ke hati yang lain dan kecewa.
"Terlebih, kita banyak berutangbudi pada keluarga Nak Rey," Tono terus mengingatkan sang istri.
"Iya Pak ... iya ... jangan menyudutkan Ibu seperti itu lah!' sungut Tinah kesal.
"Sebagai seorang ibu, tentu berat melepas putri satu-satunya. Ibu yang mengandungnya, menyusuinya, menyapihnya ...," Tinah memotong ucapannya.
"Ibu memang berat, tapi apa kata Bapak benar. Putri kita mendapatkan berlian yang sangat bersinar dan langka. Jika tidak segera mendapatkannya. Takutnya, kita malah dapat batu yang tak berguna sama sekali," lanjutnya.
Tinah mengusap wajah putrinya. Hal itu juga ditiru oleh Adam. Bayi itu malah meminta Sekar menggendongnya. Gadis itu mengambil alih dan memangkunya.
"Mpa ... ili!" titah bayi itu.
"Sayang, Mba minta restu Ibu dulu ya," ujar Sekar meminta pengertian.
Adam mengangguk tanda mengerti, bayi itu pun diam. Sekar menatap ibunya. Tinah tersenyum lalu mengangguk.
"Susuh Nak Rey menghadap Bapak dan Ibu untuk merencanakan pernikahan kalian," ujarnya.
Sekar tersenyum lalu mengecup pipi ibunya. Adam memonyongkan bibirnya ikut mengecup sang ibu.
"Muuaah!"
Semua pun tertawa lepas. Tak lama terdengar gelak tawa di ruang keluarga itu. Kehangatan menjalar keseluruhan hunian sederhana itu.
Sekar masuk siang, Rey menjemputnya satu jam sebelum perkuliahannya dimulai. Pria itu masuk ke rumah itu dan duduk di sana.
"Jadi apa benar Nak Rey berencana melakukan akad dulu lalu resepsi belakangan?" tanya Tono pada pria tampan itu.
"Benar Pak, itu juga kalau Bapak dan Ibu setuju," jawab Rey tegas.
"Tadi kami sudah bicarakan semua ...," Tono menghentikan ucapannya.
Rey mendadak tegang. Untuk pertama kalinya, ia takut dengan jawaban dari seseorang, pria itu selalu yang mengambil keputusan dan semua harus tunduk akan keputusannya.
"Bapak dan Ibu setuju, jadi kalian bisa bebas pergi tanpa takut dosa," lanjut Tono membuat Rey lega bukan kepalang.
"Alhamdulillah!" serunya dengan senyum lebar.
"Saya akan membawa ibu dan ayah saya kemari Pak, untuk membicarakan hari pernikahan itu!" lanjutnya dengan mata berbinar.
Tono dan Tinah mengangguk. Rey mencium punggung tangan kedua orang tua calon istrinya. Sekar pamit, Rey mencium dulu Adam yang dari tadi mengganggunya.
"Gemes, nanti tinggal sama Mas Rey ya," Adam mengangguk saja.
"Ck ... yang nyusui siapa?" tanya Sekar berdecak.
Rey tersenyum kikuk, Adam kini berada di gendongan ayahnya, bayi itu melambai seiring mobil yang berjalan.
Sampai kampus, Sekar turun. Rey meminta gadisnya ke kantor lagi selesai pulang kuliah.
"Ya sudah, aku akan menjemputmu!" ujar Rey.
Sekar mengangguk, ia menghela napas panjang. Jujur dia risih dengan sosok lain di sana yang berdiri dengan kepala terkulai seperti batang lehernya patah.
"Sekar ...."
Gadis itu berlalu dari sana. Hari terlalu siang untuk penampakan muncul. Sekar berlalu dan menuju kelasnya. Empat jam berlalu begitu saja. Kini ia dan enam mahasiswi lainnya naik ke lantai tiga di mana ujian forensik diadakan. Satu dosen pembimbing akan menuntun mereka di sana.
