My Ghost Friends

My Ghost Friends
BERTEMU DANAR



Sekar menjalani studi kedokterannya. Gadis itu menjadi mahasiswi paling muda di antara semuanya. Baru menjelang delapan belas tahun.


Sekar melewati masa ospeknya dengan baik. Tidak ada kendala, tampaknya semua kakak seniornya takut padanya.


"Ini yang namanya Sekar?" seorang gadis dengan rambut warna-warni.


"Iya Kak, ada apa?" tanya Sekar santai.


"Oh ... nama kampungan yang bisa dapat beasiswa?" tanya gadis itu meledek.


"Emang ada yang salah dengan itu?" tanya Sekar bingung.


Gadis dengan baju ala grup band KPop. Dengan rok model payung dan pendek di atas lutut. Kaos kaki plus stoking hitam. Ia terdiam mendengar jawaban Sekar.


"Kamu nggak pantes sama sekali tau!" ujar gadis itu.


"Nggak level!"


"Jadi menurut Kakak yang level seperti apa? Seperti Kakak? Apa Kakak dapat beasiswa?" cecar Sekar membuat seniornya terdiam.


Sekar maju selangkah, gadis berambut warna-warni mundur satu langkah beserta dua temannya.


"Bisa minggir?" pinta Sekar dengan tatapan tajam.


Tiga gadis itu memberi jalan. Sekar berlalu melewati mereka. Tersenyum begitu dingin dan kilatan mata sinis.


"Kurang ajar!" pekik gadis itu murka.


Ia hendak menarik rambut ekor kuda milik Sekar. Tangan sang senior tercekal begitu kuat oleh Sekar.


"Jangan macam-macam!" sentak Sekar sangat pelan.


Lalu gadis itu menghempas tangan kurus seniornya. Gerak refleks Sekar sangat cepat, gadis itu bisa merasakan jika ada orang yang hendak mencelakainya. Gadis itu seperti ada yang memberitahukannya.


Sekar pun berlalu dan meninggalkan tiga gadis yang gagal memperundungnya.


"Aarrggh!" pekik gadis itu kesal.


"Sudah ... jangan ganggu dia lagi Celine," ujar Gita salah satu teman geng nya.


Celine berdiri dan membersihkan roknya. Sungguh Sekar begitu menakutkan, terlebih ada sesuatu yang tersimpan di wajah lugu gadis desa itu.


"Seperti ada kekuatan besar tersimpan dari gadis itu," lanjutnya.


Sekar naik mobil, sang ayah yang menjemput gadis itu. Sekar tersenyum, perlahan kendaraan itu pun bergerak meninggalkan halaman parkir kampus.


"Assalamualaikum," salamnya ketika masuk rumah.


"Wa'alaikumusalam warahmatullahi wabarakatuh!" sahut Tinah yang tengah menggendong Adamar.


"Aaahhh!" pekik Adamar sambil mengerakkan tangannya.


Bayi itu kini diangkat tinggi-tinggi oleh Sekar, gadis itu menyembur perut bulat bayi empat bulan itu. Gelak tawa terdengar. Rumah begitu hangat ketika Adamar hadir.


Sekar masuk kamarnya dan membersihkan diri. Setelah itu Sekar memeriksa lagi diktat yang mesti ia bawa besok. Anak kuliah tentu beda dengan murid sekolah. Walau sama-sama menjalani pendidikan. Tetapi barang bawaan yang dibawa Sekar lebih sedikit dibanding anak sekolah.


Malam minggu, Rey bertandang ke rumah calon istrinya itu. Ia ingin mengajak Sekar berkencan.


"Kencan di kafemu sayang," ajak pria itu.


Sekar mengangguk. Gadis itu pun memakai mini dress cantik berwarna navi senada dengan baju formal yang dikenakan oleh Reynold.


Keduanya bergandengan tangan ketika masuk ke kafe milik Sekar. Tempat itu makin berkelas. Walau tetap memegang konsep sama yaitu Kafe studi dengan banyak buku berjejer yang menghias di dinding. Gadis itu tak sengaja menoleh pada satu sisi kafe. Di sana bersamaan Danar tengah menggenggam tangan seorang gadis cantik yang begitu manja padanya.


Terlihat dengan kepala gadis itu yang menyender pada lengan sang remaja. Danar seumuran dengan Sekar, bedanya Sekar kini sudah kuliah, sedang Danar


baru naik kelas tiga.


"Danar, Maria?" panggil Sekar bingung.


