My Ghost Friends

My Ghost Friends
BRENDA 5



Reynold yang merasa seluruh bulu kuduknya meremang menjadi gelisah. Ia memanggil ayah dan ibunya.


"Mom, Papa!"


Pemuda itu beranjak ke kamar adiknya. Di sana ia melihat Charlie masih terlelap dengan pakaian yang sama ketika pulang. Pemuda itu berdecak melihat adiknya itu.


"Pasti anak ini belum sholat!" dumalnya.


Reynold melangkah masuk ke kamar dan membangunkan adiknya yang memang sedikit bengal itu. Bastian menyuruh putra keduanya untuk ikut dengan Reynold kakaknya jika masih ingin difasilitasi.


"Chalie ... bangun!" Reynold menggoyangkan bahu adiknya.


"Hmmmm!" hanya deheman lemah dari bibir pemuda itu.


"Hei ... ayo bangun! Sholat!"


"Udah," jawab Charlie asal.


"Kamu kira Kakak bisa kamu kibuli! Bangun!" sentak Reynold menarik tangan Charlie hingga terduduk.


Reynold melepas tangannya, dengan segera Charlie jatuh lagi ke kasurnya dengan mata terpejam.


"Astagfirullah Chalie!" bentak Reynold marah.


Charlie langsung terbangun. Reynold termasuk kakak yang sangat galak. Pemuda itu tak akan segan main tangan jika ada yang tak mau menurutinya.


"Bangun sebelum Kakak seret kamu ke kamar mandi!" ancamnya.


Charlie berdecak kesal. Pemuda itu pun masuk kamar mandi membasuh muka terlebih dahulu lalu baru mengambil wudhu. Kegiatannya itu terus diperhatikan oleh Reynold.


"Nih ... sholat nih!" dumal Charlie kesal.


Reynold tak peduli, yang penting Charlie mengerjakan shalat. Walau sebadung bagaimana ketika shalat, Charlie selalu khusyuk dan tak pernah terburu-buru.


Usai sholat Charlie tadinya mau langsung tidur namun melihat sang kakak duduk di pinggir ranjang membuat keningnya berkerut heran.


"Kak?" panggilnya.


"Dek ... kamu ada ngerasa aneh nggak?" tanya Reynold langsung.


Charlie makin bingung. Ia menggeleng tanda tak merasakan apapun. Sedang Reynold makin gelisah.


"Papa sama Mommy mana?" tanya Charlie.


"Kok kita pulang nggak nyambut?" lanjutnya.


Kedua kakak beradik itu pun saling pandang. Keduanya bangkit. Lalu bergegas keluar kamar.


"Kak!" Charlie tiba-tiba ketakutan.


Pemuda itu langsung berlindung di balik tubuh Reynold. Memang badan Reynold jauh lebih besar dibanding Charlie.


"Tenang Dek," ujarnya menenangkan sang adik.


Reynold bergerak menuju tangga, Charlie mengikutinya. Dua laki-laki itu melewati tangga. Suasana masih terlalu sore, tapi sangat-sangat mencekam bagi keduanya.


"Mom, Papa!" panggil Reynold.


Tak ada sahutan. Kini mereka ada di lantai dua. Suasana mendadak pengap dan sangat dingin. Charlie memilih memeluk kakaknya dari belakang, ia benar-benar takut.


"Kak ... kita pergi aja yuk!' bisiknya dengan tubuh yang gemetaran.


"Baca doa Dek!" suruh Reynold.


"Baca doa apa Kak. Aku hapalnya doa sebelum makan!" sahut Charlie berbisik.


Rey berdecak kesal. Pemuda itu melangkah kakinya. Tak jauh ia melihat empat orang yang duduk bersila. Mereka tampak menunduk sambil bibirnya bergerak.


"Mommy ... Papa!' panggil Rey.


Rita menoleh, Charlie yang mengintip dari balik tubuh kakaknya langsung menghambur ke tempat ibunya. Pemuda itu memang sangat ketakutan. Reynold menyusul.


"Mommy ada apa?" tanyanya.


"Adikmu disandera makhluk halus. Sekar sedang menyusul mereka," jawab Rita.


Rey dapat melihat jika mata ibunya bengkak karena kebanyakan menangis di depannya terlihat tubuh Brenda yang tergeletak begitu saja di lantai, sedang Sekar duduk di kursi tampak sangat tenang.


"Brenda disandera apanya Mom?" tanya Charlie berbisik.


"Dia ada di situ?" lanjutnya menunjuk.


"Mom kenapa nggak dibenerin Brenda, badannya sakit semua itu!" ujarnya lalu hendak bangkit.


"Jangan Nak!" larang Bastian.


"Sekarang kita berdoa agar Sekar segera menemukan adik kalian ya," pinta Bastian lagi lemah.


