My Ghost Friends

My Ghost Friends
LABIRIN SESAT 6



(Bagi kemarin yang udah baca ... tolong baca lagi ya ... karena cerita yang kemarin udah direvisi ulang. Makasih).


Sekar mengurai lilitan yang menyelimuti kedua tubuh teman sekelasnya. Sebisa mungkin ia mengurai lilitan itu selembut mungkin agar kulit temannya tak ada yang lecet.


Via dan Lia menangis melihat telapak tangan Sekar yang lecet-lecet. Doa Sekar agar hanya dirinya yang sakit terkabul. Sang Maha Kuasa benar-benar menderanya.


"Sekar ... tanganmu?" isak Via sedih.


Tetesan air mata Via menetes pada tumbuhan yang merambat. Sebuah air mata ketulusan seorang teman yang begitu mengkhawatirkan temannya.


"Lepas ... lepas!" teriak Lia kegirangan.


Lia melirik Sekar yang terus berusaha mengurai tanaman itu. Satu pikiran buruk gadis itu pada teman yang mencoba menyelamatkannya.


'Jika aku terlepas, aku dorong kau ke semak-semak ini agar kau ditelan tumbuhan ini!'


Via terlepas, Lia hendak menarik tangan Sekar dan menggantikan tubuhnya yang masih terikat tumbuhan rambat.


"Huuuwwaaaa!" teriak Lia..


"Lia!" pekik Sekar dan Via bersamaan.


Lia tertanam dalam tumbuhan rambat. Sekar menangis histeris, gadis itu menarik semua tumbuhan itu hingga tangannya berdarah-darah. Via ikutan menangis melihat betapa Sekar begitu terluka hanya menolong salah satu temannya.


"Sekar ... hiks ... katakan ... aku harus apa ... hiks!" tanyanya sambil terisak.


"Cepat pergi dari sini, lewati jalan itu dan cari cahaya paling terang. Pak Ahmad menunggu di sana!' perintah Sekar.


"Tapi kamu?"


"Via ... kau harus selamat ... aku mohon. Berdoalah untukku," pinta Sekar lirih.


Via pun berlari dengan derai air mata. Ia sangat-sangat sedih meninggalkan dua temannya di sana. Ia ingin sekali membantu Sekar.


"Bapak!" teriak Via memanggil.guru agamanya.


"Nak sini Nak!" panggil Ahmad.


Via berlari. Maria, Dita dan anak perempuan lain memeluk temannya itu sambil bertangisan.


"Pak Lia ditelan sama tanaman rambat Pak ... huuuuu ... uuuu ... hiks ... hiks ... tangan Sekar berdarah-darah ... huuuwwaaaa!" jerit tangis Via melaporkan kejadiannya.


Ahmad beristighfar, pria itu menenangkan semua anak dan meminta mereka kembali mendoakan Sekar.


"Pak ... kenapa kita tidak cari bersama-sama ... hiks ... kasihan Sekar Pak?" ajak Sobar sesenggukan.


"Tidak bisa sayang. Bapak diminta menunggu di sini dan menjadi jalan kalian kembali," jelas Ahmad.


"Sekar sendirian Pak ... kasihan, kepalanya berdarah ... semua tubuhnya penuh luka dan lebam!" lapor Via sambil menangis pilu.


"Kita berserah Nak ... jujur Bapak juga mau masuk dan menolong Sekar. Tapi nanti jika kita tak kembali semua bagaimana?" tanyanya lirih.


Semua terdiam dengan bahu bergetar. Mereka kembali saling menguatkan satu dan lainnya. Sementara Sekar mencabut tanaman rambat hingga gundul dan mendapatkan Lia pingsan di dalamnya.


"Lia ... Lia!" panggil Sekar menepuk pelan pipi teman sekelasnya itu.


Ri dan Re menatap teman nyata mereka. Semua saling tatap, mereka tak menyangka ada seorang manusia rela bersakit-sakitan untuk menolong semua teman-teman yang menyakitinya.


"Ada istana indah menantimu Sekar ... apa yang kau cari dengan menyelamatkan mereka?" tanya Ri bingung.


"Benar ... Aku meletakkan dunia di tanganmu Sekar. Apa saja kau mau akan terpenuhi tanpa kau susah mencari ... bahkan kau tak perlu tumbal. Kau hanya perlu ikut kami ... itu saja," ujar Re panjang lebar.


Ndere tak ada, hantu yang kuat itu harus menyempurnakan dirinya. Ri yang tadi hangus terbakar akibat takbir yang diteriakkan Sekar menampakkan dirinya yang setengahnya hangus terbakar.