Maria segera melepas tangan Danar. Tetapi langsung dikaitkan lagi oleh remaja pria itu karena melihat genggaman tangan Sekar yang tak lepas dari Reynold.


"Kalian pacaran?" tanya Sekar dengan senyum canggung.


"Yah bisa dibilang begitu," sahut Danar tak acuh.


"Selamat ya!" ujar Sekar malah bingung hendak mengatakan apa.


"Kenapa kau bilang kita pacaran?" tanyanya bingung.


"Aku tadi merangkul tanganmu karena nyaris jatuh," lanjutnya lalu membenahi sepatutnya.


"Siapa suruh pake heels!" omel Danar.


"Ck ... biar aku sama tinggi sama kamu!" decak Maria.


"Eh ... kamu belum jawab yang tadi!" serunya kesal.


"Jawab apa?" tanya Danar kesal sendiri.


"Kau nggak lihat cincin berlian yang melingkar di jari manisnya?" lanjutnya bertanya.


Maria terdiam. Memang ia melihat cincin cantik yang melingkar pada teman SMP nya dulu itu.


"Aku hanya berharap dia bahagia dengan pilihannya," ucap Danar lagi.


Mereka menaiki motor dan kendaraan roda dua itu pergi meninggalkan tempat itu.


Sementara di ruang vvip. Sekar tampak berdansa bersama Reynold. Mata pria itu lekat memandangi wajah calon istrinya itu.


Pria itu memeluk erat tubuh sintal Sekar lalu mengecup pucuk kepala gadis itu lembut.


"Kak ... aku lapar," cicit Sekar.


Reynold terkekeh. Pria itu membawa tubuh kekasihnya ke sebuah meja. Sekar duduk setelah Rey menyorongkan kursi itu untuknya. Keduanya makan dengan tenang.


Usai makan, Rey menggenggam tangan calon istrinya lalu mengecup mesra buku tangan gadis itu. Rona merah langsung menyeruak di pipi hingga telinga gadis itu. Hal itu membuatnya jadi lebih cantik.


"Aku mencintaimu," ungkap Reynold tulus.


"Aku ...," Sekar menghentikan perkataannya.


Wajah Danar selintas lewat dipikiran gadis itu. Namun, melihat banyaknya pengorbanan Reynold. Sekar kini yakin melabuhkan perasaannya pada pria tampan di depannya.


"Aku juga mencintaimu," lanjutnya lalu menunduk malu.


Reynold tersenyum mendengar perkataan gadisnya. Pria itu langsung berdiri dan menarik gadis itu dalam pelukannya.


"Terima kasih sayang," ujar pria itu.


Kedua mata saling memandang dan mengunci. Reynold menurunkan wajahnya perlahan, satu inci lagi bibir mereka bertemu. Sekar memejamkan mata.


Cup! Hidung Sekar dikecup oleh Reynold. Keduanya terkekeh setelah itu.


"Pulang yuk!" ajak pria itu dan ditanggapi anggukan Sekar.


Mereka pun pulang sambil bergandengan tangan. Reynold ingin sekali segera menikahi gadis yang kini duduk di sisinya.


Pria itu mengantar kekasihnya pulang. Sekar melambaikan tangan seiring dengan mobil mewah yang berlalu.


"Sekar ...," gadis itu melirik.


"Pergilah!' usirnya pelan.


Sekar masuk ke dalam rumah. Tinah dan Tono sudah tidur. Gadis itu membersihkan diri setelah itu menggelar sajadah. Usai mengerjakan shalat fardhu, Sekar mengaji.


Re dan makhluk lainnya berdiri dari jauh. Mereka tak berani mendekati temannya itu.


"Sekar ... kamu nggak asik!" dumal Ri.


Sekar tak peduli, satu juz habis ia baca. Gadis itu pun merebahkan dirinya di kasur. Tak ada yang bisa lagi mengaturnya kecuali ketentuan Allah padanya.


Pagi menjelang, Sekar diantar oleh ayahnya ke kampus. Mobil milik Tono bertambah, kini ia juga memiliki mobil bak terbuka. Usai mengantar Sekar pria itu akan mengontrol dapur kafe milik putrinya.


Sekar duduk di bangku paling depan. Ia tak mau lagi duduk di belakang. Kali ini tak ada satupun yang bisa memperundungnya lagi.


"Sekar coba maju ke depan jelaskan bagian kornea!" perintah dosennya.


Sekar maju ke depan kelas dengan penuh percaya diri. Gadis itu dengan mudah menjelaskan tentang salah satu indera yang dimiliki oleh manusia itu.


Bersambung.


Next?