
"Yang kutelpon adalah adik sepupuku!' jelas Danar.
Sekar tak peduli, gadis itu menatap mata Danar. Ia sudah memutuskan.
"Kita temenan aja ya," ujarnya.
Danar menggeleng, ia tadi benar-benar hanya menguji kekasihnya. Tetapi, pikiran Sekar yang lurus langsung menolak itu semua. Danar langsung menarik Sekar dalam pelukannya.
"Sekar, lepaskan dia!" teriak Re yang mulai berasap.
Sekar sempat tertegun, ada kelonggaran dalam dadanya ketika dipeluk Danar. Batu yang menekan hatinya bergeser dan membuatnya menyadari Re dan Ri lah yang berdusta.
"Aku nggak mau jadi teman kamu Sekar," ujar Danar lirih.
"Lepas," pinta Sekar.
Danar melepaskan gadisnya. Sekar mengambil tasnya, ia harus segera keluar kelas sebelum anak majikannya marah dan meninggalkannya.
"Sekar, tolong!" Re berteriak kesakitan karena ikut mengejar temannya itu.
"Sekar lama amat!" teriak Charlie.
Sekar harus berlari dan terbungkuk-bungkuk untuk meminta maaf. Danar melihat gadisnya harus seperti hamba sahaya yang takut dihukum tuannya. Sekar masuk dalam mobil disertai rentetan caci maki Charlie.
"Kalo bukan karena Mommy yang suruh. Sumpah aku nggak mau jemput anak pembantu kek kamu!"
Sekar hanya menunduk. Ia mengira setelah Brenda pergi ia akan hidup tenang. Ternyata Charlie juga tidak menyukainya.
"Kamu pake pelet apa sih. Mommy bisa deket ama kamu!" lanjut pemuda itu menatap Sekar yang ada di belakang supir. Gadis itu menunduk, Charlie menatap anak dari pembantu rumahnya. Tak ada yang salah, sederhana dan kurus. Charlie pun diam setelah mengamati Sekar.
Sepanjang perjalanan diisi kesunyian, Sekar hanya menatap jendela dan memandangi gedung-gedung yang dilewati. Gadis itu melihat salah satu wahana bermain yang tak jauh dari tempat majikannya tinggal. Sekar mengamati jalan, Charlie dapat melihat keinginan gadis itu untuk pergi ke tempat itu.
Sebenarnya pemuda itu merasa bersalah karena menghardik Sekar karena keluar kelas terlalu lama. Tetapi gengsinya sebagai anak majikan tak mau mengakui kesalahannya.
Mereka pun sampai mansion mewah. Sekar turun dari mobil, semua teman astralnya menyambut gadis itu, ia tak melihat Re dan Ri.
"Lewat samping!" Sekar menatap pemuda yang menghadangnya.
Gadis itu menurut, ia pun berbelok dan berjalan menuju samping, tempat biasa ketika awal ia datang ke sini. Charlie menatap punggung kurus Sekar, ia pun masuk.
"Mana Sekar?" sebuah suara yang sangat ditakuti Charlie.
Rita tak pernah mengajari semua anaknya untuk tinggi hati dan berlaku sombong pada orang lain.
"Sekar lewat pintu samping Mom, dia mau sendiri," jawab Charlie tentu berbohong.
"Jangan bohong Charlie. Aku ibumu, jadi aku tau jika kau berbohong!" tekan Rita tak suka.
"Mom ...."
"Mommy kecewa denganmu Charlie," tatapan Rita yang kecewa membuat Charlie menunduk lebih dalam.
Wanita itu memilih berbalik badan dan mencari keberadaan Sekar. Charlie langsung memeluk ibunya dari belakang.
"Aku adalah anakmu Mom, bukan Sekar," ujarnya lirih.
"Apa Mommy membedakan kalian?" Rita membalikkan tubuh.
Tinggi wanita itu memang hanya sedada putranya. Charlie hanya menunduk tanpa mau menatap ibunya.
"Lihat Mommy sayang. Apa selama ini Mommy mengabaikanmu?" Charlie menggeleng.
"Lalu apa maksud pertanyaanmu tadi?" Charlie diam.
Re dan Ri yang berdiri jauh dari dua manusia itu berguling kesaktian. Hasutan Ri pada Charlie tentang kesetaraan sosial musnah. Rita menghapus keraguan Charlie.
"Dengar Nak. Mommy sayang Sekar sama menyayangi kamu. Mommy tak pernah membedakan sesama, karena ketika Tuhan menarik semua harta yang dititipkan ini, kita sama miskinnya dengan Ayahnya Sekar," jelas Rita.
