My Ghost Friends

My Ghost Friends
GODAAN 2



Makhluk itu mengikuti Danar. Re benar-benar ingin menghancurkan Danar agar tak lagi mendekati temannya, Sekar.


"Assalamualaikum!" salam remaja itu ketika masuk rumah.


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" balas suara lembut dan merdu dari dalam rumah.


Sungguh hunian Danar begitu sederhana. Namun jika masuk ke dalam begitu hangat dan nyaman.


"Aarrggh!" pekik Re ketika kakinya menginjak teras rumah Danar.


Kaki mahkluk tak kasat mata itu hangus terbakar. Re lari tunggang-langgang. Mahkluk astral itu benar-benar tak bisa memasuki rumah sederhana itu.


"Ibu," Danar langsung mencium tangan sang ibu.


Asliyah mengelus kepala putranya. Membaca doa agar dijauhkan dari segala marabahaya. Sang suami masuk, wanita itu mencium punggung tangan suaminya.


Sedang di mansion Bastian. Sekar turun dari mobil, ia masuk setelah tuannya masuk dan memberi salam. Sekar mencium punggung tangan nyonyanya.


"Saya ke belakang dulu Nyonya," pamitnya.


"Iya sayang," ujar Rita mengelus kepala putri dari ART nya itu.


"Sekar makin lama makin cantik ya," pujinya ketika Sekar berlalu dari sana.


Bastian tak menanggapi. Kini keduanya makan siang bersama. Rita tiba-tiba memiliki ide yang membuat Bastian kaget.


"Apa maksudmu mengangkat Sekar sebagai putri kita. Kita memiliki putri, yakni Brenda!"


"Iya sayang, aku tau. Brenda tetap putri kandung kita. Aku ingin mengangkat Sekar sebagai anak untuk memberikan dia kesempatan untuk mengepak sayap lebih tinggi," jelas Rita.


"Kenapa kau tiba-tiba ingin mengangkat Sekar sebagai anak?" tanya Bastian gusar.


"Sayang ... dengar. Tadi malam aku mendengar jika Sekar memiliki rencana akan sekolah kejuruan setelah lulus SMP. Ia akan jadi perawat atau bidan. Jika pekerjaannya sudah tetap, ia mau membawa ayah ibunya pergi dan tidak bekerja lagi," lanjutnya.


"Loh ... bukankah itu bagus?" tanya Bastian bingung.


"Iya sayang. Maka itu aku mau mengangkatnya anak agar ia bisa jadi dokter bukan sekedar perawat atau bidan," jelas wanita itu lagi.


"Sayang, jangan memaksakan diri. Kita perlu bertanya dulu kenapa ia ingin lekas-lekas sekolah dan mendapat pekerjaan. Ia ingin mengangkat derajat orang tuanya," ujar Bastian mengingatkan.


"Aku sayang dengan kepintaran Sekar, sayang. Dia genius, aku tau karena guru-guru bilang nilainya bisa ditanding dengan anak paling pintar di sekolah itu!" ujar Rita begitu bersemangat.


"Sayang ... jangan paksakan diri. Kita minta pendapat Sekar dulu ya," ujar Bastian.


Rita akhirnya mengangguk setuju. Wanita itu memang harus bertanya kesediaan Sekar untuk menjadi putrinya.


Sekar diminta untuk beristirahat. Rita benar-benar melarang Tinah untuk menyuruh putrinya itu membantunya.


"Di sini banyak maid Mbok! Jangan membebani anak perempuanmu bekerja, ia sudah lelah sekolah," ujar Rita.


Tinah hanya mengangguk, sungguh perempuan berusia tiga puluh tujuh tahun itu tidak ingin terlalu membebani majikannya.


Re datang tanpa kaki. Ri menggeleng, tadi makhluk itu sudah memperingati.


"Kakimu?"


"Nanti juga tumbuh lagi," sahut Re tak masalah.


"Sekar makin tidak bisa didekati Re," ujar Ri menatap gadis yang sedang sibuk mengerjakan tugas sekolahnya.


"Tapi baunya masih tercium," sahut Re. Makhluk berbulu itu mendekati Sekar.


"Sekar," panggilnya.


"Jangan ganggu aku Re," pinta Sekar lirih.


"Tidak bisa Sekar. Kau sudah menjadi bagian dari kami," ujar Re.


"Kapan? Kapan aku menjadi bagian dari kalian?" tanya gadis itu gusar.


"Aku menciummu Sekar, walau belum bisa menahan sukmamu. Sekar, percaya lah ... hanya kami yang tidak menyakitimu," ujar Re.


"Kau lihat berapa kali kami menolongmu Sekar? Bahkan mereka yang kau anggap baik, ikut melukaimu. Danar pernah menyakitimu," sahut Ri kini.