"Pergilah kalian. Aku tak mau temanku bangun dan melihatmu, ia jadi pingsan lagi," usir Sekar yang masih berusaha menyadarkan Lia.


Sebuah tepuk tangan terdengar. Ndere datang dengan balutan indah dan emas permata yang menghiasi seluruh tubuhnya. Mahkota dengan perhiasan yang begitu cantik.


Makhluk itu memang tak tau maksud dari Lia yang memang ingin melukai Sekar. Sesuai fitrahnya jika setan maupun iblis atau jin tak akan mampu mengetahui hati dan bagaimana manusia itu. Bahkan kematian manusia juga jin tidak tau.


Sepertinya halnya Nabi Sulaiman Alaihi Salam. Semua jin yang berdiri di sisinya tak tau jika Nabi Sulaiman telah wafat. Para makhluk itu mengetahui jika manusia panutan mereka sudah meninggal dunia ketika tongkat yang digunakan Nabi terjatuh akibat lapuk dimakan rayap.


Sekar terhenti, rupanya perkataan Ndere mengusik hatinya. Gadis itu menatap makhluk menyeramkan dengan rambut terurai panjang hingga menutupi wajahnya. Sedang baju cantik itu terpanjang pada satu manekin yang tubuhnya sama dengan Sekar.


"Lihat itu ... indah sekali bukan?" bisik Ndere yang berjalan melayang ke arah Sekar.


"Kau sangat pantas memakainya sayang," Ndere berubah bentuk jadi pria yang begitu tampan.


Sekar menatapnya terpana. Gadis itu memang begitu kelelahan, hal itu dimanfaatkan oleh Ndere untuk mengelabui Sekar.


"Bagaimana sayang?" tanyanya dengan suara seksi.


Tangan Sekar dipegang oleh pria tampan itu. Menempelkan pada dadanya yang tiba-tiba telanjang. Otot yang terbentuk, begitu menggoda siapa pun, napas pria itu menerpa wajah Sekar.


"Sayang," panggil pria itu berbisik hingga membangkitkan libido siapa pun..


"Kau gila Sekar!" teriak Lia yang sudah sadar.


Sekar terkejut bukan main, ia melepas pelukan pria tampan itu. Lia berdiri menatapnya penuh ketakutan.


"Kau bicara sendiri. Aku yakin, kau lah biang dari semua ini!" teriak Lia lagi.


"Bukan ... aku bukan ...."


"Jangan mendekat!" teriak Lia menolak Sekar yang mendekatinya.


"Dari awal kedatanganmu, aku mulai curiga Sekar!" ujar Lia begitu sinis.


"Kau datang dengan wajah pucat seperti tanpa darah. Aku yakin kau adalah seorang pemuja setan!" tuduh Lia tanpa perasaan.


"Aku bukan pemuja setan!" teriak Sekar tak terima.


"Apanya yang bukan pemuja setan Sekar? Kau lihat di mana kita sekarang?" desis Lia menatap tajam anak perempuan yang tak akan pernah ia anggap teman itu.


"Aku yakin kau lah dalang dari semua ini ... kau lah yang membuat kami tersesat di labirin ini!" pungkasnya dengan mata berkilat marah.


"Uhhh!" sebuah suara mengagetkan semua termasuk para makhluk halus.


"Sekar?" gadis yang empunya nama menoleh.


Sekar menatap teman yang serupa tengah berusaha mendudukkan dirinya. Lalu gadis itu menatap Lia lain yang berdiri di depannya.


"Sekar ... tolong aku ... kakiku lemas," pinta Lia.


Sekar bergeming, ia kembali menatap Lia lain yang berdiri di depannya.


"Dia bukan Lia, Sekar ... aku lah Lia yang asli!" tekan Lia yang berdiri di depan Sekar.


Lia yang terduduk lemas di tanah menatap sosok yang juga menyerupai dirinya. Kening Lia berkerut lalu perlahan ia begitu terkejut melihat betapa mirip anak perempuan yang berdiri dengan wajahnya.


"Si—siapa dia Sekar?" tanyanya ketakutan. "Kenapa mirip aku?"


"Kau lah yang siapa!" sentak Lia yang berdiri dengan pandangan tajam.


"Jangan menggangguku pergilah bersama temanmu ini!" lanjutnya menunjuk Sekar.


"Sekar ... aku takut!" isak Lia kini beranjak mendekati teman sekelasnya itu.


Sekar mundur perlahan, gadis itu masih ragu. Siapa Lia yang asli.


bersambung.


Next?