"Maaf Mommy," cicit Charlie.
Rita memeluk putranya sayang. Wanita itu meminta Charlie untuk segera cuci tangan dan makan siang.
Sore menjelang, Sekar yang memang sangat ingin pergi ke wahana bermain yang tadi ia lewati meminta ijin pada ayah ibunya.
"Boleh ya Pak," pinta gadis itu.
"Baiklah," ujar Tono mengijinkan.
"Hati-hati ya di sana. Pulang jangan malam-malam," lanjutnya meminta.
Gadis itu sudah mengetahui harus menggunakan kendaraan apa menuju tempat tadi. Sang ayah memberinya tiga lembar uang seratus ribuan.
"Sekar punya uang Ayah," tolak sang gadis.
"Ambil Nak, biar tidak kekurangan," pinta sang ibu.
Sekar memakai blus warna biru dengan renda di tangan dipadukan dengan celana jeans belel yang ia beli di pasar di kampungnya dulu. Gadis itu mengikat rambutnya dengan saputangan.
"Mau kemana sayang?" tanya Rita melihat Sekar berpenampilan begitu segar.
Sekar tersenyum indah Rita sampai terpesona melihat senyum gadis itu. Bastian yang ada di sana tertular senyum.
"Kamu cantik sekali," puji Rita.
"Nyonya, saya mau ke wahana di dekat sini. Tadi saya lihat pas pulang," ujar Sekar meminta ijin.
"Oh pasar malam di dekat kantor pemasaran itu ya?" tanya Bastian.
Sekar mengangguk antusias, sangat terlihat jika gadis itu sangat ingin pergi ke sana. Akhirnya mereka mengijinkan Sekar pergi asal jangan pulang terlalu malam.
"Terima kasih Nyonya, Tuan!" seru gadis itu dengan binaran bahagia.
Makhluk-makhluk tak kasat mata hanya melihat Sekar yang berjalan dengan senyum lebar. Reynold pulang bersamaan perginya gadis itu.
Sekar tak mendengar panggilan Reynold, gadis itu setengah berlari ke gerbang yang cukup jauh.
"Mau kemana anak itu?" tanyanya gusar.
Reynold memilih menaiki kembali mobilnya dan menyusul Sekar. Pemuda itu memberhentikan laju gadis itu ketika di gerbang.
"Naik!" titahnya.
"Tuan ... saya sudah minta ijin pada Nyonya!" sahut Sekar.
"Aku bilang naik!" suara Reynold meninggi.
Mau tak mau Sekar naik, pintu gerbang terbuka. Mobil itu pun keluar.
"Mau kemana biar aku antar!"
"Saya mau ke wahana Tuan muda," jawab Sekar lirih.
Reynold mengangguk, mobil meluncur ke tempat di mana Sekar inginkan. Gadis itu menatap tempat yang begitu ramai pengunjung dengan mulut terbuka.
Reynold menatap Sekar yang begitu manis dan cantik di matanya. Pemuda itu pun menggandeng gadis itu dan membeli tiket masuk. Sekar sampai terkaget-kaget melihat tangannya digenggam oleh anak majikan.
"Tuan," ujarnya takut.
"Kenapa?" tanya Reynold datar.
"Lepasin," pinta gadis itu sambil memperlihatkan genggaman tangan pemuda itu.
"Jangan berisik, aku sengaja menggandengmu agar kau tak tersesat!" ujar Reynold malah menarik tangan Sekar dan merapatkan gadis itu ke tubuhnya.
"Tapi nanti ada wartawan dan akan ada gosip besar. Saya tidak mau dianggap pelakor oleh kekasih Tuan!" seru Sekar begitu berani.
Reynold berhenti dan menatap gadis cantik itu. Sekar yang tersadar menutup mulutnya.
"Aku nggak punya pacar!" tekan pemuda itu.
"Tuan," cicit Sekar.
Reynold sangat ingin mencium bibir gadis itu, usia Sekar yang masih anak-anak akan mengundang perhatian orang banyak.
"Kau empat belas tahun kan?'' Sekar mengangguk.
"Aku dua puluh dua tahun. Hanya beda delapan tahun. Jika aku menunggumu sampai usia dua puluh, bisa kan?"
Sekar terdiam dan menatap netra coklat gelap di depannya. Gadis itu tak melihat teman-teman astralnya.
"Ayo main!" ajak Reynold menarik lengan Sekar dan menaiki wahana bianglala.
Bersambung.
Wah ... terus kau keluarkan pesonamu Sekar!
next?