"Memang, bahkan kalian berpacaran bukan?" Sekar mengangguk.


"Kau tau, Danar melakukan itu untuk menutupi kesalahannya padamu. Ia merasa bersalah jadi dia mau menjadikanmu pacar," hasut Ri.


"Tidak, dia tidak seperti itu!" bantah Sekar.


"Manusia itu banyak bohongnya Sekar. Kau ingat dulu di kampung, nenekmu juga jadi korban kebohongan ketua desa, jika kami tidak mengganggu mereka. Kemungkinan rumah kalian sudah berpindah tangan!" ujar Re mengingatkan.


Sekar diam, bukan ia lupa akan kejadian itu. Waktu itu baru seminggu ia mendapat anugrah bisa melihat mahluk gaib.


Neneknya bersikukuh jika rumah itu adalah milik suaminya. Walau hanya memiliki surat girik. Sedang kepala desa mengakui jika tanah itu adalah tanahnya bahkan kepala desa memiliki sertifikat yang lebih sah.


Tadinya banyak warga masih memberi kesaksian jika rumah itu adalah milik nenek dari Sekar. Tapi perlahan banyak yang membelot dan memberikan kesaksian palsu.


Sang nenek yang tua dan buta huruf tentu tak bisa melakukan apa-apa. Sekar marah luar biasa, gadis itu menunjuk semua orang dan menyumpahi mereka.


"Aku sumpahi mulut kalian terbakar karena berbohong!" teriak Sekar waktu itu.


Re dan Ri juga bersama kawan-kawan mereka mengambil api entah dari mana. Tiba-tiba salah satu warga berteriak dengan bibir bengkak dan gosong.


Semua panik, kepala desa mengatai Sekar ahli sihir. Tetapi, beberapa sepuh dan kiyai membela gadis itu. Akhirnya sampai pada sidang jika kepala desa menggunakan sertifikat palsu.


"Tapi ada yang membela juga waktu itu," sahut Sekar.


"Karena mereka takut bibir mereka terbakar Sekar!" sahut Re mengingatkan.


"Kau ingat awalnya malah kau disuruh ikhlas oleh Ki Solehudin, tetua desamu. Begitu melihat ada yang bibirnya terbakar baru dia ketakutan kan?"


Sekar terdiam, memang semua yang dikatakan Re dan Ri benar adanya. Dua makhluk astral itu memang telah banyak membantunya selama ini.


"Sekar ... kami bukan mau melarangmu berhubungan dengan Danar. Tapi kalau bisa prioritaskan kami," pinta Re.


Sekar diam tak menanggapi, di luar pintu kamar. Rita menutup mulutnya. Wanita itu tak melihat dengan siapa Sekar berbicara.


"Apa Sekar memiliki teman halusinasi?" tanyanya dalam hati.


"Sekar mengidap Skizofrenia?" lanjutnya.


(Skizofrenia adalah penyakit kejiwaan yang menyebabkan seseorang sulit membedakan mana khayalan dan mana kenyataan. Istilah skizofrenia adalah serapan dari bahasa Inggris yaitu "schizophrenia",  yang memiliki arti pikiran yang terpecah.)(sumber. halodoc.com).


"Assalamualaikum Sekar!" panggil Rita.


Semua makhluk lari tunggang langgang, termasuk Re dan Ri. Sekar keheranan melihat itu semuanya. Ia pun membuka pintu.


"Nyonya,"


"Boleh masuk?"


"Silahkan Nyonya!" sahut Sekar mempersilahkan majikan ibunya masuk.


Rita menggenggam tangan gadis itu dan membawanya duduk bersama. Ia menatap lekat mata pekat milik Sekar.


"Sayang, katakan pada Ibu. Tadi kau bicara dengan siapa? Apa kau memiliki teman khayalan dan kau bercakap-cakap dengan mereka?" tanya wanita itu.


Sekar diam, matanya melirik arah belakang kepala nyonya rumah itu. Re dan Ri juga semua teman astralnya berdiri, mereka menggeleng.


"Tidak Nyonya," jawab Sekar.


"Sayang ... tidak masalah, tapi kamu harus bedakan mana itu halusinasi dan kenyataan, mereka tidak ada sayang," jelas Rita.


"Aku akan membawamu ke psikiater, kau harus lepas dari khayalanmu!" tekan Rita. "Kau pasti mengidap skizofrenia!"


Sekar diam, gadis itu tidak membantah. Bukan gadis itu tidak tau apa nama penyakit kejiwaan yang disebut majikannya. Ia adalah anak genius, Sekar juga dulu mengira ia mengidap penyakit itu. Sekar bisa membedakan mana yang halusinasi dan mana yang kenyataan.


"Nyonya, yang kulihat adalah nyata tapi tak bisa kau lihat," gumamnya dalam hati.


bersambung.


Uh 😱


next?