My Ghost Friends

My Ghost Friends
MENERIMA



"Menjauhlah!' pinta Sekar mulai berubah lagi.


Danar menatap teman sebangkunya yang kembali dingin. Remaja itu memang sudah memiliki rasa pada Sekar. Jatuh cinta pada pandangan pertama pada gadis itu..


"Sekar!' Danar memeluknya.


Bocah pucat yang mengikuti Sekar terbakar habis. Bocah itu berteriak minta tolong. Sekar ingin berontak, tetapi pelukan Danar begitu hangat dan nyaman.


"Danar ... please," pintanya.


"I love you Sekar,'' aku Danar tulus.


'Kita masih kecil Danar!" Sekar berhasil melepaskan diri dari pelukan teman sebangkunya.


"Cinta tak memandang usia. Aku jatuh cinta padamu sejak pertama kamu datang!" sahut Danar menatap netra sang gadis.


"Kau tidur waktu itu Danar!" ingat Sekar..


"Memang tapi aku melihatmu bukan setelah itu?"


Gadis itu tentu merona pipinya. Danar termasuk remaja pria yang tampan, selain itu juga memiliki otak cerdas.


"Kita pacaran yuk!' ajak Danar sungguh-sungguh..


Sekar terdiam, ia melihat semua teman astralnya menjauh dan mulai menatapnya marah. Gadis itu sebenarnya sedikit takut. Tetapi, ia juga menyukai Danar.


"Sekar?" panggil remaja itu.


"Mau kan jadi pacar aku?"


"Ayahku melarangku pacaran, Danar," sahut sang gadis.


"Kita jadikan hubungan kita sehat sayang. Seperti mengejar nilai tertinggi?" tantang Danar.


"Ih ... kok maksa sih!'


Sekar memilih masuk ke kelasnya. Danar mengikuti gadis itu, salah satu sosok tinggi besar hendak menjegal langkah remaja tanggung itu. Sayang, bukan Danar yang jatuh. Malah sosok itu yang putus kakinya karena diterjang oleh kaki Danar.


"Sekar ... jangan mengkhianatiku!" pekik makhluk itu kesakitan.


Sekar hanya diam saja. Gadis itu mulai berpikir panjang tentang semua yang terjadi. Walau bagaimanapun Sekar belajar agama. Setan-setan akan menyesatkan dirinya jika terus-menerus mengikuti keinginan para makhluk halus itu.


"Pacaran yuk!" ajak Danar lagi kali ini berani menggenggam dan mencium tangan gadis itu.


'Ih ... genit!" tepis sang gadis.


"Mau ya?" pinta Danar.


Sekar mengangguk setuju. Danar memeluknya, tiga makhluk astral terbakar. Mereka berteriak memaki Sekar.


"Kau berkhianat Sekar!"


Bel tanda masuk berbunyi, kali ini pelajaran biologi. Semua harus fokus dan menajamkan telinga mereka karena wali kelas bersuara sangat pelan.


Tak terasa bel berbunyi. Danar mengajak pacarnya ke kantin dengan menggandeng tangan Sekar. Hal itu jadi sorotan semua murid-murid sekolah. Pacaran bukan hal tabu di jaman sekarang terutama untuk para remaja seusia mereka. Selama mereka tetap mematuhi peraturan sekolah, tak ada larangan bagi para murid yang menjalin kasih.


"Ini makan ini ... ini enak!"


Danar menyodorkan piring kecil berisi somay.


"Mau aku potongin?" tawarnya.


Sekar menggeleng, pipinya selalu bersemu merah karena malu luar biasa. Gadis itu kembali melirik beberapa teman astralnya yang hanya menatapnya. Sekar tak ambil pusing, gadis itu melanjutkan makannya.


Perhatian Danar satu hari ini membuat Sekar bahagia. Tubuhnya tidak lagi terasa ringan, gadis itu kini bisa menikmati langkahnya.


"Sekar ... kami bagaimana?' tanya salah satu sosok melata.


"Baumu tetap wangi dan menjadi magnet bagi kami," lanjutnya.


Sekar diam dan melihat semua teman-temannya. Gadis itu memang tak bisa menjauh dari mereka karena memang sudah menjadi bagian hidupnya.


"Selama kalian tidak mengusikku. Aku akan menerima kalian," jawab gadis itu.


"Baiklah Sekar ... selama kami bisa berdekatan denganmu, itu sudah cukup!" sahut salah makhluk yang miring semua bentuk tubuhnya.


"Jadi Re dan Ri mati?" tanya Sekar ketika berjalan menuju rumah majikannya.


Gadis itu memang harus berjalan kaki ke dalam komplek rumah mewah yang di depannya dijaga para keamanan. Gadis itu membawa kartu penghuni rumah jika ingin masuk.