"Eh ... aku dengar mayat yang menjadi ujian praktek kita adalah korban kasus bunuh diri," ujar salah satu mahasiswi.
Mereka berenam berjalan beriringan. Sebenarnya Sekar memang tidak terlalu dekat dengan semuanya, sosoknya yang introvert membuat ia jadi tertutup. Terlebih memang banyak yang takut padanya.
"Korban gantung diri?"
"Iya, gantung diri di kamar kos-nya. Katanya, nggak ada keluarga yang datang menjemput mayatnya hingga empat bulan," jawab mahasiswi yang memberi info.
"Katanya ini mayatnya berair karena pembusukan di mana-mana. Pokoknya jelek deh," ujarnya.
"Kok gue merinding ya?" sahut lainnya lagi sambil menggosok tengkuknya.
Semua menempel satu dan lainnya. Sekar membaca doa, karena ia merasa suasana mendadak tegang.
Mereka naik lift, beruntung banyak orang di lift jadi tidak terlalu takut. Setelah memakai baju o.k.. Semua masuk ke ruangan mayat. Di sana jasad kaku terbujur hanya diselimuti kain putih.
"Selamat sore anak-anak. Ini adalah mayat yang diserahkan pihak berwenang untuk kita jadikan bahan praktek," ujar dosen pembimbing.
Lampu tiba-tiba kedap-kedip. Semua saling berhimpitan dan ketakutan.
"Pak ...."
"Sudah jangan takut. Dia sudah mati kok!" ujar dosen itu sedikit berseloroh.
Kain dibuka. Sekar menatap wajah yang sama. Sosok yang memanggilnya ketika di teras kampus.
"Silahkan diperiksa. Apa saja yang menunjang kematiannya. Selain gantung diri," ujar dosen.
Sekar memulai penilitian dengan membuka mata jasad yang semuanya memutih. Bertanda jika mayat benar-benar mati karena gantung diri.
Lalu memeriksa luka di leher. Terdapat guratan luka bekas tali yang menjerat. Lidah yang menjulur dan tulang leher yang patah. Semua diagnosa mengarah pada seseorang yang memang mati gantung diri.
Lalu Sekar beralih pada bagian paling penting. Yakni bagian reproduksi mayat itu. Gadis itu memiringkan kepalanya.
"Kenapa tidak keluar kotoran dan air seni atau sperm nya?" tanya gadis itu.
Sekar memeriksa jemari mayat. Tidak ada bintik di sana.
"Dia dibunuh!' lanjutnya.
Semua menatapnya. Dosen pembimbing juga ikut menatapnya. Sekar memeriksa lagi luka di leher mayat. Memastikan jika itu adalah bekas jerat tali.
"Memang ini jerat tali dan luka yang ditimbulkan seperti luka jerat," lanjutnya mendiagnosa.
Sekar membalik mayat, ada bekas memar di bagian punggung dan bokong mayat.
"Korban diseret dengan tali yang menjeratnya hingga tewas," lanjutnya.
Berkat temuan Sekar, kepolisian datang dan kembali membuat visum pada mayat tersebut. Hanya butuh waktu, pelaku ditangkap.
Sekar pulang dengan langkah ringan. Sosok tadi tersenyum padanya dan mengangguk lalu menghilang bersama angin yang menerpa.
"Sayang!" Sekar menoleh.
Gadis itu tersenyum lalu berlari memeluk pria yang memanggilnya.
"Hei ... ada apa?" tanya Rey lirih sambil membalas pelukan Sekar.
Gadis itu menggeleng, sungguh ia merasa lelah dengan apa yang dilihatnya. Ia ingin sekali hidup normal seperti orang lain pada umumnya.
"Ayo kita pulang," ajak Rey hangat.
Sekar mengangguk, gadis itu duduk dengan tenang. Kendaraan itu pun berlalu dari halaman parkir kampusnya.
Bersambung.
Next?