Rey kini mengerti, pemuda itu menepuk bahu Tono. Pria itu menoleh dengan mata basah.


"Biar aku yang menjadi cahaya mereka Pak. Bapak dukung aku ya," pintanya.


Tono tak bisa berkata apa-apa. Ia hanya mengangguk, rasa bersalah dan khawatir tampak jelas di wajah pria itu.


Reynold pun bersila. Pemuda itu mengatur napas perlahan. Ia menyatukan titik energi di kepala, dada, pusat hingga pucuk bokongnya.


Reynold mengaktifkan semua energi yang ada dalam tubuhnya. Pemuda itu mulai berdzikir pelan, menyambungkan semua elemen alam dan juga semesta.


"Yaa Rabb dzat maha pelindung ... dalam kepasrahan aku berserah pada-Mu!" doanya penuh harap.


Sementara di tempat labirin terjadi goncangan hebat. Sekar sampai harus duduk dan meringkuk agar dirinya tak dijatuhi batu-batuan yang menggelinding.


Ndere begitu murka, makhluk itu menatap cahaya yang mampu membakar tempatnya itu. Lalu dengan cepat, Ndere memperlihatkan bagaimana Brenda yang dipasung di tengah labirin.


"Teruslah berdoa ... dan adikmu akan terpanggang!" ancam Ndere.


Rey menghentikan dzikirnya, ia melihat betapa adiknya memintanya dengan penuh harap.


"Kakak ... kakak ... hiks!"


"Berdoalah Dek!" teriak Reynold.


Pandangan Brenda yang terikat menghilang. Reynold kembali pada posisi di mana ia bersila. Pemuda itu keluar dari portal gaib.


"Aku harus kembali!" tekadnya dalam hati.


Rey mengingat bagaimana Ahmad bisa masuk dengan mudah ke ruang portal tak kasat mata itu.


"Saya hanya berpasrah dan meminta kemudahan bagi anak-anak untuk menemukan saya," ujar Ahmad waktu itu.


Reynold mulai paham. Sebagai manusia, tentu Reynold tak boleh jumawa, segala apa yang dimilikinya adalah titipan dari Tuhan.


Reynold kembali berdzikir. Pemuda itu meminta pertolongan dari Allah. Menundukkan diri selemah-lemahnya dihadapan sang Maha Agung.


Reynold kini berada di sebuah tempat yang begitu panas. Di hadapan tumbuhan pagar yang sangat rimbun dan tebal.


"Aku di mana?" tanyanya lirih.


"Reynold ... selamat datang!" sambut suara lembut dan merdu.


Pemuda itu menatap sosok yang sangat cantik dengan gaun warna peach dengan bordiran bunga-bunga kecil. Kepalanya memakai tiara yang sangat indah.


Reynold terpana melihat betapa anggunnya sosok wanita yang berjalan. Kini di hadapan pemuda itu terpampang singgasana megah.


"Bagaimana menurutmu ... sayang," bisik sosok itu yang tiba-tiba ada di belakang tubuh Reynold.


"Indah bukan?" lanjutnya.


Ndere berubah menjadi sosok yang sangat cantik dengan tubuh seksi. Siapapun akan tergoda jika melihatnya.


"Semua ini akan jadi milikmu, sayang," ujarnya lagi.


Sementara itu, Sekar sedang berjalan hati-hati, ia menempel pada dinding tebing. Jalan yang ia lalui begitu kecil.


"Ibu .... hiks ... ibu ...," panggilnya penuh harap.


Di tempat lain, Tinah merasa jika putrinya tidak baik-baik saja langsung berdoa. Ia meminta kemudahan bagi putrinya.


"Selamat kan putriku, Non Brenda dan Tuan muda Reynold Ya Allah," pintanya lirih.


Tetesan bening mengalir dari kelopak matanya. Tempat di mana Ndere berada tiba-tiba berguncang hebat.


Reynold langsung beristighfar. Pemuda itu nyaris terkena bujuk rayu iblis. Rey memilih duduk di luar labirin. Ia mengikuti perkataan Ahmad, guru agama Sekar.


"Duduklah diantara bayangan hitam dan bayangan putih. Di mana matahari tampak seperti terbelah jadi dua. Di sana tempat paling aman, walau banyak godaan tapi tidak sedahsyat jika kita masuk ke dalam labirin itu!" jelas Ahmad.


Reynold duduk di tempat yang sama persis dengan perkataan Ahmad. Ia kembali duduk bersila, kembali berdzikir.


Brenda yang ada di labirin kini mulai memanggil Sekar. Gadis itu yakin jika anak dari asistennya itu datang menyusul.


"Sekar ... kau di mana?!" teriaknya.


"Sekar ... tolong aku. Aku takut!" lanjutnya lirih.


Bersambung.


Hmmm


next?