"Iya Re dan Ri mati terbakar. Apa kau ingin mereka hidup lagi?" tanya salah satu makhluk yang kini menenteng kepalanya.


"Tidak!' tolak Sekar.


Suasana masih terlalu siang jika harus mendadak seram. Sekar memang kembali berjalan seperti kapas. Beberapa orang melihatnya berbicara sendiri. Mereka langsung berbisik-bisik.


"Sekar pulang!" sahut gadis itu.


"Nak," sapa Tinah sang ibu menyambutnya.


Sekar mencium punggung tangan ibunya. Ayahnya datang mengusap kepala putrinya.


"Makanlah dulu, sudah itu bantu ibu ya," Sekar mengangguk.


Usai makan, Sekar membantu ibunya. Tak ada kendala karena Brenda tengah sakit setelah kemarin memaksa Sekar dan menarik tangan anak pembantunya itu.


"Non ..."


"Masuk!" titah Brenda lemah.


Sekar masuk, gadis itu diminta sang ibu untuk mengurusi nona mudanya. Sekar iba melihat keadaan nona mudanya itu.


"Apa yang kau lakukan padaku Sekar?" tanya Brenda lirih.


"Saya tidak melakukan apapun Nona?" jawab Sekar apa adanya.


"Tapi mereka berkata agar aku menjauhimu," sahut Brenda lirih.


Sekar duduk dan membantu nona mudanya duduk. Perlahan ia melepas kaos yang membungkus tubuh Brenda. Mengusap perlahan kulit putih mulus milik nona kaya raya itu.


"Maka jangan ganggu saya Nona," bisik gadis itu ketika mengelap punggung Brenda.


"Aku janji Sekar. Suruh mereka menjauhiku. Aku tidak akan mengganggumu lagi," ujar Brenda ketakutan.


"Baik Nona ...," sahut Sekar.


Usai membersihkan tubuh nona mudanya. Sekar juga memakaikan baju pada Brenda. Gadis sombong itu memang kena penyakit aneh yang membuat seluruh tubuhnya lemah dan tak bisa apa-apa. Semua dokter menyatakan Brenda sakit anemia akut.


"Lepaskan dia!' perintah Sekar entah pada siapa Brenda langsung. merinding, gadis itu memang seperti dililit ular besar hingga membuatnya sesak dan tak mampu bergerak. Perlahan lilitan itu mengendur, Brenda bisa bernapas lega sekarang.


"Ingat janjimu Nona!' tekan Sekar sebelum meninggalkan kamar.


Brenda diam, gadis itu ingin sekali mengadu pada ayah ibunya tentang Sekar. Tapi semua mata mengerikan itu menatapnya.


"Katakan saja Brenda ... maka bersiaplah kau akan gila!" ancam salah satu mahluk.


Brenda memilih bungkam seribu bahasa dibanding dirinya menjadi gila. Dengan didatangi makhluk-makhluk menyeramkan itu tiap dalam mimpi, baik pagi, siang atau malam hari membuat ia nyaris depresi.


"Sebaiknya aku minta pindah ke luar negeri dan ikut dengan om dan tanteku saja dibanding aku di sini!' putusnya.


Brenda akhirnya memilih untuk pergi dari rumah dan ikut dengan adik dari sang ayah ke luar negeri. Sudah lama om dan tantenya mengajak gadis itu, orang tuanya juga tidak keberatan.


"Biar kau mandiri ... jangan manjakan dia!' sahut Bastian, sang ayah waktu itu.


Sementara di taman belakang. Sekar bermain bersama teman-teman tak kasat matanya. Gadis itu kadang tertawa lirih melihat bagaimana hantu-hantu itu berusaha menghiburnya.


"Kalian lucu juga ya!' kekeh gadis itu.


"Kau bicara dengan siapa Nak?" tanya Rita perhatian.


Sekar terdiam, gadis itu menoleh pada majikannya dan langsung menundukkan kepalanya.


"Nyonya," cicitnya.


"Sayang ... kau sedang bicara dengan siapa?" tanya Rita lagi gusar.


"Saya ... saya hanya ... hanya memiliki teman khayalan saja Nyonya ... iya ... teman khayalan,' jawab Sekar tentu berbohong.


Rita tersentuh, tentu gadis itu tak memiliki teman di sini. Sekar setiap hari terkurung di mansion mewah itu membantu ibunya.


"Sekali-sekali, bermainlah Sekar. Aku akan memberikan akses agar kau bisa menikmati masa remajamu!" ujar Rita lalu mengelus kepala gadis itu.


"Terima kasih Nyonya," sahut Sekar lega.


Wanita itu berlalu. Sekar melihat beberapa teman astralnya yang masih menunggu.


"Sekar ... ayo main lagi!" ajak mereka.


Bersambung.


😱


next?